Dilara di cerai oleh Kevin karena wanita yang di cintai Kevin kembali.
Setelahnya Dilara melamar menjadi seorang baby sitter, dan di terima pada salah satu keluarga kaya. Dilara memang seorang sarjana, namun dia butuh pergi cepat dari rumah Kevin dan juga butuh tempat tinggal baru. intinya dia ingin lepas dari Kevin dan memulai hidup barunya.
namun, ternyata di rumah itu ada seorang tuan muda bernama Elian yang selalu membuat Dilara kesal dengan sikap dinginnya. lalu apakah pada akhirnya mereka akan saling suka? apa keluarganya akan setuju dengan hubungan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dilara 1
"Aku mau kita bercerai, aku yang akan urus semua berkasnya," ucap Kevin saat mereka makan malam.
Kevin memperhatikan ekspresi Dilara, sang istri yang terlihat begitu tenang. Bahkan tanpa ekspresi yang berlebihan saat dirinya mengatakan ingin bercerai. Seolah dia sudah tahu apa yang akan di katakan oleh Kevin. Namun entah kenapa ketenangan Dilara malah membuat perasaanya tak enak dan dadanya terasa sesak. Padahal dia tahu selama satu tahun pernikahan mereka, Dilara sangat mencintainya dan berusaha membuat dia jatuh cinta dengan segala sikap lebut dan kebaikannya. Namun sayang hal itu tak cukup membuat Kevin jatuh cinta.
"Apa kamu mendengar ucapanku, Dilara?"
"Aku mendengar, Mas. Bahkan sangat jelas. Baiklah, besok aku akan keluar dari rumah ini,"
"Kamu tidak tanya apa alasan aku meminta bercerai darimu?"
"Aku sudah tahu, Mas. Bahkan sudah dari dua minggu lalu, mantan pacarmu begitu rajin mengirimkan kegiatan kalian. Aku tahu kalau keberadaanku di sini hanya penghalang untuk kalian. Semoga setelah ini kamu hidup bahagia bersama dengan wanita yang kamu cintai," jawab Dilara tenang.
"Apa? Mana mungkin Asha..."
"Tidak usah kaget begitu, Mas. Justru aku sangat berterima kasih padanya, karena pada akhirnya aku memiliki alasan kuat untuk berhenti mencintai dan berharap padamu,"
"Terima kasih juga karena secara tidak langsung, dia sudah membebaskanku dari rasa lelah yang sia-sia ini," lanjut Dilara lembut.
Ia kembali menyuapkan makanan ke dalam mulutnya, lalu mengunyahnya tanpa sedikit pun keraguan di gerakannya.
Kevin terpaku. Tatapannya terkunci pada wajah Dilara yang teramat tenang. Tidak ada derai air mata, tidak ada teriakan histeris, bahkan tidak ada getaran pada suaranya. Namun justru ketenangan itulah yang mengikis belas kasihan dan menggantinya dengan penyesalan yang membakar dada.
"Dilara... kamu bercanda, kan?" suara Kevin tertahan di tenggorokan, terdengar asing bagi telinganya sendiri.
"Kenapa kamu diam saja selama dua minggu ini? Kenapa tidak pernah mengonfirmasinya padaku?"
"Untuk apa, Mas?" Dilara akhirnya mendongak, menatap manik mata Kevin. Matanya yang biasa berbinar hangat kini meredup, menyisakan kekosongan yang dingin.
"Agar kamu punya kesempatan untuk berbohong? Atau agar aku terlihat semakin menyedihkan di depanmu?"
"Aku tidak berniat membohongimu!" potong Kevin cepat, dadanya kian bergemuruh. Ada rasa takut yang tiba-tiba menjalar, rasa takut kehilangan sesuatu yang baru ia sadari begitu berharga.
"Aku dan Asha... kami..."
"Kalian saling mencintai," sela Dilara pelan.
"Dan itu sudah cukup, Mas. Satu tahun aku mencoba menjadi wanita yang kamu butuhkan. Aku memasakkan makanan kesukaanmu, merawatmu saat sakit, menunggumu pulang hingga larut malam tanpa pernah mengeluh. Aku menukar seluruh harga diriku hanya untuk secuil kasih sayang darimu."
Dilara meletakkan pisau dan garpunya dengan denting halus di atas piring. Ia tersenyum, sebuah senyuman paling menyakitkan yang pernah Kevin lihat.
"Tapi ternyata, usaha sekeras apa pun tidak akan pernah cukup untuk menggantikan seseorang yang sudah ada di hatimu sejak awal. Orang lama akan selalu menjadi pemenangnya, Mas,"
"Dilara, tolong..." Kevin meraih tangan Dilara di atas meja, jemarinya gemetar. Rasa bersalah menghantamnya tanpa ampun.
