Indonesia
NovelToon NovelToon
Enemy To Lovers: Tersangkut Cinta Musuh Bebuyutan

Enemy To Lovers: Tersangkut Cinta Musuh Bebuyutan

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Idola sekolah / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: theonlywaaannn_

Kiara cuma punya satu impian di sekolah barunya: lulus dengan tenang tanpa drama.

​Sayangnya, takdir malah melemparnya tepat ke lingkaran kehidupan Khafi Mahendra—cowok paling jahil, menyebalkan, dan susah ditebak di SMA Cahaya Permata.

​Dua kepala batu. Dua pendirian kuat. Satu hubungan tanpa komitmen yang dipenuhi provokasi. Ketika benci menjadi satu-satunya bahasa yang mereka pahami, seberapa jauh mereka bisa saling menghindar?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon theonlywaaannn_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3 : Masa pengenalan yang agak brutal

Bel istirahat kedua baru saja berbunyi ke seluruh penjuru SMA Cahaya Permata. Koridor sekolah yang tadinya tenang seketika berubah riuh oleh derap langkah ratusan murid yang berhamburan keluar kelas. Suasana panas khas tengah hari terasa begitu menyengat, membuat kantin utama di area belakang sekolah menjadi destinasi paling diburu.

​Kiara melangkah pelan menyusuri lorong kantin yang disesaki kerumunan siswa. Di sampingnya, seorang gadis berpipi bulat dengan almamater OSIS yang terlipat rapi di tangannya berjalan dengan langkah cekatan. Neona—gadis yang baru beberapa jam menjadi teman sebangku Kiara—adalah tipe remaja yang energik. Wajahnya yang lucu berpipi cabi sering kali menipu orang, karena di balik penampilannya yang menggemaskan, Neona adalah siswi berprestasi, anggota OSIS yang teratur, sekaligus pemilik lidah paling ceriwis di XI IPS 2.

​"Awas, Ra, jangan lewat sebelah kiri situ, biasanya licin bekas tumpahan es teh anak-anak futsal," Neona berkata seraya menarik pelan lengan seragam Kiara, menghindar dari kerumunan cowok-cowok yang sedang bersenda gurau.

​Kiara tersenyum tipis, merasa beruntung mendapatkan teman sebangku sehangat Neona. "Makasih ya, Na. Jujur, gue masih agak linglung sama denah sekolah ini. Luas banget."

​"Santai aja! Sama gue mah aman. Nanti sepulang sekolah kalau lo mau keliling lapangan utama atau mau tahu seluk-beluk laboratorium, bilang aja. Gue hafal luar kepala," sahut Neona bangga. Pipi bulatnya membusung lucu saat ia tersenyum lebar.

​Mereka akhirnya menemukan satu meja kayu yang kosong di sudut kantin, agak jauh dari lalu lalang utama. Setelah memesan dua mangkok bakso urat dan es teh manis, keduanya menduduki bangku panjang tersebut.

​Neona langsung mengaduk mangkok baksonya yang berasap tipis, lalu menuangkan dua sendok penuh sambal hijau. "Nah, Kiara, selamat datang secara resmi di Kantin Utama SMA Cahaya Permata! Gimana kesan pertama lo masuk kelas kita?"

​Kiara memegang gelas es tehnya yang berembun, membiarkan rasa dingin menyejukkan telapak tangannya. "Asyik sih. Anak-anaknya ramah, gurunya juga jelasin materinya enak. Cuma... ya gitu deh."

​Neona menghentikan suapan baksonya di udara. Matanya yang bulat berbinar penuh rasa ingin tahu. "Cuma apa? Ada yang bikin lo ganjal? Atau ada anak cowok yang mulai godain lo? Soalnya pas lo perkenalan tadi di depan, mata anak-anak cowok langsung pada hijau semua tahu nggak!"

​Kiara terkekeh pelan, mengingat celetukan Bagas dan kelakuan ajaib Rian si Ketua Murid yang mendadak sok berwibawa di depan kelas. "Nggak kok, mereka cuma bercanda aja. Tapi, Na... pas tadi di depan kelas, gue liat ada sekumpulan cowok di barisan paling belakang yang duduknya santai banget. Itu mereka memang langganan duduk di pojokan?"

