Indonesia
NovelToon NovelToon
Stasiun Terakhir: S1 The Ice Wall

Stasiun Terakhir: S1 The Ice Wall

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / Epik Petualangan
Popularitas:151
Nilai: 5
Nama Author: Ketoprak Encok

Dunia telah membeku dalam badai es abadi yang dikuasai dengan tangan besi oleh Aether Corp. Setelah adiknya tewas dibunuh secara kejam oleh pasukan korporasi, Ren yang sekarat bangkit dari ambang kematian berkat The Engine System—sebuah sistem purba misterius yang menyatu dengan jantungnya.

​Berbekal kereta rongsokan, Ren memulai pelarian maut sambil merekrut kru inti yang luar biasa: Leo (mekanik jenius), Soju (navigator handal), Yuna (koki dan dokter tangguh), serta Gavin (informan cerdas). Bersama-sama, mereka berjuang menaikkan level kereta dari rongsokan biasa menjadi mesin perang lapis baja kelas Dreadnought yang tak terbendung.

​Dari menembus Tembok Es Raksasa menuju Benua Aether Bawah yang penuh misteri, hingga melancarkan perang total melawan armada militer korporasi dan menembus jantung pusat bumi (Tartarus), perjalanan ini adalah pertaruhan hidup dan mati demi meruntuhkan tirani, menuntaskan misi balas dendam, dan merebut kembali kebebasan bagi umat manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ketoprak Encok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 23

Ledakan hantaman tendangan berputar Spinning Crescent Kick yang dilayangkan Yuna menghancurkan laras senapan sang komandan penjaga berkeping-keping. Percikan api menyembur liar di udara, menerangi ruangan dapur bawah tanah yang dipenuhi uap panas dan deru sirene darurat. Komandan penjaga itu terpelanting hebat ke belakang, menabrak tumpukan rak bumbu hingga rempah-rempah kering berhamburan menutupi lantai layaknya salju musim gugur yang kelam.

Suara desis uap panci bertekanan tinggi berpadu dengan jeritan kesakitan dari para penjaga korporasi yang tersungkur. Namun, di tengah kekacauan brutal tersebut, Yuna tetap berdiri tegak dengan postur yang anggun.

Kedua tangannya terangkat di depan dada, sedikit menekuk dengan posisi jari yang rileks namun waspada—posisi tangan seorang master kuliner yang menjunjung tinggi prinsip kebersihan mutlak. Sepanjang hidupnya di bawah tanah Sektor 7, Yuna memegang sebuah sumpah suci yang tidak pernah ia langgar: tangan seorang koki sejati diciptakan hanya untuk meracik bumbu, menakar kaldu, dan memotong bahan makanan dengan presisi ilahi. Tangan itu terlalu suci, terlalu mulia, untuk dikotori oleh darah kotor para bajingan korporasi.

Oleh karena itu, setiap kali bentrokan maut terjadi, Yuna menyerahkan seluruh urusan eksekusi dan kekerasan sepenuhnya kepada sepasang kaki jenjangnya yang terbalut sepatu bot baja tempur.

"Kepung dia! Jangan biarkan tahanan itu lolos!" teriakan komandan penjaga menggema parau dari balik tumpukan wadah baja, memerintahkan sisa pasukan keamanan yang berdatangan dari koridor luar.

Empat orang penjaga bersenjata lengkap merangsek masuk secara bersamaan. Mereka tidak lagi membawa senapan laras panjang yang rentan dipatahkan, melainkan tongkat kejut elektrik bermuatan voltase tinggi di tangan kanan mereka, sementara tangan kiri mereka memegang perisai taktis polimer transparan. Langkah kaki mereka bergemuruh, mengepung Yuna dari berbagai arah dalam formasi tempur jarak dekat yang rapat.

Yuna menarik napas dalam-dalam. Matanya yang tajam menyapu sekeliling ruangan dengan ketenangan yang mengerikan. Di balik kelelahan fisik yang mendera otot-otot kakinya setelah berminggu-minggu dipaksa bekerja tanpa istirahat yang layak, adrenalin yang dipicu oleh kemarahan membara kini justru mengalir deras, membangkitkan kembali energi tersembunyi di dalam aliran darahnya.

Penjaga pertama menerjang dari sisi kiri, mengayunkan tongkat kejutnya secara mendatar mengarah ke pinggang Yuna. Sambaran arus listrik berderak liar di udara, menebarkan bau ozon yang tajam.

Yuna tidak menghindar dengan melompat ke belakang. Ia melangkah maju satu langkah kecil, memiringkan tubuhnya dengan kelenturan seorang penari balet profesional. Desir angin dari hantaman tongkat itu melewatiku kulit mantelnya dengan selisih milimeter saja.

Sebelum penjaga itu sempat menarik kembali tangannya, tubuh Yuna berputar 180 derajat di atas poros tumit kirinya. Kaki kanannya melesat ke atas dalam kecepatan tinggi—Axe Kick vertikal yang menghantam langsung bagian atas perisai polimer milik musuh.

Brak!

