Riu Han melangkah keluar dari pintu teleportasi yang menghubungkan Alam Bawah ke Dunia Atas, namun terpisah dari dua sahabatnya, Genbu si Kura-kura Hitam dan Bai Wing si Harimau Putih, karena sistem pengiriman yang acak. Sendirian di hamparan bunga asing, ia bergegas menuju arah kepulan asap untuk mencari petunjuk.
Kedatangan Riu Han ternyata memancarkan Aura Giok Nirvana yang telah hilang selama dua puluh tahun, menarik perhatian dua penguasa di tempat itu — masing-masing mengutus orang kepercayaan mereka, Bai Mo dan Zi Lan, untuk mengawasi sosok yang membawa aura tersebut.
Sementara itu, Riu Han tiba di sebuah pondok kayu dan bertemu dengan Su Zan Si, seorang pemburu tunggal yang ternyata juga berasal dari Alam Bawah. Su Zan Si dengan ramah memberikan arahan serta penjelasan penting: mengapa kekuatan dan gerakan Riu Han terasa terbatas di sini, bagaimana energi tubuhnya akan menyesuaikan diri, serta gambaran luas tentang dunia ini yang terdiri dari Empat Wilayah dan puluhan alam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Hali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12: Rahasia tata Ruang
"Tunggu dulu..." Riu Han bergumam pelan, menahan langkahnya. Ia menoleh ke arah sosok yang berdiri di sampingnya, wajahnya masih tampak bingung namun mulai berubah menyadari sesuatu. "Kakek... Anda memahami begitu banyak hal tentang tata ruang ini, bukan?"
Qin Siue tersenyum tipis, matanya berbinar seakan sudah menantikan pertanyaan itu. "Apakah kau lupa, Riu Han? Aku adalah roh Cincin Ruang. Tanpa pemahaman mendalam tentang konsep ruang, bagaimana mungkin dunia kecil di dalam cincin itu tetap berdiri, berfungsi, dan layak ditinggali seperti tempat yang kau kenal?"
Riu Han tertegun. Ia baru menyadari hal yang selama ini ada di dekatnya namun tak pernah ia perhatikan. Selama ini ia hanya mengagumi kehebatan mereka yang mampu menciptakan alam tersendiri — tempat yang luas, memiliki langit dan bumi, tempat makhluk hidup dapat tinggal dan berkembang. Ia lupa bahwa di dalam Cincin Ruang miliknya sendiri, hal serupa telah terwujud. Benar, tidak ada matahari yang terbit dan terbenam di sana, tidak ada pergantian siang dan malam, namun tanahnya subur, airnya mengalir, dan udaranya tetap segar — semuanya hidup, persis seperti dunia di luar.
Bahkan, jika dipikirkan lebih dalam, Cincin Ruang itu memiliki keunggulan yang tidak dimiliki dunia mana pun: ia dapat dibawa ke mana pun, berpindah dari satu tempat ke tempat lain bersama pemiliknya.
Jadi, jika seseorang mampu menciptakan dunia seindah dan selengkap ini... pikir Riu Han perlahan, maka tingkat kekuatannya tidak harus setingkat Abadi. Mungkin seseorang yang berada di ambang menuju ranah Abadi, setengah langkah lagi mencapainya, sudah mampu mewujudkan hal seperti ini.
Pemikiran itu membuatnya merasa tidak lagi terlalu jauh dari kemungkinan untuk memahami hal-hal yang dulu terasa mustahil.
"Terima kasih, Kakek Qin," ucapnya tulus sambil menatap sosok tua itu. "Jika Anda ingin beristirahat, kembalilah ke dalam. Biarkan aku melanjutkan sendiri sebentar."
Qin Siue mengangguk lembut. "Hati-hati, Nak. Jangan terburu-buru." Perlahan, sosoknya memudar dan lenyap, kembali menyatu dengan kekuatan di dalam cincin itu.
Riu Han kembali menatap luka-luka hitam yang menyebar di sekelilingnya. Ia melangkah mendekat, lalu mengulurkan jari perlahan ke arah salah satu robekan itu.
Cess...
Ujung jarinya terputus seketika, seakan digunting oleh sesuatu yang tak terlihat. Darah menetes, namun sebelum jatuh ke tanah, daging itu tumbuh kembali, menyatu tanpa meninggalkan bekas sedikit pun.
Riu Han tidak mundur. Ia menatap robekan itu dengan saksama, lalu mengulurkan tangannya sekali lagi. Kali ini ia menyalurkan energi perlahan ke seluruh telapak tangannya, membungkusnya dengan kekuatan yang ia miliki.
Cess...
Tangan itu terputus lagi. Lalu tumbuh kembali.
Ia tidak berhenti. Duduk bersila di atas tanah yang retak, ia menatap kegelapan di hadapannya tanpa berkedip. Ia tidak lagi memikirkan bahayanya, melainkan mencoba memahami apa yang sebenarnya terjadi di sana.