"Maafkan aku. Aku tidak tahu kalau Asha mengirimkan hal-hal itu padamu. Aku tidak bermaksud menyakitimu sejauh ini..."
Dilara perlahan menarik tangannya kembali, meloloskan jemarinya dari genggaman Kevin. Usapan lembut itu kini terasa asing.
"Rasa sakitnya sudah lewat, Mas. Dua minggu lalu, saat pertama kali melihat foto kalian, dadaku rasanya mau pecah. Aku menangis sampai mataku sembap di kamar ini sendirian. Tapi sekarang? Aku sudah bisa bernapas lega."
"Jangan seperti ini, Dilara," lirih Kevin, tenggorokannya semakin menyempit.
"Bicara padaku. Marahi aku, caci maki aku! Jangan diam dan pura-pura kuat seperti ini!"
"Aku tidak pura-pura kuat, Mas Kevin. Aku hanya sudah selesai," bisik Dilara mantap.
"Surat cerainya... tolong kabari saja padaku kapan aku bisa menandatanganinya. Karena besok aku harus mencari tempat tinggal dan juga pekerjaan,"
"Kamu tidak perlu pergi besok," potong Kevin cepat, nadanya panik dan penuh desakan.
Ia berdiri dari kursi, hingga kursinya terdorong ke belakang dan menimbulkan suara berderit tajam di atas lantai granit.
"Rumah ini atas namaku, Dilara. Besok aku yang akan pindah ke apartemen. Rumah ini... jadikan ini milikmu. Aku akan balik nama semuanya atas nama kamu sebagai... sebagai permintaan maafku atas satu tahun ini," lanjut Kevin dengan napas memburu.
Ada desakan keputusasaan dalam suaranya, seolah dengan memberikan aset berharga ini, dosa penolakannya bisa terhapus begitu saja. Dilara hanya menatap Kevin, lalu menghela napas pendek yang terdengar amat lelah.
"Tidak usah berlebihan, Mas. Aku tidak butuh rumah ini," jawab Dilara dingin namun halus.
"Tapi ini hakmu!" Kevin melangkah mendekat, matanya memerah menahan badai penyesalan yang kian menenggelamkannya.
"Kamu sudah mengabdi selama satu tahun di rumah ini, Dilara. Kamu merawat tempat ini. Aku tidak bisa membiarkanmu pergi begitu saja tanpa membawa apa pun!"
"Rumah ini kamu persiapkan untuk masa depanmu, Mas!"
"Asha!"
"Kalau aku menerima rumah ini, apa bedanya aku dengan wanita yang menerima bayaran atas jasanya?" Dilara berdiri santai, membenahi letak piringnya tanpa terburu-buru.
"Aku hanya meminta izin paling lama satu minggu agar aku bisa mencari tempat kost dan juga pekerjaan. Juga sambil menunggu kamu mempersiapkan berkas perceraian kita,"
"Lagipula, aku tidak mau ada masalah di masa depan. Aku kenal Asha. Jika dia tahu kamu memberikan rumah ini padaku, dia akan mendatangiku, mengusik hidupku, atau bahkan menuduhku yang tidak-tidak. Aku ingin keluar dari kehidupanmu dengan bersih dan tenang, Mas. Tanpa ada bayang-bayang masa lalumu, tanpa ada harta yang bisa jadi bahan perdebatan kalian kelak."
Setiap kata yang diucapkan Dilara seperti sembilu yang menyayat dada Kevin. Pria itu menyadari betapa matangnya Dilara memperhitungkan segalanya, bahkan dampak dari tabiat Asha sementara dirinya hanya sibuk memikirkan rasa bersalahnya sendiri. Kevin tahu kalau Asha dan Dilara dulunya adalah sahabat, namun berbeda dengan Dilara, Asha terkadang selalu merasa iri dengan sikap dan kecantikan Dilara. Namun karena cintanya kepada Asha, Kevin menganggap jika itu hanya kecemburuan sebagai sesama perempuan saja.
"Aku cuma ingin menebus kesalahanku, Dilara..." suara Kevin bergetar parah, jemarinya terkepal kuat di samping tubuhnya.
"Tolong, biarkan aku melakukan satu hal saja untukmu, Asha."
"Kamu sudah melakukannya, Mas," balas Dilara sembari menatap lurus ke dalam mata Kevin untuk terakhir kalinya malam itu.
"Kamu memberikanku kepastian untuk pergi. Itu sudah lebih dari cukup. Maaf aku masuk ke dalam kamar dulu,"
Asha dan Kevin memang tidur terpisah, hal itu karena Kevin yang memang selalu punya alasan untuk tidak tidur terpisah dan lebih sering tidur di kamar tamu. Dia akan masuk ke dalam kamar utama hanya untuk mandi dan mengganti pakaian.
nikmatin harimu sama lampir pilihanmu 😛