Indonesia
NovelToon NovelToon
Takdir Cinta Di Tanah Anarki

Takdir Cinta Di Tanah Anarki

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Menikahi tentara
Popularitas:183k
Nilai: 5
Nama Author: Fernanda Syafira

Silvana, seorang dokter dengan karir yang sangat bagus, terpaksa di kirim ke Wilayah Konflik karena menolak cinta dari putra salah satu Petinggi di Rumah Sakit tempatnya bekerja.
Tentu saja Silvana menolak, karena Pria itu tak hanya meminta cintanya, namun juga hampir melecehkannya.
Karena tak ingin berada di lingkungan toxic, ia pun sama sekali tak keberatan ketika di kirim ke Wilayah Konflik yang ada di Negaranya.
Disana, ia bekerja di sebuah Klinik Militer. Selain menangani Prajurit yang terluka, ia juga secara rutin datang ke desa-desa sekitar Markas Militer untuk melakukan pemeriksaan pada warga desa.
Siapa sangka, jika di tempat 'pengasingan' itulah ia justru bertemu dengan pria yang berhasil meluluhkan hatinya.
Bagaimana kisah cinta Silvana?
Apakah perjalanan cintanya berjalan dengan mulus?
Siapakah sosok pria yang berhasil meluluhkan hatinya?
Simak kisah dan keseruannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fernanda Syafira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

3. Hari Pertama

"Wah! Luar biasa sekali Dokter Sisil." Ujar Wira sambil bertepuk tangan di hadapan Sisil dan beberapa rekan Dokter lain.

"Sepertinya Rumah Sakit bisa membatalkan pengiriman obat dan alat medis yang akan di bawa Dokter Sisil dan mengalihkannya ke tempat yang lain. Lihat saja, bahkan keluarganya menyumbang sangat banyak bantuan untuk masyarakat di tempat bekerjanya yang baru. Dokter Sisil juga pasti mampu menyiapkan obat-obatan dan perlengkapan medis sendiri, kan?" Imbuh Wira.

Silvana membelalakkan matanya. Ia sungguh tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Wira. Sudah gila kah Dokter di hadapannya ini? Rasanya dia tak pantas di sebut sebagai Dokter, sama sekali tak berprikemanusiaan.

"Gak bisa gitu dong, Dok! Jangan mengaitkan urusan pribadi dan pekerjaan." Sergah Silvana.

"Bantuan yang saya bawa, gak ada hubungannya dengan Rumah Sakit. Harusnya Rumah Sakit bisa bersikap profesional dan mengirimkan alat medis sert obat-obatan seperti yang sudah di sepakati." Imbuhnya, namun hanya di jawab senyuman mengejek oleh Dokter Wira.

Dokter Wira melangkah mendekat ke arah Silvana. Ia semakin memangkas jarak hingga membuat jantung Silvana berdebar kencang. Bukan debaran karena jatuh hati, namun, debaran karena rasa trauma dengan kejadian di Hotel beberapa waktu lalu.

"Kamu lupa siapa saya? Saya bisa melakukan apapun yang saya inginkan, Sisil Sayang." Bisik Dokter Wira yang membuat Silvana benar-benar geram.

Silvana terus mengumpati Dokter Wira, meskipun hanya di dalam hati. Peralatan medis dan bantuan obat-obatan, gagal di bawa serta olehnya ke tempatnya bertugas.

Meski begitu, Silvana tetap melanjutkan perjalanannya. Ia terbang ke Bandara terdekat dari wilayah tempatnya bekerja. Setelah sampai di Bandara, ia melanjutkan perjalanan lagi dengan menggunakan pesawat terbang kecil yang hanya muat untuk delapan sampai sepuluh orang.

Tak berhenti sampai di sana. Setelah ia sampai di Bandara kecil di atas perbukitan, Silvana kembali melanjutkan perjalanan darat selama sekitar dua jam untuk bisa sampai di Pangkalan Militer tempatnya bertugas.

