Indonesia
NovelToon NovelToon
Menjadi Pengasuh Putri Kecil Mafia

Menjadi Pengasuh Putri Kecil Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Mafia / Ibu Tiri
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Isshabell

Luna berjalan menyusuri jalanan yang sepi di malam yang semakin pekat dan dari jauh dia melihat sosok anak kecil berlari kencang dengan napas tersengal-sengal dan di belakang gadis kecil itu terlihat seorang pria bertubuh tinggi berkulit hitam dengan wajah layaknya seorang penjahat, pria itu berlari mengejar gadis kecil itu sambil mengarahkan pistolnya ke udara memberi peringatan keras pada gadis kecil yang semakin ketakutan itu.
Merasa ada yang tidak beres dengan sigap Luna meraih tubuh mungil gadis kecil itu dan membawanya bersembunyi di dalam sebuah gang sempit sambil menutup mulut gadis kecil itu agar tidak bersuara.

Luna menatap gadis kecil yang ketakutan itu sambil meletakkan jari telunjuknya ke mulutnya memberi isyarat, gadis kecil itu menganggukkan kepalanya menurut.

Luna berhasil menyelamatkan gadis kecil itu dari kejaran para penjahat.

yuk ikuti kelanjutannya di sini

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isshabell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab.30 Keraguan di hati Luna

Pagi hari di ruang makan utama mansion. Sinar matahari terbit menerobos jendela kaca besar, menerangi meja makan yang biasanya terasa dingin dan kaku, kini dipenuhi aroma sup hangat dan piring-piring sarapan. Emily duduk di kursi tingginya dengan mulut belepotan selai stroberi, sementara Luna berdiri di sampingnya dengan telaten mengusap sudut bibir bocah itu memakai tisu.

Emily menatap Luna dengan mata berbinar-binar "Mami Luna, nanti sore kita jadi bikin kue mangkuk yang ada gambar kelincinya, kan?"

Luna tersenyum hangat, mengusap lembut rambut Emily "Jadi dong, Sayang. Tapi syaratnya, susu hangat di gelasmu harus habis dulu. Habiskan ya?"

Emily mengangguk antusias "Siap, Nyonya Besar!" dan Emily langsung meminum susunya hingga tandas tak bersisa sedikitpun.

Leon yang baru saja melangkah masuk ke ruang makan dengan setelan jas hitam rapinya terhenti sejenak di ambang pintu. Pria itu menyandarkan bahunya di kusen pintu, melipat kedua tangan di dada seraya mengamati pemandangan di hadapannya. Tatapan mata elangnya yang biasa mengintimidasi kini melunak sepenuhnya.

Leon menatap Luna dengan seulas senyum tipis yang amat tipis "Sejak kapan anak itu punya julukan baru untukmu?"

Luna menoleh, terkekeh pelan seraya merapikan letak piring "Mungkin tertular dari Bibi Maria dan para pengawal di depan. Kamu sendiri, kenapa cuma berdiri di sana? Ayo sarapan dulu sebelum berangkat ke kantor."

Leon melangkah mendekat, mengabaikan kursinya sendiri dan memilih berdiri tepat di belakang Luna. Dengan santai, satu tangannya melingkar di pinggang Luna, menarik wanita itu sedikit lebih rapat padanya tanpa memedulikan tatapan polos Emily.

Leon merendahkan suaranya di dekat telinga Luna, kecupan singkat mendarat di pelipisnya "Aku suka julukan itu. Dan aku lebih suka melihat rumah ini hidup... karena ada kamu di setiap sudutnya, sayang."

Luna mengulum senyum, membiarkan kehangatan melingkupi dadanya "Semuanya terasa jauh lebih baik sekarang, Leon. Aku cuma berharap ketenangan seperti ini bisa bertahan selamanya."

Leon menatap lurus manik mata Luna, mempererat dekapan tangannya di pinggang sang wanita "Tidak ada yang boleh merusaknya lagi. Ini tempatmu, Luna. Rumah ini, Emily, dan aku... semuanya milikmu."

Luna tersenyum samar mendengar ucapan Leon tapi jauh di dalam hatinya dia sedang mencemaskan suatu hal.

Meski dokumen fisik sudah dirobek dan perlakuan Leon sangat protektif, Luna mulai merasa gelisah. Ia tersadar bahwa hubungan mereka belum memiliki ikatan hukum resmi yang sah atau kejelasan status di mata hukum negara, melainkan baru sebatas komitmen lisan di dunia kelam.

