Mawar tak pernah meminta hidup penuh luka. Dikhianati, dipisahkan dari orang terkasih, hingga nyawanya sendiri terancam.
Namun Mawar tak mau menyerah begitu saja, ia berjuang keras menembus segala rintangan, berusaha mengubah jalannya nasib yang seolah begitu kejam padanya.
Di antara cinta, pengorbanan dan kehilangan, apakah Mawar akhirnya bisa menulis akhir ceritanya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alisha Chanel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hati Yang Setia
Gala menepati janjinya. Sejak hari pertama ia melangkahkan kaki masuk ke lingkungan kerja, ia datang paling pagi dan pulang paling lambat. Ia bekerja sungguh-sungguh, teliti, cermat, dan selalu jujur dalam setiap hal yang dipercayakan kepadanya. Tak ada satu pun perintah yang ia abaikan, tak ada satu pun kesalahan yang ia tutupi demi memudarkan beban. Jika ada yang kurang, ia katakan terus terang, lalu perbaiki bersama-sama.
Meski awalnya banyak rekan yang meragukan karena Gala memiliki latar belakang sederhana, tapi semua keraguan itu perlahan luruh. Gala paham seluk-beluk pekerjaan bukan dari bacaan semata, melainkan dari pengalaman hidupnya sendiri. Hal itu membuatnya jauh lebih bijaksana dalam mengawasi dibandingkan siapa pun yang hanya belajar dari tebalnya buku.
"Kau lihat cara kerjanya? Padahal baru masuk, tapi setiap titik, setiap detail, ia periksa satu per satu," ujar staf pengawas senior, sambil menunjuk ke arah Gala yang berdiri di tepi bangunan sedang memeriksa gambar kerja.
"Tentu saja. Dulu dia pernah jadi kuli bangunan lho. Jadi dia tahu persis mana yang kokoh kuat, mana yang cuma tampak bagus di luar tapi rapuh di dalam," jawab rekan kerjanya yang lain, sambil mengangguk kagum.
"Awalnya aku juga ragu, pikir cuma orang kepercayaan Pak Hans yang diangkat cepat. Tapi sekarang aku mengakui, dia memang pantas berada di posisi ini," Tandasnya.
Tak lama kemudian, Gala berjalan menghampiri mereka dengan senyum yang tetap tenang dan ramah. "Pak Bayu, Pak Dika, laporan pemeriksaan pondasi tadi sudah saya periksa ulang. Ada satu titik campuran semennya belum sesuai standar. Saya minta tim lapangan perbaiki hari ini juga agar tak menimbulkan masalah di kemudian hari."
"Siap, Pak Gala! Kami akan segera sampaikan dan awasi langsung," jawab Bayu dengan hormat yang tulus, tak ada lagi nada meremehkan seperti dulu.
Dua bulan berlalu begitu cepat, dan nama Gala kini sudah dikenal luas di seluruh lingkungan usaha milik Pak Hans. Dari pengawas lapangan, ia naik menjadi manajer proyek, lalu dipercaya memegang jabatan kepala divisi properti. Setiap tugas yang dipegangnya selalu selesai tepat waktu, hemat biaya tanpa mengurangi kualitas sedikit pun, ciri khas yang sangat disukai Pak Hans.
Kini, Gala duduk di ruangan luas berlantai marmer di lantai tertinggi gedung yang menjulang gagah di tengah hiruk-pikuk kota. Jas berwarna gelap yang pas di badan kini menggantikan baju kerja lusuh yang dulu selalu ia pakai. Namun tatapan mata Gala tetap sama seperti dulu, tulus, tenang, dan rendah hati. Tangan yang dulu kasar penuh kapalan kini tampak bersih dan rapi, tapi di dalam sanubarinya tak pernah lupa rasa perih mengangkat beban berat demi selembar uang receh. Ia tahu betul siapa dirinya dan dari mana ia berasal.
Saat Gala sedang memeriksa tumpukan berkas di meja besarnya, pintu terbuka dan Pak Hans masuk diikuti sekretaris pribadinya.
"Gala, kau sibuk sekali rupanya," sapa Pak Hans sambil duduk di kursi tamu yang empuk.
"Sedang menyusun laporan perkembangan proyek perumahan warga, Pak Hans." Gala segera berdiri dan menyambut sang pemimpin dengan hormat.
"Sungguh aku tak salah menilai dirimu. Dulu aku membantumu karena ketulusan hatimu, tapi kau membuktikan bahwa kemampuanmu pun tak kalah hebat. Banyak orang pintar di luar sana, tapi jarang yang punya hati jujur dan tekun sepertimu," Pak Hans menatap Gala lekat, lalu tersenyum puas.
"Semua ini berkat bimbingan dan kepercayaan Bapak. Saya hanya berusaha melakukan yang terbaik, sebagaimana seharusnya seseorang bekerja," jawab Gala dengan rendah hati.
Tak lama berselang, beberapa kepala divisi lain datang untuk rapat ringkas. Saat menunggu giliran bicara, mereka tak segan memuji Gala di hadapan Pak Hans.
