Indonesia
NovelToon NovelToon
Key And Bian

Key And Bian

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Tamat
Popularitas:12.9M
Nilai: 4.9
Nama Author: LaSheira

Selamat Membaca kisah Key And Bian 💖💖

Takdir masa lalu Presdir Adiguna Group dan seorang model bernama Jesika, telah membuat sebuah benang kusut untuk kehidupan anak-anak mereka.

Key dan Bian dua manusia yang mengenal arti cinta dengan cara berbeda. Semua terasa sederhana jikalau itu hanya tentang rasa mereka berdua. Tentang cinta berbeda status, tentang orang ketiga. Namun takdir masa lalu orangtua telah menyeret mereka dalam hubungan rumit tentang penghianatan, tentang ibu yang tersakiti, tentang kebencian yang diwariskan.


Dan bagaimana kalau takdir masa lalu itu memunculkan seseorang, anak yang tak diketahui. Dari situlah rumitnya takdir masa lalu itu akan terurai.

Akankan cinta Key dan Bian bersatu menuju perayaan?

Akan ada banyak tawa dan bahagia, namun juga akan ada airmata.

selamat membaca 🤗🤗

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LaSheira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kencan

Bian tidak bisa menutupi rasa kesal

yang langsung muncul saat melihat seorang gadis sedang berjalan mendekati

mereka berdua.

“ Apa Ibu mengajaknya juga?” Bian

menatap sebal, Amanda melambai, dengan pakaian minim berwarna merah muda. Ia

terlihat cantik seperti seharusnya.

“ Bersikaplah manis pada pacarmu.” Sambil menyenggol tangan Bian.

Gadis itu berjalan cepat. “ Kakak.”

Dia langsung mengelayut manja di lengan Bian. “ Selamat sore Tante, Tante tambah

cantik saja.” Semakin erat melingkarkan tangan. Dia menoleh ke wajah Bian. “Kak,

Manda kangen. Sudah lama tidak bertemu.”

“ Benarkah, aku juga kangen. Akhir-akhir ini sibuk sekali. Maaf tidak sempat mengangkat telfonmu.” Balas Bian

sambil tersenyum. Senyum yang terasa cangung. “Sekarang mau ke mana? Mau jalan-jalan

dulu atau langsung makan. Ibu mau ke mana dulu?”

“ Kita belanja-belanja dulu aja yuk.” Yuna melangkah diikuti yang lain.

Mereka memasuki Grand Mall. Saat sore menjelang malam suasana tempat ini tidak berubah.  Para pegawai tentu saja mengenal wajah ke tiga orang ini. Bian Nugara, CEO Grand Mall. Amanda Hiller, pacar

sekaligus brand ambasador, dan putri pemilik brand Morela. Wanita anggun dan

cantik walaupun sudah berumur itu adalah Yuna Selendra. Wanita beruntung yang

bisa menjadi Nyonya Adiguna. Tiga kombinasi yang sempurna antara mereka.

Menjadi bisik-bisik iri dan juga kekaguman. Bian tersenyum ramah pada siapa pun

yang menyapanya. Namun saat tak ada yang memperhatikan, wajah masamnya muncul.

Mereka naik ke lantai dua, di mana

pusat mode berada. Disini terdapat 100 brand ternama. Pakaian, tas, sepatu,

perhiasan, segala aksesoris untuk menunjang penampilan ada di lantai ini. Bian,

berjalan di belakang kedua wanita itu. Ia melirik jam ditangannya, sudah jam

lima. Mengikuti mereka masuk ke dalam toko perhiasan. Deretan etalase mewah

berkilauan. Ditambah dengan pencahayaan yang sempurna, membuat benda-benda

mungil berharga jutaan itu berkilau. Menarik mata setiap wanita yang melihat.

“ Lihat sayang, cantik sekali kalau

kamu pakai kan?” Yuna menempelkan sebuah kalung indah ke leher Amanda. Gadis itu

memegang dengan antusias.

“ Kakak, cocok tidak?” tanyannya

pada Bian, yang memilih duduk sambil melihat deretan cincin.  Ia menoleh dan tersenyum.

“ Cocok.” Katanya singkat.

“ Tante belikan untukmu ya.” Kata

Yuna sambil menyerahkan kalung kepada pelayan wanita untuk membungkusnya.

“ Ah, makasih Tante.” Gadis cantik

itu memeluk Yuna dengan manja.

“ Calon menantu Tante yang cantik.”