​Neona mendengus pelan, lalu menaikkan pandangannya memindai sekeliling kantin. Sudut matanya menangkap keriuhan di meja paling besar yang terletak di area saung outdoor kantin. Di sana, empat orang cowok sedang menjadi pusat perhatian, dikelilingi gelak tawa beberapa murid lainnya.

​"Oh... sekawanan manusia pojok itu?" Neona memutar bola matanya, lalu menyuap baksonya lagi. "Itu sebutannya geng Anak Pojok. Bisa dibilang mereka itu 'ikon' sekaligus sumber kekacauan Sebelas IPS Dua. Lo harus ekstra hati-hati sama mereka, Ra."

​Kiara menopang dagu dengan satu tangan, pandangannya ikut terlempar ke arah meja outdoor tersebut. "Memangnya mereka kenapa? Kelihatan populer banget."

​"Populer sih memang populer, tapi kelakuannya itu loh... ajaib," Neona mulai menurunkan volume suaranya, memajukan badannya ke depan meja agar obrolan mereka lebih intens. Sifat cerewet Neona seketika menyala. "Gue ceritain satu-satu ya, biar lo enggak salah langkah."

​Kiara mengangguk menyimak dengan serius.

​"Lihat cowok yang pakai jaket kulit hitam tapi seragamnya dikeluarin itu?" Neona menunjuk dengan lirikan matanya. "Itu namanya Ferdi Ramadhan. Dia itu maskot humor di kelas. Mukanya tuh kaya aa sunda gitu ya tapi ngomongnya ceplas-ceplos, tapi kalau udah jam pelajaran matematika, kerjaannya cuma tidur di kolong meja."

​"Terus yang di sebelahnya?" tanya Kiara.

​"Nah, yang mukanya sok ganteng sambil mainin pemantik api padahal nggak ngerokok itu Kevin Adijaya." Neona menggelengkan kepala seraya mendecak. "Dia sama Ferdi itu racun kelas. Kevin itu buaya darat tingkat dewa, Ra! Janjinya manis banget kayak gulali, padahal korbannya udah tersebar dari kelas sepuluh sampai kelas dua belas. Lo jangan pernah mau kalau diajak pulang bareng sama dia, ntar nama lo masuk daftar korbannya."

​Kiara tertawa kecil mendengar gaya bicaranya Neona yang penuh ekspresi. "Galak banget lo sama temen sendiri."

​"Bukan galak, ini peringatan dini demi keselamatan hati lo sebagai anak baru!" Neona menepuk dada dengan percaya diri. "Nah, kalau yang penampilannya paling rapi, bajunya selalu dimasukin dan rambutnya pakai minyak rambut klimis itu namanya Pandu Wibowo. Dia yang paling normal di antara mereka bertiga. Anaknya pinter, kadang suka bantu jawab pertanyaan guru kalau yang lain pada buntu, tapi tetap aja kalau udah gabung sama gengnya, otaknya ikut ketularan gesrek."

​Pandangan Kiara bergeser. Di antara ketiga cowok yang sibuk bersenda gurau dan tertawa keras itu, duduk seorang cowok dengan postur paling jangkung. Cowok itu menyandarkan punggungnya di kursi kayu, kemeja putihnya sengaja dibuka satu kancing teratas memperlihatkan kaos dalaman hitamnya. Tangannya dengan lincah memainkan game di ponselnya, sementara wajahnya memancarkan aura dingin yang tak tersentuh.

​"Kalau yang di tengah itu... siapa namanya?" gumam Kiara, meski sebenarnya ia sudah memprediksi jawabannya.

​Neona menghentikan gerakan tangannya. Ia menghela napas panjang, menatap Kiara dengan pandangan serius.

"Nah, ini dia kapten tim basket sekolah kita: Khafi Mahendra. Dia langganan juara turnamen, dan otaknya itu encer banget kalau lagi mau mikir. Kadang kalau lagi pinter, pinternya kebangetan sampai guru-guru kagum. Tapi kalau lagi malas... ya malas-malasan banget, sukanya santai semau dia."

