Di mata keluarganya, Aira hanyalah seorang anak kedua yang tak pernah dianggap. Berbeda dari kakak dan adik bungsunya yang berpendidikan tinggi dan berkarier sukses, Aira hanya seorang lulusan SMA yang sehari-hari berjuang menjajakan kue keliling. Kasih sayang sang ayah menjadi satu-satunya alasan Aira bertahan di rumah yang penuh kepalsuan itu.
Namun, pertahanannya runtuh seketika saat pria yang ia cintai datang melamar. Bukan untuk dirinya, melainkan untuk sang adik. Pengkhianatan yang telah lama berjalan di belakangnya itu justru didukung penuh oleh ibu dan kakaknya.
Dalam hancurnya rasa kecewa, Aira melangkah pergi menembus derasnya hujan malam. Malang tak dapat ditolak, sebuah sepeda motor menyenggol tubuhnya yang ringkih. Sang pengendara yang merasa bersalah bermaksud membawanya ke rumah sakit, tetapi jalanan malam yang sepi dan hujan lebat memaksa mereka berteduh di sebuah gubuk tua.Siapa sangka, niat baik untuk berteduh justru berbuah petaka. Warga sekitar yang mengepung gubuk
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Rara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Membesuk Bapak di RS
"Aira kok bisa mendadak berubah gitu ya, Bu? Aneh banget! Tapi ya paling itu semua cuma hasil nyewa. Coba bayangin berapa banyak duit yang dia buang cuma buat salon, sewa gaun, tas, sama sepatu mahal. Belum lagi sewa mobil mewahnya." cetus Siska dengan nada sengit, matanya masih memancarkan rasa iri yang mendalam melihat sang adik tampil sekelas socialite.
"Tapi kalau dipikir-pikir, mana ada sih rental yang menyewakan mobil seharga belasan miliar?" sela Beni mematahkan tebakan istrinya. "Mobil semewah itu pasti milik konglomerat. Orang kaya mana yang mau mobil kesayangannya disewa-sewain ke orang sembarangan?"
Penjelasan Beni terdengar sangat masuk akal. Mana mungkin ada tempat rental yang nekat menyewakan supercar bernilai puluhan miliar? Dan pemiliknya pun tidak akan sudi membiarkan mobil mewahnya dipakai orang asing.
Siska mendadak terdiam, lalu matanya membelalak. "Eh... iya juga ya, Mas. Jangan-jangan yang dibilang Bapak waktu itu beneran lagi? Kalau Devan itu sebenarnya bukan orang sembarangan?"
"Alah! Nggak usah ngaco!" potong Bu Ismi cepat, sama sekali tak mau percaya kalau menantunya itu orang kaya. "Palingan itu mobil bosnya yang dipinjam. Kalian ingat kan, Aira pernah cerita kalau suaminya sering bertugas keluar kota buat nemuin klien? Ya pasti itu mobil dinas atau mobil bosnya! Dia cuma sengaja pinjam buat gaya-gayaan dan pamer di nikahan Karin. Sekarang mereka pasti makin gigit jari gara-gara udah bela-belain tampil mewah, eh acara Karin malah berantakan!"
Siska dan Beni berusaha membenarkan ucapan Bu Ismi. Namun jauh di dalam hati, ada perasaan tidak tenang yang terus mengusik mereka.
...----------------...
Sementara itu di rumah sakit, dada Aira terasa sesak dan nyeri. Ia melihat ayahnya terbaring lemah tanpa ada satu pun anggota keluarga yang mendampingi. Padahal sang ayah masih punya istri dan anak-anak lain.
"Mereka benar-benar keterlaluan, Mas." bisik Aira dengan suara bergetar menahan amarah. "Tahu Ayah lagi dirawat di rumah sakit, tapi satu pun nggak ada yang mau nungguin!"
Devan mengelus lembut punggung Aira, berusaha menenangkannya. "Tega banget emang meninggalkan Ayah sendirian di sini. Tapi ya sudah, tak perlu dipikirkan lagi. Yang penting sekarang ada kita."
Aira mengangguk pelan, mencoba menahan emosinya.
Begitu sampai, Devan langsung melangkah menuju ruangan dokter spesialis yang menangani ayah mertuanya. Ia ingin tahu pasti kondisi Pak Bambang saat ini.
"Tuan Devan, silakan duduk, Tuan, Nyonya." sambut dokter itu seketika, berdiri dengan sikap sangat hormat.
Dokter spesialis jantung itu tentu mengenal sosok di hadapannya: Devan Kusuma. Di dunia bisnis, nama Devan sangat disegani, seorang konglomerat muda berdarah dingin yang kekayaannya tak akan habis tujuh turunan.
Tak hanya itu, Devan juga sosok paling berpengaruh dan berkuasa di kota ini. Tak heran jika sang dokter mendadak gugup dan sedikit berkeringat dingin. Ia cemas kalau-kalau ada pelayanan rumah sakit yang kurang memuaskan hingga membuat sosok sekelas Devan sampai turun tangan mendatangi ruangannya secara langsung.
