Berawal dari membaca buku yang ditemukan di lemari tua, Mayanza mempunyai kekuatan merapal mantra.
Kesalahan mengambil bunga teratai emas..
Menentukan nasib di Kehidupan Mayanza
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novita Tory, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedatangan Tamu
Kucing anggora Ibu, tergelepar dilantai,
bulunya yang putih berubah menjadi hitam.
Kucing itu mati... Dengan mulut menganga.
"Kucingku..." tangis Ibu berlutut di samping kucingnya.
Aku mendekat, Kucing itu sudah tidak
bernyawa lagi.
"Apa yang terjadi ?" tanyaku
"Tadi dia baik-baik saja bermain bola, tiba-tiba dia jatuh kejang...Imooooooo" Ibu mau mengambil dan menyentuhnya aku menangkap tangan Ibu.
Kucing kesayangan Ibu di beri nama Imo.
"Ada apa?" tanya Ayah datang mendengar kami ribut-ribut .
"Imo yah..." kata Ibu menangis memeluk Ayah.
"Bi.. Tolong ambilkan kain" kataku meminta pelayan mengambil kain untuk membungkus Imo.
Kain putih itu diserahkan pelayan, kubungkus Imo dengan kain putih matanya masih terbuka.
Seluruh pelayan berkumpul, kami menguburkan Imo di Kebun Bunga Rumah Kaca Ibu, di Taman Belakang.
Ibu menangis bersedih, Ayah mengusap/air matanya.
Karena udah larut malam kami semua kembali ke kamar masing-masing membawa kesedihan kami untuk melanjutkan istirahat kami yang tertunda.
**
Aku tidak bisa menceritakan apapun pada Ibu, apa yang terjadi pada Imo hari ini.
Imo kucing yang malang, kekuatan yang jahat itu membunuhnya, apakah aku juga bisa seperti Imo.
Mati karena kekuatan hitam itu, kutatap lekat gelang yang ditanganku. Gelang pemberian Raja Yuko ini masih tidak terlepas dari pergelangan tanganku.
**
Malam ini, aku sangat gelisah tidak bisa tidur walaupun warna hitam di bahuku telah hilang hanya terasa nyeri yang menyayat setelah menghilang dari bahuku.
Aku meminum obat nyeri dan obat tidur.
Mataku berat dan mengantuk.
**
Cahaya mentari menyinari rumah kaca, menyengat tapi bunga-bunga cantik Ibu bermekaran.
Aku sangat menikmati udara sejuk ini masuk dari arah pintu yang terbuka.
Aku menyentuh kelopak bunga mawar putih, bunga itu berubah menghitam.
Aku menarik telunjukku dari bunga itu.
Menatap bunga mawar itu yang berubah warna.
Kulihat dengan cahaya silau..dari arah pintu.
Wanita dengan jubah hitam, hiasan rambut Kristalnya bercahaya oleh sinar matahari.
"Bagaimana kabarmu?" Swanzi mendekat dengan kulit pucatnya, tersenyum dengan menyimpan rahasia dibalik senyumannya.
"Kapan kau akan kembali ke Zink?" tanyanya lembut mendekat.
Angin berubah sedingin es.
Aku tercekat ingin menjawab.
Suaraku tertahan leherku terasa seperti tercekik,
Namun aku berusaha bernafas.
Dalam hati aku berkata, bangunlah...bangunlah Mayanza.
Tiba-tiba kekuatan dari tubuhku keluar cahaya keemasan, pot bunga ibu bergoyang...
menerima energiku, mengancam mendekat ke arah tubuh Swanzi.
Pot pohon palm melayang ke atas seakan ingin menimpanya.
Seluruh kalimat dalam buku tua terekam di pikiranku... Mereka berlomba untuk mengingatkanku.
Aku menahan diri.
Mencengkram ujung bajuku dengan kuat.
Swanzi mundur dengan bayangan hitam, asap hitam yang selalu mengitari tubuhnya.
Entah kekuatan apa itu, kekuatan itu sangat kuat.
"Enyahlah sekarang, aku pasti akan kembali ke dunia zink" ucapku memintanya pergi.
Tapi tiba-tiba secepat kecepatan cahaya dia mendekatiku kembali ingin menerjangku.
Matanya tajam menatapku dengan kedua tangannya maju ingin melakukan sesuatu.
Aku mengeluarkan suara pelan.
bersamaan dengan hembusan nafasku "bangunlah... "
"Ahkkk....." bunga mawar ibu terpotong, daei sampingku oleh tatapanku dan kekuatan pikiran, menusuk telapak tangan kanannya hingga tembus.
Dia menghilang, aku terbangun penuh dengan keringat di tubuh.
Aku membangunkan kekuatanku sendiri.
Aku menatap kedua tanganku dan gelang itu masih melingkar.
**
Sarapan pagi sudah tersedia, ruang makan sepi.
"Ibu mana?" tanyaku pada pelayan.
Dalam hati pasti ibu ke Rumah Kaca, karena kucingnya Imo tadi malam baru saja di makamkan.
"Tuan dan nyonya sedang di Taman Belakang" jawab pelayan.
Aku tidak jadi menyentuh sarapanku.
Menuju Rumah Kaca.
Pintu terbuka, benar saja Ibu dan Ayah disana.
Penjaga sedang bersama mereka kulihat berlutut mengumpulkan tanah yang berserakan dan pot bunga yang pecah.
"Hati-hati Nona" kata Penjaga Rumah Kaca memintaku memperhatikan jalanku.
Ibu memelukku.
"Mayanza, bunga ibu rusak" kata ibu padaku.
