Indonesia
NovelToon NovelToon
Cuma Modal Cerita

Cuma Modal Cerita

Status: tamat
Genre:Teen / Solo Leveling / Menjadi NPC / Tamat
Popularitas:540
Nilai: 5
Nama Author: jiejie_IYAYA'S

Aku bukan siapa-siapa. Nggak punya prestasi, nggak punya bakat khusus.
Yang aku punya cuma kenangan.

Kenangan jadi remaja perempuan yang dulu mikir dunia selebar halaman sekolah.
Tentang tawa di jam kosong, surat cinta yang nggak pernah dikasih, persahabatan yang pecah karena sepele, dan guru yang tanpa sadar ngubah hidupku.

"Cuma Modal Cerita" adalah kumpulan kisahku.
Loncat dari sekarang ke dulu. Dari dewasa ke anak kecil yang masih percaya permen bisa nyelesaiin semua masalah.

(Gak Semuanya Real Dari Hidup Ku ,Ada Beberapa Karangan)

Ini bukan novel tentang orang hebat.
Ini novel tentang kita. Tentang kamu, aku, dan semua orang yang pernah duduk di kursi paling belakang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jiejie_IYAYA'S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Buku Yang Tertinggal

Halo Para Pembaca Setia Novel Aku Kali Ini Aku Mau Cerita Tentang Jaman Aku Masih SD , Sebelum Aku Ceritakan Siapa Yang Pernah Bawa 3Buku Saya.

Sabtu sore itu, langit di atas sekolah kami pelan-pelan berubah warna menjadi jingga keemasan. Jam dinding kelas sudah menunjukkan pukul tiga lewat sedikit, menandakan jam pelajaran terakhir hampir selesai. Di masa-masa SD dulu, saat sebagian besar anak seusia kami belum memegang ponsel pintar, informasi di antara kami menyebar persis seperti bisik-bisik rahasia di lorong sekolah: cepat, liar, dan sering kali tanpa verifikasi.

Beberapa temanku yang kebetulan sudah memiliki ponsel genggam di rumah tiba-tiba menjadi "sumber berita utama". Hari itu, di pertengahan pelajaran, kabar burung itu akhirnya meledak.

"Wey, wey! Dengerin dulu!" seru salah satu temanku setengah berbisik tapi cukup keras untuk membuat seisi kelas menoleh. Raut wajahnya penuh kemenangan, seolah baru saja membawa kabar gembira dari istana. "Besok guru pelajaran terakhir gak bakal hadir! Fix no debat!"

Suasana kelas yang tadinya lesu mendadak hidup kembali. Sorak-sorai ditahan meletup di antara bangku-bangku kayu. Rumor itu berkembang cepat. Entah dari mana asalnya, mendadak muncul kesepakatan tak tertulis di antara kami bahwa untuk besok—karena satu guru absen—kami semua tidak perlu membawa beban tas yang berat.

"Yaudah, kita bawa tiga buku aja besok! Nggak usah bawa buku buat pelajaran terakhir!" celetuk yang lain menimpali.

Sebenarnya, jika ditanya sekarang, memori detailnya agak samar di kepala. Apakah kami benar-benar sepakat sekelas atau hanya obrolan angin lalu, aku pun lupa. Namun, dengan kepolosan khas anak SD yang begitu mudah percaya pada perkataan teman, aku merespons rumor itu dengan keyakinan penuh.

Bayangan tas sekolah yang ringan tanpa beban buku tebal terasa seperti sebuah kemewahan kecil yang sangat memikat.

Malam harinya, aku menyiapkan tas dengan senyum tipis. Dari empat mata pelajaran yang seharusnya ada di jadwal hari Sabtu, aku dengan percaya diri hanya memasukkan tiga buku pelajaran. Buku pelajaran keempat aku tinggalkan di atas meja belajar rumah, membiarkannya berdebu tanpa rasa curiga sedikit pun. Aku merasa menjadi anak yang paling cerdik saat itu.

Keesokan harinya, realita menghantamku tanpa ampun.

Pagi berjalan seperti biasa. Tiga pelajaran pertama berlalu tanpa hambatan. Namun, ketika jam menunjukkan pelajaran keempat—mata pelajaran yang menurut desas-desus gurunya tidak akan hadir—sesuatu yang ganjil terjadi. Dari pintu kelas, muncul sosok yang paling tidak ingin kami lihat hari itu: sang guru pelajaran keempat berjalan masuk dengan langkah tegap, membawa map dan buku absensi.

