Mawar tak pernah meminta hidup penuh luka. Dikhianati, dipisahkan dari orang terkasih, hingga nyawanya sendiri terancam.
Namun Mawar tak mau menyerah begitu saja, ia berjuang keras menembus segala rintangan, berusaha mengubah jalannya nasib yang seolah begitu kejam padanya.
Di antara cinta, pengorbanan dan kehilangan, apakah Mawar akhirnya bisa menulis akhir ceritanya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alisha Chanel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Membalut Luka Dengan Kebisuan
"Aaak… kenapa semua ini harus terjadi padaku? Kenapa harus aku?"
Tangis Mawar kembali pecah, meledak dan memecah keheningan kamar mandi yang dingin dan lembap itu. Tubuhnya yang menggigil terbungkus kabut tipis dari uap air, namun rasa dingin yang menusuk tulang itu sama sekali tidak sebanding dengan rasa beku yang merembes dari dalam hatinya. Bayangan wajah Bima yang tersenyum miring, suara lenguhan pria itu yang terdengar begitu menjijikkan, serta rasa sakit yang membakar kulit dan merobek batinnya semalam, terus berputar liar di kepala Mawar berulang kali. Seperti lukisan buruk yang tak bisa dihapus, tak bisa dilupakan, tak bisa dimusnahkan walau sudah berusaha sekuat tenaga.
Air dari keran pancuran jatuh dengan deras dan kuat, memukul bahu, punggung, dan kepalanya berulang kali, seolah aliran air itu ingin menyapu bersih segala jejak, segala noda, dan segala rasa kotor yang ia rasakan. Namun semakin deras air itu mengguyur tubuhnya, semakin terasa betapa hatinya tetap panas terbakar, penuh rasa jijik, rasa benci, dan luka mendalam yang tak bisa dilihat mata namun terasa nyeri setiap kali ia menarik napas.
"Menjijikkan… Semuanya menjijikkan!" desis Mawar di antara isak tangisnya yang tertahan. Ia meraih batang sabun beraroma kuat di tepi bak mandi, lalu menggosokkannya ke seluruh tubuh dengan kekuatan yang nyaris menyakitkan. Tangan, lengan, leher, pinggang, punggung… setiap inci kulit yang sempat disentuh, atau diraba oleh Bima, ia gosok berulang kali sampai kulitnya merah merona dan terasa perih. Ia menggosok sekuat tenaga, berharap bisa menghapus jejak itu sampai ke akar tulang, berharap bisa kembali menjadi dirinya yang dulu, suci, bersih, dan tak ternoda.
Tapi semua itu sia-sia.
Kenyataan tetap berdiri tegak dan keras di hadapannya. Kesuciannya, harga dirinya, dan masa depannya telah direnggut paksa oleh orang yang seharusnya melindunginya, oleh kakak iparnya sendiri, orang yang selalu tampak sopan, tenang, dan terhormat di mata semua orang.
Mawar berdiri diam di bawah guyuran air, membiarkan waktu berlalu jauh lebih lama dari biasanya. Ia membiarkan air terus mengalir membasahi tubuhnya, tenggelam dalam kebisuan yang menyakitkan dan pikiran-pikiran gelap yang mulai merayap masuk. Ia merenungi nasib yang terasa begitu kejam, mengapa ia harus menanggung semua ini sendirian, mengapa ia harus berkorban demi menjaga kebahagiaan orang lain. Baru ketika suara ketukan keras dan terus-menerus terdengar dari balik pintu kamar mandi, ia tersentak kembali ke dunia nyata yang pahit.
"Mawar! Cepat selesaikan mandimu dan keluar, Nak! Ini sudah siang sekali lho!" suara Bu Gendis terdengar cemas dan sedikit tegas, disertai ketukan yang kembali terdengar pelan namun jelas.
"Apa kamu lupa? Hari ini Kak Jingga dan suaminya akan pulang ke kota, kamu harus mengantar mereka sampai ke depan, ingat?" lanjut Bu Gendis lagi.
Jantung Mawar berdegup kencang. Ia mengeratkan genggaman pada ujung handuk yang sudah ia pegang sejak tadi, napasnya masih tersengal-sengal berusaha menenangkan diri.
"Iya, Bu… sebentar lagi aku keluar!" jawab Mawar dengan suara yang berusaha dikeraskan dan dibuat tenang, meski masih terdengar bergetar dan serak karena tangisan yang tak berhenti.
Saat suara langkah kaki sang ibu perlahan menjauh, satu harapan kecil namun samar muncul di dada Mawar.
"Jadi Kak Jingga akan pulang… berarti Kak Bima juga akan pergi dari rumah ini. Akhirnya… setidaknya untuk beberapa waktu ke depan, aku tak perlu lagi memandang wajah pria bejat itu, wajah yang masih berani tersenyum ramah pada semua orang seolah ia tak pernah berbuat salah sedikit pun."
Mawar menghembuskan napas panjang, ada sedikit rasa lega yang menyelinap masuk, namun rasa sakit dan ketakutan itu belum sepenuhnya hilang. Ia berjalan perlahan menuju lemari pakaian di sudut kamar, gerakannya lambat, berat, dan tampak sangat lesu.
