"Wanita yang dulu kau buang seperti sampah, kini menjadi Ratu yang tak sanggup kau beli!"
Demi Fandi, Maya rela melepas statusnya sebagai supermodel ternama dan menjadi ibu rumah tangga biasa. Namun, pengorbanannya dibalas penghinaan. Begitu penampilannya tak lagi segar, Fandi menceraikannya demi wanita lain dan mengusirnya tanpa membawa apa pun.
Fandi mengira hidup Maya sudah hancur. Namun, ia salah besar.
Di balik kehancurannya, Maya bangkit merintis kembali kerajaannya. Ketika Maya berdiri di puncak kejayaan sebagai wanita paling berpengaruh, Fandi merangkak dalam penyesalan yang tak bertepi.
Sayangnya... Ratu yang dulu disia-siakannya kini melayang terlalu tinggi untuk kembali.
bagaimana ceritanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tina Mehna 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19. DSKKR
Fandi berjalan gontai menyusuri koridor. Pakaian yang dikenakannya adalah kemeja terbaik yang tersisa di lemari, walau kerahnya sudah agak melengkung. Di tangannya, dia menggenggam tas laptop berisi sisa-sisa portofolio foto lamanya.
Dia berhenti di depan pintu ruko bertuliskan Aura Magazine - Operational Office. Pria itu menarik napas panjang, mencoba memoles sisa-sisa rasa percaya dirinya sebelum menggeser pintu kaca tersebut.
"Lagi buka lowongan nih.. ku coba dulu aja siapa tau rejeki" ucap Fandi melangkah masuk kedalam ruko.
Di dalam, seorang pria paruh baya bertubuh tambun menyambutnya dengan senyum tipis yang terkesan dingin. Itu adalah Budi, kepala redaksi majalah yang dulu kerap menyewa jasa Fandi dengan bayaran fantastis.
"Wah, Fandi. Duduk, Ndi," sapa Budi singkat tanpa beranjak dari kursinya.
Fandi duduk di hadapannya, meletakkan portofolionya ke meja. "Pak Budi, terima kasih udah mau sempetin waktu. Seperti yang saya sampaikan di telfon kemarin, saya mau tawarin konsep editorial photoshoot buat edisi bulan depan."
Budi membuka portofolio Fandi, membolak-balik lembarannya selama tak sampai satu menit, lalu menutupnya kembali dengan ketukan pelan.
"Jujur ya, Fandi..." Budi menghela napas, menyandarkan punggungnya. "Gaya foto kamu yang ini udah ketinggalan tren. Karakter visualnya datar banget. Sekarang pasar lagi nyari konsep yang punya story telling kuat, kayak karya-karya terbarunya VANE Group."
Mendengar nama VANE Group disebut, dada Fandi rasanya seperti dihantam batu besar. "Pak Budi, saya bisa penyesuaian lighting dan tone warnanya kok. Tolong kasih saya satu project aja..."
"Gak bisa, Ndi," pangkas Budi tegas tapi santai. "Gue denger dari orang-orang studio, kamu juga lagi ada masalah internal, kan? Studio kamu disegel, terus isu kamu diceraikan istri karena perselingkuhan juga udah nyebar di kalangan fotografer."
Wajah Fandi memerah padam. Rasa malu yang teramat sangat membakar tenggorokannya hingga tak sanggup bersuara. "Emm... Itu.."
"Industri kreatif ini sempit, Fandi," lanjut Budi sinis. "Dulu orang pakai jasa kamu karena tahu ada Maya yang pegang ad nya. Sekarang Maya udah di puncak bareng Mr.Arch Vance, sedangkan kamu... ya kamu lihat sendiri."
Budi menggeser kembali portofolio itu ke arah Fandi. "Saran gue, mending kamu benahi dulu hidup kamu sebelum nyari project besar lagi."
Fandi meraih portofolionya dengan tangan yang bergetar hebat. Dia berdiri, menunduk kaku, lalu berjalan keluar dari ruangan itu tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Di luar gedung, di bawah terik matahari Jakarta yang menyengat, Fandi mematung di pinggir jalan. Air mata frustrasi yang ditahannya sejak tadi akhirnya menetes juga. Penyesalan itu kini bukan lagi sekadar rasa bersalah, melainkan kehancuran total atas seluruh hidup dan harga dirinya.
