Damar hanya ingin satu hal dalam hidupnya, pekerjaan kantoran yang tenang, duduk di belakang meja tanpa harus berhubungan dengan banyak orang. Namun, akibat terlilit utang dan tergiur gaji fantastis, si pemuda introvert dan penakut ini malah salah menandatangani kontrak kerja gaib di agen travel misterius bernama Last Trip Express.
Tugas Damar bukanlah membawa turis biasa, melainkan menjadi tour guide untuk rombongan hantu. Dari hantu penari yang histeris, hantu bapak-bapak yang lupa meletakkan kunci brankas, hingga hantu artis yang minta dibuatkan acara fansign terakhir—Damar harus memandu mereka mengunjungi tempat-tempat bersejarah dan TKP kematian demi menyelesaikan urusan terakhir mereka sebelum berpindah ke alam selanjutnya.
Di bawah ancaman bosnya yang cantik, modis, sarkastik, dan super galak—Madam Helga—Damar harus memutar otak mengatasi kehebohan para arwah, teror dari makhluk halus jahat, dan kepanikan dirinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnnaYoung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 - Pengakuan
Gemuruh kemenangan di Benteng Tua Willem perlahan menguap, menyisakan keheningan yang panjang di dalam interior Bus 000. Armada raksasa itu kini memotong kabut tipis di Sektor Empat, bergulir tenang di atas jalanan gaib yang dipayungi pendar perak rembulan dimensi.
Sebagian besar penumpang arwah telah terlelap dalam jeda napas yang damai setelah gejolak pertempuran. Mayor van Der Berg sendiri tampak duduk tegap di kursinya, memejamkan mata dengan raut wajah yang tak lagi dibayangi kecemasan.
Di panggung depan, Damar menyandarkan punggungnya pada tiang bus. Wajah manusianya pucat, dan lingkaran hitam menggantung samar di bawah matanya. Efek samping dari menyalurkan resonansi emosi murni melalui Chrono-Compass tanpa perlindungan sihir mulai menguras stamina fisiknya.
Uhuk!
Damar menutupi mulutnya dengan siku, terbatuk pelan. Setiap helaan napasnya kini terasa dingin dan sedikit menyengat.
Dari arah belakang gorden hitam, sebuah cangkir porselin bergaya klasik melayang pelan di udara, mendarat dengan denting halus di atas meja panggung dekat jemari Damar. Kepulan asap tipis beraroma kelopak bunga melati gaib dan kayu manis membumbung dari permukaan cairan keemasan di dalamnya.
"Minum itu!" Suara Madam Helga bergema pelan dari balik gorden. "Ramuan daun penstabil aura. Jika kau pingsan dan mati konyol karena kehabisan energi di dalam busku, aku tidak ingin repot-repot mengurus berkas kematianmu."
Damar menatap cangkir porselin itu, lalu menyengir tipis. Ia mengambil cangkir tersebut dan menyesap ramuan hangat itu perlahan. Rasa hangat yang nyaman seketika merayap menembus tenggorokannya, memulihkan rasa perih di dadanya.
"Terima kasih, Madam," kata Damar tulus seraya menoleh ke arah gorden. "Saya pikir Madam mau membiarkan saya pingsan sebagai hukuman karena menentang perintah tadi."
Gorden hitam tersibak pelan. Madam Helga melangkah keluar, gaun malamnya berkibar anggun. Namun, gerak-geriknya tak selincah biasanya. Pendar sihir keemasan yang melingkupi tubuhnya tampak meredup dan bergetar tipis, dampak luka gaib dari rantai segel Aether milik Gabriel masih membekas di pergelangan tangannya yang memucat.
Madam Helga melayang perlahan, mendarat di atas anak tangga panggung di samping Damar. Ia menyandarkan bahunya pada dinding bus, menatap lurus ke arah jalanan gaib di depan mereka. Kipas sutranya terkumpul kaku di genggaman.
"Kau melanggar tiga protokol keselamatan, Damar. Membangkang perintah atasan, dan nekat mempertaruhkan jiwamu tanpa sihir pelindung," kata Madam Helga dengan nada dingin yang biasa. Namun, tak ada gertakan atau ancaman eksekusi di balik suaranya.
Damar terkekeh pelan, menyesap kembali ramuannya. "Tapi rencananya berhasil, kan? Kita berhasil menyelamatkan para penumpang, memukul mundur Gabriel, dan membebaskan dirimu, Madam."
Madam Helga diam sejenak. Mata indahnya yang tajam bergulir menatap profil samping wajah Damar. Ada kilatan kompleks di sana, campuran antara gengsi tinggi yang belum sepenuhnya runtuh dan rasa kagum mendalam yang terpaksa ia akui.
