"Halo! Makasih udah mampir ke [Hasrat Cinta Sang Pendosa]. Update tiap Hari. Jangan lupa save dan ramaikan kolom komentar ya. Happy reading!"
_________________
Berstatus sebagai istri kontrak dari Oscar—sang penguasa malam yang bengis—seharusnya membuat Anisa aman dari masa lalu.
Namun, An Liu Li datang membawa obsesi buta yang menjungkirbalikkan segalanya.Niat hati ingin menjauh dari konflik, Anisa justru terseret dalam permainan ego dua pria berkuasa yang menolak melepas kepemilikan mereka atas dirinya.
Terjebak dalam pusaran kegilaan ini, siapakah yang akan memenangkan hati Anisa?An Liu Li yang mengejarnya dengan cinta pertama yang destruktif, atau Oscar yang mulai luluh oleh kehadiran sang istri sewaan?
꧁ঔৣ☬HCSP☬ঔৣ꧂
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A_ntalus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
꧁ঔৣ [Chapter 33] ঔৣ꧂
...⊹₊˚‧︵‿₊୨ᰔ୧₊‿︵‧˚₊⊹...
...****************...
Suhu dingin sisa hujan semalam masih mengepung taman Mansion Oscario Carlous, menyisakan kabut tipis yang bergerak malas di balik kaca. Dari balik celah tirai yang terbuka sedikit, tembakan cahaya matahari pagi merayap pelan, menusuk hangat ke atas ranjang king size kamar utama.
Napas Anisa terhela lambat—khas seseorang yang terbangun tanpa sempat mengecap tidur nyenyak. Lengannya bergerak lamban, menyapu seprai satin di sampingnya yang sudah terasa dingin dan terlalu rapi. Sepi seketika menghimpit dada. Tidak ada presensi tinggi nan hangat yang biasa memenuhi separuh area tempat tidur itu.
"Mas Oscar...?" bisiknya lirih.
Nihil. Suaranya bergema samar, terserap sunyinya kamar.
Tatapannya yang layu bergeser melewati deretan meja rias, hingga terhenti pada selembar kertas putih yang tertindih botol parfum. Anisa menyibak selimut, melangkahkan kaki ringannya yang tak teralas. Jemarinya yang sedikit bergetar memungut memo itu. Goresan tinta hitam di sana tercetak tebal, tegas, dan kaku—persis karakternya.
...____________________...
[Aku harus berangkat lebih awal. Ada beberapa urusan darurat di perusahaan yang tidak bisa ditunda, dan maaf tidak membangunkanmu. Jangan lupa sarapan]
^^^— Oscar^^^
...____________________...
Satu sudut bibir Anisa terangkat tipis, namun sirna dalam sekejap mata. Ingatan tentang kejadian semalam mendadak membanjiri benak, menghentak dadanya bagai dihantam batu besar.
"Kenapa Mas selalu buat aku semakin merasa bersalah...?" cicitnya, meremas kertas itu di depan dada. Remasan jemarinya menguat hingga jarinya memucat.
Semalaman mata itu basah. Bukan karena amarah atau siksaan—justru karena kebaikan Oscar yang telanjang tanpa selubung. Pria itu menekan ego, menghormati batas, dan memilih pergi demi memberinya jeda. Namun justru ketulusan itulah yang meremas ulu hatinya, melahirkan rasa bersalah yang teramat dalam.
Dengan menyapu sisa embun di sudut matanya yang sembap, Anisa berbenah, mengenakan pakaian rapi beserta cadarnya, lalu melangkah keluar kamar.
.
.
.
.
Suasana di gazebo belakang terasa kontras sinar matahari pagi membiaskan kehangatan di atas cangkir-cangkir porselen. Barbara tampak menuangkan teh hangat, sementara Dereta, Morgan, dan Azy duduk melingkar. Meski begitu, gestur Barbara yang konstan melirik ke arah pintu koridor taman menyebarkan gelisah yang terselubung.
"Dia belum keluar juga?" tanya Dereta sembari memangku dagu, matanya menatap cangkir teh yang berasap tipis.
Barbara menggeleng pelan, meletakkan teko keramik dengan denting halus. "Belum."
Morgan menaikkan sebelah alisnya, melipat tangan di dada
"Anisa?"
"Semalam Oscar bercerita dan merasa ada yang tidak beres," sahut Barbara lirih, menyandarkan punggungnya ke kursi roda. "Dia terlalu banyak diam."
Azy memiringkan kepala, ikut memfokuskan pandangan. "Dan bagaimana dengan Oscar?"
"Aku tidak yakin." Barbara menghela napas.
