Indonesia
NovelToon NovelToon
Ketika Suami Pulang Bawa Mantan Istri

Ketika Suami Pulang Bawa Mantan Istri

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Penyesalan Suami
Popularitas:16.7k
Nilai: 5
Nama Author: Yam_zhie

Zivana dan Aidil sudah menikah tiga tahun. Dan saat itu Aidil adalah seorang duda anak dua, sedangkan Zivana merupakan wanita yang pernah bekerja di salah satu butik ibu Aidil. Selama pernikahan mereka, Aidil memang belum mencintai Zivana, terlebih saat itu mereka menikah karena keinginan ibu Aidil yang kasihan melihat kedua cucunya yang masih kecil. Amora yang saat itu baru berusia dua tahun dan Khaisar lima tahun.

Selama tiga tahun Zivana menjadi sosok ibu dan istri yang begitu mencintai kedua anak-anak Aidil. Namun sayangnya, Zivana belum bisa mendapatkan hati Aidil, walau pria itu selama tiga tahun selalu bersikap baik padanya. Hanya saja, selama itu pula Aidil belum berani menyentuh Zivana.

Hingga menjelang tiga tahun pernikahan mereka akhirnya Stela, mantan istri Aidil yang pernah meninggalkannya kembali. Dan berusaha merebut perhatian kedua anak dan mantan suaminya.

Apa yang akan terjadi dengan pernikahan Zivana dan Aidil? Akankah mereka bertahan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Zivana 31

Pagi di lantai sepuluh PT Mahardika Group terasa dingin dan hening. Zivana baru saja selesai menyeka meja kayu jati di ruang kerja CEO muda yang terkenal arogan, Melvin. Dengan cekatan dan tanpa suara, ia merapikan sisa kain lap dan alat pembersihnya ke dalam troli.

Saat melangkah keluar menuju koridor belakang yang sepi, ponsel di dalam saku seragam biru mudanya bergetar panjang. Zivana merogoh saku, mendapati nama pengacara yang diutus Papa Bagas terpampang di layar.

Jantungnya berdesir pelan. Ia menarik napas panjang, menetralkan gemuruh di dadanya, lalu menggeser tombol hijau.

"Halo, Assalamu'alaikum, Pak Hendra..." sapa Zivana halus seraya menyandarkan tubuhnya pada dinding koridor.

"Wa'alaikumsalam, Mbak Zivana," suara Pak Hendra, kuasa hukumnya, terdengar begitu hangat dan lega di ujung telepon.

"Saya menelepon untuk menyampaikan kabar dari pengadilan di Jakarta. Sidang putusan cerai Mbak Zivana dan Pak Aidil baru saja selesai beberapa menit yang lalu."

Zivana memejamkan mata sejenak. Tangannya meremas erat gagang troli di sebelahnya. "Bagaimana hasilnya, Pak?"

"Hakim sudah mengetuk palu, Mbak. Gugatan dikabulkan secara mutlak. Hari ini, detik ini juga, Mbak Zivana resmi bercerai dari Pak Aidil dan sah secara hukum menyandang status janda," ujar Pak Hendra mantap.

"Semua dokumen perceraian dan hak-hak Mbak Zivana sedang kami proses untuk segera dikirim."

Hening sejenak. Ada luapan emosi yang begitu asing merayapi dada Zivana. Bukan rasa sakit, bukan pula kemarahan, melainkan sebuah kebebasan luar biasa yang melonggarkan sesak yang selama dua tahun ini menghimpit napasnya. Air mata haru menetes perlahan di pipinya, namun bibirnya mengukir senyum paling lega yang pernah ia miliki.

"Alhamdulillah... Terima kasih banyak, Pak Hendra. Terima kasih atas semua bantuannya," bisik Zivana dengan suara bergetar tahan tangis.

"Sama-sama, Mbak Zivana. Oh ya, tadi Pak Aidil sempat histeris di ruang sidang," tambah Pak Hendra dengan nada bicara yang melembut.