"Gabriel benar tentang satu hal," ujar Madam Helga pelan, suaranya hampir menyerupai bisikan di tengah desis roda bus. "Segel Aether tadi seharusnya melumpuhkan agen ini sepenuhnya. Tanpa sihirku, Last Trip Express seharusnya hancur malam ini."
Madam Helga memalingkan wajahnya kembali ke jendela, menutupi separuh pipinya dengan kipas sutra.
"Namun ... kau memimpin bus ini dengan caramu sendiri. Kau memanfaatkan hal-hal konyol yang tidak pernah dipertimbangkan oleh Dewan Gaib: kepekaan emosi dan kebersamaan."
Damar tersentak kecil, memandangi sang atasan dari samping. Ini adalah pertama kalinya sejak ia menandatangani kontrak tinta merah, Madam Helga berbicara tanpa nada meremehkan atau keangkuhan mutlak.
"Apakah itu artinya ... Madam mengakui kalau metode panduan saya ada gunanya?" goda Damar dengan senyum miring, mencoba mencairkan suasana.
Madam Helga mendengus dingin, mengibaskan kipasnya pelan hingga memercikkan sedikit api emas yang tak berbahaya.
"Jangan terlalu besar kepala, Pemandu Amatir. Aku hanya mengatakan bahwa tindakan nekatmu tadi kebetulan tidak berakhir dengan bencana. Kau masih punya banyak kekurangan. Pengetahuan sihirmu nol, dan kau terlalu mudah tersentuh oleh drama para hantu."
"Tapi justru itu yang membuat bus ini tetap berjalan, Madam," balas Damar santai, memiringkan kepalanya. "Hantu-hantu ini tidak butuh pemimpin yang sempurna atau sihir yang menakutkan. Mereka cuma butuh seseorang yang mau mendengar rintihan mereka sebelum pergi ke alam berikutnya."
Madam Helga mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Kata-kata Damar menghantam ingatan lama yang terkunci rapat di dalam dadanya. Tatapan matanya meredup, menyiratkan duka mendalam yang teramat lama.
"Mendengar rintihan mereka ...," bisik Madam Helga dengan nada yang mendadak rapuh. "... kadang-kadang, mendengarkan saja tidak cukup untuk menyelamatkan seseorang dari kehancuran."
Damar merogoh saku kemejanya, memegang jam saku Chrono-Compass yang berdetik hangat. Ia teringat akan ucapan Gabriel tentang 'Pemandu Pertama' dan beban dosa masa lalu Helga yang sempat memicu keraguan di dadanya. Namun, melihat rentannya sosok wanita tangguh di sampingnya saat ini, Damar mengurungkan niat untuk bertanya secara agresif.
"Mungkin dulu tidak cukup, Madam," kata Damar pelan, menatap Madam Helga dengan pandangan yang penuh empati. "Tapi sekarang Madam tidak berjuang sendirian lagi di bus ini. Ada saya."
Madam Helga menoleh cepat, matanya membelalak kecil menatap Damar. Untuk beberapa detik yang terasa membeku di bawah pendar rembulan, kedua mata mereka saling mengunci.
Keangkuhan sang pemilik agen meluluh sepenuhnya, memperlihatkan rasa percaya yang mengikat mereka bukan lagi sekadar sebagai majikan dan pekerja bawahan, melainkan sebagai dua mitra yang saling melengkapi.
Madam Helga dengan cepat memalingkan wajahnya kembali, mengusap lehernya yang memerah samar seraya berdeham kaku.
"B-Bicara memang mudah, Damar," kata Madam Helga, mencoba mengembalikan ketegasan suaranya meskipun terdengar sedikit tertahan. "Kita lihat saja apakah mulut manismu itu masih berguna untuk destinasi berikutnya."
Damar tersenyum tulus, menghabiskan sisa ramuan di cangkirnya. "Setidaknya ramuan Madam enak. Bikin stamina saya balik lagi."
"Tentu saja enak. Itu dibuat dengan sihir murni," sahut Madam Helga dengan dagu terangkat tinggi, kembali ke mode gengsi tingginya. "Dan ingat, ramuan itu dipotong dari gajimu bulan ini."
"Wah, tega banget, Madam!" protes Damar tertawa kecil.
Dinamika love-hate di antara mereka kembali menyala, namun kali ini tanpa rasa curiga atau jarak yang memisahkan. Di balik adu mulut ringan itu, landasan rasa saling percaya telah tertanam kuat di antara sang pemandu dan pemilik agen abadi.
Tiiiiiiiiiinnnnn ...!
Klakson Bus 000 melengking lembut saat armada itu memasuki batas wilayah Sektor Empat—Pusat Birokrasi dan Pelabuhan Transmisi Utama Dewan Gaib.
