“Paman, kenapa ini besar sekali?” tanya Lucia bingung.
“Kau menyukainya?”
“Memangnya itu apa?”
“Jadi kau tidak tahu ini apa? Kau yang membangkitkannya dan kau tidak tahu cara menidurkannya?!”
Lucia polos hanya menggeleng lugu, membuat sang mafia paling ditakuti di seluruh Italia itu menepuk jidatnya kuat-kuat.
****
Disiksa kemiskinan di desa terpencil Calabria dan dijual oleh pamannya sendiri ke sebuah klub malam, Lucia pasrah menunggu takdir kelamnya.
Namun, sebuah penggerebekan menyelamatkannya dan membawanya bekerja sebagai pelayan di mansion megah milik Alessandro Frederick–bos mafia dingin berdarah dingin yang menderita alergi parah terhadap sentuhan manusia.
Satu sentuhan dari orang lain bisa membunuh Alessandro. Tetapi, saat jemari Lucia tak sengaja menyentuhnya, tidak ada rasa terbakar.
Bagaimana bisa seorang mafia kejam menaklukkan hati gadis lugu hingga mengira elusan in-tim adalah usapan rasa kasihan dan ciuman adalah penyembuh rasa sakit?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 12
“Paman, aku yakin itu bukan kayu, tapi ular sawah yang bersembunyi di celana Paman!” teriak Lucia dengan mata melotot ngeri.
Lucia yang ketakutan setengah mati bakal dipatuk, mendadak mendapat asupan tenaga super. Ia berhasil meloloskan diri dari kungkungan lengan kekar Alessandro, melompat dari atas ranjang bak seekor kelinci yang terancam bahaya, lalu berlari serabutan mencari tempat berlindung.
Alessandro hanya bisa melongo menatap tempat tidur yang kini kosong. Ia menoleh dan mendapati gadisnya sedang bersembunyi di balik lemari.
Tangan mungil Lucia entah dari mana sudah menyambar sebuah kemoceng bulu ayam, mengacungkannya ke udara seolah itu adalah pedang legendaris untuk membela diri dari ular celana yang mengerikan.
“Shit!” umpat Alessandro seraya memegangi kepalanya yang mendadak pening.
Rasa tegang di kepala bawah dan rasa frustrasi di kepala atasnya benar-benar membuat seluruh tubuh sang mafia terasa sakit semua.
Hasrat panas yang tadi menggelegak menuntut pelampiasan seakan ditabrak tembok beton tebal.
“Keluar dari sana sekarang, Lucia!” bentak Alessandro seraya berdiri dari kasur.
Namun, Lucia bukan musuhnya. Gadis itu hanyalah orang kampung lugu yang lebih takut pada gigitan ular sawah ketimbang peluru tajam.
“Tidak mau! Ada ular raksasa di balik celana Paman! Aku belum siap mati. Tolong beritahu ular itu agar pergi atau suruh dia tidur lagi,” teriak Lucia dari balik lemari. Ia mengacungkan kemoceng nya dengan tangan gemetar saat melihat siluet Alessandro yang melangkah maju mendekatinya.
Alessandro mendengus kasar. “Tidak ada ular atau siluman apa pun di balik celanaku.”
“Bohong! Itu buktinya masih menonjol ke depan,” celoteh Lucia mengintip dengan raut ketakutan.
Matanya menatap tajam ke arah sesuatu di balik celana bahan mahal Alessandro yang masih menegang sempurna.
“Ular Paman pasti galak sekali sampai celana Paman kelihatan mau robek begitu.”
Alessandro membuang napas kasar. Kesabarannya benar-benar diuji hingga menembus titik nol. Dengan langkah lebar nan mengancam, ia menghampiri tempat persembunyian Lucia.
Dalam satu tarikan napas, ia merebut kemoceng itu dan melemparnya sembarangan tempat, lalu menarik tangan Lucia keluar dari sana.
“Paman, berhenti! Jangan serahkan aku pada sang ular!” jerit Lucia histeris sembari memejamkan mata rapat-rapat.
Sebelum Lucia sempat memberontak dan kabur lagi, Alessandro mencengkeram lembut jemari lentik gadis itu dan langsung menempelkannya tepat di atas benda keras yang sedari tadi menjadi sumber perdebatan konyol mereka.
Lucia menahan napas. Matanya terbuka perlahan, menatap tangannya yang kini berada di atas paha atas sang mafia.
“Paman, kenapa ini besar sekali?” tanya Lucia bingung.
Sensasi hangat di balik telapak tangannya membuat jantung Lucia berdetak tak karuan. Ini benar-benar tidak terasa seperti ular sungguhan, karena kulitnya tidak bersisik dan tidak bergerak melata.
Tapi anehnya, benda ini terasa seolah berdenyut mencari kebebasan.
“Kau menyukainya atau tidak?” desis Alessandro dengan suara serak, menatap lekat sepasang mata jernih nan polos di hadapannya.
“Mana aku tahu. Aku kan belum pernah melihatnya. Lagipula kenapa benda ini berdenyut?” cicit Lucia penuh selidik.
