Di rumah dia hanyalah ibu rumah tangga biasa, wanita lembut yang sayang anak dan cekatan mengerjakan pekerjaan rumah tangga.
Namun, bagaimana bila ternyata dia menyimpan rahasia yang tak biasa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#15
#15
Flashback.
Lizie yang resah juga gelisah jika keluarga bahagianya diusik, akhirnya mengambil pilihan sulit, yakni kembali menjadi Lynx meski sejenak.
Wanita itu tak membuang waktu, ia tahu targetnya siapa dan dimana, karena orang yang mengirimkan pesan padanya melampirkan alamat hotel tempat sasarannya menginap.
Lizie datang ke sebuah gedung pencakar langit di pusat kota, tujuannya adalah untuk mendatangi salah satu salon kecantikan yang ada di lantai 20 gedung tersebut.
Mudah baginya mendaftar sebagai member VIP, serta mendapatkan kamar yang ia inginkan. Apakah itu tak terencana? Tentu saja tidak, karena sebelumnya Lizie sudah memeriksa lokasi, memastikan jarak paling maksimal, yang bisa dilampaui pelurunya. Hingga bisa meminimalisir bahkan menghilangkan kecurigaan para polisi terhadap dirinya,
Dan salon kecantikan adalah lokasi serta alasan tepat baginya, dimana tempat itu akan ia pergunakan sebagai lokasi paling ideal untuk melesatkan peluru dari senjata rakitan yang dirancang secara khusus untuknya.
“Selamat pagi, Nyonya.”
“Saya mau daftar sebagai member VIP,” kata Lizie tanpa basa-basi, jika biasanya ia hanya ibu rumah tangga sederhana, maka kali ini ia menunjukkan kelasnya sebagai istri salah satu konglomerat ibukota.
Resepsionis yang menerima kehadirannya, langsung berbinar, ia akan mendapat bonus karena pagi-pagi berhasil mendapatkan mangsa VIP baru. “Silahkan ikuti saya, Nyonya,” kata resepsionis tersebut.
Lizie berjalan dengan keanggunan maksimal, tak ada yang mencurigai tas branded yang sedang dibawa olehnya, padahal di dalam tas besar tersebut, terdapat senjata mematikan yang dirancang khusus oleh ahli senjata untuknya.
Proses administrasi berlangsung cepat, selama menunggu Lizie dijamu dengan beragam hidangan sarapan yang menggugah selera. Hingga waktu menunggu tak terasa membosankan.
“Sudah selesai, Nyonya, silahkan ikuti saya untuk ke ruangan khusus yang akan menjadi tempat Anda selama melakukan perawatan.”
Lizie tersenyum tipis, lalu berjalan mengikuti petugas yang akan mengantarnya.
“Tinggalkan aku sejenak untuk bersiap,” kata Lizie saat ia sudah berada di ruangan tersebut.
“Baik, Nyonya, silahkan panggil saya dengan tombol di atas meja itu setelah Anda selesai bersiap.”
Lizie hanya mengangguk samar, ia melangkah masuk ke dalam ruangan lalu menguncinya dari dalam.
Sesudahnya ia meletakkan tas dan membuka tirai yang menutupi kaca, dari dalam tasnya Lizie mengeluarkan sebuah teropong kecil untuk mengintai target.
Setelah itu Lizie mulai mengeluarkan senapan khususnya yang kini tersamar seperti sebuah kotak peralatan make up, merakitnya satu persatu dengan cermat, memasang tiap bagian dengan detail yang presisi, hingga terwujudlah, sebuah senapan laras panjang dengan jangkauan tembakan lebih dari 30 km.
Lizie membuka celah jendela, agar moncong senapan bisa mengarak keluar, sebenarnya ia bisa saja melubangi kaca, karena di tasnya juga ada peralatan untuk membuat lubang di permukaan kaca. Namun, hal itu tak ia lakukan karena masih bisa dengan alternatif lain.
Senapan sudah terpasang, cukup satu peluru untuk satu tembakan, kini ia tengah mengukur jarak tembakan dengan teropong yang terpasang di senapan.
Demi melindungi keluarga yang sangat ia cintai, maka Lizie akan melakukan apa saja, mengingkari janjinya, meski suatu saat ia pun harus menukar dengan nyawanya sendiri. Karen ia tahu seperti apa kejam dan bengisnya Adam Romanov.
Sebelum menarik pelatuk, wajah lembut dan tenangnya Lizie, perlahan berubah menjadi wajah dingin Lynx.
Klak!
Sring!
Peluru itu meluncur cepat, melintasi jarak yang luar biasa jauh, namun, bisa menembus sasaran dengan tepat. Benar-benar satu kali tembakan.
Flashback end.
•••
Di tempat lain, Zion bangun di pagi buta saat menerima kabar tentang panglima besar yang meninggal secara tiba-tiba.
“What?!” pekik Zion, langsung melompat dari tempat tidur, padahal semalam jam 3 subuh ia baru bisa berbaring nyaman.
“Tolong jelaskan dengan benar, dan jangan mengada-ada!” perintah Zion. Orang yang memberinya perintah untuk penyelidikan Alan, tiba-menghembuskan nafas terakhir, sepertinya dia memang harus musnah sebelum mengetahui semua.
“Panglima meninggal di rumah beliau, tepatnya di ruang kerjanya, dengan kondisi tertembak tepat di jantungnya. Kami belum bisa mengidentifikasi pelaku, karena saat ditemukan hari sudah pagi, dan diperkirakan kejadiannya pada malam hari,” lapor salah satu anak buah Zion.
“Tidak ada suara pecahan kaca atau apa gitu?”
