JUDUL: BERANDAL
GENRE: Romantis / Aksi / Posesif
TAG: #Badboy #GengMotor #Protective #DarkRomance #EksanPrasetya
***
"Kenapa kau menolongku? Kau tahu aku ini berandal jalanan, kan?"
"Nasya cuma tidak mau melihatmu mati di depan rumah..."
"Kau sudah menyelamatkan nyawaku, Nasya. Di duniaku, sekali kau terlibat dengan seorang berandal, kau tidak akan pernah bisa keluar lagi. Mulai hari ini, kau adalah milikku."
***
Eksan tidak pernah memilih untuk menjadi berandal. Namun, kerasnya kehidupan jalanan menempanya menjadi pemimpin faksi pemuda yang paling ditakuti di dalam gang kota. Di balik seragam sekolahnya yang koyak dan jaket hitam berlambang mawar berdarah di lengannya, Eksan adalah definisi nyata dari kata berandal—dingin, ugal-ugalan, dan tak tersentuh hukum. Bagi Eksan, hidup di jalanan hanya tentang satu prinsip: "Dalam gang, hidup berani, mati berarti."
Hingga suatu malam, setelah pertempuran berdarah yang nyaris merenggut nyawanya, Eksan yang terluka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Denis Suhendar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10: Ikatan di Balik Sisa Badai
Aroma anyir darah yang bercampur pekat dengan hawa dingin sisa hujan malam seolah membeku di dalam kamar atas markas Black Cobra. Detak jantung Nasya berpacu sangat liar, berkejaran dengan rasa panik yang nyaris merenggut seluruh kesadarannya. Kedua belah tangan mungilnya gemetar hebat saat menahan tubuh tegap Eksan yang ambruk sepenuhnya ke dalam pelukannya. Beban tubuh kekar sang berandal tertinggi itu terasa begitu berat, namun Nasya mengerahkan seluruh sisa tenaganya agar kepala Eksan tidak membentur lantai semen yang dingin.
"Eksan! Bangun, Eksan! Jangan buat aku takut seperti ini!" jerit Nasya histeris dengan suara yang parau akibat terlalu banyak menangis.
Air matanya menetes deras, membasahi pipi tegas Eksan yang kini pucat pasi bagaikan mayat. Seragam sekolah putih yang dikenakan Eksan sudah tidak berbentuk lagi, berubah warna menjadi merah pekat sepenuhnya karena darah segar yang terus merembes dari luka robek di perut kirinya.
*BRAK!*
Pintu kamar mendadak didorong terbuka dengan kasar dari luar. Raka masuk dengan langkah tergesa-gesa dengan napas yang memburu. Di belakangnya, dua anggota inti Black Cobra berjaga dengan wajah yang dipenuhi kecemasan mendalam. Sisa-sisa pertempuran besar di bawah halaman tadi masih menyisakan memar di wajah Raka, namun semua itu lenyap saat matanya menangkap sosok pemimpin tertinggi mereka yang sudah terkapar tak berdaya di dalam dekapan Nasya.
"Bos Eksan!" seru Raka panik, langsung menjatuhkan diri berlutut di samping kasur. Tangan kasarnya segera memeriksa urat nadi di pergelangan tangan Eksan. "Sialan! Denyut nadinya lemah sekali! Dia kehilangan terlalu banyak darah karena memaksakan diri berduel melawan ketua Red Wolf dalam kondisi luka jahitan yang robek total!"
"Raka, tolong dia! Aku mohon... bawa dia ke rumah sakit sekarang juga!" tangis Nasya memohon dengan sangat, mencengkeram erat jaket kulit milik Raka dengan tatapan mata yang penuh keputusasaan.
