Indonesia
NovelToon NovelToon
Obsession

Obsession

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Obsesi
Popularitas:787
Nilai: 5
Nama Author: chocomint09

Bagaimana jika hidupmu seperti di neraka hanya karena sebuah kesalahpahaman yang sulit untuk dibuktikan?

Sienna Breezie Sinclair seorang wanita malang yang dituduh membunuh seorang konglomerat terpandang, harus menerima perlakuan tak adil sepanjang hidupnya. Bak angin lalu suaranya tak pernah didengar, ia justru dituntut untuk mengakui perbuatan bejat yang tidak pernah ia lakukan.

Bisakah Sienna membuktikan bahwa bukanlah dia pelaku pembunuhan itu? atau Selamanya namanya akan tercatat dan dikenang sebagai seorang pembunuh?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chocomint09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 6

Gerimis tipis yang mengguyur sejak semalam meninggalkan aroma tanah basah dan hawa dingin yang menusuk tulang. Udara di lantai tiga mansion Vance terasa seumpama es saat Sienna melangkah perlahan menyusuri koridor, membawa nampan berisi sarapan dan cangkir kopi hitam pesanan Nico.

Langkah kaki Sienna tertahan sejenak di depan pintu ruang kerja Nico. Pipi kirinya yang memar kini berwarna keunguan kusam, sementara punggung tangan mewariskan rasa perih akibat cipratan teh panas kemarin.

Namun, ketakutan terbesar Sienna bukanlah rasa sakit fisik, melainkan keputusasaan yang menggerogoti jiwanya. Kemarin, ia sempat melihat secercah harapan saat foto tua itu ditemukan. Namun, bentakan dingin Nico di perpustakaan menegaskan bahwa pria itu telah menutup rapat hatinya dari kebenaran.

Sienna mengetuk pintu kayu tebal itu dua kali.

"Masuk," suara Nico terdengar dari dalam, berat dan tak bertoleransi.

Sienna memutar gagang pintu dan melangkah masuk. Nico duduk di balik meja mahoninya, berpakaian rapi dengan kemeja putih yang lengan bajunya tergulung hingga siku. Di hadapannya, Pak Vincent berdiri tegak seraya memegang sebuah map kulit berwarna hitam.

Atmosfer di dalam ruangan itu begitu tegang. Sienna dengan cepat menundukkan pandangannya, berjalan memutar untuk meletakkan nampan sarapan di tepi meja Nico tanpa memicu suara sedikit pun.

"Lanjutkan laporanmu, Pak Vincent," perintah Nico datar, sama sekali tidak memedulikan kehadiran Sienna yang kini berdiri kaku di sudut ruangan.

Pak Vincent sempat melirik Sienna sejenak dengan tatapan prihatin, sebelum membuka map hitam di tangannya. "Mengenai pelacakan Evander Diovanni, Tuan. Tim kami telah menemukan keberadaan dan mengonfirmasi seluruh riwayat kegiatannya pada malam penembakan belasan tahun lalu."

Sienna menahan napas. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga ia takut dua pria di ruangan itu bisa mendengarnya. Evander, nama fotografer itu kembali disebut.

Nico menyandarkan tubuhnya, menyilangkan jemari tangannya di atas meja. Matanya berkilat dingin. "Apa yang kau dapatkan?"

"Fotografer itu saat ini tinggal di pinggiran kota, mengelola sebuah toko peralatan fotografi tua," ujar Pak Vincent seraya membacakan lembaran berkas. "Terkait keberadaannya di foto pesta yang ditemui Nona Sienna kemarin, Evander telah menyerahkan bukti tambahan yang sangat kokoh."

Nico memicingkan mata. "Bukti apa?"

"Evander menyimpan seluruh log book peralatan dan nota perbaikan kameranya dari malam kejadian," terang Pak Vincent.

"Berdasarkan catatan teknis dan kesaksian dari pemilik bengkel kamera bernama Marcus yang diperiksa ulang oleh tim kita tadi pagi, Evander memang sempat kembali ke area dapur pada pukul delapan lewat empat puluh lima menit, hanya untuk mengambil tas lensa sekundernya yang tertinggal di dekat pintu servis sebelum ia benar-benar pergi meninggalkan lokasi."

Dada Sienna mendadak terasa sesak, bagai dihantam batu besar. "Tidak... itu tidak mungkin!" batinnya menjerit.

