Aisyah dokter 23 tahun harus terjebak dalam pernikahan yang awalnya dia pikir semua baik-baik saja, tetapi ternyata kecelakaan 5 tahun lalu di saat dirinya masih remaja mengakibatkannya terikat dalam pernikahan itu.
Rahasia besar yang disembunyikan banyak orang kepadanya. Pria yang dia nikahi, ternyata menerima perjodohan dari orang tuanya karena memiliki maksud tertentu darinya.
Lalu bagaimana Aisya menjalani pernikahannya, di saat dia merasa semua baik-baik saja dan ternyata pernikahannya hanyalah sebuah kebohongan yang menyakiti hatinya, karena perbuatan orang-orang yang tidak bertanggung jawab.
Mari harus membaca karya saya dari awal sampai akhir, jangan lewatkan sedikit pun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 21 Ada Apa
Bulan madu yang tidak disengaja akhirnya telah selesai. Aisyah kembali ke Jakarta bersama dengan suaminya dan saat ini pasangan pengantin baru itu sedang berada di dalam pesawat.
Aisyah mungkin kelelahan karena hari-harinya dipenuhi dengan jalan-jalan bersama Kaivan, banyak hal positif yang mereka lakukan, banyak cerita yang mereka ungkapkan sehingga keduanya semakin dekat dan saling mengetahui satu sama lain.
Aisyah sampai tertidur di bahu Kaivan, benar-benar sangat terlelap dalam tidurnya dan mungkin begitu nyaman.
Kaivan lagi-lagi memberi perhatian pada Aisyah, memanggil pramugari dan menyelimuti Asiyah. Bagaimana Aisyah tidak bahagia dengan pernikahannya karena memiliki suami yang sangat menyayanginya dan sepertinya tahu apa yang dia inginkan.
Kaivan menghela nafas dan mencium lembut kening Aisyah dan kemudian Kaivan juga perlahan memejamkan mata.
*****
"Wah begini, kalau sudah punya kakak ipar jadi mendapat satu perhatian yang besar dan tidak lupa oleh-oleh untuk adik iparnya, bukan seperti kakak sendiri yang selalu melupakan adiknya!" Amira baru saja menerima oleh-oleh dari Aisyah tetapi mulutnya tetap saja memberi sindiran Kaivan juga ikut di ruang tamu bersama dengan keluarganya.
"Permintaan kamu aneh. Kakak juga seorang pria dan mengalami kesulitan untuk mencari apa yang kamu mau," sahut Kaivan mencoba membela diri.
"Alasan saja, bilang aja kalau memang tidak memiliki niat untuk membeli oleh-oleh pada adiknya, tidak memiliki niat tetapi memang tidak ingat kalau masih punya adik," sahut Amira.
"Sudah-sudah, kalian berdua ini kalau bertemu selalu saja bertengkar," sahut Lidya dengan geleng-geleng kepala.
Aisyah yang ada di sana hanya tersenyum tipis.
"Aisyah, kamu seharusnya tidak perlu repot-repot membelikan ini kepada Mama, Papa dan Amira, kamu akan sedang menjalankan tugas di Bali bukan liburan," ucap Lidya.
"Tidak apa-apa. Ma, Aisyah memang punya kebiasaan kalau keluar kota atau ke luar negeri pasti harus membeli sesuatu," sahut Aisya.
"Lagian siapa bilang Aisyah ke Bali untuk menjalankan tugas, mereka itu lagi bulan madu, buktinya ada suami yang tidak tahan ditinggal istrinya lalu kemudian menyusul istrinya, jadi sangka ternyata Kakakku bucin juga," ucap Amira menggoda Kaivan.
"Kakak kebetulan ada proyek di Bali dan semuanya secara tidak sengaja!" tegas Kaivan lagi-lagi meluruskan dan mencari pembelaan.
"Sudahlah tidak perlu malu-malu seperti itu, pengantin baru itu memang lagi hangat-hangatnya," Amira memang paling suka membuat orang lain kesal dan sementara Aisyah sudah sangat biasa menghadapi Amira hanya tersenyum saja.
"Awas ya kamu Amira!" kesal Kaivan.
Toni dan Lidya saling melihat satu sama lain dengan keduanya hanya tersenyum geleng-geleng kepala.
"Oh iya Aisyah, kamu lihat di grup tidak, para dokter saat ini membicarakan pasien yang bernama Aulia, ternyata dia mencoba untuk melakukan percobaan bunuh diri!" ucap Amira.
"Benarkah, aku tidak tahu hal itu, aku memang kurang melihat ponsel dan apalagi grup," jawab Aisyah.
"Memang pasien bernama Aulia kenapa?" tanya Lidya tidak tahu pembahasan yang dibicarakan Putri dan menantunya itu.
"Aulia ini merupakan salah satu korban tabrakan beruntun beberapa bulan yang lalu, Aulia termasuk korban dalam kategori parah dan bahkan kehilangan penglihatannya, usianya masih sangat muda 19 tahun dan memiliki banyak impian, tetapi dia merasa hidupnya sudah tidak ada artinya karena kehilangan penglihatannya, jadi beberapa kali histeris di rumah sakit dan mencoba untuk melakukan percobaan bunuh diri," jelas Amira membuat kedua orang tuanya cukup prihatin mendengar cerita itu.