Raka menggelengkan kepalanya dengan berat, rahangnya mengeras menahan frustrasi. "Tidak bisa, Nasya! Jika kita membawa Bos Eksan ke rumah sakit umum dalam kondisi bersimbah darah dan penuh luka bacok seperti ini, pihak rumah sakit wajib melapor ke polisi. Dan musuh-musuh Black Cobra dari faksi lain pasti akan langsung mengincar rumah sakit itu untuk menghabisi Bos Eksan saat dia tidak berdaya. Itu sama saja dengan menyerahkan nyawanya ke lubang jarum!"
Raka langsung berbalik ke arah pintu dan berteriak kepada anak buahnya yang berjaga di luar. "Heii! Panggil Dokter Aryo sekarang juga! Katakan padanya situasi darurat tingkat satu! Suruh dia bawa seluruh peralatan bedah portabel dan kantong darah cadangan ke markas ini dalam waktu lima belas menit! Kalau dia terlambat semenit saja, kepalanya yang akan jadi taruhannya!"
Setelah anak buahnya berlari pergi menembus sisa hujan, Raka kembali menatap Nasya yang masih memeluk erat tubuh Eksan dengan bahu yang terguncang hebat. "Nasya, dengarkan aku baik-baik," ucap Raka dengan nada suara yang melembut namun tegas. "Sekarang, bantu aku memindahkan tubuh Bos Eksan ke atas kasur. Kita harus menekan lukanya dengan kain bersih agar pendarahannya sedikit berkurang sampai dokter tiba di sini."
Dengan susah payah, Nasya dan Raka mengangkat tubuh kekar Eksan ke atas tempat tidur di sprei hitam tersebut. Sepanjang malam yang mencekam itu, markas Black Cobra berubah menjadi ruang operasi darurat yang menegangkan. Dokter Aryo—seorang dokter khusus yang biasa merawat luka-luka orang jalanan—tiba tepat waktu dan langsung melakukan tindakan medis untuk menjahit ulang perut Eksan serta memasang infus darah.
Nasya sama sekali tidak mau beranjak dari sisi tempat tidur. Gadis sekolah yang polos itu dengan setia duduk berlutut di lantai semen, menggenggam erat telapak tangan kanan Eksan yang terasa sangat dingin dan penuh kapalan bekas perkelahian. Setiap kali melihat jarum medis menembus kulit Eksan, dada Nasya terasa begitu sesak menahan perih. Dialah penyebab semua badai berdarah ini terjadi. Jika saja Eksan tidak menolongnya di depan sekolah siang tadi, pemuda berandal ini tidak perlu mempertaruhkan nyawanya hingga berada di ambang batas kematian seperti sekarang.
Waktu berlalu dengan sangat lambat hingga semburat cahaya fajar menyingsing di ufuk timur, menerobos masuk melalui celah gorden jendela kamar yang berembun. Proses operasi darurat telah selesai sejak dua jam yang lalu, dan Dokter Aryo memastikan bahwa kondisi Eksan sudah mulai stabil, meskipun pemuda itu masih belum tersadar dari pingsannya. Raka dan anak buahnya memilih untuk berjaga di lantai bawah, memberikan ruang bagi Nasya untuk menemani sang ketua.
Karena kelelahan fisik dan batin yang teramat sangat, Nasya akhirnya tertidur dalam posisi duduk di lantai, menyandarkan kepalanya di tepi kasur, tepat di samping lengan Eksan yang masih terpasang jarum infus. Jemari mungilnya tetap menggenggam erat tangan kanan Eksan, seolah takut jika ia melepaskannya, pemuda berbahaya itu akan pergi meninggalkannya selamanya.
Sinar matahari pagi yang kian menghangat perlahan-lahan membuat Eksan mulai menggerakkan kelopak matanya yang terasa sangat berat. Rasa nyeri yang luar biasa hebat seperti dihantam godam langsung menjalar ke seluruh persendian tubuhnya saat ia mencoba menggeser posisi bahunya. Namun, fokus indra kehidupan Eksan mendadak teralihkan sepenuhnya saat merasakan sebuah kehangatan yang asing pada punggung tangan kanannya.