Pak Vincent melanjutkan laporannya dengan suara tanpa keraguan. "Selain itu, data transaksi menunjukkan bahwa sepuluh menit sebelum penembakan terjadi, pukul delapan lewat lima puluh menit Evander tercatat melakukan pembayaran di kedai kopi yang berjarak tiga kilometer dari mansion ini. Ada struk pembayaran berstempel waktu digital dan kesaksian kasir yang mengonfirmasi keberadaannya di sana."

Nico diam mematung. Tatapannya menajam saat mendengar rincian alibi tersebut.

"Tim kita juga memeriksa mutasi rekening bank dan seluruh aset milik Evander selama belasan tahun terakhir," tambah Pak Vincent.

"Tidak ada aliran dana mencurigakan, tidak ada penambahan kekayaan mendadak, dan tidak ada hubungan apa pun antara Evander dengan mendiang Hans Sinclair maupun pihak luar. Dia hidup sangat sederhana dengan pendapatan yang pas-pasan dari toko kameranya."

Setiap kata yang diucapkan Pak Vincent jatuh bagai palu hakim yang mengetuk vonis mati bagi harapan Sienna.

Evander Diovanni telah memperhitungkan segalanya. Pria itu tahu betul bahwa suatu hari nanti, keluarga Vance yang berkuasa mungkin akan menggali kembali malam berdarah itu. Selama belasan tahun, Evander telah membangun benteng alibi yang tak tertembus, struk pembayaran yang disiapkan secara teliti, catatan perbaikan alat yang direkayasa rapi dengan bantuan rekan lamanya, serta pola hidup sederhana untuk menutupi uang pemerasan yang ia terima secara tunai dari pelaku sebenarnya.

Nico perlahan memutar kepalanya, menancapkan tatapannya langsung ke arah Sienna yang berdiri gemetar di sudut ruangan.

Aura kelabu di mata Nico tidak lagi berisi keraguan. Alibi sempurna Evander justru meruntuhkan seluruh hipotesis alternatif yang sempat terbersit di pikirannya kemarin. Kebenaran semu yang dipercayainya selama belasan tahun kini terkunci kembali dengan jauh lebih rapat dan keras.

Nico berdiri dari kursinya. Langkah kakinya yang tenang mendatangi Sienna terasa bagai langkah algojo di atas panggung eksekusi.

"Alibi yang sempurna. Bukti fisik yang tidak terbantahkan," desis Nico, suaranya serendah bisikan kematian. Ia berhenti tepat di depan Sienna. "Fotografer itu ada di sana hanya untuk mengambil barangnya yang tertinggal, lalu pergi sepuluh menit sebelum pembunuhan terjadi."

Sienna menggelengkan kepalanya dengan terengah, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. "T-tidak... Tuan Vance, tolong dengarkan saya... Pria itu-"

"CUKUP!"

Nico mencengkeram rahang Sienna dengan jemarinya yang kuat, memaksa wanita itu menatap lurus ke dalam sepasang mata kelabunya yang membeku oleh kebencian murni.

"Kemarin aku sempat membiarkan cerita omong kosongmu mempengaruhi pikiranku," ucap Nico dengan nada suara yang begitu dingin hingga sanggup membekukan darah di pembuluh Sienna.

"Tapi hari ini, bukti menegaskan kenyataan yang ada. Tidak ada fotografer misterius. Tidak ada pihak ketiga. Ayahmu, Hans Sinclair, datang malam itu untuk mencuri dokumen berharga milik keluarga kami, dan ketika ibuku menghentikannya, ayahmu menembaknya tanpa belas kasihan!"

"Ayah saya bukan pembunuh!" jerit Sienna serak dalam kukungannya, tangisnya meledak. "Ayah saya dijebak. Saya di sana, saya melihatnya!"

"Dan kau!" Nico menekan rahang Sienna lebih keras, tidak memedulikan ringisan kesakitan dari wanita itu. "Kau bukan sekadar anak kecil yang tidak sengaja berada di sana. Kau adalah kaki tangan ayahmu! Kau ditugaskan mengawasi pintu luar dan membuang senjata itu setelah ibuku tewas!"

"Bukan... Demi Tuhan, bukan seperti itu!" Sienna memohon, memukul-mukul lengan Nico dengan jemarinya yang lemah, namun pegangan pria itu tak bergoyah sedikit pun.