Yuna membalas pelukan hangat dari Amanda. Matanya melirik Bian yang duduk tidak

acuh di sebelahnya. “ Bi, tidak ingin memberikan sesuatu untuk Amanda.”

“ Tentu, pilihlah mana yang kamu suka.”

“ Sungguh?” sangat antusias Amanda

kembali mengelayutkan tangannya manja dipergelangan lengan Bian. Bian

benar-benar tidak menyukainya. Namun ia masih bisa menarik bibirnya untuk

tersenyum.

“ Tentu saja.”

Sementara para penjaga toko berbisik. Mata mereka terlihat sangat iri. Betapa beruntungnya gadis itu, batin

mereka. Amanda Hiller, model cantik yang menjadi kekasih pangeran Adiguna batin

mereka masing-masing. Akhirnya selesai memilih, Bian menyelesaikan pembayaran.

Sementara dua wanita itu terus saja berbicara.

“ Terimakasih, datang kembali.”Bian

hanya membalas dengan senyuman.

“ Kita makan dulu yuk. Kak Bian mau

makan apa?” tanya Amanda, lagi-lagi tidak mau melepaskan tangannya.

“ Apa saja boleh, bagaimana denganmu Bu?”

“ Terserah Bian saja.”

Akhirnya mereka menuju gerai makanan, turun ke lantai satu. Semua  makanan ada di sini. Tradisional Indonesia, manca negara, atau jajanan

populer tersedia. Harganya bisa lima kali lipat daripada yang ada di luaran

sana. Namun tetap saja, tempat ini tidak pernah sepi pengunjung. Wisata mall,

sekarang memang jauh lebih diminati masyarakat. Apalagi Grand Mall, memang

berkonsep wisata keluarga. Tempat kalian bisa bersenang-senang bersama

keluarga. Dalam tanda kutip, menghabiskan uang bersama keluargamu di sini.

“ Kita ke Dapur Korea, mau kak?”

“ Boleh.”

Mereka masuk ke resto makanan

Korea.  Para pelayan berpakaian  cerah, dengan dandanan cantik ala gadis Korea.

Bian memilih duduk di kursi sofa, tepat di pinggir dinding kaca. Di luar cukup

teduh, hari ini cuaca agak suram. Ditambah senja mulai datang. Angin yang agak

dingin mengembuskan pepohonan. Lampu-lampu sudah menyala sedari tadi. Namun

nafas perekonomian, tidak pernah berhenti. Amanda memilih menu makanan.

“ Kak, aku senang kita bisa pergi seperti ini. Iakan tante?”

Yuna tertawa. “Lain kali kalian pergi berdua saja dan berkencan.” Godanya. Amanda tertawa sambil melihat ke arah Bian.

“ Tentu saja. Akan kuatur jadwalnya.” Bian membalas.

Apa yang sedang dilakukannya sekarang?. Makanan apa yang dia siapkan untukku hari ini. Mungkin dia sedang tersenyum bodoh dan tertawa senang menyapa orang-orang yang bahkan tidak

dikenalnya. Bagaimana gadis itu bisa  menarik perhatianku. Padahal cuma pedagang somai dan penjaga mini

market. Tentu saja karena wajahnya yang imut dan manis itu. Eh, sejak kapan aku

mulai berfikir begitu. Tawa cerianya yang polos dan tidak dibuat-buat. Ah,

sungguh berbeda sekali denganku. Bodoh. Apa yang kupikirkan sekarang.

“ Kak!”

Bian tersentak, kembali dari lamunan. Makanan sudah terhidang di hadapan mereka. Amanda memasukan semua bahan makanan ke dalam kuah kaldu berwarna merah . Sambil wajahnya tak berhenti

tersenyum menatap Bian. Sayuran, jamur, udang, bakso semua ia masukan. Menunggu

beberapa menit, lalu ia meraih mangkuk milik Bian.

“ Silahkan Kak.” Bian menerimanya sambil mengucapkan terimakasih. “ Aku ambilkan ya Tante?” Amanda juga

mengambil mangkok Yuna.

“ Kalian sungguh pasangan yang

sangat serasi.” Tangan Yuna membelai pipi Amanda.

“ Benarkah Tante?” Amanda

menelungkupkan tangannya ke dagu. Menyembunyikan malu. Memandang Bian, yang

tidak bereaksi selain mengunyah makanannya. Ia tampak kecewa, buru-buru

menutupi rasa kecewanya dengan mulai memasukan makanan ke mulut. Menelannya

dengan getir.