“Tidak ada, Komandan. Karena posisi jendela sedang terbuka lebar.”
Zion memijat pelipisnya yang berdenyut nyeri efek dari bangun tiba-tiba, padahal belum genap lima jam ia tertidur.
Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa panglima besar tewas secara tiba-tiba? Apakah ini peringatan agar penyelidikan tentang Alan Romanov dihentikan?
Apakah penyelidikannya akan terhenti? Tentu saja tidak, sebab semalam saat Zion diam-diam menyelinap diam-diam di puing-puing bangunan rumah Adam Romanov, ia menemukan fakta baru bahwa ada beberapa anak dari Indonesia.
Kenapa ia bisa menyimpulkan demikian, karena di dinding-dinding usang sel yang ada di ruang bawah tanah kediaman Adam Romanov, ia melihat ada gambar bendera merah putih di dinding salah satu sel.
Apakah itu refleksi kerinduan anak tersebut pada rumah, dan orang tua mereka? Mungkin saja.
Alasan kedua, di berkas-berkas biodata anak tertulis status mereka adalah anak-anak adopsi lintas negara.
Lalu dimana orang tua angkat mereka? Dalam hal ini ada banyak kemungkinan, bisa jadi mereka adalah kaki tangan para mafia trafficking, atau mereka sengaja dibunuh agar anak angkat mereka bisa diambil secara paksa.
Tok!
Tok!
Pasti itu Louis.
“Komandan, Anda sudah dengar berita?” tanya Louis saat pintu sudah tertutup rapat.
“Hmm, ketua tim 1 yang mengabariku.”
“Bagaimana sekarang? Haruskah kita lanjutkan penyelidikan ini? Sedangkan semalam saja, kita nyaris tewas karena hujan peluru yang mereka keluarkan. Lalu sekarang panglima tiba-tiba terbunuh?” Louis menyatakan kegelisahannya.
Zion membuka tirai jendela, tapi hanya sedikit, sekedar untuk menatap ke sekitar bangunan hotel yang ia tempati. Mungkin saja, saat ini ia pun sedang diincar sniper utusan Alan Romanov.
“Tidak bisa, Louis. Kamu mengenalku, kan? Sekali aku terjun, maka aku tak akan berhenti sampai tuntas.”
“Tapi, Komandan. Mungkin saja sekarang Anda yang akan menjadi sasaran berikutnya!” balas Louis gemas.
“Jika aku sasaran berikutnya, pasti sudah sejak dulu mereka mengincarku, atau mungkin sudah lama aku menjadi target mereka?” gumam Zion.
“Haisshh!” Louis menggaruk kepalanya yang mendadak gatal, komandannya benar-benar bernyali baja. Tak gentar meski taruhan nyawa di depan mata.
•••
Lizie baru keluar dari salon. Tadi ia sudah mengabarkan pada sang mertua soal keberadaannya di salon untuk perawatan, tentu saja sang mertua tak marah, justru menyarankan padanya untuk semakin mempercantik diri, dan menikmati waktu sendiri selepas dari salon, misalnya seperti shoping.
Urusan Zea, Mommy dan Daddy mertuanya dengan senang hati menjaga cucu mereka.
Ah, senangnya andai para emak di negara ini memiliki mertua seperti mereka, auto gak perlu ribut soal harta dan kenyamanan hidup. Sayangnya ini hanya dunia khayalan semua orang. 😂
Ponsel Lizie kembali berdering, Dengan wajah dingin penuh amarah yang siap meledak, wanita itu menjawab telepon tersebut. “Dimana kamu?”
“Datanglah ke gedung apartemen XXX, lantai 15. Aku ada di sana.”
Tak membuang waktu, Lizie segera menghidupkan mesin mobilnya, lalu melaju ke alamat yang barusan ia dengar.
Tiba di tempat tersebut.
Klek!
Brak!
Duel singkat itu terjadi, Lizi sempat melayangkan beberapa pukulan dan menangkis serangan dari pria itu, emosi yang sekian lama ia tahan, keahlian yang disembunyikan kini kembali Lizie pergunakan. Sebab pria itu yang memulai semua ini.
Lizie begitu lincah, gaun yang ia kenakan sama sekali tak menghalangi pergerakannya, hingga akhirnya ia berhasil melayangkan satu tendangan berputar, yang membuat lawannya roboh. Kemudian dengan gesit Lizie mengunci tengkuk pria itu dengan lutut kanannya, hingga pria itu menggebrak-gebrakkan kedua tangannya di lantai, tanda bahwa ia menyerah. Karena ia mulai kesulitan bernafas.
“Fine! Aku menyerah!” kata pria itu ngos-ngosan, berusaha meraup udara sebanyak-banyaknya.
Lizie melonggarkan kuda-kudanya, lalu kembali berdiri. Namun, tak sedikit pun ia menurunkan kewaspadaannya. “Jangan pernah mengusik keluargaku lagi!” pekik Lizie geram.
Namun pria itu kembali berdiri dengan tenang, seolah tak terjadi apa-apa. “Alan Romanov sedang mencarimu.”
“Apakah kamu kembali menjadi kaki tangannya?”
“Aku terpaksa!”
“Jika kamu terpaksa kenapa melibatkan aku!” balas Lizie. “Aku sudah membebaskanmu, beginikah caramu berterima kasih, Mars?”
Mars adalah nama pria itu, dia juga Sniper yang ikut menjalani pelatihan paksa bersama Lizie, dan beberapa teman mereka yang lain.
#hari ini satu bab ya 🙏🏻biasa udah pada apal jadwal sabtu minggu nya othor kan? yap, jadi upik abu-abu. 😂
#othor usahakan nanti agak malam update mas bagas ehm! ehm! 😖