Indonesia
NovelToon NovelToon
Rama Dan Kemungkinan Kecil

Rama Dan Kemungkinan Kecil

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Romansa Fantasi / Nikah Kontrak / Tamat
Popularitas:357
Nilai: 5
Nama Author: Kanji Wara

Pada suatu malam minggu yang gerimis, hubungan asmara antara Rama dan Ratna resmi berakhir di sebuah kedai kopi yang sunyi. Ratna mengambil keputusan untuk menyudahi hubungan mereka karena menyadari adanya standar hidup dan perbedaan kelas sosial yang tidak mampu dipenuhi oleh Rama. Meski hancur, Rama menerima keputusan tersebut dengan ketegaran yang dipaksakan. Perpisahan itu menjadi semakin kontras dan menyakitkan ketika Ratna dijemput oleh sebuah sedan Eropa putih mewah yang merepresentasikan dunia barunya yang penuh kenyamanan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kanji Wara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

tiga besar

Sinar matahari sore mulai menyepuh dinding-dinding megah kediaman Antasena dengan warna jingga yang hangat, namun atmosfer di lapangan latihan luar tetap terasa dingin dan mencekam. Sepuluh pria yang telah melewati rangkaian tes fisik, jebakan meja makan, hingga pemeriksaan medis yang memeras privasi, kini kembali dibariskan di tengah lapangan. Wajah-wajah mereka tampak tegang, menyadari bahwa pengumuman krusial ini akan menjadi akhir dari perjalanan sebagian besar dari mereka.

Sore itu instruktur pun melakukan pengumuman. Pria bersafari hitam itu berdiri tegak di hadapan barisan dengan sebuah papan jalan di tangannya. Tatapannya menyapu tajam, memastikan tidak ada satu pun kandidat yang berani memotong kalimatnya.

"Hasil seleksi tidak bisa diganggu gugat," katanya dengan nada suara yang mutlak dan tanpa kompromi. Keputusan yang tertulis di lembaran kertas tersebut adalah harga mati yang didasarkan pada akumulasi penilaian fisik, genetika, hingga psikologi dari tim internal Antasena.

Suasana menjadi begitu hening, bahkan suara deru angin sore pun seolah tertahan. Instruktur itu mulai membacakan nomor kandidat yang berhasil lolos dengan artikulasi yang lambat namun bertenaga.

"No 3."

Seorang pria di barisan depan mengembuskan napas lega yang sangat kentara.

"No 7."

Pria bertubuh perlente lainnya tampak mengepalkan tangan dengan penuh kemenangan.

"No 9."

Nomor sembilan. Itu adalah nomor urut milik Rama. Mendengar nomornya disebut terakhir, Rama tidak melompat kegirangan ataupun memamerkan senyuman. Ia hanya berdiri tenang dengan postur atletisnya yang tegap, meskipun di dalam hatinya ia tahu peluang kecil yang sempat ia tertawakan bersama Iwan di kantor kini perlahan mulai mewujud menjadi kenyataan.

"Yang tak disebut silahkan pulang," lanjut instruktur itu, memutus harapan tujuh pria lainnya yang langsung tertunduk lesu dengan wajah penuh kekecewaan. "Namun kalian ada hadiah kecil dari kami karna sudah sampai sejauh ini."

Hadiah kecil dari sebuah klan raksasa seperti Antasena tentu saja bukan sekadar ucapan terima kasih; itu bisa berupa kompensasi finansial yang sangat besar, cukup untuk menghibur kekalahan mereka dan memastikan mulut mereka tetap terkunci rapat mengenai detail seleksi rahasia ini di dunia luar.

Yah kali ini hanya tersisa 3 orang saja di tengah lapangan luas itu. Dari delapan ratus lebih pria yang mengantre di depan gerbang besi sejak pagi hari, kini hanya tersisa tiga orang nekat yang berhasil bertahan dari saringan kejam Keluarga Antasena. Tiga pria dengan kualifikasi terbaik, namun memiliki latar belakang dan motif yang sepenuhnya berbeda.

Sementara ketiga kandidat itu sedang mencerna situasi baru mereka, di dalam rumah utama, semua laporan dan berkas mereka sudah ada ditangan nyonya antasena. Wanita berkuasa berusia 45 tahun itu duduk di balik meja kerja kayunya yang besar, membalik lembaran hasil lab medis, rekaman CCTV meja makan, hingga profil lengkap masa lalu dari ketiga orang tersebut. Matanya tertuju cukup lama pada berkas milik Rama, seorang pemuda sebatang kara yang hanya tinggal di kos-kosan tipis dan mengendarai motor matic tua, namun memiliki ketahanan fisik yang setara dengan pasukan militer terlatih serta insting kewaspadaan yang sangat tinggi.

Di lapangan, instruktur bersafari hitam kembali menatap tiga besar yang tersisa di hadapannya."Tes dilanjutkan malam ini," kata instruktur itu dengan tatapan penuh teka-teki yang membuat dahi Rama kembali sedikit mengkerut.

Saringan belum selesai, dan fakta bahwa tes berikutnya diadakan di bawah kegelapan malam menandakan bahwa ujian kali ini tidak akan mengandalkan kekuatan otot lagi. "Kalian boleh istirahat."

Rama membalikkan badannya, melangkah menuju area paviliun penginapan dengan pikiran yang mulai menyusun strategi baru. Malam akan segera tiba, dan di balik kemegahan kastil Antasena, Rama tahu bahwa ujian sesungguhnya yang melibatkan sang putri berwajah dingin itu mungkin akan segera dimulai.

1
sakura
.....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!