Indonesia
NovelToon NovelToon
MERTUA CEREWET, TETANGGA JULID, SUAMI PELIT

MERTUA CEREWET, TETANGGA JULID, SUAMI PELIT

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Diam-Diam Cinta / Penyesalan Suami
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

Anyara menikahi Juned, pria dari keluarga berkecukupan, tapi hidupnya jauh dari nyaman — suami pelit karena terlalu penurut pada ibunya, mertua cerewet tak henti mencela, tetangga sibuk menggosip. Di balik itu, Juned diam-diam membiayai wanita lain.
Takdir mempertemukan Anyara dengan Hans, pria kaya yang ia selamatkan dari preman dengan cara kocak yang justru membuat Hans jatuh hati diam-diam. Ketika Hans kelak balas menyelamatkan Anyara dari bahaya, kedekatan mereka tumbuh perlahan — hingga kebohongan Juned akhirnya terbongkar, dan Anyara harus memilih jalan hidupnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

NOMOR TAK DI KENAL

Pagi itu Anyara sedang menjemur cucian di halaman belakang ketika ponselnya berbunyi—nomor tak dikenal. Ia ragu sesaat sebelum akhirnya mengangkat.

"Halo?"

"Halo, Mbak Anyara? Ini Hans. Yang kemarin di gang."

Anyara menghentikan gerakan tangannya yang sedang menjepit kain di tali jemuran. "Eh... Pak Hans? Kok bisa punya nomor saya?"

"Maaf sebelumnya, agak lancang. Saya minta dari Pak Salim, pemilik minimarket di ujung gang. Kebetulan dia kenal Mbak."

Anyara mengernyit, mencoba mengingat-ingat. Benar juga, Pak Salim memang tetangga jauh, sering menitip barang kalau ia lewat. "Oh... ada apa ya, Pak?"

"Saya cuma mau bilang terima kasih lagi. Dan... saya nemu ini di tas saya, ternyata jam tangan saya lepas talinya waktu kejadian kemarin, jatuh di gang. Untungnya ketemu lagi pas saya balik ke sana tadi pagi."

"Oh, syukurlah kalau ketemu," jawab Anyara, masih belum paham arah pembicaraan ini.

"Saya... mau traktir Mbak makan siang, sebagai ucapan terima kasih. Boleh?"

Anyara terdiam sebentar. Ajakan semacam ini rasanya sudah lama sekali tidak ia terima—bahkan dari suaminya sendiri.

"Terima kasih, Pak, tapi nggak usah repot-repot. Saya cuma kebetulan lewat aja waktu itu."

"Anggap aja bukan traktiran karena kejadian kemarin. Anggap aja... makan siang biasa. Saya beneran cuma pengen ngobrol sebentar, itung-itung kenalan baik-baik. Kemarin kan buru-buru."

Dari dalam rumah, terdengar suara Ratih memanggil-manggil, "Anyaraaa! Ini remot AC kenapa nggak nyala lagi sih!"

"Maaf, Pak, saya harus—"

"Nggak apa, nggak apa. Saya paham. Kalau Mbak berubah pikiran, nomor saya udah ke-save kan di ponsel Mbak. Sekali lagi terima kasih, ya."

Sambungan terputus. Anyara menatap layar ponselnya sejenak, lalu buru-buru memasukkannya ke saku dan bergegas masuk rumah, menyelesaikan urusan remot AC yang ternyata cuma kehabisan baterai.

Siang itu di meja makan, suasana terasa lebih tegang dari biasanya. Juned pulang lebih awal dari kantor, wajahnya terlihat kusut, dan sepanjang makan ia sibuk membalas pesan di ponsel sambil sesekali tersenyum sendiri—senyum yang jelas bukan untuk siapa pun di meja itu.

"Mas kenapa senyum-senyum sendiri?" tanya Anyara, mencoba basa-basi.

"Nggak, temen kantor lagi ngirim meme lucu," jawab Juned cepat, buru-buru mengunci layar ponselnya.

Ratih yang duduk di seberang malah menimpali dengan nada bangga. "Juned emang gitu dari kecil, gampang akrab sama orang. Makanya kariernya cepet naik. Beda sama—" ia melirik sekilas ke arah Anyara, lalu tidak melanjutkan kalimatnya, cukup dengan senyum sinis yang artinya sudah jelas.

