Seorang gadis cantik yang bernama Ruby Sterling sedang duduk termenung di atas sebuah jembatan.
Dia sangat putus asa, kemana lagi dirinya harus mencari biaya pengobatan untuk Neneknya yang sedang berjuang menahan rasa sakit.
Ruby hanya tinggal dengan Neneknya, dia tidak punya keluarga atau kerabat. Di mana lagi dia harus meminta bantuan?
Dia bekerja sebagai Karyawan di sebuah Supermarket dengan gaji yang hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari.
Ruby sangat bersedih, saat dia ingin menyerah, seseorang datang menghampirinya dan memberinya sebuah buku Novel.
"Ketulusan! Kerja sama! Menolong! Adalah kunci untuk kembali!"
Ruby menatapnya dengan bingung, orang itu pergi begitu saja setelah mangatakan kalimat yang tidak dia mengerti.
Orang itu berbalik dan kembali berkata "Jika kamu berhasil, maka semuanya akan baik-baik saja!"
Ruby hanya diam mematung, Siapa dia? Apa maksud dari perkataannya? Apa yang akan baik-baik saja? Apa yang harus dia lakukan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Fii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11. Berpencar
Ketiganya berjalan dengan pelan di tengah-tengah zombie yang sedang meraung. Jantung mereka berbebar kencang, takut tiba-tiba para zombie menyadari penyamaran mereka.
Bau busuk yang menyengat membuat mereka mual dan pusing. Sehingga penyamaran mereka yang berjalan sempoyongan bukanlah dibuat-buat.
Ketiganya hanya bisa berkomunikasi melalui tatapan dan juga gerakan. Mereka tidak berani bersuara sedikitpun.
Tiba di lobby Rumah Sakit, ternyata zombie nya sudah mulai berkurang. Lampu di sana masih menyala dengan terang, sehingga mereka bisa melihat dengan jelas bagaimana kondisi Rumah Sakit yang sudah kacau balau.
Di lantai bawah, mereka tidak melihat ada orang satupun. Sehingga mereka memilih untuk langsung naik ke lantai dua.
"Kak! Ruang kerja Ayah Sila di lantai berapa?" tanya Ruby dengan pelan. Saat ini tidak ada Zombie di tangga.
"Di lantai tiga!" balas Manda.
"Kita berpencar saja! Cari setiap ruangan, kalau ada apa-apa segera hubungi aku!" saran Ruby. Jika terus jalan bersama, itu sangat memakan waktu.
Manda dan jack langsung setuju, mereka juga memikirkan hal yang sama. Dan alat komunikasi yang mereka gunakan adalah sebuah jam pemberian Ruby.
Jam itu ada di Supermarket miliknya, jam yang sama dia gunakan saat masih bekerja. Jam itu dibuat khusus untuk para Karyawan.
Mereka akhirnya berpencar, berjalan di koridor dengan was-was. Para zombie sedang tertidur, mungkin mereka akan terbangun jika mendengar suara benturan.
Jleeeb....
Ruby sesekali membunuh zombie dengan sekali serangan, tanpa mengeluarkan suara sedikitpun.
Traaaang....
Tiba-tiba terdengar benda jatuh di salah satu ruangan yang tertutup rapat. Dibalik gorden jendela, Ruby bisa melihat siluet gerakan dari dalam.
"Ada orang di dalam sana!" gumam Ruby.
Grrr-Khhh....
Grrr-Khhh....
Grrr-Khhh....
Zombie-zombie mulai bangun satu persatu dan mencari sumber suara. Entah bagaimana caranya, mereka bisa langsung tahu dari ruangan mana suara itu berasal.
Grrr-Khhh....
Mereka berkumpul di depan pintu sambil berdesakan, jika jumlah zombie makin bertambah maka pintu ruangan itu akan jebol.
Ruby tidak bisa tinggal diam, orang yang ada di dalam ruangan itu pasti sangat ketakutan. Dia berjalan mundur dan berdiri paling belakang.
