**Tiga belas tahun lalu, dia membantai seluruh keluargaku.**
**Sepuluh tahun lalu, tanpa tahu siapa aku sebenarnya, dia mengangkatku menjadi anak angkatnya.**
**Dua tahun lalu, pria yang seharusnya kupanggil "Ayah" itu... jatuh cinta padaku.**
**Lalu, saat aku paling hancur, dia mencampakkanku begitu saja.**
**Dan malam ini—dua tahun berlalu—kami bertemu lagi.**
Larasati sudah bukan gadis yang dulu. Dengan nama panggung **Nirmala**, dia menjelma menjadi pianis misterius yang namanya menggema tanpa pernah menunjukkan wajahnya. Malam itu, di pesta megah pewaris Mahendra, sebuah cek bernilai fantastis diantarkan ke hadapannya—dari **Arkana Wardhana**. Sang bos mafia yang ditakuti seantero kota itu hendak "membeli" satu malam bersamanya, hanya untuk memastikan satu hal: *dia tak akan pernah lagi memberikan hatinya.*
Larasati tersenyum. Lalu membalasnya dengan selembar uang receh.
Karena tak ada seorang pun yang lebih tahu daripada dirinya—pria itu adalah musuh yang membantai keluarganya, ayah angkat yang membesarkannya dengan tangannya sendiri, sekaligus satu-satunya lelaki yang pernah ia cintai sampai tak bisa lepas. Di antara dendam yang membeku di tulang dan cinta yang menolak padam, Larasati pernah mengangkat pisau ke arah jantungnya... dan tak sanggup menurunkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Salma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28
Bab 028 - Melepaskan
Empat hari setelah keluar dari rumah sakit, aku kembali ke Vila Arkana dengan penyangga di kaki dan tongkat di tangan.
Bukan untuk memohon.
Aku hanya ingin mengambil paspor, pakaian, dan partitur yang kutulis sejak kecil. Gilang menawarkan mengurus semuanya, tetapi ada perpisahan yang harus dilihat dengan mata sendiri agar tubuh percaya itu benar-benar terjadi.
Gerbang tidak dibuka.
Seorang penjaga yang pernah mengajariku bersepeda berdiri di balik pagar. Ia menundukkan kepala, tidak berani menatap terlalu lama.
"Maaf, Nyonya. Bos melarang Anda masuk."
"Jangan panggil aku Nyonya."
"Dokumen Anda masih berlaku."
"Pernikahan juga bisa menjadi pintu yang tertutup. Buka gerbangnya. Aku hanya mengambil barang."
Penjaga itu menggenggam radio. "Barang Nyonya sudah dikeluarkan."
Ia menunjuk sisi jalan dekat tempat sampah besar.
Awalnya aku tidak mengenali tumpukan itu sebagai hidupku.
Ada dua koper terbuka, beberapa kotak kardus, dan kantong hitam. Hujan semalam membuat bagian bawahnya basah. Di atas salah satu kotak tergeletak lukisan pertamaku tentang vila, dibuat dengan krayon ketika aku baru belajar bicara lagi. Sudut kertasnya melengkung terkena air.
Aku berjalan mendekat dengan tongkat.
Setiap langkah mengirim nyeri ke pergelangan kaki, tetapi rasa sakit itu lebih mudah daripada melihat barang-barang yang pernah disimpan Arkana seperti harta.
Lampu meja berbentuk bulan yang dia belikan saat aku takut gelap.
Seprai biru dari kamar masa remajaku.
Kotak musik yang rusak setelah kulempar kepadanya pada usia tiga belas tahun.
Setangkai spider lily kering tersimpan di antara halaman buku. Bunga itu hancur ketika kusentuh.
Arkana tidak hanya mengusirku. Ia membuang bukti bahwa aku pernah tumbuh di rumahnya.
"Paspor saya?" tanyaku kepada penjaga.
Ia mengambil amplop dari pos keamanan dan menyodorkannya melalui celah pagar. Di dalamnya ada paspor, dokumen kuliah, salinan pencatatan sipil, kartu bank, serta surat kepemilikan piano.
Semua lengkap.
Semua dingin.
Di bagian paling belakang ada selembar surat tanpa sapaan. Arkana menulis bahwa biaya pengobatan, kuliah, dan pemindahan piano sudah dibayar. Mobil kecil yang biasa kupakai dialihkan atas namaku. Seluruh kartu akses vila dibatalkan, dan pengawal yang diam-diam mengikuti perjalananku diperintahkan berhenti sejak hari itu.
Baris terakhir hanya berbunyi: `Tidak ada seorang pun akan melaporkan ke mana kau pergi.`
Aku membaca kalimat itu dua kali.
Selama bertahun-tahun, kebebasan selalu datang darinya dengan tali yang tidak terlihat. Rekening, sopir, pengawal, telepon yang bisa ditemukan. Kini semua tali dipotong sekaligus. Seharusnya aku merasa ringan. Yang kurasakan justru seperti jatuh sekali lagi, kali ini tanpa tangan yang menunggu di bawah.
"Dia juga mengembalikan kendali kendaraan dan akses bank," kata penjaga pelan. "Bos memerintahkan kami tidak menghubungi beliau tentang Nyonya setelah hari ini."
