Indonesia
NovelToon NovelToon
Kian & Elora (Sahabat, Tapi Dijodohin?)

Kian & Elora (Sahabat, Tapi Dijodohin?)

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Nikahmuda / Idola sekolah
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Mina

Dijodohin sama Kian, sahabat dari kecil yang pernah nempelin permen karet di rambut gue itu sebuah bencana.

Gue tahu betul bobroknya Kian dari A sampai Z, tahu cara mikirnya yang ajaib sampai rekor kencannya yang melebihi jumlah anggota DPR. Kalau dipikir secara logika, harusnya tanpa pikir panjang gue langsung nolak.

Tapi masalah utamanya satu, Gue suka sama Kian.

Sialan emang.

Kini, demi gengsi Kian yang terluka gara-gara ditolak di meja makan, gue jadi terjebak masa percobaan 6 bulan jadi pasangan PDKT resmi. Masa di mana gue harus bertahan di antara dada yang deg-degan parah, dan dorongan kuat buat ngeplak kepala Kian saban hari.

Sanggupkah gue bertahan tanpa kehilangan akal sehat ini?😭

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12: Pengakuan di Bawah Selimut

Gue bersumpah, detik itu juga seluruh aliran darah di tubuh gue serasa berhenti mengalir. Dunia seolah mendadak membisu, suara badai hujan di luar, angin yang menerpa jendela, bahkan derit ranjang kayu ini hilang ditelan suara detak jantung gue sendiri yang bunyinya udah kayak drum marching band.

"Karena dari dulu, ruang di samping gue ini emang sengaja gue kosongkan... cuma buat menunggu lu siap."

Pengakuan itu meluncur dari mulut Kian begitu jujur, tanpa sisa nada canda atau benteng gengsi yang biasanya dia agung-agungkan.

Gue masih membeku. Tangan Kian yang hangat dan kokoh masih melingkar nyaman di pinggang gue, menarik tubuh gue makin rapat ke dadanya. Gue bisa merasakan getaran dari dada Kian saat dia menghela napas panjang menandakan kalau dia juga sama deg-degannya.

"Ki..." suara gue akhirnya keluar, tapi kecil dan bergetar banget. "Lu... lu sadar gak barusan ngomong apa?"

Kian gak langsung menjawab. Dia malah makin menyembunyikan wajahnya di lipatan leher bagian belakang gue, menghirup aroma sampo yang gue pakai. Sentuhan itu bikin bulu kuduk gue berdiri seketika.

"Gue sadar seratus persen, Elora," bisik Kian pelan, suaranya agak serak. "Gue capek pura-pura kalau ini cuma sekadar 'simulasi' atau 'permainan gengsi'. Gue capek ngeliat lu terus-terusan ragu dan ngira gue cuma main-main."

Gue perlahan memutar tubuh, pelan-pelan berbalik menghadap Kian.

Kian gak menolak. Tangan di pinggang gue melonggar sedikit, memberi ruang buat gue bergerak. Kini kami berbaring berhadapan, cuma terpisah jarak beberapa sentimeter saja. Dalam remang lampu tidur, gue bisa melihat dengan sangat jelas ekspresi Kian, matanya menatap gue lurus, dipenuhi kerapuhan dan kejujuran yang belum pernah dia perlihatkan ke cewek mana pun.

Gue menelan ludah, menyembunyikan tangan gue yang gemetaran di balik selimut.

"Tapi lu kan... playboy, Ki," cicit gue, menyuarakan benteng terakhir pertahanan diri gue yang makin goyah. "Cewek lu dulu banyak banget. Gimana bisa gue percaya kalau ruang ini emang cuma buat gue?"

Kian terkekeh pelan, tawa kecil yang agak ironis. Dia mengangkat tangan kirinya, membelai pipi gue lembut pakai punggung jarinya.

"Justru karena cewek gue dulu banyak, Ra," jawab Kian tenang. "Gue nyari lu di dalam diri mereka semua, tapi gak ada satu pun yang bisa bikin gue ngerasa 'pulang' kayak pas gue lagi sama lu. Gue baru sadar, kebodohan terbesar gue selama ini adalah nyari kebahagiaan di luar, padahal cewek yang gue mau... dari dulu selalu ada di samping gue, lagi sibuk marah-marah gara-gara es krimnya gue minta."

Muka gue mendadak rasanya mau meledak. Panas banget sampai ke ubun-ubun!

"Gak usah bawa-bawa es krim!" omel gue pelan, memukul dadanya pelan buat menutupi rasa salah tingkah yang amat sangat.