Jleb...
Ruby menyerang dari belakang menggunakan belati, para zombie tidak menyadarinya karena mereka sibuk untuk merobohkan pintu.
Masih ada sekitar tiga puluh zombie, dan itu sangat melelahkan jika harus bergerak secara sembunyi-sembunyi.
Tubuh Ruby mematung, karena ada zombie yang memergoki aksinya. Zombie itu meraung dan jalan mendekat kearahnya.
Grrr-Khhh....
"Sial...!"
Slassh...! Akhirnya Ruby menggunakan pedang dan menghabisi mereka satu persatu, dia merasa terpojok karena tidak bisa berlari, jika dia berlari maka makin banyak Zombie yang terbangun.
Clas... Jleb.... krek.... krak....
Nafas Ruby tersengal, dia benar-benar sudah sangat lelah. Tapi dia tidak bisa menyerah, ini belum apa-apa, semuanya baru saja dimulai.
"Haaaahhhh....!" Ruby menghela nafas panjang sambil berbaring di lantai. Setidaknya dia sudah lebih berani dari sebelumnya.
Setelah beristirahat berapa menit, Ruby beranjak kembali. Dia berjalan ke arah pintu dan mengetuk dengan pelan.
Tok.. Tok.. Tok...
Tidak ada balasan dari dalam, siapa yang berani mengeluarkan suara setelah melihat banyak zombie di depan ruangan yang menerobos untuk masuk.
"Ada orang di dalam?" tanya Ruby. "Kamu bisa menjawabku, sekarang sudah aman!" kata Ruby dengan pelan.
Barulah terdengar gerakan dari dalam. Ruby langsung menebak jika ada lebih satu orang di dalam ruangan tersebut.
Selang beberapa menit ada menyingkap gorden seperti sedang mengintip, mungkin sedang memastikan apa di luar benar-benar sudah aman?
"Kamu siapa?" tanyanya dengan takut melihat banyak zombie mati di depan ruangan.
"Aku tidak bisa jelaskan sekarang! Aku ke sini untuk mencari Dokter Wiliam, apa kalian melihatnya?"
Wanita yang berada dibalik gorden sedikit menghela nafas lega, tapi dia belum berani untuk membuka pintu.
Dia tidak tahu apa niat Ruby sebenarnya, bagaimana jika dia asal sebut nama Dokter Wiliam untuk menipu mereka.
Ruby tidak marah atau kesel, karena di situasi seperti itu memang haruslah sangat berhati-hati dan waspada terhadap orang asing.
"Aku datang bersama Istri Dokter Wiliam, dia sedang mencari ke ruangan lain. Mungkin kalian pernah mendengarnya, namanya Manda!"
Tiba-tiba seseorang membuka pintu, dan meminta Ruby untuk segera masuk. Ruby melihat ada 5 orang di dalam ruangan tersebut dengan wajah tidak fasih.
Ruby juga melihat, ada banyak benda berat di belakang pintu, seperti lemari dan meja untuk menahan pintu. Untung jendela ada teralis nya, jadi mereka bisa aman kalau kacanya pecah.
Dilihat dari pakaian yang mereka pakai, 4 diantaranya seperti seorang perawat atau Nakes, dan satunya lagi menggunakan pakaian CS.
"Kamu, apanya Dokter Wiliam?" tanya Seorang pria.
"Kami kerabat, saat Virus ini menyerang, keluar Dokter Wiliam ada di rumahku, dan Istrinya begitu khawatir, karena beliau tidak kabar, kadi kami nekat masuk ke sini!"
"Bagaimana caramu melewati para zombie di bawah sana. Jikapun kalian membunuh mereka itu sangat mustahil, mereka sangat banyak!" ucap salah satu dari mereka yang masih sedikit curiga.
"Kami melumuri satu badan dengan darah Zombie, mereka tidak menyerang jika kita melakukan sesuatu yang aneh. Kami juga tidak sengaja mengetahui cara itu!"