​Neona memajukan badannya sedikit, memecah fokus Kiara. ​"Dia itu idola utama SMA Cahaya Permata, Ra," lanjut Neona seraya mengaduk es tehnya yang tinggal separuh. "Cewek-cewek satu sekolah banyak yang ngantre mau jadi pacarnya. Tapi tau nggak? Ada satu cewek kelas sebelah, namanya Selly. Itu cewek obses parah sama Khafi! Sampai-sampai Selly pernah ngelabrak siswi kelas sepuluh cuma gara-gara tuh anak ngasih botol minum ke Khafi pas selesai latihan basket."

​Kiara mengernyitkan dahi. "Obses gimana maksud lo? Sampai segitunya?"

​"Serius! Selly itu ngaku-ngaku ke semua orang kalau dia itu calon pacar resminya Khafi, padahal Khafinya sendiri cuek bebek dan bahkan sering ngabaiin dia. Pokoknya kalau ada cewek yang berani dekat-dekat atau bikin urusan sama Khafi, Selly bakal langsung pasang badan kayak gukguk penjaga. Makanya, anak-anak cewek lain pada takut urusan sama Khafi." Neona menunjuk Kiara dengan sendoknya. "Termasuk lo, Ra! Muka lo yang adem begini rentan banget jadi sasaran gosip kalau sampai kedapatan ngobrol sama Khafi."

​Kiara menyunggingkan senyum miring, memutar memori kejadian tadi pagi di area parkiran saat rambutnya melilit di gantungan tas milik cowok itu.

Boro-boro ngobrol manis, pagi-pagi aja gue udah baku hantam omongan sama tuh cowok nyebelin, batin Kiara sengit.

​"Kenapa lo malah senyum-senyum gitu?" Neona menatap Kiara curiga. "Lo nggak ada niatan buat naksir dia, kan?"

​"Nggak bakal!" sahut Kiara cepat dan tegas. "Bahkan kalau dia cowok terakhir di bumi ini pun, gue bakal mikir jutaan kali buat sekadar sapa dia."

​"Bagus! Pertahankan prinsip itu!" Neona mengancam dengan nada bercanda.

​Namun tiba-tiba, ponsel Neona di dalam saku almamater OSIS-nya bergetar hebat. Neona merogoh benda persegi itu dan membaca pesan yang masuk. Seketika itu juga, wajah cerianya berubah menjadi panik.

​"Aduh, Ra! Gawat!" Neona berdiri terburu-buru hingga bangkunya bergeser kasar. "Gue lupa kalau jam istirahat ini ada rapat mendadak pengurus OSIS buat penyiapan event bulan depan. Gue harus ke ruang rapat sekarang juga!"

​Kiara ikut berdiri, merasa kaget. "Eh? Terus lo gimana?"

​"Gue harus pergi sekarang, maaaaf banget ya, Ra! Lo nggak apa-apa kan balik ke kelas sendirian? Atau lo mau nunggu di sini?" Neona menatap Kiara penuh rasa bersalah, pipi bulatnya mengembung panik.

​Kiara tersenyum menenangkan temannya. "Nggak apa-apa, Na. Santai aja, kan tinggal balik ke kelas. Lagian bakso gue juga udah habis kok. Sana pergi, nanti lo dicariin Ketua OSIS."

​"Duh, muka lo emang kalem kayak malaikat tapi hati lo emang adem banget. Yaudah gue duluan ya, Ra. Nanti di kelas kita lanjut obrolan gosipnya!" Neona melambaikan tangan heboh seraya berlari cepat menerobos kerumunan murid di kantin.

​Kiara menggelengkan kepala melihat tingkah Neona yang seperti angin puyuh. Setelah merapikan tempat duduknya dan memastikan tidak ada barang yang tertinggal, Kiara berjalan pelan meninggalkan area kantin menuju gedung kelas XI IPS 2.

​Suasana kelas XI IPS 2 saat Kiara kembali terasa sepi dan lengang. Sebagian besar murid masih berada di luar kelas—ada yang nongkrong di selasar, di perpustakaan, atau masih menikmati jajanan di kantin. Hanya ada dua atau tiga orang siswi yang sedang mengobrol pelan di barisan depan.

​Kiara melangkah menuju mejanya, mengeluarkan buku catatan baru bergaris rapi yang baru saja ia beli untuk mencatat materi pelajaran.