“ Kita nonton setelah ini yuk Tante.” Katanya lagi mengusir canggung.

“ Kalian berdua saja yang menonton, Tante ada urusan.”

“ Ya.” Kecewa Amanda. Memasang wajah cemberut.

“ Bian, ajak Amanda nonton film, lantas antarkan dia pulang ya. ibu pulang duluan ya.”

“ Baiklah.” Sambil mengunyah makanan, tidak menoleh. Selanjutnya hanya Amanda dan Yuna yang terlibat

pembicaraan, sementara Bian hanya diam sambil menikmati makanannya.

“ Benar lho, jangan kecewakan Ibu. Ajak Amanda nonton lalu antarkan dia pulang. Jangan buat suasana yang buruk, tersenyumlah.”

“ Aku tahu apa yang harus aku lakukan.” Datar.

“ Baiklah, Ibu percaya padamu.” Bisiknya di telinga putranya.

Merekapun berpisah. Yuna mencegah

Bian yang ingin mengantarnya. “ Jaga dirimu Bu.”

“ Tentu sayang.”

Bian memandang tubuh ibunya sampai

hilang di antara kerumunan orang yang lalu lalang. Sekarang, ia hanya berdua

dengan Amanda. Ingin dia berkata ketus dan mengusir gadis itu pergi. Jika bukan

karena ibunya dia sudah pasti tidak akan ada di sini sekarang.

“ Ayo Kak.” Lagi-lagi menggandeng

tangan Bian. “ Kak Bian mau nonton apa?”

“ Kamu yang pilih saja.”

Mereka menonton film romantis.

Amanda memilih film itu supaya bisa menciptakan kesan yang penuh cinta dan

romantisme. Dia sudah menyusun rencana, bahwa di saat mereka duduk bersebelahan,

ia akan memandang wajah Bian dengan hangat. Lalu menyentuh tangan Bian, sambil

menampilkan kesan seksi. Lalu mata manjanya agar beraksi, diakhiri dengan

senyum ringan yang akan mengetarkan setiap laki-laki. Begitulah kira-kira

kronologi yang ia susun secara matang sambil berjalan ke lantai tiga. Bian diam

sedari tadi. Ia tidak berusaha melepaskan tangan Amanda, namun ia pun tidak

mengengam tangannya dengan hangat.

“ Mau popcorn?” tanyannya pada

Amanda. Gadis itu menganguk. “ Aku beli karcis dan popcorn dulu. Tunggu sambil

duduk di sana.”

“ Baik Kak.”

Bian berjalan menuju loket

penjualan tiket. Berhenti di depan loket, menunjukkan tangan dua, dan

menyebutkan jenis film. “ Kau tahu aku sedang ada di mana kak?” sambil menelfon

dengan suara geram.

Suara di sebrang tertawa.

“ Kencan dengan Amanda.”

“ Darimana kau tahu?”

“ Ibumu yang memberitahuku. Dia

menelpon dan menanyakan jadwalmu sore tadi.”

“ Jadi ini gara-gara kamu kak!”

marah. “ Makasih mba.” Merubah nada bicara, sambil mengambil karcis dan uang

kembalian. “Aku akan membunuhmu kalau kita ketemu nanti.”  Malah mendengar Anjas yang tertawa puas di

sana, sebelum ia menutup telfon. Dia kembali dengan membawa popcorn dan cola.

“ Ayo masuk.”

“ Ia.” Amanda menerima popcorn.

Tidak berapa lama dari mereka masuk

film diputar. Suasana cukup ramai. Banyak yang berpasangan. Mereka mencari

tempat duduk mereka, lalu duduk bersebelahan. Di samping Bian duduk seorang

wanita yang sedang mengobrol bersama teman di sampingnya. Di sebelah Amanda juga

demikian. Bian bisa mendengar mereka berbisik membicarakan Amanda. Tapi dia

tidak perduli.

Film diputar. Tidak terdengar

suara, selain yang berasal dari layar besar itu.

Sudah jam delapan. Apa gadis itu

menungguku sekarang, sesekali menatap pintu ketika pelanggan datang dan kecewa

karena bukan aku. Haha, aku jadi ingin melihat wajah bodoh dan polosnya itu.

Selalu tertawa hangat pada semua orang. Ah, kenapa aku malah ada di sini.