"Benarkah?"
"Hmm..Kalau begitu bagaimana lagi?" Ruby tidak memaksa mereka untuk percaya. "Apa kalian tidak melihat Dokter Wiliam, apa beliau masih..??"
Ruby tidak melanjutkan ucapannya, karena terdengar sangat kasar. Tapi kelima orang itu mengerti maksudnya.
"Semalam, kami masih bisa menghubungi rekan kami yang ada di lantai tiga. Di sana masih ada yang selamat, salah satunya Dokter Wiliam, tapi sekarang jaringan internet sudah terputus!" jelas Pria yang membuka pintu, dia yang paling santai sejak tadi.
Ruby tersenyum lega, setidaknya ada secercah harapan. Dia segera mengetik pesan di jamnya untuk memberi tahu Manda. Dan segera berkumpul di tangga untuk menuju lantai dua.
"Kamu masih ada jaringan internet?" tanya Seorang wanita.
"Oh. Jamku ini tidak membutuhkan internet!" balas Ruby sedikit bangga, karena jam itu berasal dari dunianya. Padahal di Zaman itu seribu tahun di masa depan, bukankah seharusnya lebih canggih lagi?
"Wah.. Aku pernah dengar jam itu. Hanya di diperjual belikan di kalangan atas, karena harganya yang sangat mahal.!" sela salah satu dari mereka dengan kagum
Mereka langsung menebak jika Ruby adalah anak orang kaya yang sedang gabut. Kenapa harus turun tangan sendiri untuk mencari orang, padahal dia punya banyak bawahan.
Ruby mengangguk mengerti, mungkin zaman itu sudah sangat berkembang, tapi juga pasti ada kekurangannya.
"Kalian ada stok makanan?" tanya Ruby. "Aku ada bawa sedikit, siapa tau kalian belum makan!" lanjut Ruby dengan cepat, takut mereka salah paham.
"Eh itu.. Kami sudah makan roti. Sebenarnya kami berencana keluar untuk cari makanan. Tapi Zombie di luar terlalu banyak!"
"Awalnya aku juga takut, tapi jika aku hanya diam, selamanya tidak akan berani melawan mereka!" ujar Ruby.
Kelima orang itu terdiam, mereka tahu jika Ruby tidak sedang menyindir mereka. Tapi Ruby hanya ingin mereka sadar, jika terus seperti itu mereka bukan mati karena digigit zombie, tapi mati karena kelaparan.
"Ini makanlah!" Ruby mengeluarkan beberapa roti dan juga air mineral. "Tidak perlu sungkan! Setelah keluar dari sini, bisa dicari lagi!"
Kelimanya mengucapkan terima kasih dan memakan roti itu dengan lahap. Baru sehari saja, mereka sudah putus asa.
"Oh iya. Apa kalian sudah meminta bantuan? Di luar sana ada banyak polis yang berjaga!" tanya Ruby penasaran.
"Sudah! Mereka meminta kami untuk menunggu. Katanya pasti ada bantuan yang datang!"
"Oh syukurlah!" ucap Ruby. "Kalau begitu, aku harus pergi sekarang, aku mau ke lantai tiga!" ujar Ruby sambil beranjak.
"Nak, bisakah aku ikut?" tanya Seorang wanita paru baya yang menggunakan baju CS. "Aku tidak bisa menunggu bantuan yang entah kapan datangnya. Tante masih punya keluarga di rumah!"
"Aku juga ingin ikut!"
"Ya. Aku juga sudah bosan menunggu!"
Ruby tersenyum, inilah dia inginkan, dia tidak memaksa tapi mereka sendiri yang menawarkan diri.
"Boleh saja! Tapi kalian harus dengar perintahku! Jangan bertindak gegabah!" kata Ruby dengan serius.
"Kami mengerti!"
.
.
.
.
next ka...
next ka...
next ka
next ka
next ka
next ka..
lebih seram dr cerita horror...next ka...
next ka