Seketika, atmosfer kelas berubah dingin. Wajah teman-temanku yang kemarin bersemangat menyebarkan rumor mendadak pucat pasi. Dan yang lebih parahnya lagi, ketika aku mengintip ke dalam tas-tas mereka, ternyata mereka semua membawa buku! Mereka lupa pada rencana kesepakatan kemarin sore dan secara refleks tetap membawa buku sesuai jadwal harian. Hanya aku satu-satunya anak lugu yang benar-benar mempraktikkan "rencana tiga buku" tersebut.

Kepanikan mulai merayap di dadaku ketika guru di depan kelas mengumumkan dengan suara lantang, "Anak-anak, buka buku latihan kalian. Hari ini ada tugas dan semua buku wajib dikumpulkan di meja Ibu sebelum bel pulang!"

Darahku rasanya berhenti mengalir. Aku mengaduk-aduk isi tas backpack-ku yang kempis, berharap ada keajaiban bahwa buku keempat itu terselip di sana. Hasilnya nihil. Hanya ada tiga buku dan satu kotak pensil.

Dengan tangan gemetaran dan keringat dingin yang mulai membasahi dahi, aku menepuk pundak teman di depanku. "Sstt, aku minta selembar kertas dong... please," bisikku lirih, berusaha semaksimal mungkin agar tidak menarik perhatian.

Temanku menyobek selembar kertas dari bagian tengah buku tulisnya dan menyerahkannya padaku. Aku langsung menuliskan nama, kelas, dan judul tugas secepat mungkin, berusaha menyibukkan diri agar terlihat biasa saja.

Namun, hukum alam sekolah selalu berlaku: guru memiliki radar khusus untuk menemukan murid yang sedang bermasalah.

Langkah kaki sang guru terdengar mendekat. Beliau berjalan mengitari deretan bangku untuk memeriksa kelengkapan murid-muridnya.

Langkah itu makin mendekat, semakin dekat, hingga akhirnya terhenti tepat di samping mejaku. Bayangan tubuhnya menutupi kertas selembar yang sedang kutulisi.

"Mana bukumu? Kok cuma pakai selembar kertas aja?" tanya guru itu dengan nada curiga.

Pandanganku terpaku pada ujung sepatunya. Dalam hitungan detik, otak kecilku berputar keras menghitung risiko dari dua pilihan jawaban yang ada.

Pilihan pertama: Aku jujur dan bilang, "Anu Bu, kemarin kita sekelas janjian cuma bawa tiga buku karena dengar kabar Ibu gak masuk." Namun, konsekuensinya sudah membayang jelas di depan mata. Begitu aku mengucapkan itu, teman-sekelas pasti akan kompak membantah, "Nggak kok Bu! Dia aja yang ngarang, kita semua bawa buku kok!" Aku bakal diserang satu kelas dan dijadikan kambing hitam.

Pilihan kedua: Mengakui kesalahan pribadi.

Akhirnya, dengan sudut bibir gemetar dan mata yang menatap lantai, aku memilih opsi kedua.

"Maaf, Bu... Bukunya ketinggalan di rumah," jawabku pelan, diiringi rasa takut yang membumbung tinggi.

Seketika, raut wajah guru itu berubah keruh. Emosinya membuncah di depan kelas. "Kamu itu gimana, sih?! Kamu mah kayak nggak niat sekolah!" omsetnya keras, membuat seluruh pandangan mata di kelas langsung tertuju padaku.

Kata-kata itu rasanya begitu menohok. Padahal, aku tidak berniat bolos, aku tidak berniat melawan, dan aku tetap berniat mengerjakan tugasnya meski hanya di selembar kertas. Hanya karena kurang satu buku, seluruh niat baikku seolah menguap begitu saja di mata beliau.

Tanpa berani membantah sepatah kata pun, aku menundukkan kepala dalam-dalam. Dengan muka judes sang guru yang masih terus mengawasi dari kejauhan, aku melanjutkan menulis tugas di atas kertas selembar itu. Setiap goresan pensil terasa begitu berat diiringi rasa malu yang membakar pipi.

Hingga bel pulang sekolah akhirnya berdering nyaring, rasa sesak itu masih tertinggal di dada. Hari Sabtu yang seharusnya disambut dengan gembira justru ditutup dengan pelajaran berharga tentang kepercayaan, rumor sekolah, dan nasib sial seorang anak SD yang terlalu polos.

1
Araara
seru abis
Araara
semangat ya kakak jangan pantang menyerahnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!