"Sebuah kehormatan bagi saya, seorang pengusaha besar seperti Anda berkenan menemui saya langsung. Ada yang bisa saya bantu, Tuan Devan?" tanya dokter itu berhati-hati.
Aira yang berdiri di samping Devan sampai tertegun melihat bagaimana seorang dokter spesialis yang terpandang begitu tunduk dan segan pada suaminya. Rasanya tak masuk akal. Setahu Aira, Devan memang kaya, tapi ia tidak menyangka suaminya punya pengaruh sebesar ini.
*Apa semua orang kaya selalu diperlakukan seistimewa ini?* batin Aira heran.
Tentu saja Aira tidak tahu, bahwa dengan satu jentikan jari, Devan bisa saja menghancurkan karier dokter itu atau siapa pun yang berani mengusik hidupnya dan orang-orang yang ia sayangi.
"Tidak perlu berlebihan." potong Devan dingin tanpa basa-basi. "Apakah benar Anda yang menangani pasien bernama Bambang Ramadhan?"
"Maksud Anda... Bapak Bambang Ramadhan yang menderita komplikasi jantung?" tanya dokter itu memastikan.
Devan mengangguk tegas.
"Benar, Tuan. Kebetulan saat beliau dilarikan ke rumah sakit semalam, saya yang langsung mengambil tindakan." jawab dokter itu.
"Bagaimana kondisinya sekarang, Dok?" tanya Devan.
Dokter itu terperanjat kaget. Ia benar-benar tidak menyangka kalau pasien kelas ekonomi bernama Bambang itu adalah ayah mertua dari seorang pemgusaha besar! Awalnya, pihak rumah sakit mengira Pak Bambang berasal dari keluarga kurang mampu karena keluarganya sendiri yang meminta agar pasien ditempatkan di ruang perawatan kelas 3.
Apalagi setelah operasi pemasangan ring jantung selesai, dokter sempat mencari pihak keluarga untuk memberitahukan perkembangan kondisi pasien. Namun, tak ada seorang pun keluarga yang menunggui. Dokter sampai berasumsi pasien ini ditelantarkan oleh keluarganya.
"Ja... jadi beliau adalah ayah mertua Anda, Tuan?" tanya dokter itu memastikan sekali lagi.
Devan mengangguk pelan.
"Iya, Dok. Bagaimana keadaan Ayah saya sekarang? Apakah parah?" sela Aira tak sabar, matanya memancarkan kecemasan mendalam.
"Setelah prosedur pemasangan ring jantung, alhamdulillah kondisi pasien sudah stabil dan jauh lebih baik, Nyonya." terang dokter itu, membuat desah napas lega keluar dari mulut Aira dan Devan. "Semalam pasien mengalami nyeri dada hebat akibat penyumbatan aliran darah ke jantung. Kondisinya sudah tidak bisa ditangani hanya dengan obat-obatan, jadi kami mengambil tindakan cepat untuk memasang ring."
"Syukurlah kalau begitu... Apa kami sudah boleh menjenguknya, Dok?" tanya Aira mendesak.
"Tentu saja, Nyonya. Mari silakan saya antarkan."
Dokter itu segera memandu Devan dan Aira menuju ruang perawatan kelas 3. Ruangan itu cukup sempit, diisi oleh 3 hingga 4 bangsal pasien tanpa fasilitas AC maupun TV hanya ada kipas angin dinding yang berputar bising.
Saat melangkah masuk ke ruangan tersebut, alis Devan makin menyatu tegang. Rahangnya mengeras melihat ayah mertuanya dibiarkan terbaring di ruangan kelas ekonomi yang panas dan berdesakan.
"Ayah saya dirawat di tempat seperti ini?" suara Devan terdengar menekan dan dingin.
Dokter itu makin merasa tidak enak. "Maafkan kami, Tuan... Semalam pihak keluarga pasien yang mendaftar memang meminta agar beliau dimasukkan ke kelas 3 saja."
Devan mengepalkan tangannya. "Pindahkan Ayah saya ke ruang VVIP sekarang juga! Soal seluruh biaya dan administrasi, biar asisten saya yang urus."
"Baik, Tuan! Pasien akan segera kami pindahkan ke ruang rawat VVIP saat ini juga!" tegas dokter itu buru-buru mengurus kepindahan Pak Bambang.
Sementara itu, Aira dan Devan melangkah mendekati bangsal. Di sana, terlihat Pak Bambang sudah perlahan membuka matanya dan mulai tersadar...
Pak Bambang terbaring sendirian. Berbeda jauh dari pasien lain di bangsal itu yang ramai dikelilingi keluarga masing-masing.
"Bapak..." Aira buru-buru mendekati brankar. Dengannya, ia menggenggam erat tangan sang ayah yang bebas dari selang infus.