Pak Vincent yang menyaksikan adegan itu hanya bisa menundukkan kepala dalam-dalam. Pengawal tua itu mendesah berat di dalam hati. Penyelidikan yang ditemui jalan buntu ini telah menghancurkan satu-satunya celah bagi ketenangan di rumah ini.

"Kau dan ayahmu adalah monster," desis Nico tepat di depan wajah Sienna. "Ayahmu sudah membusuk di liang kubur tanpa sempat menerima hukumannya. Maka dari itu, seluruh utang darah keluarga Sinclair... ada di pundakmu."

Nico menghempaskan cengkeramannya, membuat Sienna tersungkur jatuh ke lantai marmer yang dingin. Nampan sarapan di atas meja terkelupas sedikit akibat kibasan jas Nico yang bergerak cepat.

Nico membalikkan badan, menatap Pak Vincent dengan wajah tanpa ekspresi. "Pak Vincent, mulai hari ini, batasi seluruh pergerakan pelayan ini. Dia tidak boleh melangkah keluar dari area pelayan basemen tanpa pengawasan ketat. Dan pastikan pekerjaan fisiknya ditingkatkan."

"Baik, Tuan Nicolas," jawab Pak Vincent kaku.

"Keluar," perintah Nico dingin, entah ditujukan pada Pak Vincent atau Sienna.

Sienna merangkak di lantai, berusaha menguatkan dirinya sendiri di tengah isak tangis yang menyesakkan dada. Dengan tubuh yang gemetar dan hati yang remuk redam, ia berdiri pelan-pelan dan berjalan keluar dari ruang kerja itu dengan langkah terseret.

Saat pintu ruang kerja tertutup rapat, Nico memejamkan matanya rapat-rapat. Ia mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih di atas meja mahoni.

Rasa panas terbakar di dalam dadanya tidak kunjung padam. Ia telah mendapatkan kepastian bahwa sasarannya benar, namun mengapa kemenangan atas argumen ini justru terasa begitu pahit dan hampa di dalam jiwanya?

Di area lorong utama lantai dua, Isabelle Douglas berdiri bersandar di balik pilar besar, menyaksikan Sienna yang berjalan menuruni tangga dengan tubuh terkulai dan mata sembab.

Senyum puas menyungging di bibir beroleskan lipstik merah menyala milik Isabelle. Ia telah mendengar sayup-sayup keributan dari ruang kerja Nico tadi. Rencananya dan Liam untuk memanfaatkan kerapuhan situasi ini berjalan sesuai harapan.

Isabelle melangkah menghampiri Sienna yang sedang berjalan menunduk di lorong menuju tangga basemen.

Dengan sengaja, Isabelle meletakkan kakinya yang terbalut sepatu hak tinggi di depan langkah Sienna.

Brak!

Sienna yang tak siap langsung tersandung jatuh berlutut di lantai kasar dekat pintu servis. Lututnya menghantam lantai kayu dengan keras, menimbulkan rasa nyeri yang tajam.

"Ups," cibir Isabelle tanpa sedikit pun rasa menyesal. Ia berdiri menjulang di atas Sienna, menatap wanita yang tersungkur itu dengan pandangan jijik. "Sayang sekali. Pelayan murahan seperti memang tempatnya di lantai."

Sienna menahan napasnya, mencoba mengabaikan rasa sakit di lututnya. Ia berusaha untuk segera berdiri kembali tanpa menatap mata Isabelle.

Namun Isabelle menginjak ujung gaun seragam abu-abu Sienna dengan sepatu haknya, menahan wanita itu agar tetap berada di posisi berlutut.

"Dengar baik-baik, Pembunuh," bisik Isabelle seraya membungkuk sedikit, suaranya dipenuhi bisa racun. "Jangan pernah berpikir bahwa cerita bohongmu bisa membuat Nico luluh. Kau hanyalah sampah yang dibawa Nico ke sini untuk diinjak-injak. Jika kau berani mencoba menarik simpati Nico lagi dengan air mata murahanmu itu, aku sendiri yang akan memastikan nenekmu di panti jompo menderita lebih dari ini."

Sienna mendongak, matanya yang basah menatap Isabelle dengan campuran rasa takut dan amarah terendam. "Jangan... jangan pernah sentuh Nenekku."

"Lalu tahu dirilah!" bentak Isabelle pelan namun menusuk. Ia menarik kakinya dari gaun Sienna, menendang pelan bahu Sienna hingga wanita itu terlentang di lantai, sebelum melenggang pergi dengan tawa rendah yang memuaskan hatinya.