"Tolong periksa lagi keamanan, siapa tau ada binatang yang masuk" kata Ayah pada penjaga sambil melihat sekeliling rumah kaca.
"Semalam setelah pemakaman tidak ada yang mencurigakan Tuan, lampu kami matikan, pintu juga tertutup rapat" kata penjaga, lalu memasukan sekotak tanah dan pecahan pot dalam kotak plastik memasukan ke troli.
Tanaman yang rusak itu sudah terbungkus di dalam kotak terpisah.
"Pastikan lagi" pinta Ayah.
Penjaga mengangguk dan mendorong troli keluar.
Ibu melangkah mengajakku ke sisi lain.
"Mayanza ibu heran binatang apa yang masuk ke rumah kaca ini, setelah kejadian Imo tadi malam Ibu jadi takut" Kata ibu.
Aku dan Ibu melangkah di depan sementara Ayah mengikuti di belakang.
"Kamu lihat itu bunga mawar putih ibu menancap di kaktus" Kata Ibu menunjuk setangkai mawar putih tertancap di batang kaktus besar ibu di sisi ruangan searah dengan tempat pot bunga jatuh.
Aku menatap bunga yang tertancap itu diam dan berpikir.
Swanzi sudah berani datang mengusik, ternyata dia juga bisa datang ke dunia ini.
tentunya bunga itu semalam menusuk telapak lengannya, karena tangkai bunga mawar itu terlalu dalam menembus menusuk kaktus.
"Sudahlah, kita kembali saja. Nanti penjaga yang akan mengurusnya" Kata Ayah.
Tangan Ibu diraih Ayah.
Aku mengikuti dari belakang.
Aku berbalik sebelum keluar..
Mawar putih yang tertancap itu kemudian menghitam dan perlahan berubah menjadi abu.
**
"Mayanza, akhir-akhir ini kamu terlihat sibuk dan kelelahan" Kata Ibu.
"Ya, banyak sekali pasien akhir-akhir ini" Kataku.
"Apa tidak bisa ambil cuti lagi? Minggu ini pamanmu datang" Kata ibu lagi sambil meraih tanganku.
"Ibu...., mana bisa begitu minggu kemarin aku sudah ambil cuti" Kataku tersenyum.
"Tenang waktu paman datang aku akan sempatkan datang beristirahat, tenang saja" Ucapku sambil menepuk-nepuk tangannya yang mengenggam tanganku.
**
Seminggu ini banyak sekali pasien yang dioperasi.
Aku sampai kelelahan.
Mataku mengantuk.
Di ruang kerjaku aku sendiri.
Handponeku berbunyi.
"Mayanza, kamu bisa pulang kan hari ini" pinta Ibu.
"Iya bu... Tenang saja aku pasti pulang sebelum makan malam dimulai" Ucapku.
Ibu menutup telepon.
Aku sangat mengantuk dan tertidur di kursi kerja.
**
"Akhirnya yang ditunggu datang juga" Kata Paman.
Paman, istrinya serta kedua sepupuku datang lengkap.
Ibu dan Ayah juga sudah menunggu.
"Kenalkan ini Judith, calon tunangan abangmu Ray" Kata Paman memperkenalkan seorang wanita yang baru saja keluar dari toilet depan.
Aku menganggukan kepala dan merasa tidak asing dengan wanita ini, entah aku bertemu dimana.
Pamanku Andrew dan Istrinya Natasya mempunyai dua orang anak, Abangku bernama Ray dan Leo.
Mereka jarang datang bertemu karena berkerja di luar negeri.
Judith adalah teman Ray semasa kuliah, entah kenapa aku berusaha mengingat tapi aku lupa bertemu dimana.
"Apa kita pernah bertemu sebelumnya" Tanyaku pada Judith setelah makan malam.
aku meminum segelas koktail, dan dia mengambil segelas juga.
"kurasa tidak" Katanya tersenyum.
Aku berpikir mungkin saja aku pernah bertemu orang yang mirip.
**
Bibi sarah memandangku.
Aku pamit menemui Bibi Sarah.
"Ada apa bi? "
"Kamar sudah saya bersihkan, tidak ada sesuatu yang tersisa" Katanya.
"Terima kasih bi.. "
"Apa luka nona sudah sembuh? "
Tanya Bibi Sarah.
Aku terkejut dia tau aku terluka,
"Saya menemukan banyak perban bekas darah di kamar mandi" Katanya lagi
"Kakiku yang tertusuk sudah sembuh sekarang" Jawabku.
Ibu memanggilku untuk berkumpul foto bersama.
aku melangkah mendekat... Kupandangi dengan jelas... Wanita di bangku yang sedang asik berbicara dengan keluargaku.
Aku mengingatnya dengan jelas sekarang...
Ketika dia mengenggam gelas sampanye yang di tangannya.
Swanzi....?
Swanzi?
Kau kah itu???????
Ingatanku semakin jelas, kukepalkan tanganku.
**
𝘽𝙚𝙧𝙨𝙖𝙢𝙗𝙪𝙣𝙜....
𝙰𝚙𝚊𝚔𝚊𝚑 𝙹𝚞𝚍𝚒𝚝𝚑 𝚊𝚍𝚊𝚕𝚊𝚑 𝚂𝚠𝚊𝚗𝚣𝚒 𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚍𝚊𝚝𝚊𝚗𝚐?
𝙱𝚎𝚗𝚊𝚛𝚔𝚊𝚑 𝚜𝚠𝚊𝚗𝚣𝚒 𝚝𝚎𝚛𝚕𝚞𝚔𝚊 𝚖𝚊𝚕𝚊𝚖 𝚒𝚝𝚞????