Keempat wanita itu saling melempar pandang. Dereta mengembuskan napas berat.
"Jangan-jangan..."
"Jangan membuat kesimpulan sebelum mendengar dari Anisa sendiri," potong Barbara cepat, menatap Dereta tajam untuk memutus spekulasi liar.
Dereta mengangkat kedua tangannya singkat. "Aku hanya khawatir,Kak."
Denting halus langkah kaki menyentuh ubin gazebo mendadak memutus ketegangan. Anisa muncul dari balik pilar koridor. Keempat wanita di sana serempak menoleh. Seketika, hening membungkus udara.
Meskipun separuh wajah Anisa tersembunyi di balik kain cadar, kelopak matanya yang bengkak, kusamnya sorot mata, dan gestur bahunya yang melengkung lesu tak bisa mengelabui mereka.
Dereta serta-merta berdiri memotong jarak. "Anisa!"mendekati Anisa
Anisa tersentak pelan, meremas pinggiran bajunya. "K-Kakak...?"
"Kamu baik-baik saja?" Dereta memindai penampilan Anisa dari atas ke bawah. "Oscar meminta kami kemari untuk nemenin kamu... dan kenapa baru keluar jam segini?"
Barbara memajukan kursi rodanya mendekat. "Kenapa wajahmu pucat sekali?"
Refleks, Anisa menangkup kedua pipinya sendiri. "saya... saya baik-baik saja." Ia tergagap, bingung harus mengarang alasan bahwa ia baru selesai menuntaskan sholat Dhuha dan tilawah yang panjang untuk menenangkan batin.
Morgan menggeleng pelan, melipat tangan di depan dada. "Itu kalimat paling tidak meyakinkan yang pernah kudengar pagi ini."
Dereta menarik satu kursi kosong di sebelah Barbara. "Duduk."
"Tapi saya—"
"Duduk, Anisa." Suara Dereta mengayun lembut, namun terkandung ketegasan yang tak bisa dibantah.
Anisa menunduk patuh, menggeser tubuhnya ke kursi tersebut. Barbara memperhatikan jemari Anisa yang bertaut gelisah di atas pangkuan, lalu bertanya pelan, "Anisa... kamu sakit?"
Anisa menggeleng cepat. "Enggak, kak."
"Hamil?"
"Eh?!" Matanya dan mata yang lain nya membelalak sempurna, kepalanya terangkat seketika, wanita bernama Morgan itu memang selalu ceplas-ceplos.
Morgan menyunggingkan senyum jahil, menahan tawa yang hampir pecah. "Aku cuma nanya, lho."
"Wajahmu langsung merah padam gitu!" goda Azy sambil terkekeh pelan.
"K-karena pertanyaannya mendadak banget!" sahut Anisa cepat, napasnya memburu kecil. Namun gurat tegang di dahinya sedikit mengendur.
Barbara tidak ikut tertawa. Ia meraih jemari Anisa yang dingin, mengusapnya penuh simpati. "Kalau bukan karena sakit... apa Oscar melakukan sesuatu padamu?"
Senyum tipis Anisa sirna seketika. Gazebo kembali diselimuti sunyi.
"Kalau dia bertindak kasar, kamu tidak perlu menyembunyikannya dari kami," lanjut Barbara lembut namun penuh penekanan.
"Benar," imbuh Dereta, menatap Anisa lurus. "Kamu itu bagian dari keluarga ini sekarang."
"Kamu tidak sendirian, Nis," tambah Morgan hangat.
Azy mengangguk mantap. "Jadi jangan membiasakan diri menanggung semuanya sendirian."
Anisa makin menundukkan wajahnya. Tatapannya kabur oleh lapisan air mata yang mendadak menumpuk di pelupuk. "anu sebenarnya saya..." Suaranya bergetar hebat, terputus di tenggorokan.
"Pelan-pelan," bisik Barbara lembut, menepuk-nepuk punggung tangannya.
Pertahanan Anisa ambruk total. Pertolongan tulus itu justru membobol tangis yang sejak tadi ditahannya. Air mata membasahi cadarnya.
"Mas Oscar... dia sama sekali tidak kasar," bisik Anisa di sela isaknya. Keempatnya terpaku. "Justru... dia terlalu baik dihadapan saya."
Barbara mengusap punggung tangan Anisa. "Kalau begitu, ceritakan."
Anisa menarik napas patah-patah. "Semalam... dia sebenarnya sangat kesulitan. Tapi dia tidak sedikit pun memaksa... saat tahu saya ketakutan , bingung dan sebenarnya belum siap. Suara Mas Oscar pecah... lalu dia memilih keluar dari kamar."
