Indonesia
NovelToon NovelToon
THE DAY YOU WENT AWAY

THE DAY YOU WENT AWAY

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Bad Boy / Cintapertama
Popularitas:387
Nilai: 5
Nama Author: Chikaku_chiko

Namanya Raisha, seorang karyawan korporat cantik dan terkesan cuek. Dia belum mengenal debaran cinta seperti apa. Banyak tuntutan orang disekitarnya untuk memulai suatu hubungan dengan seorang pria. Meskipun enggan, Raisha melakukan semua tuntutan itu meskipun tanpa menggunakan hati. Satu pria, gagal. Dua pria, gagal. Hingga tak terasa beberapa pria Raisha mencoba mencari debaran itu, tapi gagal.

Hingga julukan 'Playgirl' menempel padanya.

Hingga datang seorang Aldo. Pria tampan dan maskulin, membuat Raisha merasakan debaran itu. Tapi ketika Raisha mulai mendekati Aldo, ada sesuatu dari diri Aldo yang janggal. Yang membuat Raisha merasakan debaran yang melayang tapi menyakitkan.

Bagaimana kisah cinta Raisha dan Aldo kedepannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chikaku_chiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26: Ruang Penafsiran dan Pembalasan

Pagi itu, udara di lantai enam terasa begitu rapat dan menekan. Ruang pemeriksaan HRD yang berdinding kaca buram itu menjelma menjadi panggung penghakiman yang dingin. Di balik meja panjang berlapis kayu jati, dua orang perwakilan manajemen HRD duduk dengan wajah kaku dan setumpuk berkas cetakan surel di hadapan mereka.

Di sisi lain meja, tiga orang duduk sejajar: Aldo, Raisha, dan Reno.

Atmosfer di dalam ruangan begitu sunyi, hanya terisi oleh dengung halus mesin pendingin udara dan ketukan jari kepala HRD di atas meja. Surel kaleng yang dikirimkan kemarin sore memuat narasi yang cukup provokatif yaitu menuduh adanya cinta segitiga yang merusak profesionalisme kerja, penyalahgunaan wewenang, hingga ketidak kondusifan tim yang melumpuhkan performa divisi.

"Kita berkumpul di sini untuk mengklarifikasi laporan yang masuk ke manajemen," ujar Pak Hendra, Kepala HRD, membuka suara dengan nada datar dan menghakimi.

Matanya menatap tajam bergantian ke arah ketiga staf di hadapannya.

"Laporan ini menyebutkan adanya isu asmara yang tidak sehat di antara kalian bertiga, yang diduga telah memicu konflik internal dan mengganggu kondusifitas kerja di lantai lima."

Pak Hendra menggeser kertas cetakan surel tersebut ke tengah meja.

Reno menjadi orang pertama yang merespons. Pria itu menyandarkan punggungnya, menatap lurus ke arah Pak Hendra tanpa ada sedikit pun keraguan atau gestur bersalah.

"Izin menyela, Pak Hendra," potong Reno tegas.

"Tuduhan dalam surel itu sama sekali tidak berdasar dan cenderung mengada-ada. Hubungan saya dan Raisha murni sebatas sahabat dan rekan kerja profesional. Di luar kantor, saya sudah memiliki kekasih yang sah dan hubungan kami sangat harmonis. Raisha tahu betul hal itu, bahkan sangat kenal dekat dengan pasangan saya. Jadi tuduhan keterlibatan saya dalam 'cinta segitiga' di kantor ini adalah fitnah yang konyol."

Pak Hendra manggut-manggut pelan, mencatat poin penjelasan Reno di lembar penilaiannya, lalu beralih menatap Raisha.

"Bagaimana dengan kamu, Raisha?"

Raisha menarik napas panjang, mengatur detak jantungnya agar tetap stabil. Dia melirik sedikit ke arah Aldo yang duduk diam di sebelahnya dengan raut wajah yang tak tersentuh emosi. Ada sedikit gemuruh emosi didada Raisha, karena harus mengalami hal yang memalukan seperti ini. Perselisihan karena adanya roman picisan.

"Saya menyangkal seluruh isi laporan tersebut, Pak," tegas Raisha dengan suara jernih dan terkontrol.

"Selama ini, interaksi dan komunikasi saya dengan Saudara Aldo maupun Saudara Reno sepenuhnya berada dalam koridor pekerjaan. Jika ada dinamika atau diskusi yang terkesan intens, itu murni seputar koordinasi rekapitulasi data dan target divisi pemasaran. Tidak pernah ada perselisihan asmara seperti yang dituduhkan."

Penjelasan Raisha yang lugas dan tenang membuat pihak HRD mulai ragu akan keabsahan surel kaleng tersebut. Namun, kuncian utama dari seluruh proses klarifikasi ini berada di tangan Aldo, pria yang dituduh sebagai pusat dari ketidakkondusifan tersebut.

Pak Hendra menatap Aldo. "Saudara Aldo, bagaimana tanggapan Anda?"

Aldo menyunggingkan senyum tipis, sebuah senyuman khas yang teramat tenang, elegan, namun menyembunyikan ketajaman yang mematikan. Pria itu membetulkan posisi duduknya, menyatukan kedua jemarinya di atas meja dengan gestur seorang pemimpin yang sangat percaya diri.

