Alesya Seraphina dijatuhi hukuman seumur hidup setelah dituduh membunuh sahabatnya secara brutal. Bukti video menunjukkan dirinya sebagai pelaku, tetapi Alesya sama sekali tidak mengingat kejadian itu.
Di ADX Florence, penjara paling mematikan, ia justru bertemu kembali dengan Kael Jendral Kanagara—sahabat masa lalunya yang kini menjadi ketua mafia paling ditakuti.
Kael tidak tahu sisi berbahaya Alesya. Alesya pun tidak tahu alasan Kael berada di sana.
Di balik dinding penjara, rahasia, pengkhianatan, dan cinta berbahaya mulai terungkap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @_Mastura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
NIGHT, SILENCE & LONGING
“Aku takut banget tadi,” ucap Reana ketika mereka sudah kembali ke dalam sel.
Alesya hanya diam, bersandar sebentar pada dinding sel sambil memperhatikan keadaan di sekitar mereka. Sekarang adalah waktunya mandi, Dan waktu yang diberikan hanya satu jam.
“Tapi kamu kok masih bisa bersikap biasa aja? Tadi kita hampir dilecehin, loh,” lanjut Reana dengan suara pelan.
Alesya menoleh kepadanya.
“Tapi nggak jadi, kan?” jawabnya singkat.
Reana menghela napas. “Bisa aja kamu trauma. Ini kan hari pertama kamu di penjara.”
Alesya tidak menjawab.
“Ayo...” Reana kembali mengajaknya.
“Kalau kelamaan, nanti kita nggak kebagian air.”
Mereka pun keluar dari sel dan berjalan menuju tempat pemandian.
Tempat itu berbeda dari apa yang selama ini dibayangkan Alesya.
Tidak ada kamar mandi pribadi.
Tidak ada sekat yang benar-benar memberikan rasa aman.
Tempat pemandian itu merupakan area bersama yang digunakan para tahanan, dengan pria dan wanita berada di area yang sama. Suasananya ramai, berisik, dan membuat Reana semakin tidak nyaman.
Reana berhenti beberapa langkah dari pintu masuk. Alesya memandang ke depan.
Beberapa tahanan sudah mulai mandi, sementara sebagian lainnya masih menunggu giliran. Tapi banyak di antara nya yang sedang bercumbu mesra, tidak peduli bahwa ini tempat terbuka.
“Kita cuma punya satu jam,” kata Alesya tenang. “Jangan buang waktu.”
Reana menelan ludah, Mereka akhirnya masuk. Di atas area pemandian terdapat sebuah jam digital besar yang terus menghitung mundur.
59:42
Waktu sudah berjalan.
Reana segera mencari tempat yang menurutnya paling aman, sementara Alesya tetap tenang di sampingnya. Namun baru beberapa menit berada di sana, terdengar suara tawa dari sekelompok tahanan di sisi lain. Reana langsung menegang.
“Alesya...”
Alesya menoleh.
“Jangan lihat ke sana.”
Reana mengikuti arah pandangannya.
Alesya hanya berkata pelan,
“Fokus mandi. Setelah itu kita kembali ke sel.” Reana mengangguk
Saat Kael masuk ke dalam area pemandian, suasana seketika berubah. Beberapa tahanan yang sebelumnya masih bercakap-cakap langsung terdiam. Kael berdiri di ambang pintu dengan tatapan dinginnya.
“Keluar.”
Satu kata.
Datar, tetapi cukup membuat seluruh ruangan membeku.
Kael tidak suka keributan, Ia juga tidak suka harus berada terlalu dekat dengan narapidana lain. Baginya, tempat seperti ini sudah cukup menjengkelkan tanpa harus mendengar suara orang-orang yang tidak penting.
Tidak ada yang berani membantah, Satu per satu para tahanan meninggalkan area pemandian.
Beberapa bahkan mempercepat langkah mereka ketika melewati Kael.
Tak lama kemudian, ruangan itu menjadi sunyi.
Hanya suara air yang masih terdengar dari beberapa pancuran.
Kael kemudian menoleh, Di pojok ruangan, masih ada seorang gadis yang berdiri tegak.
Alesya.
