Setelah dipecat secara tidak hormat dari istana akibat fitnah keji, Arya harus menghadapi kenyataan pahit sebagai tukang pijit yang kehilangan mata pencaharian utamanya. Namun, nasibnya berputar drastis saat ia tak sengaja menemukan seorang wanita dengan luka parah di tengah hutan gelap yang ternyata adalah Vanya, sang Ratu Iblis paling ditakuti. Sentuhan pijatan pertamanya pada tubuh wanita itu bukan hanya menahan pendarahan, melainkan memicu aktifnya Sistem Pijatan Penakluk Ratu Iblis yang mengubah hubungan mereka dari mangsa dan predator menjadi ikatan absurd penuh intrik di tengah kejaran pasukan kerajaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23
Tap... tap... tap...
Suara derap sepatu bot pengawal kerajaan menggema keras membelah lorong pasar yang sempit.
Arya menarik tangan Vanya berlari kencang menerobos tumpukan keranjang kosong milik pedagang rempah.
"Cepat lewat sebelah sini, jangan sampai tertinggal!" seru Arya dengan napas terengah-engah.
Vanya mengikuti langkah Arya dengan sigap sambil menoleh ke belakang untuk mengawasi para pengejar.
"Manusia-manusia itu benar-benar ulet seperti lintah darat," gerutu Vanya kesal setengah mati.
"Makanya jangan bikin onar terang-terangan di tengah pasar!" balas Arya sambil berbelok tajam ke kiri.
Mereka berdua masuk lebih dalam ke labirin lorong belakang gudang penyimpanan barang selundupan.
Kriet...
Pintu kayu gudang tua yang tidak terkunci terbuka lebar saat disenggol bahu Arya.
"Masuk cepat ke dalam sini!" perintah Arya menarik Vanya bersembunyi di balik tumpukan kotak kayu besar.
Mereka berdua merunduk rapat-rapat di sudut ruangan yang gelap dan berdebu tebal.
Sss... krik...
Suara napas mereka berdua terdengar memburu di tengah kesunyian gudang yang lembap.
Tidak lama kemudian, suara derap kaki para pengawal berlari kencang melewati depan pintu gudang tua itu.
"Cari ke ujung lorong! Buronan itu pasti tidak lari jauh dari sini!" teriak suara komandan pengawal dari luar.
Arya menghembuskan napas panjang yang terasa tertahan di dadanya sejak tadi.
"Uff... hampir saja kita tertangkap basah oleh mereka," bisik Arya pelan.
Vanya melirik tajam ke arah Arya yang duduk bersila di sampingnya dengan kening basah oleh keringat.
"Kenapa kamu malah mengajakku bersembunyi di tempat bau kotor ini bukannya menghabisi mereka?" tanya Vanya dingin.
"Sudah kubilang, kalau kamu ngamuk di tengah kota, seluruh warga sipil bakal jadi sasaran empuk," jawab Arya sewot.
Vanya mendengus pelan, melipat kedua tangannya di dada dengan ekspresi tidak terima.
"Biar saja, apa peduliku dengan keselamatan manusia-manusia lemah itu," sangkal Vanya ketus.
"Tapi aku peduli, karena aku masih manusia yang tinggal di dunia ini," balas Arya tegas tanpa keraguan.
Vanya terdiam seribu bahasa mendengar jawaban jujur dan lugas dari mulut sang tukang pijit.
Ada rasa hangat yang aneh tiba-tiba merayap di dada sang Ratu Iblis melihat ketulusan kecil tersebut.
[Peringatan Sistem: Tingkat kedekatan emosional Host dan Target mengalami lonjakan stabil.]
[Mendapatkan bonus poin kedekatan: +10 poin sistem total menjadi 115 poin.]
Suara dengungan khas sistem itu berputar singkat di dalam kepala Arya tanpa suara keras.
"Sistem sialan ini hobi banget muncul di saat situasi sedang tidak tepat," batin Arya mengeluh.
"Ada apa dengan wajahmu itu, kenapa tiba-tiba melamun lagi?" selidik Vanya memperhatikan Arya.
"Bukan apa-apa, burung hantu di kepalaku lagi berisik ngajak ngobrol," jawab Arya asal-asalan.
Vanya memutar bola matanya malas mendengar jawaban ngawur dari pemuda di depannya itu.
"Sudahlah, sampai kapan kita mau jongkok di tempat berdebu ini seperti tikus got?" tanya Vanya jengah.
Arya mengintip perlahan melalui celah dinding kayu gudang ke arah jalanan luar.
"Tunggu sampai suasana di luar benar-benar sepi, baru kita keluar lewat jalur lain," jawab Arya fokus.
Mereka berdua harus menunggu hampir setengah jam lamanya di dalam gudang penyimpanan yang pengap.
Tap... tap...
Suara derap kaki pengawal yang tadinya bising perlahan-lahan mulai menjauh pergi.
"Nah, sepertinya mereka sudah pergi menyisir ujung lorong sebelah timur," bisik Arya lega.
Arya berdiri perlahan sambil mengibaskan debu yang menempel di celana usangnya.
"Ayo kita keluar sebelum mereka sadar dan berputar balik ke sini," ajak Arya membuka pintu.
Vanya ikut bangkit berdiri, merapikan jubah hitamnya dengan gerakan anggun.
"Tempat ini benar-benar menguji kesabaranku sebagai penguasa kegelapan," gerutu Vanya kesal.
Mereka melangkah keluar dari gudang tua secara hati-hati menyusuri lorong sepi yang berbeda.
