Indonesia
NovelToon NovelToon
Its You

Its You

Status: sedang berlangsung
Genre:BTS / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:74
Nilai: 5
Nama Author: tatitu

Berjuang dari nol di Paris, Jungkook dan Taehyung mendirikan studio game independen bernama HexaVerse. Di tengah kerja keras membesarkan bisnis tersebut, adik Taehyung, Mira, tiba di Paris untuk kuliah.
​Jungkook yang membantu Mira beradaptasi perlahan jatuh cinta pada gadis yang kini tumbuh mandiri dan cerdas itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tatitu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sarapan Pagi, Aroma Kopi, dan Pengakuan di Meja Makan

Sinar matahari pagi menembus celah-celah tirai tipis di ruang makan apartemen, membiaskan pendar keemasan di atas meja kayu yang bersih. Sisa-sisa badai semalam telah menghilang sepenuhnya, menyisakan udara Paris yang segar dan dingin. Namun, atmosfer di dalam ruang makan itu terasa sangat berbeda, keheningan yang menggantung di udara dipenuhi canggung yang teramat pekat.

Jungkook sudah rapi dengan kemeja putih yang digulung hingga siku dan celana kain hitam, siap untuk berangkat ke kantor pusat perusahaannya. Di depannya tersaji dua piring roti panggang dan dua cangkir kopi hitam yang masih mengepulkan uap tipis. Pria itu menyandarkan punggungnya di kursi, jemarinya mengetuk-ngetuk cangkir secara berkala sembari menunggu seseorang keluar dari koridor kamar.

Tak lama kemudian, langkah kaki pelan berbunyi. Mira melangkah ragu menuju ruang makan. Gadis itu sudah mengenakan pakaian rapinya untuk pergi ke kampus, sebuah sweater rajut berwarna krem dan rok lipat panjang. Rambutnya terurai halus, namun wajahnya menunduk dalam-dalam, berusaha keras menghindari kontak mata langsung dengan pria yang duduk di meja makan.

Rona merah semalam rasanya masih tersisa tipis di kedua pipinya.

"Pagi, Mira-ya. Duduklah, aku sudah menyiapkan sarapan," sapa Jungkook seraya berdeham pelan, berusaha memberikan nada suara se-normal mungkin agar tidak memperkeruh suasana.

"P-pagi, Oppa... Terima kasih sarapannya," bisik Mira pelan. Ia menarik kursi di seberang Jungkook dan duduk dengan gerakan serba canggung, menarik piring rotinya mendekat.

Selama beberapa menit, hanya suara denting sendok dan kunyahan pelan yang terdengar. Jungkook sesekali melirik gadis di depannya dari balik cangkir kopinya. Ia tahu betul Mira sedang didera rasa bersalah dan malu yang luar biasa atas kejadian tengah malam tadi.

Mira meraih cangkirnya, menggenggam keramik hangat itu dengan kedua tangan untuk menyalurkan rasa gugupnya. Setelah mengumpulkan keberanian, gadis itu akhirnya memberanikan diri mengangkat wajahnya, menatap lurus ke arah mata hitam Jungkook.

"Oppa..." panggil Mira pelan.

"Ya?" Jungkook menghentikan gerakan tangannya, menatap Mira penuh perhatian.

"Soal... soal semalam... aku benar-benar minta maaf," ucap Mira dengan suara bergetar halus. Matanya menyiratkan kepolosan dan rasa penyesalan yang jujur. "Aku sudah membuat Oppa kaget dan tidak nyaman. Aku menyergap Oppa begitu saja, padahal Oppa baru selesai mandi... aku benar-benar tidak berpikir jernih karena panik."

Jungkook tersenyum tipis, matanya melunak menatap raut panik gadis di depannya. "Tidak apa-apa, Mira. Kau tidak perlu minta maaf sama sekali. Aku mengerti kau sangat ketakutan semalam."

Mira menghembuskan napas panjang yang tertahan di dadanya, lalu menunduk menatap permukaan cangkir kopinya. "Ketakutanku pada hujan badai dan petir memang agak berlebihan... Ada alasannya kenapa aku seperti itu," gumam Mira pelan, memulai kisahnya.

Jungkook meletakkan cangkirnya ke piring alas, memajukan sedikit tubuhnya ke meja untuk mendengarkan dengan saksama.