Bersama gadis ini. Melelahkan. Bian terus saja melamun. Memandang lurus ke

layar besar namun sama sekali tidak menikmati apa pun. Pikirannya mengudara

jauh.

Sementara itu Amanda juga sama

sekali tidak menikmati film. Adegan romantis yang sudah ia susun dengan matang

tadi mental. Tidak ada satu pun yang berjalan lancar. Ia mengunyah popcorn

dengan kesal. Matanya melihat ke arah Bian lagi. Ia masih terus fokus ke layar,

matanya berkedip sesekali. Sementara tangannnya, ia meletakannya dipangkuannya.

Amanda benar-benar tidak memiliki celah untuk sekedar menyentuh tangan itu.

Sampai layar besar itu hanya

menampilkan tulisan tak ada apa pun yang terjadi. Selain rasanya perutnya akan

meledak. Ia memakan banyak sekali popcorn karena kesal.

“ Aku antar pulang.”

“ Ah ia Kak. Apa kamu menikmati

filmnya.”

“ Tentu. Kamu jugakan?”

“ Ah ia.” Apanya, aku bahkan tidak

melihat filmnya sama sekali batin Amanda kesal.

Sepanjang perjalanan Bian hanya

bicara saat menjawab pertannyaan saja. Selebihnya tidak. Balik bertanyapun

tidak. Amanda merasa kecil sekali. Ia melihat ke arah Bian lagi, ia membawa

mobilnya dengan santai dan tenang. Tidak menoleh sama sekali.

“ Apa Kak Bian bosan? Tidak suka

jalan denganku?”

“ Tidak.” Tentu saja ia. Aku bosan,

sampai rasanya ingin meledak. Kau puas. Hanya bicara dalam hati, tanpa

memandang ke arah Amanda.

Kau bilang tidak bosan, tapi jelas

sekali terlihat bahwa kau ingin hari ini segera berakhir,  kau bahkan tidak bicara jika tidak ditanya.

Tapi kenapa? Kau selalu tersenyum seperti itu, seperti mengatakan jangan kuatir

Amanda semua baik-baik saja. Aku menyukaimu. Walaupun sedikit. Itu sudah cukup

bagiku.   Sampai di depan rumah, tak

terjadi apa pun. Bahkan menyentuh tanganpun  tidak.

“ Masuk dan istrirahatlah.”

“ Terimakasih Kak.”

Bian bisa membaca wajah Amanda yang

terlihat sedih, sebenarnya ia tak mau perduli, namun ntah kenapa di sentuhnya

kepala Amanda.

“ Maafkan aku, banyak sekali yang

harus kupikirkan akhir-akhir ini.”

“ Kak Bian tidak perlu minta maaf,

aku sungguh-sungguh senang hari ini.”

“ Baiklah, masuklah sekarang,

udaranya sudah mulai dingin.”

Wajah Amanda langsung berubah

cerah, ia melangkah pergi dengan perasaan bahagia.

“ Menyebalkan.” Bian melajukan

mobilnya, memecah keramaian malam. Ada beberapa mobil yang menyalipnya. Dadanya

sudah cukup geram malam ini. “ Sudah jam sepuluh lewat, dia pasti sudah

pulang.”

Bersambung...

1
Nurma Sadiah
cie yang seneng di posesif🤣
Abizar Alfarizki
hadeeh bian 🫩
Nurma Sadiah
wow ternyata bian dan basma adik kakak😄
Nurma Sadiah
mau bakso🤤 apalagi makannya bareng orang kaya bian
Septi Msi Yogyakarta
halo kak author
aku rindu dgn krya2 mu
Nurma Sadiah
amanda sama anjas aja, cocok👍
Nurma Sadiah
ih sakit banget sih klo jadi manda/Sob/
Nurma Sadiah
happy ending😍
Mahendra Sari Anwar
kak,,ko blm ada lg cerita yg baru?
aku selalu tgu lohhh cerita nya🔥🔥🫶
love love love berkobon² nanas kan🫶
Mahendra Sari Anwar
maui lagiii🔥🫶
Maryam Husain
luar biasa
Putriani
izin mampir yah😍
☠Arin_
aku suka final ending yg bahagia gini
☠Arin_
the end🙏
☠Arin_
waaaah mau pamer🤣🤣🤣
☠Arin_
Senengnya🤣🤣🤣
☠Arin_
Sedih aja
☠Arin_
plong
☠Arin_
wah kena deh🤣🤣🤣
☠Arin_
😭😭😭😭masih berlanjot
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!