"Jujur saja, Pak, awal kami mendengar Gala diangkat jadi kepala divisi dalam waktu singkat, kami sempat heran," ujar Ibu Ratna, kepala divisi keuangan.
"Tapi setelah melihat hasil kerjanya, menghemat biaya hingga sepuluh persen tanpa mengurangi kualitas, menyelesaikan proyek lebih cepat dari jadwal, kami semua mengakui bahwa dia memang orang yang tepat," lanjut Ibu Ratna mantap.
"Benar sekali, bahkan kontraktor dari luar pun memuji cara beliau berkomunikasi. Tidak sombong, mau mendengar saran dari pekerja lapangan, tapi tetap tegas pada aturan. Itu hal yang sulit ditemukan pada pemimpin muda zaman sekarang," timpal Pak Budi, kepala divisi pemasaran.
"Dengar itu, Gala? Mereka sendiri yang memuji ketulusanmu. Aku semakin yakin mempercayakan tugas yang lebih besar padamu," Pak Hans tertawa renyah, lalu menepuk bahu Gala.
"Mulai minggu depan, kau akan memimpin tim peninjauan proyek internasional. Kita akan terbang ke Singapura dulu, kemudian berlanjut ke Malaysia dan Thailand. Semuanya menantikan kinerjamu, karena nama baik perusahaan kita di mata negara lain pun akan kau wakili." Pak Hans menyerahkan satu berkas berwarna biru ke atas meja.
"Terima kasih banyak atas kepercayaan luar biasa ini, Pak. Saya berjanji akan bekerja sekuat tenaga, menjaga nama baik perusahaan, dan tidak akan mengecewakan harapan Bapak maupun rekan-rekan semua." Mata Gala berbinar senang sekaligus penuh tanggung jawab. Ia menatap Pak Hans dengan mantap.
"Bagus. Aku menantikan hasil kerjamu," ujar Pak Hans penuh keyakinan.
***
Setelah semua urusan selesai, Pak Hans kembali duduk bersama Gala di ruang kerjanya. Jendela besar di samping mereka membiarkan cahaya keemasan sore menyinari ruangan, menampakkan pemandangan kota yang berkilauan.
"Kau lihat, Gala? Apa yang kukatakan dulu benar, bukan? Kejujuran dan ketekunan memang jalan terpanjang, namun paling kokoh menuju keberhasilan," ujar Pak Hans sambil menatap cakrawala.
"Sekarang kau sudah menjadi salah satu pemimpin utama di kelompok usaha kami. Bahkan banyak pengusaha lain ingin bekerja sama denganmu, bukan hanya karena jabatanmu, tapi karena kepercayaan yang kau bangun sendiri, perlahan namun pasti."
Gala tersenyum lembut, menunduk sedikit. "Semua ini berkat bimbingan Bapak. Namun satu hal yang tak pernah hilang dari pikiran saya,;tujuan awal saya datang ke kota ini."
"Janji kepada gadis yang kau cintai, bukan?" Pak Hans mengangguk paham sepenuhnya.
"Benar, Pak," jawab Gala, matanya berbinar lembut memandang kejauhan. "Semakin sukses saya, semakin dekat saya untuk menepati janji yang dulu saya ucapkan di hadapannya."
Meski kini hidup Gala berubah drastis, mempunyai kendaraan yang nyaman, tempat tinggal yang layak, kedudukan yang dihormati, ia tidak berubah menjadi sombong atau lupa diri. Ia masih sering turun langsung ke lokasi proyek, menyapa para pekerja, mendengarkan keluh kesah mereka, bahkan membantu jika ada yang mengalami kesulitan hidup. Gala tahu persis bagaimana rasanya pulang dengan tubuh lelah namun hati berat karena belum cukup uang untuk mengirimkan ke rumah.
Hingga hari yang ditunggu akhirnya tiba. Gala menyelesaikan seluruh rencana kerjanya, menitipkan tanggung jawab kepada tim yang sudah dilatihnya dengan baik, lalu berpamitan kepada Pak Hans. Di tangannya ada sebuah amplop tebal, serta cincin sederhana yang dulu sempat terjatuh di antara rumput, kini sudah diperbaiki dan bersinar kembali.
"Saya akan pulang ke desa sebentar, Pak. Menepati janji yang sudah lama saya simpan di dalam hati," ujar Gala dengan suara mantap namun penuh harap.
"Pergilah, Nak. Bahagialah mereka yang setia kepada janji hatinya. Ingatlah, pintu di sini selalu terbuka lebar untukmu, kapan pun kau kembali," Pak Hans menepuk bahunya erat, matanya menampakkan kebanggaan tulus.
Gala melangkah keluar dari gerbang kantor yang megah itu, bukan lagi sebagai perantau yang datang dengan tas kain lusuh dan sepatu yang tipis, melainkan sebagai pemuda yang telah membuktikan bahwa kerja keras, kejujuran, dan ketulusan akan membawa nasib baik pada waktunya. Di dalam saku jasnya tersimpan masa depan yang sudah ia bangun sendiri, dan di dalam hatinya, satu nama terus terngiang lembut namun teguh.
"Mawar... aku pulang. Janjiku padamu akan aku penuhi sepenuhnya."
Bersambung...