"Memang betul yaa?? Karya ku sebegitu kuno nya ? Harus kemana lagi aku mencari ini. " Gumam sendiri Fandi yang terus berjalan tanpa arah dan tujuan. Namun akhirnya, Fandi berbelok ke tempat kontrakan nya yang kini dia sewa untuk ibu dan adiknya juga.
Suasana di kontrakan sempit Fandi terasa semakin mencekam.
Bau mi instan murah memenuhi ruang tamu yang berantakan. Ibu Ratna duduk di lantai seraya memijat kakinya yang pegal, sementara Intan sibuk mengeluh seraya memainkan ponselnya yang kehabisan kuota data.
Pintu kontrakan terdorong kasar. Fandi masuk dengan wajah tirus, matanya merah, dan pakaiannya kusam. Pria itu melempar tasnya ke sudut ruangan begitu saja.
"Gimana, Ndi?!" cecar Ibu Ratna langsung berdiri dengan raut harap-harap cemas. "Dapat pinjaman uang dari temen fotografer kamu? Pemilik kontrakan udah nagih lagi tadi siang!"
Fandi tertawa sumbang, menyandarkan punggungnya ke dinding yang terkelupas. "Temen? Temen yang mana, Bu?! Semua orang di industri udah jauhin Fandi! Nggak ada satu pun yang mau minjemin uang atau ngasih job!'
Intan melompat berdiri, matanya melotot. "Masa gak ada satu pun sih, Mas?! Terus uang buat jajan Intan gimana?! Temen-temen Intan di kampus udah pada ngetawain gara-gara Intan gak pernah ganti baju merk lagi!"
"Kamu bisa diam gak, Intan?!" bentak Fandi meledak, menunjuk adiknya dengan jari gemetar. "Kamu pikir Mas ini mesin uang?! Selama ini kamu sama Ibu yang nikmatin uang Fandi sampai ludes! Waktu Fandi masih kaya, kalian sanjung-sanjung! Sekarang Fandi jatuh, kalian cuma tahu menuntut!"
Ibu Ratna menepuk dadanya, berpura-pura meringis kesakitan. "Aduh, Fandi! Berani-beraninya kamu bentak Ibu! Ibu ini yang ngelahirin kamu!"
"Dan Ibu juga yang paling gencar ngusir Maya!" potong Fandi dengan suara parau yang bergetar hebat. "Coba kalau Maya masih ada di sini! Rumah kita gak akan disita, makan kita teratur, dan Fandi gak bakal dikejar-kejar utang! Dulu Maya selalu punya simpanan buat masa-masa sulit!"
"Jangan sebut-sebut nama perempuan itu lagi!" pekik Ibu Ratna dengan wajah memerah. "Dia itu cuma bawa sial!"
"Bawa sial?!" Fandi tersenyum sinis, air matanya menetes pelan menahan kehati-hatian kehancuran dirinya. "Ibu tahu gak? Maya sekarang kerja di VANE Group! Gajinya puluhan kali lipat dari hasil foto Fandi dulu! Dia disanjung pengusaha-pengusaha kaya! Yang bawa sial itu bukan Maya, Bu... tapi kesombongan kita sendiri!"
"Halahh.. dia lagi hoki aja itu. Seharusnya kamu yang dulu kekeh dan kuatkan lagi rasa cinta mu ke Maya.. kok nyalahin ibu sih, heran deh
"Aaghh.. terserah ibu lah. Cape aku!"
"Eh cape? Kamu mending lanjut cari uang ndi. Daripada tidur." Ucap ibunya lagi.
"Astaga Bu.. Fandi baru mau tidur!" Jawab fandi dengan amarah lalu dia melangkah masuk ke kamar nya yang kini hanya beralaskan tikar.
"Gimanaa nih Bu.. masa intan ke kampus pake kaya gini aja sih" rengek intan.
"Harus gimana lagi ntan.. udah lah kamu mending cuti dulu"
"Bu! Enggak mau begitu lah. Mana Bu, intan butuh 2 juta.. sekarang"
"Intan! Mana ada ibu uang segitu!"
Suara ribut ibu nya dan adiknya membuat kepala Fandi ingin pecah. Akhirnya Fandi melangkah keluar lagi dan berjalan ke arah masjid dan dia sampai tertidur disana.
Bersambung...