Tenaga sentrifugal yang begitu masif dari hantaman tumit sepatu bot itu membuat perisai tebal tersebut retak seketika. Penjaga yang memegangnya merasakan getaran hebat menjalar hingga ke bahunya, kehilangan keseimbangan, dan terhuyung ke depan.

Tanpa membuang sepersekian detik, Yuna membalikkan tubuhnya kembali, menggunakan momentum putaran tersebut untuk melancarkan serangan balasan kedua. Kaki kirinya menendang lurus ke depan dengan teknik Side Thrust Kick yang menembus celah kosong pertahanan musuh, menghantam telak dada penjaga tersebut hingga terpental mundur sejauh lima meter dan menabrak dinding baja dapur hingga pingsan seketika.

Tiga penjaga tersisa terperanjat ngeri melihat kecepatan dan presisi serangan fisik tersebut. Mereka mencoba melangkah mundur, namun Yuna tidak memberi mereka ruang untuk bernapas.

Ia melompat ringan ke atas meja pemotong baja, menggunakan permukaan meja yang datar sebagai landasan pacu akrobatiknya. Dari ketinggian itu, Yuna melompat turun dengan teknik tendangan melompat berputar—Flying Jump Roundhouse Kick—yang menyapu kepala dua penjaga sekaligus dalam satu ayunan kaki yang anggun namun mematikan.

Duar! Bruk!

Kedua penjaga itu ambruk bersamaan ke lantai, mata mereka berputar ke atas sebelum kesadaran mereka benar-benar hilang.

Dalam kurun waktu kurang dari dua puluh detik, seluruh pasukan penjaga di dalam ruangan dapur tersebut telah lumpuh tak berdaya. Tidak ada satu pun tetesan darah yang mencoreng tangan Yuna. Sepasang tangan putih bersih itu tetap terjaga higienis, seolah ia baru saja merampungkan proses memotong sayuran segar alih-alih menghancurkan barisan pasukan militer korporasi.

Yuna mendarat dengan elegan di atas lantai baja, mengatur napasnya yang sedikit memburu. Keringat tipis membasahi pelipis dan helaian rambutnya yang tergerai, menambah pesona ketegasan yang memancar dari sosoknya.

Namun, pelarian dramatis ini baru saja dimulai. Dari balik pengeras suara sentral di langit-langit, suara alarm meraung semakin keras, diiringi suara derap sepatu bot dari bala bantuan musuh yang jumlahnya jauh lebih besar sedang berlari menuruni tangga darurat menuju ke lantai bawah.

"Pintu keluar utama di sektor ini telah dikunci secara otomatis oleh protokol keamanan!" suara sistem komputer pangkalan berdengung kaku.

Yuna mengerutkan keningnya. Ia tahu ia tidak memiliki waktu lama sebelum seluruh fasilitas penahanan ini diubah menjadi kuburan besi bagi dirinya. Tiba-tiba, sebuah bayangan bergerak cepat dari balik tumpukan kontainer bumbu di sudut ruangan.

Ren dan Soju keluar dari persembunyian mereka. Soju memasang busur balistiknya dengan siaga, sementara Ren melangkah tenang mendekati posisi Yuna, memancarkan pendaran cahaya biru lembut dari The Core Engine di balik mantelnya.

Yuna menoleh cepat, mengangkat sebelah kakinya dalam posisi siap siaga, mengira kedua orang asing itu adalah musuh tambahan. "Siapa kalian?!" desis Yuna tajam, matanya menatap waspada ke arah Ren.

"Tenanglah, Koki," ucap Soju dengan senyuman santai, menurunkan sedikit arah bidikan busurnya. "Kami bukan bagian dari para penjaga itu. Kami kebetulan sedang mencari tumpangan, dan sepertinya... kami juga sedang mencari seorang koki handal yang bisa menyelamatkan lambung kapten kami yang rewel."

Ren menatap Yuna lurus-lurus. Di dalam dada pemuda itu, resonansi energi dari intinya bergetar selaras dengan sisa-sisa aroma rempah termal yang melekat di pakaian sang koki.

"Ikut kami," kata Ren singkat, suaranya parau namun absolut. "Kereta kami berada di jalur pemeliharaan bawah tanah. Kita harus keluar dari tempat ini sekarang."

Yuna tertegun sejenak, menatap wajah datar Ren yang memancarkan ketenangan mutlak di tengah badai kekacauan militer. Belum sempat Yuna memberikan jawaban atas ajakan yang terlampau mendadak itu, suara dentuman keras terdengar dari arah pintu besi utama koridor.

Bum!

Pintu baja tebal setebal sepuluh sentimeter itu mendadak meledak dari luar, terkoyak oleh tembakan meriam plasma berat. Asap tebal mengepul putih, dan dari balik kepulan asap tersebut, sesosok bayangan komandan elit korporasi bersama selusin pasukan khusus berzirah lengkap melangkah maju, mengacungkan senjata mereka tepat ke arah Ren, Soju, dan Yuna.

Tanpa aba-aba, tembakan beruntun berkaliber tinggi meluncur deras membelah udara dapur, menghancurkan meja-meja baja dan menghujani posisi mereka dengan peluru panas tanpa ampun.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!