Sienna memeluk dirinya sendiri di atas lantai lorong yang dingin. Air matanya terus menetes membasahi lantai marmer. Di rumah megah ini, setiap sudut adalah perangkap, setiap orang adalah musuh, dan kebenaran yang diperjuangkannya telah terlebur menjadi kebohongan yang disepakati bersama.

Sementara itu, di dalam ruang duduk pribadinya yang mewah, Claudia Ophelia sedang menikmati teh sore saat pintu ruangan dibuka oleh seorang pengawal kepercayaannya.

Pengawal itu melangkah mendekat dan membungkuk rendah di samping kursi Claudia. "Nyonya, ada laporan dari orang kita yang mengawasi Evander Diovanni."

Claudia meletakkan cangkir porselennya dengan gerakan yang sangat tenang dan terlatih. "Bagaimana hasilnya?"

Pengawal itu membisikkan sesuatu pada Claudia. Sebuah senyuman dingin dan penuh rasa puas mengembang di wajah cantik Claudia setelah mendengar laporan dari pengawal itu. Ia menyandarkan punggungnya pada kursi berlapis beludru mahal.

"Bagus," gumam Claudia pelan, matanya menyipit penuh kemenangan. Lalu memerintah pengawal itu pergi.

Claudia berdiri dari kursinya, berjalan menuju jendela besar yang menghadap ke halaman belakang mansion. Dari kejauhan, ia bisa melihat sosok Sienna yang baru saja keluar membawa tempat sampah berat menuju area pembuangan luar di bawah pengawasan dua pengawal berjas hitam.

"Sienna Sinclair..." batin Claudia seraya menyunggingkan senyum kejam.

Malam kembali merayap, membawa kegelapan yang pekat melingkupi mansion Vance.

Di dalam kamar kecilnya di basemen, Sienna duduk di tepi tempat tidur besi yang kaku. Kamar itu begitu sunyi, hanya diisi oleh suara detak jam dinding tua dan helaan napasnya yang berat.

Kedua lututnya memar kebiruan akibat dorongan Isabelle tadi siang, dan hatinya hancur berkeping-keping akibat penolakan Nico atas kebenaran yang dibawanya. Penyelidikan atas Evander yang menemui jalan buntu telah menutup pintu keadilan yang paling terang bagi Sienna.

Sienna merogoh saku seragamnya, mengeluarkan foto kecil ayahnya yang sudah agak usang. Ia mengusap wajah hangat ayahnya di dalam gambar itu dengan ibu jarinya yang gemetar.

"Ayah..." bisik Sienna serak dalam kegelapan kamar. "Apakah Anna harus menyerah? Tidak ada yang percaya pada kita... Nico membenci Anna begitu dalam, dan Anna tidak punya kekuatan apa pun di rumah ini..."

Air mata Sienna menetes tepat di atas permukaan foto tua itu.

Namun, di tengah keputusasaan yang melumpuhkan itu, bayangan wajah Nenek Elena yang renta dan tersenyum lembut di panti jompo berkelebat di benaknya. Sienna teringat janji yang dibuatnya pada dirinya sendiri saat melangkah keluar dari gerbang penjara, ia harus bertahan hidup, bukan hanya untuk membersihkan nama ayahnya, tetapi untuk memastikan Neneknya tetap terlindungi dari kejamnya dunia luar.

Sienna menyapu air matanya dengan kasar memakai lengan seragam abu-abunya. Ia melipat kembali foto ayahnya dengan hati-hati dan menyimpannya di tempat paling aman di dalam pakaiannya.

"Aku tidak boleh mati di sini," gumam Sienna pada dirinya sendiri, matanya memperlihatkan sisa-sisa daya juang yang belum sepenuhnya padam. "Jika Nico ingin membenciku... biarlah dia membenciku. Tapi aku akan tetap hidup sampai kebenaran itu menemukan jalannya sendiri."

Di lantai atas, di dalam ruang kerjanya yang gelap tanpa lampu dinyalakan, Nico berdiri menatap ke luar jendela. Tangannya menggenggam gelas kristal berisi wiski pekat yang tak tersentuh.

Malam itu, di bawah atap mansion berdinding es yang sama, dua jiwa yang terikat oleh rantai dendam dan kebohongan masa lalu tenggelam dalam kegelapan masing-masing, tanpa menyadari bahwa badai yang sesungguhnya baru saja dimulai.

...Bersambung......

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!