"Kita mau ke mana sekarang? Kembali ke penginapan murahan itu?" tanya Vanya memastikan.
"Jangan, penginapan itu sudah tidak aman karena penjaganya sempat melihat wajah kita," tolak Arya tegas.
"Lalu di mana kita harus tidur malam ini, tidur di bawah kolong jembatan?" sindir Vanya tajam.
"Kita cari rumah kosong di pinggiran kota pelabuhan, di sana jauh lebih sepi dari pusat," jawab Arya merencanakan.
Mereka berjalan hampir satu jam penuh menghindari jalan-jalan utama kota perbatasan yang ramai.
Matahari mulai condong ke barat, memancarkan cahaya jingga kemerahan di langit sore hari.
Krik... krik...
Suara serangga mulai bersahutan di sekitar area pelabuhan tua yang terbengkalai.
Di sana berdiri sebuah gudang bekas dermaga tua yang berukuran cukup besar dan sepi dari aktivitas manusia.
"Nah, sepertinya tempat ini jauh lebih layak dan luas buat kita jadikan markas sementara," tunjuk Arya.
Vanya meneliti bangunan gudang pelabuhan itu dengan tatapan menilai dari kejauhan.
"Tempat ini bau amis ikan laut, tapi setidaknya lebih baik daripada kuil tua berdebu kemarin," nilai Vanya.
Mereka berdua melangkah mendekati pintu besar gudang dermaga yang tidak terkunci gembok.
Arya mendorong pintu kayu berat itu perlahan-lahan hingga terbuka lebar.
Kriet...
Bunyi engsel besar berderit nyaring memecah kesunyian sore di tepi laut.
Di dalam bangunan itu terdapat tumpukan jaring ikan robek dan beberapa peti kayu kosong yang tertata rapi.
"Lumayan luas, kita bisa pakai peti kayu ini buat tempat duduk," kata Arya meletakkan tas usangnya.
Vanya melangkah masuk, lalu duduk di atas sebuah peti kayu dengan postur tubuh tetap tegak.
"Kenapa pelarian kita harus selalu berakhir di tempat-tempat terbengkalai seperti ini?" keluh Vanya pelan.
Arya tersenyum tipis mendengar keluhan yang jarang terlontar dari mulut sang Ratu Iblis.
"Namanya juga buronan istana, mau tinggal di istana mewah ya harus jadi raja dulu," ledek Arya.
Vanya mendelik tajam ke arah Arya sambil memunculkan kilat merah di matanya.
"Berani sekali kamu meledek seorang ratu iblis, mau kucincang badanmu jadi dua?" ancam Vanya galak.
"Iya ampun, Yang Mulia Ratu, saya cuma tukang pijit yang cari makan," balas Arya pura-pura takut.
Arya mulai mengeluarkan beberapa potong roti keras hasil beli kemarin dari dalam tasnya.
Ia membagi dua roti tersebut lalu menyodorkan separuhnya kepada Vanya.
"Makanlah dulu sebelum malam tiba, kita harus hemat makanan," kata Arya menyerahkan bagian roti.
Vanya menerima potongan roti itu dengan ragu-ragu, lalu menggigitnya sedikit.
Meskipun rasanya keras dan hambar, ia mulai terbiasa dengan cara hidup sederhana bersama Arya.
"Bagaimana hasil uang yang kamu dapatkan di pasar tadi siang?" tanya Vanya memecah keheningan.
Arya merogoh saku celananya lalu menghitung beberapa keping perak di atas telapak tangannya.
"Lumayan, ada sepuluh keping perak, cukup buat beli sup hangat dan lilin malam ini," jawab Arya tersenyum.
Vanya menatap kepingan uang perak itu dengan ekspresi wajah yang sulit diartikan maknanya.
"Manusia benar-benar makhluk yang aneh, bisa bahagia hanya karena beberapa keping logam kecil," gumam Vanya.
"Bukan logamnya yang bikin bahagia, tapi usaha kerasnya yang membuahkan hasil," koreksi Arya serius.
Vanya terdiam meresapi ucapan Arya yang selalu terdengar realistis dan menyentuh sisi logisnya.
[Peringatan Sistem: Tingkat kepercayaan Subjek Vanya mencapai titik kenyamanan maksimal.]
[Mendapatkan bonus skill pasif baru: Aura Ketenangan Pikiran.]
Suara dengungan khas sistem kembali berputar di kepala Arya tanpa suara berlebihan.
Arya mengerjap kaget saat merasakan sensasi hangat mengalir di sekujur tubuhnya.
"Skill pasif baru lagi? Sistem ini makin lama makin baik hati saja," batin Arya senang.
Ia melirik ke arah Vanya yang sedang mengunyah rotinya dengan pandangan tenang.
Suasana senja di pelabuhan tua itu perlahan-lahan berubah menjadi malam yang sunyi.
Ombak kecil laut bergesekan pelan dengan dinding dermaga kayu di luar bangunan gudang.
"Besok kita harus mencari cara untuk mendapatkan informasi tentang pergerakan pasukan istana," kata Arya serius.
Vanya mengangguk pelan menyetujui rencana logis dari sang tukang pijit.
"Serahkan urusan pengintaian itu padaku, tidak ada yang bisa melihatku di kegelapan malam," tawar Vanya percaya diri.
"Jangan gegabah, kita tetap harus hati-hati agar penyamaran kita tidak terbongkar di kota orang," pesan Arya.
Vanya mendengus pelan, namun ia menghargai perhatian yang tersirat di balik ucapan pemuda itu.
Malam semakin larut, membawa mereka pada babak baru pelarian di kota pelabuhan seberang.