Mata mereka bertemu.
Untuk beberapa detik, tidak ada satu pun dari mereka yang berbicara.
“Al, kita juga pergi, ya...” bisik Reana gugup
“Aku takut.”
Namun Alesya tidak menjawab.
Ia justru melangkah maju.
“Al...” Reana kembali berbisik, semakin panik.
Alesya terus berjalan hingga berdiri tepat di hadapan Kael.
Kemudian—
ia tersenyum.
Senyum manis yang sangat familiar.
Senyum yang sama seperti lima tahun lalu.
“Kamu masih pura-pura?” tanyanya ringan.
Kael hanya menatapnya.
Wajahnya tidak menunjukkan apa pun.
Alesya malah terkekeh kecil.
“Ayolah...”
Ia menyentuh pundak Kael dengan pukulan kecil yang nyaris seperti candaan masa lalu.
“Kamu tidak bisa menipuku.”
Reana yang melihat itu langsung pucat. Dalam pikirannya hanya ada satu kemungkinan, Dia bakal dibunuh. Ia bahkan sudah membayangkan tangan Kael mencengkeram leher Alesya.
Namun tidak terjadi apa-apa.
Kael tetap diam.
Tatapannya masih datar.
Tidak marah.
Tidak tersenyum.
Tidak pula menunjukkan tanda bahwa ia mengenali gadis di hadapannya. Beberapa detik kemudian, Kael hanya berjalan melewati Alesya begitu saja.
Alesya memutar tubuh dan memperhatikannya.
Kael menuju salah satu pancuran, kemudian berdiri di bawah aliran air setelah meletakkan pakaiannya di tempat yang tersedia dan bertelanjang. ALesya tanpa sadar kembali memperhatikan Kael.
Dulu, pria itu sangat kurus, Tubuhnya masih seperti anak laki-laki yang belum sepenuhnya tumbuh ketika mereka terakhir bersama. Namun lima tahun ternyata cukup untuk mengubahnya.
Kini tubuh Kael jauh lebih kekar. Bahunya lebar, otot-ototnya terbentuk jelas, seolah hidup yang dijalaninya selama lima tahun terakhir memaksanya menjadi seseorang yang jauh lebih kuat.
Tetapi bukan itu yang paling menarik perhatian Alesya.
Luka-luka.
Ada begitu banyak bekas luka yang tertinggal di tubuh pria itu.
Beberapa tampak seperti bekas sayatan lama. Sebagian lainnya berupa guratan yang sudah memudar.
Dan di salah satu bagian tubuhnya, Alesya melihat bekas luka tembakan.
Senyumnya perlahan menghilang.
Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu kembali, tatapan Alesya berubah serius.
Apa yang sebenarnya terjadi padamu selama lima tahun ini, Kael?
Kael tetap berdiri di bawah pancuran, seolah tidak menyadari tatapan Alesya.
Atau mungkin...
dia memang menyadarinya sejak awal.
Alesya menundukkan pandangan.
Lima tahun lalu, ia meninggalkan seorang Kael yang kurus, keras kepala, tetapi masih memiliki sesuatu yang selalu ia kenal. Sekarang, pria di hadapannya terasa seperti orang yang sama...
namun sekaligus sangat berbeda.
Lima tahun mereka tidak bertemu, Dan sekarang, ketika akhirnya bertemu kembali, Kael bahkan tidak mengucapkan satu kata pun.
Reana segera menarik lengan Alesya.
“Ayo!”
“Hm?”
“Kita mandi sebelum Kael ngamuk.”
Alesya akhirnya menurut, Ia mengikuti Reana menuju pancuran lain. Tetapi bagi Alesya, satu hal yang jauh lebih penting daripada waktu. Ia akhirnya bertemu kembali dengan sahabat masa kecilnya. Dan kali ini, ia tidak berniat membiarkannya pergi begitu saja.
***
MALAM HARI!
Semua sel telah terkunci.
Para sipir berjalan menyusuri lorong, memeriksa satu per satu pintu sel untuk memastikan tidak ada tahanan yang mencoba melakukan sesuatu setelah jam malam. Namun di salah satu blok paling ujung, ada satu sel yang berbeda.
Sel Kael.
