Indonesia
NovelToon NovelToon
Keliru Mengenal Sang Kapten

Keliru Mengenal Sang Kapten

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama
Popularitas:427
Nilai: 5
Nama Author: Madelyn_Sa

Amira tidak pernah menyangka hari pertamanya di SMA Dirgantara akan mempertemukannya dengan Alfian—sang kapten basket arogan yang wajah dan suaranya sangat mirip dengan "Sky", teman masa kecil yang memberinya kalung bintang sebelum pergi meninggalkannya bertahun-tahun lalu.
Sayangnya, Alfian bersikap seolah tidak pernah mengenal Amira dan menganggapnya sebagai cewek aneh yang sengaja mencari perhatian, membuat hari-hari sekolah Amira penuh dengan perdebatan sengit dan emosi yang naik turun.
Di balik dingin dan marahnya sang kapten, tersimpan rahasia besar serta memori masa lalu yang terkunci rapat, memaksa Amira terjebak dalam dilema antara rasa rindu pada masa lalu atau membenci kenyataan pahit di hadapannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Madelyn_Sa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20: Dua Kutub Magnet dan Pilihan Sang Hati

Udara di koridor depan ruang guru itu seolah tersedot habis.

Puluhan pasang mata murid SMA Dirgantara menatap tak berkedip pada pemandangan tak masuk akal di depan mereka.

Dua cowok jangkung berwajah persis bagai pinang dibelah dua, berdiri saling berhadapan dengan aura yang saling membunuh.

Di tengah-tengah mereka, Amira berdiri kaku layaknya patung.

Tangan kekar Alfian masih melingkar protektif di pinggangnya, menyalurkan kehangatan yang mendadak terasa seperti bara api.

"Milik lo?" suara Alfian memecah keheningan dengan nada super rendah dan tajam.

Kakak kelas tingkat akhir itu menyeringai sinis, menatap tajam tepat ke manik mata saudara kembarnya sendiri.

"Lo kayaknya lupa, Fino. Masa lalu itu tempatnya di belakang. Dan sekarang, dia ada di pelukan gue," desis Alfian tanpa keraguan sedikit pun.

Bisik-bisik histeris langsung meledak dari kerumunan murid.

Fino tidak mundur selangkah pun.

Cowok berwajah hangat itu justru memiringkan kepalanya, menatap tangan Alfian yang bertengger di pinggang Amira dengan senyum yang tak memudar.

Namun, ada kilatan posesif yang sama kuatnya di balik mata teduh Fino.

"Masa lalu bakal tetap jadi masa lalu, Fian," balas Fino dengan suaranya yang tenang namun menusuk.

"Kecuali... kalau masa lalu itu adalah alasan dia bertahan sampai sekarang."

Fino menoleh, menatap langsung ke dalam manik mata Amira yang sudah berkaca-kaca.

"Bener kan, Lily?" panggil Fino lembut.

Panggilan itu bagai sihir yang melumpuhkan otak Amira.

Otaknya mendadak blank.

Di satu sisi, ada Sky—cinta pertama dan sahabat masa kecilnya yang sangat ia rindukan.

Di sisi lain, ada Alfian—cowok kulkas menyebalkan yang diam-diam telah mencuri hatinya selama sebulan terakhir.

Jantung Amira berdegup sangat kencang hingga dadanya terasa sakit.

"A-aku..." Amira tergagap, menatap bergantian ke wajah dua kakak kelasnya itu.

Melihat Amira yang mulai gemetar dan terlihat pucat, cengkeraman Alfian di pinggang gadis itu sedikit mengendur.

Alfian tak ingin Amira menjadi tontonan satu sekolah lebih lama lagi.

Dengan gerakan cepat, Alfian menarik tangan Amira.

"Kita pergi," putus Alfian mutlak, setengah menyeret gadis itu menerobos kerumunan murid yang otomatis membuka jalan.

Fino tidak mengejar.

Cowok itu hanya berdiri diam di depan ruang guru, menatap punggung kecil Amira yang perlahan menjauh ditarik oleh saudara kembarnya.

Senyum di wajah Fino perlahan memudar, digantikan oleh raut kesedihan yang sangat dalam.

Alfian membawa Amira ke atap sekolah yang sepi dan terkunci dari luar.

Namun, sebagai koordinator OSIS kelas XII, memiliki kunci cadangan atap bukanlah hal yang sulit bagi Alfian.

Brak!

Pintu atap ditutup rapat.

Angin pagi langsung menerpa rambut sebahu Amira, membuat anak-anak rambutnya menari liar di sekitar wajahnya.

Alfian melepaskan tangan Amira.

Cowok itu berjalan menjauh, mengacak-acak rambut hitamnya sendiri dengan frustrasi, lalu menendang kaleng minuman kosong hingga terpelanting menabrak pagar kawat.

Klotak!

Amira terkesiap mundur, memeluk tubuhnya sendiri karena udara atap yang lumayan dingin.

"K-kamu kenapa bawa aku ke sini?" tanya Amira pelan.

Alfian berbalik badan.

Napas cowok itu memburu, dan wajahnya masih sedikit pucat karena sisa demam semalam.