"Dia meninggalkanmu?" tanyanya lembut.
Anisa menggeleng cepat, membela suaminya. "Bukan... dia memberi saya ruang. Dia bilang, kalau dirinya juga belum siap, dia tidak akan pernah memaksakan kehendak saya."
Gazebo itu mendadak hening tanpa suara angin.
"Padahal saya tahu... dia juga sedang berjuang keras menahan perasaannya sendiri," lanjut Anisa lirih.
Barbara mempererat genggamannya. "Dan karena itu kamu menangis semalaman?"
Anisa mengangguk pelan. "saya merasa bersalah... saya merasa seperti istri yang gagal."
"Jangan pernah berani bicara begitu," potong Barbara tegas, menggeleng pelan. "Menjaga batas saat belum siap itu bukan kegagalan."
"Seseorang yang benar-benar menghargaimu tidak akan mengukur kasih sayang cuma dari apa yang bisa kamu berikan saat itu juga," lanjut Barbara.
Kata-kata itu merembes bagai penawar racun di dada Anisa. Dereta yang tak tahan lagi langsung bangkit dan merengkuh bahu Anisa hangat.
"Tumpahkan saja," bisik Barbara. "Kamu tidak harus pura-pura kuat di depan kami."
Dereta mengusap punggung Anisa. "Jangan salah paham sama sikap Oscar semalam. Mengalah dan mundur saat tahu kamu belum siap itu bukan bentuk kelemahan."
Morgan tersenyum tipis. "Itu bentuk penghormatan tertinggi seorang pria."
Azy melirik Barbara sambil terkekeh pelan. "Dan kalau mendengarnya... sepertinya adik kecil kita ini berhasil bikin seorang Oscar Carlous belajar jadi manusia yang lebih lembut."
Anisa menyapu air matanya dari balik kain. Ada rahasia manis yang mendadak ingin ia bagi. "Mas Oscar... dia juga sedang belajar hal lain."
"Belajar apa?" tanya Dereta penasaran.
"Tentang agama kita."lanjut nya Anisa
Keempat wanita itu seketika bungkam, mata mereka membelalak saling pandang.
"Dia memang tidak pernah cerita, mungkin malu," Anisa tersenyum tipis di balik sisa tangisnya. "Tapi beberapa waktu ini... saya sering lihat dia diam-diam belajar tata cara shalat lagi."
Mata Barbara melebar sempurna. "Serius kamu?"
Anisa mengangguk yakin. "Bahkan dia mulai ikut puasa Senin-Kamis. Dia bilang... dia ingin hubungan kami berjalan di jalan yang benar."
Hening merayap, namun kali ini dipenuhi rasa takjub. Barbara tersenyum haru. "Jadi selama ini pria gengsi itu merahasiakannya dari semua orang?"
"Termasuk dari saudara-saudaranya," tegas Anisa.
Dereta menyemburkan tawa kecil. "Khas Oscar sekali!"
"Kalau soal perasaan dan harga diri, gengsinya memang setinggi langit," sahut Morgan terkekeh.
Anisa akhirnya bisa tertawa kecil di antara sisa isakannya. Barbara mengusap bahu Anisa penuh kasih. "Nah, jadi berhenti menyalahkan dirimu. Kamu bukan beban, dan Oscar juga bukan korban. Kalian berdua cuma sedang belajar melangkah bersama."
Azy menyandarkan punggungnya santai ke kursi wicker. "Ngomong-ngomong, jangan terlalu memuji Oscar. Kalau kita mulai membandingkan dengan suami masing-masing, pembicaraan ini tidak akan selesai sampai esok hari!"
Morgan menyemburkan tawanya. "Benar banget!"
Anisa menyesap teh hangatnya perlahan. Matanya memang masih sembap, namun napasnya sudah jauh lebih ringan.
Barbara mengusap bahu Anisa sekali lagi. "Sudah lega?"
"Sudah, kak."
"Bagus. Kalau diteruskan air matanya, teh mahal ini keburu dingin."
Azy mengibaskan tangan. "Teh dingin masih enak, kok."
Morgan menatap Azy penuh arti. "Kalau suamimu yang buat teh dinginnya, apa kamu masih mau minum?"
Azy menatap tajam. "Jangan mulai bawa-bawa Hans, ya!"
Dereta tertawa lepas. "Kenapa? Memangnya Hans pernah bikin kamu minum teh dingin?"
"Bukan teh!" dengus Azy, melipat tangan di dada. "Dia pernah menyuruhku menunggu hampir dua jam di ruang koridor rumah sakit cuma karena urusan dokumen! Begitu selesai... dengan muka datarnya dia cuma bilang, 'Maaf ya sayang, aku lupa kamu masih di sini...'."