Eksan menolehkan kepalanya secara perlahan ke samping tempat tidur. Di sana, di bawah siraman cahaya pagi yang lembut, sepasang matanya menangkap sosok Nasya yang sedang tertidur sangat pulas. Wajah polos gadis itu tampak sedikit sembap dengan sisa noda air mata yang telah mengering di pipinya. Rambut hitam panjangnya yang sedikit berantakan tampak sebagian menutupi genggaman tangan mereka berdua.
Eksan terpaku diam selama beberapa saat. Sudut bibirnya yang terluka perlahan-lahan mengukir sebuah senyuman tipis yang sangat tulus dan hangat—sebuah senyuman yang tidak akan pernah ia tunjukkan pada siapa pun di dunia luar sana. Tangan kirinya yang bebas perlahan bergerak maju, mengusap dengan sangat lembut helaian rambut hitam Nasya agar tidak menutupi wajah cantiknya.
Gerakan kecil itu rupanya cukup sensitif untuk membuat Nasya langsung bangun karena terkejut. Sepasang mata jernih gadis itu membulat sempurna saat menyadari bahwa sang berandal tertinggi yang ia cemaskan sepanjang malam kini sudah sadar sepenuhnya dan sedang menatapnya balik dengan sorot mata elang yang pekat namun teduh.
"E-Eksan?! Kau sudah sadar?!" seru Nasya dengan nada suara yang bergetar menahan haru. Ia langsung bangkit berdiri, bersiap untuk memeriksa infus dan perban di perut Eksan dengan panik. "Jangan banyak bergerak dulu! Dokter bilang jahitan baru saja selesai diperbaiki subuh tadi. Tubuhmu masih sangat lemah!"
Sebelum Nasya sempat melangkah lebih dekat, gerakan tangan kanan Eksan yang bebas bekerja lebih cepat. Ia mencengkeram pergelangan tangan mungil Nasya dengan erat, lalu menarik gadis itu hingga tubuh mungil Nasya terduduk di tepi kasur, tepat di samping tubuhnya.
Nasya terkesiap pelan, menatap wajah Eksan dengan jarak yang sangat dekat. Debaran jantungnya kembali berpacu liar saat melihat tatapan mata Eksan yang pekat mulai berkilat penuh dengan kepemilikan yang sangat absolut dan posesif.
"Kenapa kau tidak pulang ke rumahmu, Nasya? Tempat ini penuh dengan berandal dan bau darah," tanya Eksan dengan nada suara yang rendah, berat, dan serak menahan perih di dadanya.
Nasya menundukkan kepalanya, menyembunyikan rona merah alami yang menjalar di kedua pipinya. Jemarinya meremas kain sprei hitam kasur Eksan dengan canggung. "Bagaimana aku bisa pulang setelah melihatmu sekarat demi melindungi, Eksan? Aku... aku tidak bisa meninggalkanmu dalam kondisi seperti ini," cicit Nasya dengan jujur dari lubuk hatinya.
Mendengar jawaban tulus dari wanitanya, cengkeraman tangan Eksan di pergelangan tangan Nasya perlahan melonggar, berganti menjadi sebuah genggaman erat yang mengunci jemari mereka berdua secara rapat dan hangat. Eksan menarik tangan Nasya, lalu menempelkan punggung tangan mungil gadis itu tepat di atas dada bidangnya yang berdegup dengan konstan.
"Dengar baik-baik, Nasya," ucap Eksan dengan nada suara yang bergetar penuh penekanan mutlak yang mengikat jiwa. "Malam ini kau sudah melihat sisi paling lemah dari seorang monster jalanan. Dan karena kau memilih untuk tetap tinggal di sisiku saat aku tidak berdaya... maka aku bersumpah demi sisa nafasku, kau tidak akan pernah memiliki jalan untuk kembali ke kehidupan normal lagi. Kau sudah resmi terikat denganku, menjadi milik seorang Eksan Prasetya selamanya."