"Gue mau lo milih," todong Alfian tanpa basa-basi.

Amira melebarkan matanya. "M-milih apa?"

"Jangan pura-pura bodoh, Amira!" sentak Alfian, suaranya naik satu oktaf.

Mata hitam legam itu menatap Amira dengan penuh keputusasaan dan rasa cemburu yang membakar akal sehatnya.

"Cowok itu Fino! Dia Sky yang selama ini lo cari-cari setengah mati!" seru Alfian dengan nada getir.

Alfian melangkah maju, memperpendek jarak di antara mereka berdua.

"Sekarang dia udah balik. Pangeran masa kecil lo udah ada di depan mata. Lo... mau balik ke dia kan?" tanya Alfian, suaranya mendadak berubah parau.

Amira terdiam kaku.

Tuduhan itu menusuk hatinya, namun di saat yang bersamaan, ia bisa melihat betapa rapuhnya seorang Alfian Pratama saat ini.

Gengsi sang kapten telah hancur sepenuhnya.

Cowok yang biasanya dikerubungi ratusan siswi itu kini sedang berdiri dengan ketakutan kehilangan yang sangat nyata.

"Alfian..." panggil Amira lembut, melangkah maju satu tindak.

Namun Alfian mundur, seolah menolak untuk ditenangkan.

"Gue sadar diri. Gue cuma cowok brengsek yang nyaris bikin lo geger otak, yang selalu marahin lo, dan yang nggak punya kenangan manis apa pun sama lo," racau Alfian memalingkan wajahnya.

"Beda sama dia. Dia hangat, dia baik. Dia... segalanya yang lo harapin."

Amira menggigit bibir bawahnya kuat-kuat menahan air mata.

Gadis itu berlari kecil, lalu dengan berani meraih kedua tangan Alfian yang sedingin es dan menggenggamnya erat.

Alfian tersentak kaget, menunduk menatap tangan kecil Amira yang membungkus tangannya.

"Dengerin aku," ucap Amira tegas, memaksa Alfian menatap matanya.

"Iya, Fino adalah Sky. Dia cowok yang aku tunggu selama bertahun-tahun."

Raut wajah Alfian seketika hancur mendengar pengakuan itu.

Cowok itu berniat menarik tangannya, tapi Amira mencengkeramnya lebih kuat.

"Tapi itu dulu, Alfian!" lanjut Amira dengan nada sedikit meninggi, air mata akhirnya lolos membasahi pipinya.

"Waktu aku naruh jaket kebesaran kamu di tas pagi ini... aku baru sadar satu hal."

Alfian mematung, menahan napasnya menunggu kelanjutan kalimat gadis itu.

"Aku nyariin Sky karena aku hidup di masa lalu," bisik Amira pelan, suaranya bergetar hebat.

"Tapi saat ini... di detik ini... jantungku berdebar bukan buat masa lalu. Jantungku heboh tiap kali dimarahin sama kapten kulkas yang rela hujan-hujanan demi ngebelain aku dari kakak kelas jahat."

Deg.

Dunia Alfian seolah berhenti berputar.

Mata elang itu melebar, tak percaya dengan apa yang baru saja merasuki indra pendengarannya.

"Lo..." Alfian menelan ludah susah payah.

"...lo nggak lagi kasihan sama gue kan?"

Amira tersenyum di sela tangisnya.

Gadis itu berjinjit sedikit, menempelkan punggung tangannya ke dahi Alfian yang masih terasa sedikit hangat.

"Aku nggak kasihan sama cowok arogan yang maksa ke sekolah waktu lagi demam tinggi cuma karena cemburu," ledek Amira dengan suara serak.

Sebuah beban seberat ratusan ton seolah terangkat dari dada Alfian.

Raut ketakutan itu pudar, digantikan oleh kelegaan yang luar biasa besar.

Tanpa aba-aba, Alfian menarik tubuh mungil Amira ke dalam dekapannya.

Sangat erat, seolah gadis itu akan menguap menjadi udara jika ia melepaskannya.

Amira membenamkan wajahnya di dada bidang Alfian, menghirup dalam-dalam aroma mint yang selalu berhasil menenangkannya.

"Jangan pernah narik omongan lo barusan, Amira," bisik Alfian di puncak kepala gadis itu.

"Karena kalau lo berani pergi... gue pasti bakal ngehancurin sekolah ini."

Amira terkekeh pelan di balik pelukan itu.

Hanya Alfian Pratama yang bisa membuat deklarasi cinta terdengar seperti ancaman terorisme.

...***...

Jam istirahat kedua menjadi neraka kecil bagi Amira.

Keberadaan dua pangeran kembar di kelas XII langsung menjadi trending topic nomor satu di SMA Dirgantara.

"Gila lo, Mir! Asli, sumpah, demi apa pun lo gila!" seru Maya heboh saat mereka duduk di sudut kantin.

"Itu Kak Fino mukanya manis banget! Kayak malaikat turun dari langit! Beda banget sama Kak Alfian yang hawanya kayak debt collector!" tambah Rara tak kalah heboh.

Amira hanya mengaduk-aduk es teh manisnya dengan sedotan tanpa selera.