Di sana, tersusun rapi deretan gaun-gaun cantik, atasan berwarna cerah, dan pakaian yang pas di badan, gaya berpakaian yang selalu ia sukai, yang selalu membuatnya merasa percaya diri, dan yang sering kali memancing pujian orang lain. Namun kini, saat ia menatap pakaian-pakaian itu, semuanya terlihat seperti musuh, terlihat berbahaya dan menakutkan.
"Aku tertarik padamu karena kamu cantik… karena penampilanmu yang menarik… karena cara kamu berpakaian…"
Kata-kata Bima yang terucap semalam kembali terngiang di telinganya, menusuk tajam hingga ke ulu hati.
Gagang lemari terasa dingin dan licin di telapak tangan Mawar. Sebuah keputusan bulat dan tegas terbentuk seketika di benaknya, tumbuh dari rasa takut, rasa jijik, dan keinginan kuat untuk melindungi sisa harga dirinya yang masih tersisa.
"Mulai hari ini, semuanya akan berubah. Aku tidak akan lagi memberi kesempatan pada siapa pun untuk melihatku, apalagi berniat buruk kepadaku. Aku akan menutup diri dari dunia luar."
Tangan Mawar melewati deretan gaun indah dan pakaian modis itu, lalu berhenti di tumpukan pakaian yang tersimpan di sudut paling belakang, pakaian yang jarang sekali ia pakai. Ia mengambil kaos berukuran sangat besar yang menjuntai sampai ke paha, serta celana panjang yang longgar, lurus, dan berwarna kusam, pakaian yang sama sekali tidak menggambarkan gaya berpakaiannya sehari-hari.
Ia memakainya perlahan, merasakan kain tebal itu menyelimuti tubuhnya sepenuhnya, seolah sedang membalut luka agar tak terlihat oleh siapa pun.
***
Saat pintu kamar terbuka dan Mawar melangkah keluar menuju ruang tengah, suasana di sana seketika hening dan sunyi senyap. Semua mata yang ada di sana langsung tertuju padanya serentak. Perubahan itu terlalu mencolok, terlalu besar, dan terlalu tiba-tiba untuk dilewatkan begitu saja.
Tak ada lagi pakaian yang menonjolkan keanggunan, bentuk tubuh, atau kelembutan wajahnya. Kini Mawar tampak tertutup rapat dari leher hingga ke pergelangan kaki, kain yang dipakainya begitu longgar hingga samar-samar menyembunyikan lekuk tubuhnya, membuatnya terlihat lebih pendek, lebih kurus, dan jauh lebih pucat dari biasanya. Rambut panjangnya yang selalu terurai indah kini diikat kaku ke belakang, tak ada helai yang jatuh menghiasi wajahnya.
"Mawar?" Bu Gendis mengerutkan kening dalam kebingungan, lalu melangkah mendekat sedikit dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Kenapa kamu berpakaian seperti itu? Biasanya kamu suka yang lebih pas badan, cerah, dan manis dilihat. Apa ada masalah dengan pakaianmu yang lain?" tanya Bu Gendis heran sambil menatap pakaian anak bungsunya itu dari atas sampai bawah.
Mawar menunduk sedikit, berusaha keras menahan getaran di suaranya dan rasa perih yang menyeruak di dadanya.
"Hari ini cuaca terasa agak dingin, Bu. Anginnya kencang juga. Pakaian begini lebih nyaman, dan cocok sekali untukku," ucap Mawar pelan, berusaha membuat nada bicaranya terdengar wajar dan biasa saja.
Bu Gendis mengangguk pelan, namun raut wajahnya perlahan berubah menjadi tampak puas dan setuju. Ia tersenyum tipis sambil mengusap lengan baju Mawar yang tebal itu.
"Kalau begitu baguslah. Ibu justru sangat suka melihatmu begini, lebih sopan, lebih tertutup, dan menjaga diri. Ingat selalu pesan Ibu ya? Dunia ini kejam dan penuh orang-orang berniat jahat. Kalau kamu terus memakai baju yang terlihat kurang sopan dan menarik perhatian begitu, jangan salahkan kalau ada orang yang punya niat buruk atau salah paham kepadamu."
Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut Bu Gendis, penuh niat baik dan kasih sayang, namun bagi Mawar rasanya seperti pisau tajam yang menancap tepat di ulu hatinya, merobek luka lama yang masih berdarah.
"Sudah terlambat, Bu… Niat jahat itu sudah datang." jerit Mawar dalam hati, dadanya terasa sesak hingga sulit bernapas, matanya mulai berkaca-kaca namun ia berusaha menahan air mata itu agar tak jatuh.
Di sudut ruangan, Mawar bisa merasakan pandangan tajam dan menyelidik milik Bima. Pria itu menatapnya lekat-lekat, seolah ingin membaca apa yang tersembunyi di balik pakaian tebal dan wajah pucat itu. Namun Mawar berusaha sekuat tenaga untuk tak menoleh sedikit pun ke arah pria itu, ia menunduk dalam, menatap lantai keramik dingin, dan berusaha sekuat tenaga agar tubuhnya tidak terlihat gemetar.
Bima hanya tersenyum tipis, senyum yang dingin dan penuh kemenangan, seolah ia tahu betapa dalamnya rasa sakit yang ditanggung gadis itu sendirian.
Bersambung...