Kian menangkap tangan gue yang memukul dadanya, lalu menggenggamnya erat, membawanya ke depan dadanya sendiri. Gue bisa merasakan detak jantung Kian yang bertalu-talu sama kencangnya dengan jantung gue.

"Jadi," kata Kian dengan senyum tipis yang amat sangat manis, "masih mau hitung mundur masa enam bulan ini sebagai permainan gengsi, Calon?"

Gue menatap matanya, lalu menunduk menatap genggaman tangan kami. Di balik semua ketakutan gue selama ini, rasa hangat yang menjalar di dada gue gak bisa bohong lagi. Gue udah kalah. Gue udah jatuh sedalam-dalamnya ke dalam pesona sahabat gue sendiri.

"Gue... gue mikir-mikir dulu," jawab gue gengsi, menarik selimut sampai menutupi separuh wajah gue.

Kian tertawa renyah. Dia memajukan wajahnya sedikit, mengecup dahi gue pelan, sebuah kecupan hangat yang berlangsung beberapa detik, sukses bikin otak gue shutdown seketika.

"Ya udah, dipikirin sambil tidur. Good night, Elora," bisik Kian pelan. Dia menarik selimut kami berdua, lalu kembali merapatkan tubuhnya, memeluk gue erat sampai kami berdua tertidur pulas ditelan dinginnya malam Puncak.

Keesokan Paginya...

Sinar matahari menerobos masuk lewat celah gorden kayu kamar. Suara kicau burung dan udara pagi Puncak yang segar perlahan membangunkan gue dari tidur paling nyenyak yang pernah gue rasakan sepanjang tahun ini.

Gue menggeliat pelan, merasa tubuh gue hangat banget. Tapi saat mata gue terbuka sepenuhnya...

Gue mendapati wajah Kian cuma berjarak tiga sentimeter dari wajah gue!

Kian masih tertidur pulas. Rambutnya yang berantakan jatuh di atas dahinya, napasnya teratur dan halus. Masalah utamanya adalah posisi tidur kami saat ini.

Kaki kanan Kian dengan santainya menimpa kedua kaki gue, sementara tangan kirinya melingkar posesif di pinggang gue, menempelkan dada bidangnya rapat-rapat ke tubuh gue. Dan yang paling parah... kepala gue bersandar nyaman di atas lengan kanannya yang dijadikan bantal!

Gue mematung seketika. Kesadaran penuh langsung menyengat otak gue.

OH MY GOD.

Gue baru saja melewati malam pertama—maksud gue, malam ketiduran berdua sama Kian dalam posisi berpelukan erat bak sepasang suami istri di film-film romantis!

Gue mencoba bergeser pelan-pelan, menyingkirkan tangan Kian dari pinggang gue tanpa membangunkan dia. Tapi begitu jari gue menyentuh lengannya, mata Kian mendadak terbuka perlahan.

Manik mata cokelat gelapnya menatap gue yang lagi kepergok mau kabur.

Suara Kian saat baru bangun tidur terdengar sangat berat, dalam, dan kelewat seksi "Mau ke mana?"

Gue menelan ludah, membeku di tempat. "A-anu... mau ke kamar mandi. Udah pagi."

Bukannya melepaskan pelukannya, Kian malah makin mengencangkan pelukannya di pinggang gue, menarik tubuh gue lebih rapat lagi sampai dada kami menempel sepenuhnya. Dia menyembunyikan wajahnya di leher gue, menggumam malas.

"Lagi dingin, Ra. Lima menit lagi," gumam Kian manja, suaranya tenggelam di leher gue.

Jantung gue kembali berdisko liar di pagi hari. Sialan, cobaan iman macam apa ini?!

1
ms. S
lanjut... novelnya menarik buat dibaca hingga bisa inget jaman pdkt sama gebetan. bikin deg2an juga Krena serasa jatuh cinta
ms. S
up lagi kak. novelnya kocak abis . aku sng novel yg kyk gini, lucu, sedih tapi ga mewek2 bgt, dan masih sesuai realita lha . sgra nikah yuk mereka berdua penasaran
Mina: makasih kak, seneng deh baca komennya🫰
total 1 replies
paijo londo
asli fix nih yg bloon kyaknya elora Ter la lu polos g tau kalo si kian itu udah suka elora dari lama🤭🤭🤭
paijo londo
mampir' thor🤦🤦aduh kyaknya hidup elora bakal kiamat kena serangan mental menghadapi kelakuan si kian q yg baca kok ikut2an jadi stress ya🤔🤔🤔
ms. S
ya ampun aku jadi deg2an ini kayak akunsama kian🤭🤣
Nurwana
asik asik.....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!