Pak Bambang menoleh pelan. Matanya mengerjap, menatap anak dan menantunya dengan raut pangling. "Aira? Devan? Ini kalian, Nak?"
"Iya, Pak, ini kami. Bapak gimana jalannya? Keadaan Bapak gimana sekarang?" tanya Aira dengan nada khawatir.
"Bapak udah mendingan kok, Aira, jawab Pak Bambang sembari mengulas senyum tipis. "Kamu tambah cantik ya, Nak... Devan juga makin tampan. Bapak hampir nggak mengenali kalian berdua tadi."
Aira dan Devan cuma bisa saling lempar senyum kecil mendengar ucapan Pak Bambang.
"Syukurlah kalau Bapak udah agak mendingan. Devan ikut lega dengarnya, Pak," sahut Devan lembut.
Aira mengusap punggung tangan ayahnya. "Maafin Aira ya, Pak... Aira benar-benar baru tahu kalau Bapak dirawat di rumah sakit."
Pak Bambang menggeleng pelan. "Kamu nggak usah minta maaf, Nak. Harusnya Bapak yang minta maaf karena selalu nyusahain kalian."
"Jangan ngomong gitu, Pak. Bapak nggak pernah sama sekali nyusahain Aira."
Hati Pak Bambang terasa hangat. Rasa haru menyelimutinya melihat Aira dan suaminya rela datang menjenguk. Padahal sebelumnya, ia cuma bisa terbujur kaku sambil melamun sendirian karena tak ada satu pun yang menemani. Jangankan menjaga, anak-anak dan istrinya yang lain bahkan belum kelihatan batang hidungnya sama sekali.
"Kamu... kok bisa tahu kalau Bapak ada di rumah sakit?" tanya Pak Bambang kemudian.
"Kan hari ini harusnya hari pernikahan Karin, Pak. Tadi Aira sama Mas Devan niatnya mau datang ke rumah buat menghadiri acara. Tapi pas sampai di sana, rumah malah sepi banget. Katanya acara nikahannya Karin dibatalkan," jelas Aira.
Pak Bambang menghela napas berat. "Iya, Aira... Pernikahan Karin memang terpaksa dibatalkan karena Bagas ketahuan selingkuh. Padahal kita sudah habis-habisan mempersiapkan semuanya. Karin maunya serba mewah, bahkan Ibumu sampai nekat menggadaikan sertifikat rumah ke bank demi menuruti semua kemauan Karin."
Aira tersentak kaget.
*Sampai segitunya Bu Ismi menuruti semua kemauan Karin?* Dada Aira terasa sesak. Wajahnya seketika meredup begitu ingatan-ingatan lama berputar di kepalanya. Betapa Ibunya selalu membeda-bedakan perlakuan, menyuruh Aira ini-itu bak seorang pembantu, sementara Karin dan Siska selalu diperlakukan bak ratu.
Pak Bambang yang paham betul raut wajah putrinya langsung berucap lirih, "Udah, kamu nggak usah sedih lagi, Aira. Maafkan Ibumu ya... dia memang selalu bertindak sesuka hati sama kamu."
Aira dengan cepat berusaha menata emosinya. "Sudahlah, Pak, nggak perlu dibahas lagi. Yang penting sekarang Bapak fokus istirahat biar cepat sembuh." Aira tak ingin menambah beban pikiran ayahnya.
Devan yang sejak tadi menyimak ikut bersuara, "Apa gara-gara masalah ini penyakit Bapak jadi kambuh?"
"Entahlah, Devan. Orang tua mana yang nggak syok pas tahu calon suami putrinya malah selingkuh di detik-detik menjelang pernikahan? Orang tua mana yang nggak hancur melihat putrinya gagal nikah?" jawab Pak Bambang penuh rasa lelah dan sedih.
Tidak lama setelah itu, beberapa petugas rumah sakit masuk ke ruangan. Mereka bermaksud memindahkan Pak Bambang ke ruang perawatan VVIP ruangan yang jauh lebih luas, ber-AC, dan dilengkapi fasilitas TV.
...----------------...
Sementara itu, tanpa sepengetahuan Bu Ismi, Karin melangkah keluar rumah sendirian. Ia menyusuri pinggir jalan dengan tatapan kosong, melangkah tanpa arah dan tujuan. Bu Ismi yang sedang sibuk membuat kue di dapur sama sekali tidak menyadari kalau putri bungsunya itu sudah menghilang dari rumah.
Langkah Karin terhenti tepat di atas sebuah jembatan. Ia menunduk, menatap aliran air sungai di bawah sana yang mengalir begitu deras. Pikiran gelap mendadak menguasai kepalanya. Daripada harus menanggung malu dan aib yang luar biasa ini, ia merasa lebih baik mengakhiri semuanya.
"Mending aku mati aja daripada harus nanggung aib ini sendirian..." gumam Karin lirih.
Perlahan, Karin mulai memanjat pagar pembatas jembatan, bersiap melempar tubuhnya ke bawah sana...
**Bersambung**