Di tempat ini, deretan gedung tua bergaya gothic menjulang tinggi di antara kabut tebal, menjadi pusat administrasi yang mengatur ribuan jiwa yang menyeberang setiap harinya.
Namun, saat Bus 000 melambat di depan gerbang pemeriksaan dokumen, sesosok arwah berwujud pria muda berlari tergesa-gesa keluar dari arah pos pemeriksaan Dewan, dikejar oleh dua penjaga berzirah besi gaib.
Pria muda itu mengenakan pakaian kumal yang dipenuhi rantai hitam bernyala api murka—simbol dari jiwa terkutuk yang dijatuhi hukuman dibuang ke Alam Penderitaan Neraka Sektor Bawah.
"Tolong! Tolong saya!" jerit pria muda itu histeris, melemparkan tubuh gaibnya hingga menabrak kaca depan Bus 000! "Saya bukan penjahat! Ini salah! Nama saya tertukar!"
Para penjaga berzirah menghantamkan tombak mereka ke tanah, memicu gelombang kejutan yang melumpuhkan pria muda itu di atas kap bus.
"Jiwa nomor registrasi 908-B!" bentak salah satu penjaga Dewan dengan suara bergema kaku. "Kau telah terbukti melakukan kejahatan perampokan dan pembunuhan berat berdasarkan Catatan Dosa Transmisi! Kau dihukum untuk dilemparkan ke Sumur Penderitaan!"
"Bukan saya! Demi Tuhan bukan saya!" rintih pria itu histeris, air mata gaib menetes membasahi kaca bus. "Nama saya Budi Santoso! Saya cuma guru SD yang meninggal kecelakaan! Saya tidak pernah membunuh orang!"
Damar dan Madam Helga melangkah keluar dari bus secara bersamaan. Damar mendekati kap bus, memperhatikan pendar rantai hitam di tubuh Budi.
Sebagai pemandu yang semakin peka terhadap resonansi emosi, Damar tidak merasakan hawa kejahatan atau dendam dari jiwa Budi—yang ada hanyalah ketakutan murni dan rasa keputusasaan atas rasa tidak adil yang teramat sangat.
"Tunggu dulu!" seru Damar memotong penjaga Dewan. "Coba periksa lagi dokumennya! Gimana bisa seorang guru SD punya catatan pembunuhan berantai?"
Penjaga Dewan menatap Damar dengan dingin. "Dokumen Birokrasi Pusat Dewan Gaib tidak pernah salah, Manusia. Jika sistem mencatat dialah pelakunya, maka jiwanya adalah milik Alam Penderitaan."
"Tapi sistem kalian bisa keliru kalau ada kesalahan input data saat proses kematian!" bantah Damar keras, berdiri di depan jiwa Budi yang gemetaran.
Madam Helga melangkah melayang ke samping Damar, kipas sutranya terlipat kaku. Matanya menyipit menatap lambang segel di dada Budi, lalu beralih menatap para penjaga Dewan dengan pandangan tajam.
"Kesalahan identitas birokrasi pada malam konjungsi karma ...," bisik Madam Helga pelan. Ia melirik Damar. "Jika dugaanmu benar, Damar ... jiwanya telah tertukar dengan jiwa seorang penjahat sungguhan yang memiliki nama dan jam kematian yang sama di dunia."
"Kalau begitu kita harus membetulkan data ini!" tegas Damar tanpa ragu. "Kita gak bisa biarin jiwa yang gak bersalah disiksa di neraka cuma gara-gara kecerobohan data birokrasi!"
Penjaga Dewan mengarahkan tombaknya ke arah Damar. "Jangan campuri urusan Dewan, Agen Last Trip Express! Mengubah catatan jiwa yang sudah disegel adalah kejahatan tingkat tinggi!"
Damar tidak mundur. Ia menatap lurus penjaga Dewan, lalu beralih menatap Madam Helga dengan sorot mata yang penuh determinasi. "Madam ... kita harus mengusut kasus ini sampai tuntas."
Madam Helga menatap pemandu manusianya, lalu menghela napas panjang seraya menyunggingkan senyum tipis di balik kipasnya.
"Sepertinya liburan kecil kita di Sektor Empat akan melibatkan aksi pembobolan arsip, Damar."
judulnya gantii yaa 🤔
ada kesempatan ke 2 untuk menuntaskan urusan dunia
pasti tak kan ada arwah gentayangan
😂
mangkane ndak usah rahasiaan kepada keluarga pak tedjo yg belom mnjdi bejo ..krn penyesalan harta warisan yg tak sampai ke anak nya
tour kemana kita yakk
ngga ngompol di tempat
😂😂
serreemmm bgt