Dia adalah Black Rose, pembunuh bayaran yang ditakuti dunia bawah tanah.
Dia adalah Adrian Virell, CEO dingin yang diam-diam merupakan pewaris dinasti mafia.
Lima tahun lalu, satu malam mempertemukan mereka tanpa nama dan tanpa janji.
Kini Black Rose kembali bersama seorang anak laki-laki bernama Noah.
Anak yang ternyata memiliki hubungan darah dengan sang CEO.
Namun Noah bukan anak biasa.
Di balik wajah polosnya, tersembunyi identitas lain yang bahkan tidak diketahui kedua orang tuanya.
Ketika masa lalu kembali memburu mereka, mampukah sang CEO melindungi pewaris yang selama lima tahun tidak pernah diketahuinya?
Dan sebenarnya...
siapa Noah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aren Vely, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KELAHIRAN NOAH
Beberapa bulan kemudian, di sebuah rumah sakit kecil di kota asing yang namanya bahkan sengaja tidak dia hafal sepenuhnya, Althea melahirkan seorang anak laki-laki.
Persalinan itu berlangsung sendirian, tanpa suami di sisinya, tanpa keluarga yang menunggu di ruang tunggu, hanya seorang perawat yang bertugas malam itu dan seorang dokter yang tidak pernah bertanya lebih dari yang diperlukan. Althea menahan setiap teriakan yang ingin keluar dari mulutnya, kebiasaan lama yang sulit dihilangkan meski situasinya sama sekali berbeda dari medan misi mana pun yang pernah dia hadapi. Namun ketika akhirnya tangisan pertama bayi itu memenuhi ruangan, sesuatu di dalam dirinya, sesuatu yang sudah lama dia kubur sejak usia tujuh tahun, pecah menjadi kepingan yang tidak pernah bisa dia satukan kembali seperti semula.
Dia menatap wajah kecil yang merah dan berkerut itu, menghitung jari-jari mungil yang menggenggam jarinya sendiri dengan kekuatan yang mengejutkan untuk makhluk sekecil itu, dan untuk pertama kalinya sejak malam kebakaran yang merenggut keluarganya, Althea Ravenna menangis tanpa berusaha menahannya.
"Siapa namanya?" tanya perawat itu sambil menyiapkan berkas kelahiran.
Althea menatap anaknya lama sekali sebelum menjawab. Dia sudah memikirkan banyak nama selama bulan-bulan kehamilannya, tapi tidak ada satu pun yang terasa tepat sampai momen ini.
"Noah," katanya akhirnya, suaranya masih serak dari persalinan. "Namanya Noah."
Nama yang berarti ketenangan, kedamaian setelah badai. Sesuatu yang tidak pernah dimiliki Althea sepanjang hidupnya, dan sesuatu yang dia bersumpah dalam hati akan dia berikan kepada anaknya, apa pun harganya.
Minggu-minggu pertama sebagai ibu tunggal jauh lebih berat daripada misi paling berbahaya yang pernah dia jalankan. Dia yang terbiasa tidur hanya beberapa jam di tengah misi, sekarang terjaga sepanjang malam bukan karena bahaya musuh, melainkan karena tangisan bayi yang belum bisa mengatakan apa yang dia butuhkan. Dia yang terbiasa bergerak tanpa suara di kegelapan, sekarang belajar menenangkan diri sendiri dengan senandung sederhana yang dia ingat samar dari masa kecilnya, sebelum kebakaran itu merenggut segalanya.
Althea membesarkannya seorang diri, berpindah dari satu kota ke kota lain setiap beberapa bulan, tidak pernah tinggal cukup lama di satu tempat untuk membiarkan siapa pun mengenalinya dengan baik. Dia bekerja sebagai apa saja yang bisa dia lakukan tanpa menarik perhatian: pelayan di kafe kecil, penerjemah lepas untuk dokumen bisnis, sesekali guru privat bahasa untuk anak-anak keluarga kaya yang tidak pernah bertanya banyak tentang masa lalunya.
Setiap kali dia merasa seseorang mulai terlalu penasaran dengan riwayatnya, setiap kali dia menangkap tatapan yang bertahan terlalu lama di jalan, dia mengemas barang-barang mereka dalam satu malam dan pindah lagi ke kota berikutnya. Noah tumbuh terbiasa dengan perpindahan itu, terbiasa dengan koper yang selalu setengah terisi di sudut kamar mana pun yang mereka tinggali, terbiasa dengan aturan-aturan aneh yang diterapkan ibunya tanpa penjelasan yang jelas: jangan pernah memberi tahu nama lengkap kepada orang asing, jangan pernah difoto tanpa izin, selalu ingat jalan keluar tercepat dari ruangan mana pun yang mereka masuki.