​Ia mulai menuliskan judul bab dengan tulisan tangannya yang rapi dan bersih. Namun, kedamaian itu tidak bertahan lama.

​Langkah kaki yang santai terdengar mendekati mejanya. Khafi berjalan melewati lorong meja Kiara hendak menuju tempat duduknya di belakang. Saat melintas, mata Khafi melirik ke arah buku catatan Kiara yang tampak sangat bersih dan tertata.

​Sifat jahit dan menyebalkan Khafi yang teruji oleh ketegasan Kiara tadi pagi mendadak kumat. Tanpa permisi, Khafi sengaja berhenti di samping meja Kiara, meraih pulpen hitam yang tergeletak di meja, lalu dengan gerakan cepat menarik garisan melintang di tengah halaman buku catatan baru Kiara.

​Sret!

​Coretan tinta hitam tebal kini membentang merusak tulisan rapi Kiara.

​"Yahh," ucap Khafi datar, tanpa ada nada bersalah sedikit pun. Ia menaruh kembali pulpen itu di meja seraya menatap Kiara dengan ekspresi datar yang menyebalkan. "Maaf, kepeleset."

​Kiara membeku. Matanya menatap garisan hitam yang merusak buku barunya, lalu perlahan terangkat menatap wajah Khafi.

​Bagi Kiara, buku catatan rapi adalah hal yang amat ia jaga. Dan fakta bahwa cowok ini sengaja merusaknya hanya untuk memancing emosi benar-benar sudah melewati batas toleransinya. Pendirian kuat dan rasa tidak terimanya membakar habis sisa-sisa kesabaran Kiara.

Belum sempat Khafi menyelesaikan kalimatnya, Kiara langsung bangkit dari kursi. Tanpa ragu dan tanpa rasa takut, Kiara melangkah maju, meraih bagian belakang rambut hitam Khafi, lalu menariknya ke bawah dengan cengkeraman yang sangat kuat.

​"Aww! Aduh! Gila lo ya!"

Khafi yang posturnya jauh lebih tinggi terpaksa membungkukkan badannya secara drastis menahan perih di kulit kepalanya yang terasa seperti mau terkelupas. Tangannya yang besar refleks memegang pergelangan tangan Kiara, berusaha melepaskan cengkeraman maut tersebut, tapi jemari Kiara mengunci dengan begitu rapatnya.

​"Rasa bersalah lo di mana, hah?!" semprot Kiara dengan emosi yang sudah memuncak. Jemarinya makin mencengkeram erat rambut Khafi, membuat cowok jangkung itu meringis kesakitan. "Buku gue baru! Lo sengaja kan?! Minta maaf nggak lo!"

​"Lepasin dulu! Ini sakit, Kuntil!" jerit Khafi seraya berusaha memegang pergelangan tangan Kiara untuk mengurangi tekanan.

​"NAMA GUE KIARA! MAAF NGGAK?!" Kiara memberikan hentakan tarikan sekali lagi.

​"Aduh, aduh! Gila lo ya! Ini penganiayaan tau nggak?! Lepasin!" meringis kesakitan, Khafi mencoba menahan tangan Kiara seraya menghentak-hentakkan kakinya. "Rambut gue bisa rontok semua, Kuntil!"

​"NAMA GUE KIARA! BUKAN KUNTIL! DASAR JANGKUNG NYEBELIN!" balas Kiara seraya memberikan satu hentakan tarikan ekstra di rambut Khafi.

​Pada saat yang bersamaan, pintu kelas XI IPS 2 terbuka lebar. Pintu itu mendadak ramai karena para murid yang baru kembali dari kantin—termasuk anggota geng Anak Pojok: Ferdi, Kevin, dan Pandu—serta Neona yang baru saja selesai rapat OSIS.

​Pemandangan di pojok belakang kelas seketika membuat mereka semua mematung di tempat dengan mulut ternganga lebar.

​Di sana, kapten basket SMA Cahaya Permata yang terkenal paling cool, disegani, dan tak tersentuh, sedang membungkuk ketakutan sambil meringis kesakitan karena rambutnya dijambak habis-habisan oleh seorang murid baru bertubuh mungil yang baru beberapa jam lalu terlihat seperti cewek paling anggun se-angkatan.

​"Buset! Itu si Khafi lagi dianiaya?!" pekik Ferdi dengan mata membelalak.