Sebelum pintu otomatis tertutup, Kael telah menyelipkan sepotong besi kecil ke bagian mekanisme pengunci.
Klik.
Pintu terlihat tertutup, Namun sebenarnya tidak terkunci sepenuhnya. Kael berdiri beberapa langkah dari pintu, menatapnya sebentar. Ia tidak berniat keluar malam ini.
Belum.
Tempat ini terlalu mudah diawasi jika seseorang ceroboh. Lagipula, hampir tidak ada sipir yang berani terlalu lama berada di blok khusus tempat Kael ditempatkan.
Bukan tanpa alasan.
Beberapa tahanan yang pernah ditempatkan bersamanya tidak pernah bertahan lebih dari dua hari. Sejak itu, para sipir memilih membiarkan Kael sendirian. Kael kemudian kembali duduk di ranjangnya.
Wajahnya tetap tenang, Namun pikirannya tidak pernah berhenti bekerja.
Satu tahun.
Sudah satu tahun ia berada di balik jeruji.
Dan selama satu tahun itu pula, ia menunggu waktu yang tepat.
BLOK C
Suasana jauh lebih tenang.
Ranjang Alesya dan Reana berada berdampingan, meskipun masih menyisakan sedikit jarak di antara keduanya. Reana sudah hampir tertidur.
Namun Alesya masih terbaring menatap langit-langit, Matanya sama sekali belum bisa terpejam, Mungkin karena ia terlalu merindukan keluarga nya.
“Re... udah tidur?” panggil Alesya pelan.
“Belum,” jawab Reana dengan suara mengantuk.
Padahal matanya sudah hampir tertutup, Alesya tersenyum kecil.
“Aku merindukan ayahku.”
Reana tidak menjawab, Entah ia benar-benar mendengar atau tidak. Alesya tetap melanjutkan
“Bagaimana ya sekarang?”
Ia menarik napas panjang.
“Pasti mereka lagi susah.”
“Perusahaan lagi anjlok...”
Suara Alesya semakin pelan.
Apalagi ketika pikirannya kembali kepada ibu tiri dan kakak tirinya. Dua orang yang menurutnya telah menghancurkan hidupnya. Mereka menjebaknya, Dan sekarang, dialah yang harus membayar semuanya.
“Kalau sampai aku berhasil keluar dari sini...”
Alesya berhenti sejenak, Matanya mulai berkaca-kaca.
“Kau orang pertama yang aku cari.” Ucap nya jelas tertuju pada kevano.
Tidak ada jawaban, Reana mungkin sudah tertidur. Alesya kemudian memejamkan matanya. Untuk beberapa saat, semuanya terasa tenang.
Tidak ada keributan.
Tidak ada teriakan.
Tidak seperti malam sebelumnya, terdengar suara jeritan napi meminta tolong, bahkan terdengar suara desahan yang cukup nyaring. membuat alesya benar-benar tidak bisa tertidur di malam pertamanya di Adx.
Namun kali ini, Hanya suara langkah kaki sipir yang sesekali terdengar dari kejauhan.
Suara pintu besi.
Suara seseorang berbicara samar dari balik jeruji.
Kemudian...
Alesya membuka matanya kembali, Entah kenapa, ia merasa seperti sedang diperhatikan. Ia menoleh ke arah pintu sel.
Kosong.
Hanya lorong panjang dengan cahaya lampu yang redup, Alesya mengernyit. Mungkin hanya perasaannya. Ia kembali membaringkan tubuhnya.
Tanpa mengetahui bahwa malam itu...
bukan hanya dirinya yang belum tidur.
Di tempat lain, Kael masih duduk dalam gelap.
Tangannya menggenggam sebuah benda kecil yang selama berbulan-bulan selalu ia simpan.
Sebuah foto lama.
Foto yang hampir tidak pernah ia lihat.
Namun malam ini, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Kael membukanya. Tatapannya berhenti pada satu sosok gadis kecil di dalam foto.
Alesya.
Kael terdiam cukup lama.
Kemudian foto itu kembali ia lipat.
“Lima tahun...” gumamnya pelan.
Tatapannya kembali dingin.
“Ternyata kamu masih sama.”
...***...