Noah menjadi satu-satunya alasan Althea tidak pernah kembali menjadi Black Rose, bahkan ketika keuangan mereka menipis dan godaan untuk menggunakan keahlian lamanya demi uang cepat muncul lebih dari sekali. Setiap kali dia menatap wajah anaknya yang sedang tertidur, dia teringat kembali sumpah yang dia ucapkan malam kelahirannya, dan keraguan itu langsung sirna.
Dia ingin anaknya tumbuh normal, menjalani masa kecil yang tidak pernah dia rasakan sendiri, dipenuhi permainan sederhana dan tawa yang tidak dibayangi ketakutan.
Namun sejak kecil, Noah menunjukkan kecerdasan yang tidak biasa, sesuatu yang membuat Althea diam-diam khawatir sekaligus bangga dalam waktu bersamaan. Pada usia tiga tahun, dia sudah bisa menyusun kembali puzzle rumit yang seharusnya diperuntukkan bagi anak-anak usia sekolah, hanya dengan melihat gambarnya sekali. Pada usia empat tahun, dia menghafal seluruh rute kereta bawah tanah kota tempat mereka tinggal saat itu hanya dari satu kali perjalanan, dan mengoreksi seorang petugas yang salah mengumumkan pemberhentian berikutnya.
Dia mampu mengingat sesuatu hanya setelah melihatnya sekali, sebuah kemampuan yang membuat gurunya di taman kanak-kanak meminta pertemuan khusus dengan Althea, menyarankan agar Noah dipindahkan ke kelompok belajar yang lebih menantang.
Althea menolak dengan sopan, mengarang alasan tentang stabilitas keluarga, meski alasan sesungguhnya adalah ketakutan bahwa perhatian berlebih terhadap kecerdasan anaknya akan menarik jenis perhatian yang jauh lebih berbahaya.
Dia memahami pola angka dengan cara yang membuat guru matematikanya bingung sendiri, sering kali menemukan cara lebih pendek untuk menyelesaikan soal daripada metode yang diajarkan di buku. Dia memahami bahasa dengan cepat, menyerap kosakata baru hanya dengan mendengarnya beberapa kali dalam percakapan, sebuah kemampuan yang sangat membantu setiap kali mereka pindah ke negara dengan bahasa berbeda.
Dan ketika akhirnya, pada usia empat tahun, Noah mendapatkan akses ke komputer bekas yang dibelikan Althea dari toko barang second setelah dia terus merengek ingin tahu bagaimana cara kerja tablet yang biasa dipakainya menonton video, sesuatu berubah secara dramatis.
Althea mulai menyadari bahwa anaknya memiliki sesuatu yang luar biasa, sesuatu yang jauh melampaui kemampuan anak-anak seusianya, bahkan mungkin melampaui pemahamannya sendiri tentang teknologi. Dia menemukan Noah suatu malam, terjaga jauh melewati jam tidurnya, mata kecilnya berbinar diterangi cahaya layar, jari-jarinya bergerak di atas papan ketik dengan kecepatan yang tidak seharusnya dimiliki anak seusianya.
"Kau seharusnya sudah tidur," kata Althea, meski suaranya lebih lembut daripada tegas.
Noah menoleh, senyum lebar terpasang di wajahnya. "Aku baru saja mengerti caranya, Bu. Lihat, aku bisa membuat komputer ini melakukan sesuatu yang tidak seharusnya bisa dia lakukan."
Althea mendekat, menatap layar yang dipenuhi ikon-ikon pengaturan sistem yang seharusnya tersembunyi jauh dari jangkauan pengguna biasa, sesuatu yang bahkan dia sendiri, dengan segala pelatihan tekniknya di Obsidian Order, membutuhkan waktu lebih lama untuk memahaminya dibandingkan anaknya yang baru berusia empat tahun.
Dia tersenyum, meski jauh di dalam hatinya, sesuatu yang menyerupai kekhawatiran mulai tumbuh. Dunia yang dia coba jauhkan dari anaknya, dunia rahasia dan bahaya yang tersembunyi di balik permukaan, mungkin sudah mulai menemukan jalannya sendiri untuk masuk, kali ini bukan melalui pintu depan, tetapi melalui layar komputer yang bersinar di kegelapan kamar.