​"Demi apa si cewek baru berani nampar—eh, menjambak sang Kapten?!" Kevin ikut melongo tak percaya.

​Pandu menjadi orang pertama yang tersadar dari keterpakuannya. "Eh, Ferdi! Kevin! Bantuin gue misahin! Jangan ditontonin doang, bego!" teriak Pandu seraya berlari heboh ke pojok belakang.

​Neona yang baru masuk kelas sampai menjatuhkan folder OSIS di tangannya. "Kiara?! Ya ampun, Kiara!"

​Ketiga cowok geng Anak Pojok dan Neona langsung mengerubungi Kiara dan Khafi, mencoba melerai perkelahian yang amat sangat tidak seimbang itu.

​"Ra! Udah, Ra! Kasihan palanya si Khafi ntar botak sebelah!" bujuk Pandu seraya memegang bahu Kiara dengan hati-hati.

​"Waduh, waduh! Jangan berantem di kelas!" jerit beberapa siswi kelas yang heboh namun tak berani mendekat.

​Melihat situasi yang makin tidak terkendali dan kepala Khafi yang sudah makin tertunduk meringis, Rian si Ketua Murid (KM) akhirnya berlari heboh bersama Pandu untuk melerai.

​"Eh, eh! Udah, Udah! Lepasin, Ra!" Rian memegang lengan Kiara dengan panik seraya membetulkan kacamatanya. "Nanti kelihatan guru bisa kena poin kalian berdua!"

​Pandu memegang bahu Khafi, menahan badan temannya agar tak oleng. "Udah, Ra, kasihan rambut si Khafi rontok semua ntar! Khaf, lo juga minta maaf napa!"

​"Iya, iya! Gue minta maaf! Lepasin dulu!" ringis Khafi akhirnya mengalah karena tak tahan dengan rasa senat-senut di kepalanya.

​Setelah didesak Rian dan Pandu, Kiara akhirnya melepaskan cengkeraman tangannya dengan sentakan kasar. Ia merapikan seragamnya yang sedikit kusut, memandang Khafi dengan tatapan tajam dan dingin.

Setelah perjuangan heboh selama hampir dua menit yang diwarnai dorong-dorongan dan jeritan, akhirnya saat bel masuk jam pelajaran kedua berbunyi nyaring, Kiara secara perlahan melonggarkan cengkeraman jemarinya pada rambut Khafi, lalu melepaskannya dengan mengibaskan tangannya santai.

​Sret.

​Khafi langsung menegakkan tubuhnya dengan cepat. Tangannya bergerak cepat mengelus-elus kulit kepalanya yang kini memerah dan berdenyut panas. Rambut hitamnya yang tadinya tersisir rapi kini mencuat ke segala arah seperti sarang burung terkena angin puyuh. Matanya yang tajam membelalak menatap Kiara dengan tatapan campuran antara tidak percaya, kesal, dan terkejut.

​"Gila lo ya!" bentak Khafi seraya merapikan rambutnya dengan napas terengah-engah. "Muka aja adem kayak ubin masjid, tapi kelakuan kayak preman pasar! Nggak ada anggun-anggunnya sama sekali jadi cewek!"

​Kiara menyibak rambut hitam panjangnya ke belakang bahu dengan santai. Ia merapikan lipatan seragamnya yang sedikit kusut, lalu menatap lurus ke dalam mata Khafi dengan dagu terangkat tinggi—memancarkan aura ketegasan penuh pendirian.

​"Bodo amat! Gue nggak peduli!" cetus Kiara dingin. "Makanya, kalau nggak mau dijambak, otak sama kelakuan lo itu dipakai! Jangan cuma ngandelin badan jangkung doang!"

​Setelah mengucapkan kalimat menohok itu, Kiara berbalik arah secara anggun, menarik lengan Neona yang masih berdiri membatu di sampingnya, lalu melangkah kembali ke meja mereka di barisan ketiga tanpa memalingkan kepala sedikit pun.

​Seisi kelas XI IPS 2 hening seketika. Tidak ada satu pun murid yang berani bersuara melihat aksi keberanian ekstrem yang baru saja dilakukan oleh siswi baru tersebut.