Ruang bisa ada, bisa juga tidak ada, pikirnya perlahan. Ruang bisa padat, bisa juga lembut. Ruang bisa berwujud apa saja, namun bila ada sesuatu yang berada di ruang yang berbeda, maka yang satu tidak akan terlihat oleh yang lain.
Ia membayangkan sebuah buku. Di dalamnya terdapat lembar demi lembar yang saling menempel, namun masing-masing memiliki sisi yang berbeda. Yang berada di sisi depan tidak mengetahui apa yang ada di sisi belakang, padahal keduanya adalah bagian dari benda yang sama. Begitulah konsep tata ruang — dunia yang satu berdampingan dengan dunia yang lain, bersentuhan namun tidak saling menyentuh, sama namun berbeda.
Robekan yang ada di hadapannya bukanlah kehampaan yang kosong, melainkan celah yang menghubungkan dua sisi yang berbeda. Selama ia menyentuhnya seolah-olah itu adalah bagian dari dunianya, maka ia akan terlukai. Namun jika ia memahami bahwa itu adalah pintu ke ruang yang lain, dan menyesuaikan keberadaannya agar selaras dengan ruang itu...
Riu Han mengulurkan tangannya sekali lagi. Kali ini ia tidak menyalurkan energi untuk melindungi dirinya, melainkan menyesuaikan keberadaan tangannya dengan aliran di celah itu, seakan-akan ia ikut berpindah ke sisi yang lain.
Tangannya tidak terluka.
Ia menyentuh pinggiran robekan itu, merasakan permukaannya yang halus namun kokoh, seakan menyentuh permukaan air yang tenang. Tangan itu berada di tempat yang sama, namun sebenarnya sudah berada di ruang yang berbeda — dan itulah sebabnya ia tidak lagi terlukai.
"Hahahaha... aku mengerti! Aku paham sekarang!"
Tawa Riu Han menggema di tempat yang sepi itu, penuh kegembiraan dan kelegaan yang tak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Tabir yang selama ini menutup pandangannya akhirnya terbuka. Ia telah memahami konsep dasar tata ruang.
Ia tetap duduk bersila, namun kini pikirannya beralih ke hal lain — teknik yang selama ini ia kuasai, namun tidak pernah berkembang lebih jauh: Langkah Gerakan Bayangan. Ia telah menguasainya hingga tingkat Kesempurnaan Awal, namun sejak lama tidak ada kemajuan lagi. Kini ia tahu alasannya: dulu ia hanya mengandalkan kecepatan dan kekuatan tubuh, tanpa memahami bahwa teknik itu sesungguhnya berkaitan langsung dengan ruang itu sendiri.
Dengan pemahaman barunya, ia meninjau kembali setiap gerakan, setiap napas, dan setiap perpindahan yang membentuk teknik itu. Ia membayangkan ruang yang dilipat, dirapatkan, lalu dibuka kembali di tempat yang lain. Bukan berlari di atas permukaan tanah, melainkan melipat jarak itu sendiri.
Mata Riu Han terbuka perlahan. Ia berdiri, lalu melangkah.
Satu langkah — dan sosoknya lenyap dari tempat ia berdiri, muncul kembali ratusan meter di depan.
Hilang lagi, dan seketika itu juga kembali berdiri di tempat semula.
Bergerak lagi, kali ini berkelana ke kiri, ke kanan, ke atas, ke bawah — muncul dan hilang, berkedip seperti cahaya yang kadang menyala lalu padam kembali. Gerakannya terlihat lambat dari kejauhan, namun sesungguhnya ia berpindah dengan kecepatan yang tak dapat diikuti oleh pandangan mata biasa. Ia tidak sekadar bergerak cepat; ia melipat ruang di antara dua titik, sehingga jarak yang jauh seakan menjadi sejengkal saja.
Ibarat ikan yang berenang di dalam air, ia bergerak di antara lipatan ruang itu sendiri, bebas dan tanpa tersentuh oleh luka-luka yang menganga di sekelilingnya. Ruang yang rusak tidak lagi melukainya, karena ia tidak lagi melintasi ruang yang sama — ia melangkah di sisi yang lain.
Riu Han berhenti sejenak, menarik napas panjang, lalu tersenyum lebar. Teknik Langkah Gerakan Bayangannya kini telah naik tingkat — mencapai Kesuksesan Kecil. Selama ini teknik itu telah menjadi andalannya, menyelamatkannya berkali-kali dari bahaya, namun kini ia jauh lebih hebat, lebih cepat, dan tak terbayangkan.
Ia tidak berpuas diri, namun hatinya penuh syukur. Dengan kemampuan ini, menjelajahi bagian terdalam tempat ini tidak lagi mustahil.
Riu Han menoleh ke arah pedalaman yang semakin gelap dan samar. Ia melangkah maju, melintasi reruntuhan yang membentang luas, bergerak dengan tenang di antara lipatan ruang yang kini telah ia pahami. Setiap langkahnya membawanya semakin jauh ke dalam dunia yang terluka ini — tempat di mana rahasia masa lalu, herbal kuno, dan hal-hal yang belum diketahui siapa pun, menanti untuk ditemukan.
Lanjut Up Thor..
Tetap semangat Thor 💪💪