Anyara memilih diam, menyendok nasi ke piring Juned tanpa diminta—kebiasaan yang sudah bertahun-tahun ia lakukan, meski akhir-akhir ini terasa semakin hambar, seperti rutinitas tanpa makna.

"Mas," Anyara mencoba lagi, "minggu depan aku boleh ikut arisan RT nggak? Udah lama nggak ikut kumpul-kumpul."

Juned mengangkat alis. "Ngapain ikut arisan segala. Buang-buang waktu. Lagian kamu kan udah ada kerjaan di rumah."

"Cuma sebentar kok, Mas. Sekalian silaturahmi sama tetangga."

"Silaturahmi apa," Ratih menyahut lagi, "paling nanti jadi bahan gosip doang. Udah, di rumah aja, urus rumah tangga yang bener."

Anyara menahan napas sejenak, menelan kata-kata yang sebenarnya ingin ia lontarkan. Ia tahu, kalaupun berdebat, hasilnya akan sama saja—kalah suara, kalah posisi.

"Iya, Bu," jawabnya pelan, lalu kembali menyantap makan siangnya dalam diam.

Sore harinya, setelah semua pekerjaan rumah selesai, Anyara duduk sendirian di kamar, memandangi ponselnya. Nomor Hans masih tersimpan di layar riwayat panggilan. Ia tidak berniat menghubunginya lagi—toh, itu cuma basa-basi orang yang baru saja ia tolong, wajar kalau berterima kasih berlebihan.

Tapi entah kenapa, pikirannya terus kembali ke percakapan tadi pagi. Bukan soal ajakan makan siangnya, melainkan caranya bicara—sopan, tidak memaksa, dan yang paling asing, terdengar seperti benar-benar peduli pada jawabannya.

Sudah berapa lama ia tidak mendengar nada bicara seperti itu ditujukan padanya?

Lamunannya buyar saat pintu kamar diketuk. Juned masuk, langsung merebahkan diri di kasur tanpa berkata apa-apa, matanya menatap langit-langit kamar.

"Mas capek?" tanya Anyara, duduk di tepi ranjang.

"Lumayan. Proyek kantor lagi ribet."

Anyara memberanikan diri, mencoba menyentuh topik yang selama ini selalu ia hindari. "Mas... akhir-akhir ini kita jarang ngobrol ya. Kayak dulu."

Juned menoleh sekilas, lalu kembali menatap langit-langit. "Ya namanya juga udah nikah lama, Ra. Nggak mungkin kayak pas pacaran terus."

"Iya sih. Tapi... aku kadang kangen aja, ngobrol berdua tanpa mikirin yang lain."

"Nanti kalau proyek ini kelar, kita jalan-jalan deh," jawab Juned datar, nada suaranya terdengar seperti janji yang sudah diucapkan ribuan kali dan tidak pernah benar-benar ditepati.

Anyara hanya mengangguk, meski dalam hati ia tahu, janji semacam itu sudah menjadi bagian dari rutinitas yang sama kosongnya dengan kalimat "iya, Bu" yang selalu ia ucapkan pada mertuanya.

Malam itu, Juned tertidur lebih dulu, ponselnya tergeletak di meja nakas dengan layar terkunci rapat—kebiasaan baru yang entah sejak kapan mulai ia perhatikan tapi tidak pernah ia pertanyakan.

Anyara menatap langit-langit kamar dalam gelap, pikirannya melayang ke mana-mana. Ke rutinitas yang menjemukan, ke mertua yang tak pernah puas, ke suami yang terasa semakin jauh meski tidur di kasur yang sama.

Dan entah kenapa, sekilas, wajah pria berjas yang tadi pagi meneleponnya kembali muncul di benaknya—bukan karena ada perasaan apa pun, ia meyakinkan diri sendiri, hanya karena itu satu-satunya percakapan hari ini yang tidak diakhiri dengan omelan atau janji kosong.

Ia menepis pikiran itu, memejamkan mata, mencoba tidur.

Tapi jauh di kota yang sama, di sebuah apartemen mewah, Hans masih terjaga, menatap layar ponselnya yang menampilkan nomor Anyara, jarinya melayang di atas tombol panggil tanpa pernah benar-benar menekannya.

Ia tidak tahu kenapa perempuan sederhana yang baru ia kenal dua hari itu bisa membuatnya sesulit ini untuk berhenti memikirkannya.

1
Heny
Apa anyana gk punya tlp orang kantor bisa di tanya kan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!