"Terima kasih atas kesempatannya, Pak Hendra," buka Aldo dengan intonasi suara yang begitu mengayomi dan tertata rapi, menggunakan retorika manipulatif tingkat tingginya.

"Sejujurnya, saya sangat menyayangkan bahwa waktu berharga manajemen harus terbuang hanya untuk melayani isu picisan yang dilemparkan oleh oknum tidak bertanggung jawab," lanjut Aldo santai.

"Saya, Raisha, dan Reno adalah tim yang solid. Jika ada pihak yang merasa suasana kerja di lantai lima tidak kondusif, saya rasa masalahnya bukan ada pada kami yang bekerja secara profesional, melainkan pada oknum pengirim surel ini yang memiliki kecemburuan sosial atau ketidakmampuan beradaptasi dengan ritme kerja kami yang tinggi."

Aldo jeda sejenak, melemparkan tatapan mata yang teramat dingin ke arah berkas surel di meja.

"Aduan anonim tanpa bukti otentik seperti ini bukan hanya bentuk pencemaran nama baik bagi kami bertiga, tetapi juga bentuk sabotase terhadap fokus kerja divisi," tambah Aldo dengan nada menekan yang halus namun mengintimidasi.

"Saya meminta pihak HRD untuk tidak sekadar menutup kasus ini, tetapi juga melacak alamat IP pengirim surel tersebut. Oknum yang menyebarkan fitnah tidak valid dan merusak integritas lingkungan kerja seperti inilah yang seharusnya diberikan sanksi tegas atau hukuman disiplin sesuai aturan perusahaan."

Pernyataan Aldo yang begitu lugas, sistematis, dan berbalik menyerang pengadu membuat kedua perwakilan HRD saling melempar pandangan. Retorika manis dan manipulasi berkelas milik Aldo berhasil mengubah peta pemeriksaan secara total: dari yang tadinya menginterogasi mereka bertiga, kini berbalik menjadi perburuan terhadap sang pelapor.

Pak Hendra menghela napas panjang lalu mengangguk mantap.

"Baik. Penjelasan dari kalian bertiga sudah sangat jelas dan konsisten. Manajemen menganggap masalah ini selesai untuk kalian, dan kami akan menyerahkan surel anonim ini ke tim IT untuk melacak pelakunya."

Sementara itu, di luar ruang rapat lantai lima, Mita duduk di kubikelnya dengan jari-jari yang gelisah mengetik di atas papan ketik. Matanya terus melirik ke arah pintu lif dan lorong utama.

Di dalam kepalanya yang kalut, Mita membayangkan sebuah skenario yang indah: Raisha dan Reno yang dipanggil ke HRD akan panik, reputasi Raisha sebagai playgirl akan hancur di mata manajemen, dan Aldo yang merasa nama baiknya terancam, akan berpaling padanya dan menyadari bahwa Mita adalah satu-satunya wanita yang aman baginya.

Setengah jam berlalu, pintu lif lantai lima akhirnya berdenting dan terbuka.

Mita seketika mendongakkan kepalanya dengan mata berbinar penafsiran. Namun, kenyataan yang tersaji di depan matanya meleset jauh dari apa yang dikhayalkannya.

Raisha, Reno, dan Aldo keluar dari lif dengan langkah santai dan raut wajah yang sangat tenang. Tidak ada raut panik, tidak ada wajah menunduk malu, dan tidak ada tanda-tanda teguran keras dari manajemen. Reno bahkan sempat terkekeh pelan membicarakan agenda makan siang bersama Raisha.

Kepanikan mulai merayap di dada Mita. Jemarinya membeku di atas keyboard.

Lebih buruknya lagi, tak lama setelah ketiga orang itu kembali ke meja kerja masing-masing, dua orang staf dari divisi IT didampingi oleh seorang petugas HRD berjalan masuk ke lantai lima. Mereka tidak menuju ke meja Raisha atau Aldo, melainkan berjalan lurus... ke arah kubikel Mita.

"Selamat pagi, Mbak Mita," tegur petugas HRD dengan suara tegas yang terdengar ke sekeliling ruangan.

"Bisa ikut kami sebentar ke ruang HRD? Ada hal teknis terkait log sistem dan alamat IP komputer Anda yang perlu dikonfirmasi."

Seluruh pasang mata di lantai lima seketika tertuju ke arah meja Mita.

Darah seolah tersedot habis dari wajah Mita. Tubuhnya gemetar hebat, bibirnya mengatup rapat tanpa mampu mengeluarkan sepatah kata pun. Senjata beracun yang dilemparkannya untuk menghancurkan Raisha kini berbalik arah, menghantam dirinya sendiri dengan dampak yang jauh lebih menghancurkan.

Di sudut ruangan, Aldo berdiri di balik pintu kacanya. Pria itu menyaksikan Mita yang berjalan gontai mengekor tim IT dan HRD dengan pandangan mata yang dingin tanpa ampun. Aldo telah menepati janjinya: pasang badan penuh untuk Raisha, sekaligus meremukkan siapa pun yang berani mengusik wanita itu.

Ketika Mita menghilang di balik pintu lif, Aldo memalingkan pandangannya ke arah Raisha. Raisha yang juga sedang menatapnya dari jauh, memberikan sebuah anggukan tipis sebagai isyarat rasa terimakasih karena telah kooperatif tanpa diminta untuk menyanggah isu dari surel yang ternyata Mita sebagai biang pelakunya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!