Tawa di gazebo seketika pecah. Dereta sampai memukul meja pelan. "Serius Hans begitu?!"
"Serius! Pria itu kalau sudah nempel sama berkas, istrinya cuma dianggap pajangan dinding!"
"Hei!" protes Morgan tak terima. "Wil juga persis begitu!"
Dereta menoleh cepat. "Jangan bawa-bawa Wil. Nanti orang mikir Wil cuma punya satu istri yang hobi mengomel."
Morgan menyipitkan mata. "Memangnya kamu tidak pernah mengomel?"
"Aku?" Dereta menunjuk dirinya sendiri dengan wajah tak berdosa. "Aku ini istri yang sangat penyabar."
Morgan tertawa renyah. "Pembohong...kau pembohong! Semalam siapa yang ceramah dua puluh menit gara-gara Wil menaruh skripsi di atas meja makan?"
"Itu bukan mengomel, itu edukasi!"
"Edukasi dua puluh menit pakai urat?!"
"EDUKASI, MORGAN!... IHHK!"
Anisa tertawa lepas tanpa beban. Barbara menyenderkan kepalanya sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Kalian berdua memang tidak pernah berubah."
Morgan tersenyum puas. "Setidaknya kami berdua sukses bikin Wil pusing tiap hari."
"Dan itu keuntungan punya istri kembar," sahut Dereta mengangguk mantap.
Azy menatap keduanya iba. "Atau justru Wil yang kasihan? Punya dua istri yang hobi berkomplot."
Morgan dan Dereta saling pandang, lalu terkekeh kompak. "Memang!"
Anisa menyahut polos, "Kak Wil tidak pernah marah?"
"Marah? Kadang... tapi tidak pernah menang!" potong Dereta cepat.
Gelak tawa kembali menggema di area gazebo.
"Kasihan sekali Wil," kekeh Barbara.
"Jangan dikasihani," balas Morgan santai. "Dia sendiri yang memilih menikahi kami berdua."
"Konsekuensi hidup," imbuh Dereta mantap.
Barbara menopang dagunya. "Kalau begitu aku jadi penasaran sama Hans."
Azy yang baru mau menyesap tehnya mendadak menghentikan cangkirnya di udara. "Kenapa Hans?"
"Suamimu kelihatannya paling tenang dan paling teratur."
Azy mendengus kencang. "Jangan tertipu penampilannya! Hans itu... tingkat menyebalkannya di luar nalar!"
"Hah?" Anisa hampir tersedak tehnya sendiri. Morgan dan Dereta langsung memajukan duduk mereka, bersemangat.
Azy memutar matanya malas. "Dia bisa duduk berjam-jam pakai kacamata bacanya. Kalau aku panggil, dia cuma jawab tenang banget... 'Sebentar ya, sayangku... cintaku...' Tapi 'sebentar'-nya dia itu bisa setengah hari!"
Dereta menepuk meja lagi sambil tertawa bahak-bahak. "Ternyata Kak Hans begitu juga!"
"Tapi yang paling bikin darah tinggi," lanjut Azy seraya mempraktikkan gaya Hans, "tiap kali aku lagi marah-marah, dia cuma ngeliatin dari balik kaca mata, terus bilang..." Azy memasang nada suara datar dingin
"Sudah selesai marah-marahnya?"
Hening satu detik.
"HAHAHAHA!"
Tawa mereka berempat meledak bersamaan. Anisa bahkan sampai menunduk memegangi perutnya yang geli.
"Kalimat itu memang minta dipukul!" seru Barbara di sela tawanya.
Morgan menyapu air mata di sudut matanya karena terlalu banyak tertawa. "Pria-pria Carlous ini fix punya penyakit turunan yang sama."
"Apa saja?" tanya Anisa penasaran.
"Gengsi setinggi langit!" seru Morgan mengangkat satu jari.
"Keras kepala!" sambung Dereta.
"Susah ngaku salah!" tambah Barbara.
"DAN KALAU SUDAH SALAH, BUKANNYA MINTA MAAF TAPI PURA-PURA TIDAK TERJADI APA-APA!" seru mereka berempat kompak.
Suara tawa renyah membumbung tinggi, memecah kabut dingin Mansion Oscario Carlous pagi itu. Dinding kecanggungan dan bayang-bayang rasa bersalah Anisa perlahan luluh, digantikan oleh kehangatan nyata dari keluarga barunya.
...⊹₊˚‧︵‿₊୨ᰔ୧₊‿︵‧˚₊⊹...
...****************...