"Jadi kalau aku menghilang, dia tidak ingin tahu?"
Penjaga itu menatap lantai. "Saya hanya menyampaikan perintah."
Arkana selalu memilih kata dengan tepat. Ia tidak mengatakan tidak ingin tahu. Ia hanya memastikan dirinya tidak boleh bertanya.
"Pianonya?"
"Akan dikirim ke alamat yang Anda tentukan."
"Cincin?"
Penjaga itu memandang jariku. Cincin spider lily masih terpasang. Aku belum mampu melepasnya sejak rumah sakit.
"Maaf, Nyonya."
Aku hampir tertawa. "Benar. Aku sudah membawanya."
Bi Sum muncul dari jalan samping vila. Ia membawa payung dan kotak makanan. Ketika melihatku berjongkok di depan tumpukan, wajahnya runtuh.
"Nona Laras."
Ia berlari keluar melalui pintu kecil, memelukku dengan hati-hati agar tidak menyentuh kaki.
"Kenapa barang-barang ini diletakkan di sini?" tanyanya kepada penjaga.
"Perintah Bos."
"Tuan tidak mungkin menyuruh lukisan itu dibuang."
"Bi Sum," kataku, "tidak apa-apa."
"Tidak apa-apa bagaimana? Nona tumbuh bersama barang-barang ini."
Aku mengambil kotak musik. Penutupnya lepas, tetapi melodi kecil masih berbunyi ketika tuas diputar. Arkana pernah memperbaikinya tiga kali karena aku selalu merusaknya saat marah.
Kali ini dia memilih tidak memperbaiki apa pun.
"Apakah dia di rumah?"
Bi Sum menatap jendela lantai dua. Tirai ruang kerja tertutup.
"Tuan tidak keluar sejak pulang dari rumah sakit," bisiknya.
"Tapi dia mampu memerintahkan semua ini."
"Nona, ada hal yang mungkin tidak terlihat."
"Aku sudah terlalu lama hidup dari hal yang tidak terlihat. Aku butuh sesuatu yang jelas."
Aku membuka koper dan mulai memasukkan barang yang masih dapat diselamatkan. Bi Sum membantu tanpa bicara. Penjaga di balik pagar memalingkan wajah ketika aku menemukan satu album foto yang sampulnya telah dilepas. Semua foto Arkana hilang. Hanya fotoku yang tersisa.
Itu lebih kejam daripada membuang seluruh album.
Aku menengadah ke jendela ruang kerja.
Tirai bergerak sedikit.
Siluet seorang lelaki berdiri di baliknya, tinggi dan diam. Aku tidak bisa melihat wajah, tetapi aku tahu cara Arkana berdiri ketika menahan sesuatu: satu tangan di saku, bahu terlalu tegak, kepala sedikit menunduk.
"Kalau kau ingin aku pergi," kataku cukup keras, "setidaknya katakan sendiri."
Tidak ada jawaban.
Siluet itu tetap berada di sana.
"Lihat aku sekali saja."
Tirai menutup sepenuhnya.
Sesuatu di dadaku ikut tertutup.
Tidak ada kemarahan yang lebih sunyi daripada seseorang yang menolak mengucapkan perpisahan terakhirnya sendiri.
Aku melepas cincin spider lily. Batu merahnya berkilau di telapak tanganku. Selama beberapa detik aku ingin meletakkannya di depan gerbang. Namun janji yang diberikan Arkana sebelum semuanya rusak masih hidup di dalam bentuk bunga itu.
Aku memasukkannya ke saku.
"Kenapa tidak dikembalikan?" tanya Bi Sum pelan.
"Karena dia sudah membuang semua yang pernah menjadi milikku." Aku menutup koper. "Cincin ini akan kusimpan sampai aku bisa membuangnya sendiri."
Sebuah mobil sewaan tiba untuk mengambil barang. Sopir dan penjaga membantu mengangkat kotak. Ketika koper terakhir dimasukkan, Bi Sum menyelipkan kotak makanan ke tanganku.
"Tuan yang memasak nasi goreng itu pagi tadi," bisiknya. "Dia menyuruh membuangnya karena katanya terlalu asin. Saya tidak percaya."
Aku membuka tutupnya. Aroma nasi goreng buatan Arkana masih hangat. Satu telur mata sapi berada di atasnya, pinggirnya renyah seperti yang kusukai.
"Bawa kembali."
"Nona belum makan."
"Kalau aku memakannya, aku akan mengira masih ada sesuatu yang bisa diselamatkan."
Bi Sum memeluk kotak itu ke dada.
Aku masuk ke mobil. Saat kendaraan mulai bergerak, aku melihat jendela lantai dua melalui kaca belakang.
Tirai kembali terbuka.
Arkana berdiri di sana, satu tangan menekan kaca. Dari jarak itu, wajahnya tidak terlihat. Namun tidak ada orang yang berdiri seperti itu ketika sedang merasa lega.
Aku menghadap ke depan sebelum dia menjadi alasan lain untuk kembali.
Hari itu aku percaya dia telah membuangku.
Aku belum tahu bahwa sebagian orang melepaskan sesuatu dengan cara menghancurkan tangan sendiri agar tidak mampu meraihnya lagi.