Berbeda dengan reaksi Kaivan, entah mengapa tiba-tiba saja dia terdiam, tampak bengong dengan kesulitan menelan ludah, seperti ada sesuatu yang dia pikirkan.
"Aisyah berharap jika semua impian Aulia tidak hilang seperti penglihatannya, Allah pasti akan memberi kesempatan dan semoga saja Aulia mampu menghadapi semua ini," sahut Aisyah.
"Tetapi ini menjadi pembicaraan dokter di rumah sakit, aku tidak tahu mereka pernah mengatakan bahwa kejadian ini pernah terjadi beberapa tahun yang lalu, ada juga gadis remaja sama seperti dirinya yang mengalami kecelakaan dahsyat dan juga kehilangan penglihatannya, qadarullah gadis itu bisa melihat, ada pendonor yang memberikan matanya, dan kamu tahu tidak Aisyah mereka juga mengatakan bahwa gadis itu menjadi dokter di rumah sakit kita," sahut Amira.
"Aku juga pernah mendengar dari dokter Audy, tetapi tidak ada yang tahu dokter siapa yang mereka maksud dan mungkin saja bekerja di rumah sakit yang sama tetapi di cabang yang berbeda," sahut Aisyah.
"Alhamdulillah gadis itu nasibnya baik, dia juga pasti sangat menghargai dirinya karena sudah menjadi dokter, semoga saja pasien bernama Aulia juga mendapatkan nasib baik seperti gadis itu," sahut Lidya.
"Huhhhh, padahal bukan kesalahannya, dia hanya bersama orang tuanya di dalam mobil dan tiba-tiba ada mobil truk besar dan mobilnya harus terdorong sehingga jatuh ke jurang dan mengalami kebutaan. Sangat ngeri sekali kecelakaan lalu lintas yang terjadi," sahut Amira menghela nafas.
"Untuk itu kamu harus hati-hati menyetir," sahut Toni.
"Iya. Pa, apalagi harus membawa Aisyah berada di dalam mobil yang sama bersama Amira. Amira juga tidak ingin Aisyah mengalami hal itu untuk kedua kalinya dan waktu itu karena Amira mengganggu Aisyah menyetir dan akhirnya kecelakaan itu terjadi....."
"Amira cukup membicarakan kecelakaan!" Kaivan sedikit menekan suaranya membuat suasana ketika menjadi hening.
"Apa kamu tidak punya pembahasan yang lain hah!" ucap Kaivan tiba-tiba saja jadi marah.
Berdiri dari tempat duduknya dan langsung pergi, semua orang tidak sempat mencegah dan bingung dengan sikap Kaivan.
"Kakak knapa sih?" tanya Amira bingung.
"Aku juga tidak tahu dan padahal mood beliau kelihatan baik-baik saja," sahut Aisyah.
******
Aisyah dan Kaivan saat ini berada di dalam mobil dengan Kaivan mengambil ahli dalam menyetir tetapi Aisyah yang duduk di sebelahnya bolak-balik menoleh ke arah suaminya yang hanya diam tanpa berbicara sedikitpun.
"Kakak baik-baik saja?" tanya Aisyah memberanikan diri untuk bertanya secara langsung kepada Kakaknya.
Kaivan menghela nafas dan menoleh ke arah Aisyah yang menggenggam tangan Aisyah sembari mengusap-usap punggung jari-jari tangan itu menggunakan jempolnya.
"Kamu bertanya seperti ini karena tadi saya bersikap aneh di ruang tamu?" tanya Kaivan.
Aisyah menganggukkan kepala dan memang sikap suaminya berubah ketika Amira membicarakan soal permasalahan di rumah sakit.
"Saya kurang suka jika pembicaraan keluarga harus dilibatkan dengan orang lain. Amira tidak bisa menempatkan diri dan situasi, kapan harus membicarakan orang lain dan apakah perlu atau tidak, saya merasa kurang nyaman," ucap Kaivan.
"Kakak tidak mengatakannya kepada Amira, mungkin kedepannya Amira masih akan melakukan hal itu karena tidak tahu apa yang tidak disukai oleh Kakaknya," ucap Aisyah.
"Saya akan mengatakan lain kali dengannya," jawab Kaivan.
"Maafkan saya Aisyah, jika saya terlalu berlebihan dan pasti membuat kamu bingung," sahut Kaivan.
"Tidak apa-apa, sejujurnya Aisyah juga sedikit tidak nyaman jika membicarakan soal kecelakaan. Aisyah pernah mengalami hal itu, pernah koma di rumah sakit hampir 1 bulan, Aisya juga terkadang masih mengalami mimpi buruk tentang kejadian itu, tetapi karena Aisyah seorang dokter, mau tidak mau hal seperti itu menjadi makanan setiap hari dan perlahan trauma itu akan hilang walau terkadang masih ada rasa takut," ucap Aisyah.
Bersambung....
suaminya loh ....pengantin baru looh