Setelah adegan emosional di atap sekolah tadi, Alfian dipanggil oleh guru BK karena urusan kepanitiaan Pensi.

Dan Amira sengaja bersembunyi di kantin pojok untuk menghindari cecaran pertanyaan dari murid-murid lain.

"Tapi lo beneran kenal sama Kak Fino dari kecil?" selidik Maya menyipitkan matanya.

Amira mengangguk pelan.

"Iya, dia temen main aku di desa dulu. Panggilannya Sky."

"Anjir, pantesan waktu itu lo neriakin nama Sky ke Kak Alfian! Mukanya seratus persen copy paste gitu!" Rara menepuk jidatnya heboh.

Tepat saat Rara selesai bicara, suasana kantin yang tadinya ramai mendadak sedikit mereda.

Banyak siswi yang menahan napas dan berbisik-bisik sambil menatap ke satu arah.

Dari ujung pintu kantin, Fino melangkah masuk dengan senyum ramah yang tak pernah luntur.

Cowok itu memegang dua kotak susu stroberi di tangannya.

Matanya menyapu seisi kantin, lalu berhenti saat menemukan Amira di sudut ruangan.

Dengan langkah tenang, Fino berjalan mendekati meja mereka.

Rara dan Maya refleks menahan napas, terpesona oleh ketampanan tingkat dewa yang kini berada di jarak sedekat ini.

"Hai," sapa Fino lembut, berdiri di samping meja Amira.

"K-kak Fino," balas Amira gugup, buru-buru berdiri dari kursinya.

Fino menyodorkan satu kotak susu stroberi dingin itu ke arah Amira.

"Ini, kesukaan lo dari dulu kan? Gue tadi kebetulan lewat koperasi," ucap Fino, matanya melengkung indah saat tersenyum.

Amira mematung.

Susu stroberi.

Fino mengingat detail sekecil itu dari belasan tahun yang lalu. Sesuatu yang bahkan Amira sendiri hampir lupa.

"M-makasih, Fino," ucap Amira ragu-ragu menerima kotak susu tersebut.

Fino tidak langsung pergi.

Cowok kelas XII itu menatap wajah Amira lekat-lekat, lalu tanpa permisi, ia mengulurkan tangannya menyentuh rambut Amira.

"Lo makin cantik kalau rambutnya digerai gini, Lily," puji Fino pelan, suaranya sangat tulus tanpa ada niat menggoda.

Deg.

Jantung Amira berdebar, namun kali ini debarannya berbeda.

Ada rasa nostalgia yang kuat, sebuah kerinduan masa kecil yang menghangat di dadanya.

Namun... tidak ada kupu-kupu yang berterbangan di perutnya seperti saat Alfian mengusap pelipisnya.

Amira perlahan memundurkan kepalanya, menghindari sentuhan Fino dengan sangat halus.

Fino sedikit terkejut dengan penolakan tak kasat mata itu, tangannya tertahan di udara sebelum akhirnya ia tarik kembali ke sisi tubuhnya.

"Maaf," kekeh Fino canggung, berusaha mencairkan suasana.

"Gue terlalu kebawa suasana. Rasanya kayak baru kemarin kita main bareng di bawah pohon mangga."

Amira tersenyum sedih.

"Iya, rasanya emang baru kemarin. Tapi sekarang kita udah gede ya," balas Amira pelan.

Fino menatap Amira dengan raut yang mulai serius.

"Gue balik ke Indonesia khusus buat nyari lo, Lily," pengakuan Fino mengudara, menghentikan waktu di sekeliling mereka.

Rara dan Maya di meja itu nyaris pingsan saking bapernya menjadi penonton drama live ini.

"Gue tahu mungkin gue telat. Dan gue tahu, Fian udah ngambil langkah lebih dulu," lanjut Fino dengan tatapan yang menyiratkan luka.

"Tapi gue nggak akan nyerah gitu aja. Gue bakal buktiin, kalau Sky masa kecil lo itu nggak pernah benar-benar pergi."

Setelah mengucapkan kalimat yang terdengar seperti janji suci itu, Fino tersenyum manis sekali lagi, lalu berbalik dan melangkah meninggalkan kantin.

Amira kembali duduk di kursinya dengan lemas.

Tangannya meremas kotak susu stroberi itu kuat-kuat.

Hatinya terasa perih melihat sorot kekecewaan di mata Fino.

Bagaimana mungkin ia bisa menyakiti cowok sebaik dan selembut Fino, demi seorang Alfian yang arogan dan menyebalkan?

"Duh, Mir," bisik Maya ikut prihatin.

"Gue kalau jadi lo, mending pindah sekolah aja. Nggak kuat mental gue milih di antara dua bidadara itu."

Amira menelungkupkan wajahnya di atas meja.

Konflik ini baru saja dimulai, dan Amira tahu persis, hari-hari di SMA Dirgantara ke depannya akan jauh lebih sulit dari sekadar pelajaran Sejarah Bu Ratna.

Sebab kini, ia harus menghadapi dua kutub magnet yang sama kuatnya, namun menariknya ke arah yang sepenuhnya berbeda.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!