Lucia bahkan sedikit menekan benda itu, membuat Alessandro nyaris mengutuk langit karena merasakan kenikmatan yang menyiksa.
“Katakan sejujurnya, Paman. Ini sebenarnya benda apa?”
“Kau benar-benar tidak tahu ini apa?”
Lucia menggeleng polos. Ia tadi menebak itu ular sawah, tapi jika itu benar-benar ular berbisa, kenapa benda itu diam saja dan tidak mematuk tangannya yang sedang menempel di sana?
Kenapa malah terasa empuk di luar tapi sekeras baja di dalam?
“Kau yang sudah membangkitkan benda ini dari tidur panjangnya. Jadi, kau harus bertanggung jawab penuh untuk menidurkannya kembali.”
Lucia menelan ludah dengan susah payah. Ia mendongak, menatap wajah tampan Alessandro yang kini tampak begitu tegang, memerah, dan seolah sedang menderita kesakitan luar biasa.
Rasa kasihan di hati lugunya mendadak muncul mengalahkan rasa takutnya.
“Begitu ya? Ya ampun, kasihan sekali Paman,” gumam Lucia prihatin.
“Lalu, bagaimana caranya menidurkannya? Apakah harus dinyanyikan lagu pengantar tidur? Atau... atau harus ku usap-usap pakai daun jarak tumbuk seperti yang sering dilakukan tabib di desaku kalau ada bengkak?”
Alessandro terdiam seketika. Pertanyaan polos itu sukses menampar kesadarannya. Otaknya yang sangat jenius, yang biasa dipakai untuk menyusun strategi perang mafia yang rumit, kini mendadak macet total bagai mesin rusak.
“Bagaimana caranya menidurkannya?” gumamnya.
Alessandro sendiri pun tidak tahu. Selama dua puluh delapan tahun hidupnya, dengan trauma alergi sentuhan fisik parah yang diidapnya sejak kecil, pusaka miliknya itu tidak pernah bereaksi sehebat, seliar dan sekeras ini hanya karena sentuhan seorang wanita.
Jangankan berhubungan in-tim, disentuh sedikit saja kulitnya biasanya akan melepuh kemerahan.
Ini benar-benar pengalaman pertama dalam hidupnya.
“Paman?” panggil Lucia bingung melihat Alessandro yang malah melamun dengan raut wajah kaku. “Kenapa Paman diam saja? Cepat beritahu aku sebelum bengkaknya makin parah.”
Alessandro menatap tangan mungil Lucia yang masih setia memegangi miliknya, lalu beralih menatap wajah polos tanpa dosa gadis desa itu.
“Aku juga tidak tahu,” ucap Alessandro dengan jujur yang sangat menyakitkan ego lelakinya. Ia memalingkan wajah, merasa sangat konyol dan malu luar biasa dengan pengakuannya sendiri.
Lucia membelalak kaget. Rahangnya nyaris jatuh.
“Lho?! Paman kan yang punya barangnya, tapi Paman sendiri tidak tahu cara menidurkannya?!”
“Benda ini biasanya tidak pernah bangun seperti ini, Lucia! Ini pertama kalinya dia merespon,” bela Alessandro cepat. Ujung telinganya kini semerah tomat matang menahan malu, frustrasi, dan gairah yang bercampur aduk menjadi satu.
Lucia menarik tangannya dari sana, menepuk jidatnya sendiri seraya menggeleng-gelengkan kepala dengan gaya prihatin tingkat dewa.
“Paman ini bagaimana, sih! Memelihara cacing basah di dalam mulut tidak tahu namanya, sekarang memelihara batu bengkak di celana juga tidak tahu cara menidurkannya!” omel Lucia seraya berkacak pinggang, menceramahi bos mafia itu seolah sedang memarahi anak kecil TK.
“Paman Tampan ternyata sangat teledor dan tidak bertanggung jawab pada peliharaan sendiri!”
Alessandro mengepalkan tangannya kuat-kuat. Antara ingin tertawa terbahak-bahak mendengar omelan itu atau ingin membenturkan kepalanya ke dinding karena harga dirinya diinjak-injak.
Tepat di saat Alessandro berniat membungkam bibir bawel Lucia untuk menutupi rasa malunya, suara ketukan dari luar pintu menghancurkan momen itu sepenuhnya.
Tok! Tok! Tok!
“Tuan? Maaf menganggu kesibukan Anda di dalam sana. Kita sudah sangat terlambat untuk pertemuan hari ini. Apakah saya harus menunggu Tuan selesai bermain cacing sampai siang hari nanti?!”
makanya sekolahkan dia
biarkan dia cerdas
dia pasti akan memilihmu ,, dalam keadaan apapun
jd aku rasa perlu belajar deh dia biar pinter 🤭
bnr2 saling melengkapi ni si Lucia dg Ale Ale rasa 🍌 ,, 🤭🤭🤭
kasihan Vincent yg trus nahan ketawa ,, takut kembung Dy tuh ,,
semoga Lucia selalu aman dsna jgn sampai ini cuma jebakan biar si ale2 keluar mansion sdang kn target sebenarnya Lucia ,,