Pangkalan Militer tersebut adalah Pangkalan Militer yang terdekat dari Desa-desa sekitar. Sengaja di buat dekat dengan Desa agar bisa terus mengawasi dan melindungi Warga.

Total ada sepuluh jam yang dihabiskan Silvana untuk menempuh perjalanan ke lokasi kerjanya yang baru, termasuk dengan waktu tunggu yang ia habiskan di Bandara.

"Andai aku bukan kesini, pasti aku sudah sampai Mekah sekarang dengan penerbangan langsung." Ujar Sisil yang bermonolog dalam hati.

Hari sudah gelap ketika Silvana turun dari mobil Jeep milik Pangkalan Militer yang menjemputnya. Suasana sekitar cukup sunyi, hanya nampak beberapa anggota yang sedang berjaga.

"Biar saya bantu, Bu Dokter." Ujar seorang anggota yang menjemputnya.

"Iya, terima kasih." Jawab Silvana yang membiarkan koper besarnya di ambil alih.

"Mari ikut dengan saya, Bu Dokter. Saya akan mengantar Bu Dokter ke rumah yang akan Bu Dokter tempati selama berada di sini." Kata anggota TNI itu yang di jawab anggukan oleh Silvana.

Mereka berjalan memasuki komplek perumahan yang tampak sepi. Silvana tampak celingukan melihat kondisi sekitar perumahan. Anggota TNI itu juga menjelaskan beberapa lokasi yang mereka tempati.

"Ini rumah yang akan Bu Dokter tempati. Nah, di sebelah itu adalah pintu belakang Klinik Militer." Ujarnya menjelaskan.

"Wah dekat ternyata. Berarti tadi kita memutar, ya?" Tanya Silvana. Pasalnya, ia melihat Klinik tadi berada di dekat gerbang masuk Pangkalan Militer.

"Iya, Bu Dokter. Memang harus memutar untu masuk ke Komplek Perumahan." Jawab Anggota sembari membuka pintu rumah.

"Itu, rumah siapa?" Tanya Silvana sambil menunjuk rumah yang sedikit lebih mewah dari pada rumah lain, termasuk rumah yang ia tempati.

"Itu rumah Komandan, Bu Dokter." Jawab Anggota.

"Oh, Komandan juga tinggal di sini? Aku kira beliau tinggal di luar Pangkalan." Kata Silvana.

"Oh, enggak, Bu Dokter. Komandan juga tinggal di sini."

"Silahkan, Bu Dokter, ini kuncinya." Ujarnya sembari memberikan kunci pintu rumah Sisil.

"Terima kasih banyak." Ucap Sisil sambil menerima kunci rumahnya.

"Sama-sama, Bu Dokter. Saya permisi dulu kalau begitu." Anggota TNI yang menjemput dan juga mengantarkan kerumah tinggal itu, lalu meninggalkan Silvana.

Silvana segera masuk ke dalam rumah. Rumah itu tak besar, hanya ada ruang tamu, satu kamar, ruang keluarga yang menyatu dengan ruang makan, dapur, kamar mandi dan area menjemur kecil di bagian belakang. Meski begitu, rumah itu sangat bersih dan terawat.

Di dalam kamar, hanya ada sebuah ranjang yang sepertinya baru, sebuah lemari kayu dan sebuah meja. Sementara itu, di dapur hanya ada kompor satu tungku lengkap dengan gasnya, alat memasak, juga beberapa alat makan.

"Gak ada barang elektronik di sini. Terus, gimana caranya aku masak nasi?" Keluh Sisil.

Tentu ada perasaan tak nyaman karena hidupnya biasa di permudah dengan berbagai macam alat elektronik. Apa lagi, Sisil sama sekali tak pernah menanak nasi dengan cara manual.

Terbersit keinginan untuk membeli berbagai macam peralatan elektronik penting. Minimal, ia memiliki alat penanak nasi, lemari es dan juga mesin cuci. Namun, membayangkan perjalanan darat yang harus ia tempuh untuk membeli semua itu, membuat Sisil mengurungkan niatnya.

