Vivian Wei keluar dari penjara demi menanggung kesalahan kakak kembarnya. Dulu keras kepala dan bar-bar, kini ia berubah menjadi gadis tangguh yang tidak takut melawan siapa pun.
Pertemuannya dengan Delvin Yang, seorang CEO sekaligus direktur universitasnya, mengubah hidup Vivian. Awalnya Delvin berniat membatalkan pertunangan keponakannya dengan Vivi Wei.
Namun, setelah mengenal Vivian, Delvin justru mengubah keputusannya. Bukan Vivi, melainkan Vivian yang ingin ia jadikan istrinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Meresmikan Hubungan
Keesokan harinya.
Vivian membuka pintu sambil mengintip ke luar.
“Seharusnya dia belum bangun. Sekarang baru pukul tujuh. Lebih baik aku keluar dulu sebelum dipaksa menikah dengan Delvin Yang,” gumam Vivian.
Ia menutup pintu perlahan, lalu berjalan cepat menuju pagar. Namun, baru beberapa langkah, tiba-tiba sebuah tangan melingkar di pinggangnya.
Vivian terkejut.
“Ha—!”
Delvin Yang menariknya mendekat dan memeluk gadis itu dengan erat, membuat jarak mereka nyaris tidak ada.
“Pagi-pagi sudah mau ke mana?” tanya Delvin dengan tenang.
Vivian menoleh dengan wajah kesal.
“Lepaskan aku!”
“Bukankah hari ini kita harus ke kantor untuk meresmikan hubungan kita?” ujar Delvin santai.
“Aku tidak pernah setuju!” bantah Vivian.
Delvin menatapnya tanpa sedikit pun panik.
“Semalam kau juga tidak mengatakan akan kabur.”
“Aku baru memutuskan pagi ini!”
“Sayangnya, aku sudah membuat keputusan."
“Apakah masih bisa dirundingkan lagi?” tanya Vivian.
Tanpa menunggu jawaban Delvin, pria itu langsung mengangkat Vivian ke pundaknya.
“Hei, Delvin Yang! Turunkan aku! Aku harus masuk ke Hua Qing!” protes Vivian.
“Setelah meresmikan hubungan kita, aku akan mengantarmu ke sana,” jawab Delvin santai sambil membawa Vivian menuju mobil.
Ia kemudian memasukkan gadis itu ke dalam mobil. Sementara itu, asisten Jo yang melihat tingkah mereka hanya bisa menahan tawa.
“Ini namanya pemaksaan!” gerutu Vivian.
“Kalau begitu, kau memilih masuk penjara,” jawab Delvin tenang.
“Kenapa harus aku?” tanya Vivian kesal.
“Kakekku ingin aku menikah tahun ini, jadi kau pilihan terbaik. Tenang saja, aku akan memberikan apa pun yang kau mau.”
Vivian melirik tajam ke arahnya.
“Semua pria sama saja. Suka pamer kekayaan.”
“Aku ingin rumah besar!” kata Vivian.
“Besok aku belikan untukmu.”
“Aku ingin mobil paling mewah.”
“Aku akan membelikan mobil dari luar negeri untukmu.”
“Aku ingin perhiasan, pakaian, tas, dan semuanya yang mahal. Aku juga mau berlian,” ujar Vivian tanpa ragu.
“Tidak masalah. Aku akan menyiapkannya. Besok semua permintaanmu akan diantar ke hadapanmu.” Delvin menatapnya santai. “Apa lagi yang kau inginkan? Aku bisa menyiapkannya mulai sekarang.”
Vivian berpikir sejenak, lalu menjawab dengan wajah serius.
“Aku mau ginjalmu.”
Delvin terdiam sesaat, lalu mencubit dagu gadis itu dengan ringan.
“Jangankan ginjalku, hatiku saja sudah kuberikan padamu.”
Vivian langsung terdiam.
Sementara itu, Jo yang sedang menyetir tersenyum kecil.
“Sejak kapan bos yang biasanya kaku bisa begitu romantis?” batin Jo.
“Direktur Yang, sejak kapan kau pintar merayu wanita? Selama hidupmu, sudah berapa banyak wanita yang kau rayu?” tanya Vivian.
“Aku tidak tahu cara merayu, dan aku juga tidak pernah dekat dengan wanita mana pun. Karena aku akan menikahimu, tidak akan ada wanita yang dekat denganku, sekarang ataupun ke depannya,” jawab Delvin.
“Mana ada pria yang tidak tertarik pada wanita?” gumam Vivian.
Beberapa saat kemudian, keduanya telah menandatangani buku pernikahan berwarna merah.
Vivian yang masih tidak percaya pernikahan mereka berlangsung begitu cepat menatap buku tersebut.
“Aku menikah dengannya begitu saja, tanpa mengetahui sifatnya. Bagaimana kehidupanku selanjutnya?” gumam Vivian.
Delvin mengambil buku tersebut dari tangan Vivian dan menyimpannya ke dalam jasnya.
“Kenapa kau mengambil punyaku?” tanya Vivian.
“Aku yang akan menyimpannya,” jawab Delvin.
Kemudian, Delvin memberikan sebuah kartu kepada Vivian dan meletakkannya di telapak tangan gadis itu.
“Gunakan sesukamu. Tidak perlu hemat. Kartu ini tanpa batas. Mengenai permintaanmu tadi, akan kusiapkan.”
“Permintaanku? Tidak perlu. Aku hanya bicara sembarangan,” jawab Vivian.
“Walaupun kau hanya bercanda, aku tetap akan memberikannya untukmu. Karena kau pantas mendapatkannya,” jawab Delvin.
“Aku juga tidak ingin uangmu. Aku bisa bekerja,” kata Vivian sambil mengembalikan kartu itu.
Namun, Delvin menahan tangannya.
“Kartu ini harus kau terima. Sebagai suamimu, ini adalah tanggung jawabku.”
Delvin menatap Vivian dengan serius.
“Mengenai pekerjaan, aku tidak akan melarangmu. Kau bisa bekerja dan bisa berhenti kapan pun kau mau. Kalau kau tidak ingin bekerja, aku juga bisa membiayai hidupmu. Kau bisa berjalan-jalan dan membeli apa pun yang kau suka. Aku tidak akan membatasi kebebasanmu.”
Vivian mulai sedikit terkejut mendengar ucapannya.
“Hanya saja, kau harus mengingat satu aturan. Jangan dekat dengan pria mana pun. Termasuk Mark Yang,” lanjut Delvin.
“Mark Yang? Bukankah dia keponakanmu?” tanya Vivian.
“Hubungan keluarga tidak mengubah aturan itu. Selain aku, kau tidak boleh dekat dengan pria mana pun. Kalau tidak, aku tidak akan ragu menghukummu,” jawab Delvin dengan tenang.
Vivian menatapnya tidak percaya.
“Baru menikah sudah banyak aturan.”
Delvin justru menjawab santai.
“Karena kau sekarang istriku.”
semangat trus kak 💪💪
sudah di tunggu nih
ayo lanjut lagi.
lucu dan menegangkan