Saat menghadiri acara-acara penting atau mengurus administrasi Emily, status Luna kembali dipertanyakan secara tersirat oleh lingkaran luar. Keraguan itu makin membesar: apakah Leon memperlakukannya sebaik ini hanya demi kenyamanan Emily, atau memang menginginkannya sebagai istri sah seumur hidup? Pikiran Luna semakin kalut apalagi setelah kemaren sewaktu pergi ke sekolah Emily untuk acara rapat wali murid, Luna sempat mendengar bisikan-bisikan dari ibu-ibu wali murid yang lain yang sedang menyinggung status dirinya " Oh ya, itu kan maminya Emily ya?" tanya Bu grace pada ibu wali murid lain yang sedang duduk di sampingnya nya itu. "Iya itu maminya Emily yang sering datang di acara-acara rapat sekolahan," sahut ibu lainnya sambil memperhatikan Luna yang sedang duduk di kursi wali murid di depan mereka. "Sepertinya Tuan Leon tidak pernah mengadakan pernikahan ya? Tapi kenapa tiba-tiba Emily punya mami ya?" timpal Bu Grace lagi pada temannya itu. "Iya betul atau jangan-jangan...dia wanita simpanannya Tuan Leon," ucap teman Bu Grace sambil menurunkan nada suaranya. Luna yang duduk tidak jauh dari ibu-ibu yang sedang membicarakan dirinya itu sempat mendengar perbincangan mereka, Luna terdiam dia hanya bisa menahan rasa sabarnya karena memang mereka tidak ada yang tahu kalau dirinya adalah istri Leon dan sudah menikah di catatan sipil enam bulan yang lalu. Luna sadar kalau ibu-ibu itu mempertanyakan statusnya karena memang tidak ada pernikahan dan resepsi resmi saat Leon menikahi dirinya dulu, jadi wajar kalau publik tidak mengenali dirinya sebagai bagian dari keluarga Leon.

Tanpa disadari, rasa cemas membuat Luna agak menarik diri dan menjadi lebih sensitif. Leon yang peka mendapati perubahan sikap Luna, wanita itu sering tertangkap melamun dan menghindari pembicaraan mengenai masa depan jangka panjang.

Seperti malam kemarin saat mereka berdua ada di dalam kamar sengaja Leon berbincang sebentar dengan Luna sebelum mereka tidur "Sayang, apa kamu tidak ingin memberikan Emily seorang adik?" tanya Leon saat Luna merebahkan kepalanya di dada bidang Leon di atas tempat tidur mereka, Luna tersenyum tipis dia tidak memberikan jawaban atas pertanyaan Leon dan terkesan mengalihkan topik yang sedang Leon tanyakan tadi "Sayang, Emily masih kecil dia masih butuh perhatian banyak dari kamu, aku takut nanti dia akan cemburu kalau punya adik," ucap Luna pada Leon. "Emily itu sangat penyayang dan lembut hatinya seperti kamu, aku yakin dia tidak akan cemburu kalau punya adik atau mungkin nanti dia akan bahagia mendapat teman di rumah ini," ucap Leon dengan binar bahagia di matanya menatap Luna. "Tapi Leon A_aku masih tidak kepikiran ke arah sana," ucap Luna membuat Leon sedikit mengerutkan alisnya mendengar perkataan Luna barusan. "Tapi kenapa sayang? Kita kan sudah sah menjadi suami istri apalagi yang kamu takutkan?" tanya Leon pada Luna. "Untuk saat ini aku tidak bisa Leon tolong jangan paksa aku," Luna menggeser tubuhnya dan melepaskan tangan Leon yang merangkulnya tadi, Luna berbaring membelakangi Leon, dan Leon pun semakin penasaran melihat sikap Luna yang seperti itu. Leon melorotkan tubuhnya dari sandaran tempat tidur itu dan berbaring di belakang Luna sambil memeluk tubuh Luna " Kamu kenapa sayang? Akhir-akhir ini aku sering melihat kamu melamun, apa ada yang sedang kamu pikirkan? Ceritakan padaku sayang, aku ini suamimu dan berhak tahu apapun masalah yang sedang kamu hadapi biar kita selesaikan bersama," Leon mengusap lembut rambut ikal Luna yang di biarkan tergerai di atas bantal itu.

Luna membalikan badannya menghadap Leon dan tanpa ragu Luna pun menceritakan kegelisahan yang menghantuinya selama ini. "A_aku takut Leon," ucap Luna yang langsung di potong oleh Leon "Takut apa sayang? katakan padaku? Siapa yang sudah berani dan lancang membuat istri Leon takut."

"Aku takut kebahagian yang kamu berikan ini hanya bersifat sementara, Leon?" Luna bangkit dari tidurnya dan duduk di atas kasur dan Leon pun mengikuti Luna bangkit dari tidurnya duduk di hadapan Luna "Sementara? maksudnya apa sayang?" tanya Leon sambil menatap dalam manik mata Luna. "Aku butuh kejelasan status yang nyata, aku tidak mau menjadi bahan gunjingan orang-orang di luar sana karena statusku yang tidak jelas di mata mereka." Leon menarik napas panjang menatap Luna dia tersadar kalau merobek kertas saja tidak cukup untuk memberikan rasa aman penuh pada wanita yang di cintai nya itu. "Maafkan aku sayang sudah membuat hatimu gelisah dan cemas selama ini, baiklah secepatnya aku akan adakan pesta pernikahan kita berdua dan akan mengumumkan pada publik kalau kamu adalah Nyonya Leon." Luna tersenyum sambil menghambur ke dalam pelukan sang mafia, suaminya.

1
𝓮𝓵𝓯𝓪𝓷𝓪𝔂𝓪 ₳ⱤⱤ₣₳₳ 🕸🌪
kuy double up kk 🙌
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!