"Beli makan di warung warga aja deh. Hitung-hitung melariskan UMKM." Ujar Sisil pada akhirnya.

Silvana kemudian membereskan barang-barang yang ia bawa. Ia menyusun pakaiannya di dalam lemari dan meletakkan peralatan kerjanya di atas meja yang ada di kamarnya.

Sisil kemudian memasang sprei, sarung bantal, sarung guling dan meletakkan selimut di atas ranjangnya. Tak berhenti sampai di sana, Sisil lalu meletakkan keperluan kamar mandi di kamar mandi sederhananya.

Tak ada shower apa lagi bath tube, hanya ada sebuah ember dengan kapasitas enam belas liter sebagai bak penampung air, gayung love dan satu ember lain yang ukurannya lebih kecil. Untuk hal ini, tentu Sisil tak mempermasalahkannya. Karena ia cukup sering mencuci pakaiannya dengan menggunakan tangan.

Sisil lalu meletakkan beberapa camilan di atas meja makan. Bukan meja makan seperti yang di miliki kebanyakan orang, hanya sebuah meja kayu persegi dengan ukuran sekitar satu meter kali lima puluh senti meter. Lalu ada dua buah kursi plastik sebagai tempat duduk.

"Definisi dari rumah minimalis yang sebenarnya." Ujar Sisil.

Silvana memutuskan untuk mandi terlebih dulu sebelum beristirahat. Setelah mandi, Silvana kemudian mencolokkan charger ponselnya untuk mengisi daya ponselnya yang hanya tersisa sembilan persen. Sembari mengisi daya ponsel, Sisil membalas beberapa pesan yang masuk ke ponselnya.

Blup!

Terdengar suara seperti ledakan yang sangat kecil dari alah stop kontak. Bersamaan dengan itu, listrik di rumah Sisil pun padam. Sisil buru-buru melepas chargernya dan melihat ke luar rumah melalui jendela kamar.

"Yah! Ini konslet?" Kata Sisil karena melihat lampu di rumah lain yang menyala.

"Baru hari pertama, Ya Allah. Kenapa cobaannya sepele, tapi meresahkan gini." Ujar Sisil dengan wajah sedih. Tentu ia merasa takut jika harus gelap-gelapan di dalam rumah yang baru ia huni.

1
Munas Tuti
ha..ha..ha...ajudannya keren abis 👍
Ayunda
ajudannya tukang kompor mleduk
Rahmawati
ayo ndan susun calon istrinya
Rahmawati
dasar duo racun, bisanya manas-manasin komandan aja😂
Rahmawati
lah kok malah nyalahin sisil, lo nya aja yg gila😂
Sisca Afrianty
miko ama riki kompor meleduk ihhh...ayolah gaskeun komandan
lia juliati
mo liat komandan cemburu gimana ya🤭
bunda aya
ya Allah pinternya miko dan riki ngomporin kaivan 😄😄
Asih Sasi
🤣🤣🤣🤣nggk tahan juga ,dan akhir nya ,,otw Ndan
Nice1808
hahhaha trpancing juga ya ndan🤭langsung mau otw nyusul sisil😃😃😃
This Is Me
Yeyyyy...Sisil disusul komandan pujaan 🩷
Anonim
Gas keun komandan,susulin Dosil 🤣
Nice1808
bagus pak markus demi jabatan mu ttp utuh kau biarkn brisha di penjara dgn alasan kau adil dan bertanggung jawab🤣👍👍👍👍
Ayunda
alah pejabat lagu lama itu gak like lah
Munas Tuti
huuuuh orang kok hobby banget pencitraan too
🟢Rafifah
mau ny hukuman seumur hidup
This Is Me
Jangan² si Brisha malah makin berani jahatin Sisil 😤😤😤
Rahmawati
ya bukan salah komandan juga sih, komandan kan gk pernah kasih harapan ke brisha, dia nya aja yg gila😂
🟢Rafifah
double ya thor
Tosari Agung
walau aku pembaca setia novel kak tapi baru kali ini ada pelakor di novel kakak sikat si pelakor itu kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!