"Dulu... saat pertama kali aku harus pindah ke rumah yang dibelikan taehyung Oppa dari hasil menjual rumah lama kami dan tinggal sendirian, aku sangat asing dengan semuanya," kenang Mira dengan nada suara yang sayup. "Suatu malam, ada badai yang sangat besar persis seperti semalam. Listrik di rumah padam total. Suara petirnya menyambar sangat keras sampai jendelaku bergetar. Aku ketakutan setengah mati, menangis sendirian di sudut kamar sambil memeluk lutut."

Mira jeda sejenak, mengukir senyum tipis yang getir saat mengingat kenangan masa lalunya. "Aku tidak punya siapa-siapa di Seoul saat itu. Satu-satunya hal yang bisa kulakukan adalah menelepon Taehyung Oppa. Kakakku sedang berada di sini karena pekerjaan, jadi dia tidak bisa langsung datang."

Jungkook mendengarkan tanpa memotong sedikit pun, matanya menatap lekat raut wajah Mira.

"Taehyung Oppa tidak mematikan teleponnya sepanjang malam," lanjut Mira, pandangannya menerawang. "Dia membiarkan sambungan telepon tetap menyala berjam-jam, membacakan cerita, bercanda, atau sekadar bernyanyi pelan sampai aku tertidur di tengah kegelapan. Sejak saat itu, setiap kali ada hujan badai, aku selalu teringat rasa sepi dan takut masa-masa di Seoul itu."

Mira kembali menatap Jungkook, kali ini dengan tatapan yang jauh lebih tenang. "Makanya semalam, saat listrik padam dan petir menyambar, aku refleks berlari mencari orang... Aku tidak mau merasa sendirian lagi seperti dulu. Maaf ya, Oppa, kalau aku merepotkanmu."

Mendengar penuturan tulus dari bibir Mira, dada Jungkook terasa berdesir hangat sekaligus berdenyut nyeri. Pria itu menyadari betapa dalam rasa sepi yang pernah dirasakan gadis di depannya ini. Dinding canggung yang sempat terbangun di antara mereka sejak tengah malam tadi seketika runtuh tanpa sisa, digantikan oleh rasa iba dan dorongan protektif yang semakin mengakar kuat.

Jungkook mengulurkan tangan tegapnya melintasi meja makan, meletakkan telapak tangannya di atas punggung tangan mungil Mira yang sedang menggenggam cangkir. Sentuhan hangat itu membuat Mira tertegun.

"Mira-ya, dengarkan aku," ucap Jungkook dengan suara yang dalam, mantap, dan penuh kehangatan. Ia menatap lurus ke dalam iris mata Mira. "Kau tidak merepotkan sama sekali. Jangan pernah merasa bersalah karena meminta perlindungan saat kau takut."

Mira terpaku, merasakan kehangatan jemari Jungkook yang mengusap lembut punggung tangannya.

"Kau tidak di Seoul lagi, dan kau tidak sendirian," lanjut Jungkook penuh penekanan. "Taehyung mungkin jauh di Korea, tapi sekarang ada aku di sini, di Paris. Mulai sekarang, setiap kali ada badai, petir, atau apa pun yang membuatmu takut... kau tidak perlu menangis lewat telepon lagi. Kau bisa datang padaku kapan saja."

Kata-kata itu meluncur begitu tulus dari bibir Jungkook, menyusup masuk ke dalam relung hati Mira yang paling dalam. Rasa hangat menjalar ke seluruh dada gadis itu, melelehkan sisa-sisa trauma dan rasa takutnya. Untuk pertama kalinya pagi itu, sebuah senyuman manis dan lega terukir indah di wajah Mira.

"Terima kasih, Jungkook Oppa..." bisik Mira tulus.

Jungkook menepuk pelan tangan Mira sebelum menarik tangannya kembali dan melirik jam tangannya. "Nah, sekarang habiskan sarapanmu. Setelah ini aku akan mengantarmu ke kampus sebelum aku pergi ke kantor."

"Eh? Oppa tidak perlu repot-repot, aku bisa naik bus—"

"Tidak ada bantahan," potong Jungkook tegas namun diselingi senyum jenaka yang menawan. "Pangeran pelindungmu ini yang akan mengantarmu sampai depan gerbang kampus hari ini."

Pipi Mira kembali merona merah mendengar godaan pelan dari Jungkook, namun kali ini rasa malu itu disertai oleh getaran kebahagiaan yang membuncah di dadanya. Pagi itu di Paris, di balik aroma kopi dan roti panggang, ikatan di antara mereka telah bergeser ke tingkat yang jauh lebih dalam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!