Khafi tidak membalas ucapan teman-temannya. Matanya yang biasanya memancarkan kesan dingin kini menatap lurus pada punggung Kiara yang sedang tenang membuka buku catatannya di depan. Meski kulit kepalanya masih terasa senat-senut perih, sebuah senyuman tipis yang tak disadari siapa pun mendadak terukir di sudut bibir Khafi.

​Bener-bener Kuntil bar-bar yang menarik, batin Khafi seraya mengacak rambutnya pelan.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

​Saat bel tanda berakhirnya kegiatan belajar mengajar berkumandang di sore hari, seluruh siswa XI IPS 2 bersiap-siap untuk pulang. Kiara memasukkan kotak pensil dan buku tulisnya ke dalam ransel dengan rapi.

​"Ra, maafin gue ya yang tadi siang mendadak ninggalin lo ke ruang OSIS," ucap Neona seraya menyampirkan tas di bahunya seraya menatap Kiara dengan raut kagum bercampur ngeri. "Tapi jujur... lo keren banget tadi! Belum pernah ada yang berani ngerusak rambutnya Khafi sampai kayak gitu,"

​Kiara terkekeh pelan seraya berdiri dari bangkunya. "Gue cuma membela diri aja, Na. Dia duluan yang kelewatan."

​"Tetap aja keren! Yaudah, lo pulang naik apa?"

​"Dijemput sopir rumah. Mobilnya udah jalan mau nunggu di gerbang," jawab Kiara.

​"Yaudah, gue juga mau ambil motor di parkiran. Yuk barengan ke luarnya!"

​Mereka berdua melangkah menyusuri selasar sekolah yang mulai lengang. Di depan gerbang utama SMA Cahaya Permata, Neona membelokkan jalannya ke arah area parkiran motor setelah melambaikan tangan pamit pada Kiara. Kiara sendiri berdiri di tepi jalan selasar luar gerbang, menunggu mobil jemputannya yang masih terjebak sedikit kemacetan di persimpangan jalan.

​Sore itu langit tampak berwarna jingga keemasan. Kiara sedang berdiri seraya memandangi ponselnya.

Tak lama kemudian, deru mesin motor terdengar dari arah dalam sekolah. Empat motor melaju perlahan keluar gerbang. Di barisan depan, Ferdi, Kevin, dan Pandu menghentikan motor mereka sejenak di dekat Kiara.

​"Duluan ya, Kiara!" sapa Ferdi ramah seraya melempar senyum lebar.

​"Hati-hati nunggu jemputannya, Ra! Jangan kapok sekelas sama kita!" timpal Kevin seraya melambaikan tangan santai.

​Pandu mengangguk sopan dari atas motornya. "Mari, Kiara."

​Kiara mengangguk dan tersenyum ramah pada ketiganya. "Iya, hati-hati di jalan ya."

​Namun, suasana ramah itu seketika buyar saat motor terakhir berhenti tepat di samping Kiara. Khafi—yang kini helmnya sudah terpasang rapi—membuka kaca helmnya sedikit.

​Ia melirik Kiara dari atas motornya dengan tatapan nyebelin yang khas.

​"Masih utuh kan badannya, Kuntil? Kirain udah lemas gara-gara ngeluarin tenaga ekstra jambak rambut gue tadi," celetuk Khafi santai, sengaja memancing emosi Kiara lagi sebelum pulang.

​Kiara memutar bola matanya malas, menatap Khafi dengan pandangan datar. "Masih utuh banget. Dan tangan gue masih punya cukup tenaga buat jambak rambut lo lagi kalau lo berani macam-macam besok."

​Khafi terkekeh pelan dari balik helmnya. Ia menutup kaca helmnya kembali, lalu memutar gas motornya pelan. "Sampai ketemu besok, Kuntil," panggilnya seraya melaju bergabung bersama teman-temannya.

​Kiara menghela napas panjang melihat kepergian motor Khafi. Tak lama, mobil jemputan keluarga Kiara tiba. Saat melangkah masuk ke dalam mobil dan menyandarkan badannya, Kiara menggelengkan kepala seraya tersenyum tipis. Hari pertamanya memang cukup menguras emosi, tapi tidak bisa dipungkiri, sekolah barunya ini akan sangat menarik ke depannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!