"Beliau datang bersama wanita bernama Stela itu. Pak Aidil merengek dan meraung-raung menanyakan keberadaan Mbak, tapi sesuai pesan Mbak, kami tidak memberikan informasi sedikit pun."

Zivana mengusap air matanya dengan punggung tangan, lalu menghela napas panjang. "Biar saja, Pak. Mas Aidil sudah menentukan jalannya sendiri. Saya tidak punya urusan lagi dengan pria itu maupun wanita di sampingnya."

"Pilihan yang sangat bijak, Mbak. Selamat membuka lembaran baru. Jika ada berkas yang perlu ditandatangani, tim kami akan menghubungi lagi."

"Baik, Pak Hendra. Sekali lagi terima kasih."

Panggilan telepon berakhir. Zivana menggenggam ponselnya di dada, menengadahkan wajahnya menatap langit-langit koridor. Status janda yang kerap dipandang sebelah mata oleh masyarakat tak sedikit pun membuatnya merasa kerdil. Bagi Zivana, status baru ini adalah lambang kehormatan dan bukti keberaniannya melepaskan diri dari pengkhianatan.

"Ada apa berdiri di koridor saat jam kerja, Zivana?"

Suara berat, dingin, dan penuh nada intimidasi mendadak memecah keheningan.

Zivana terperanjat pelan. Ia berbalik cepat dan mendapati Melvin berdiri beberapa langkah di belakangnya. CEO muda itu mengenakan setelan jas hitam pas badan, bersedekap seraya menatap Zivana dengan mata elangnya yang tajam dan tak bersahabat.

Zivana dengan cepat menguasai diri, menyembunyikan sisa air mata di sudut matanya, lalu membungkuk sopan.

"Maaf, Pak Melvin. Saya baru saja menerima telepon penting dari kuasa hukum saya."

Melvin menyipitkan mata, melangkah mendekat seraya memperhatikan sorot mata Zivana yang berbeda dari biasanya, ada binar lega yang begitu kentara di sana.

"Telepon penting?" cetus Melvin dingin dengan sudut bibir terangkat sinis.

"Telepon yang membuat seorang petugas kebersihan menangis di koridor lantai pimpinan?"

Zivana menegakkan punggungnya, menatap lurus mata dingin sang CEO tanpa ada rasa gentar.

"Ini bukan air mata kesedihan, Pak Melvin," jawab Zivana tenang dan mantap.

"Ini air mata kebebasan,"

Melvin tertegun sepersekian detik. Pria dingin yang terkenal hemat kata-kata itu tak menyangka akan mendengar jawaban sejujur dan setegas itu dari seorang petugas kebersihan. Namun, bukannya melunak, Melvin kembali memasang raut kaku khas dirinya.

"Saya tidak peduli dengan masalahmu, Zivana," ujar Melvin datar, meski tatapan matanya menunjukkan rasa penasaran yang tersembunyi.

"Yang saya pedulikan adalah kinerja. Jangan biarkan urusan pribadimu mengganggu standar kebersihan di lantai saya."

"Tentu tidak, Pak Melvin," sahut Zivana mengulas senyum tipis yang penuh percaya diri.

"Ruangan Bapak sudah steril dan dokumen Bapak sudah dirapikan sesuai skala prioritas. Saya permisi melanjutkan tugas."

Zivana mendorong trolinya dengan langkah mantap dan anggun, melewati Melvin begitu saja.

Melvin berdiri mematung di koridor, membalikkan badan menatap punggung Zivana yang kian menjauh. Untuk pertama kalinya, sang CEO muda yang tak tersentuh itu merasa terhenyak oleh aura ketegaran seorang wanita berseragam biru muda yang baru saja menyambut kebebasannya.

Dua bulan berlalu terasa begitu cepa bagi Zivana, di Yogyakarta berlalu dengan ritme baru yang menenangkan. Setiap pagi, ia berkutat dengan kesibukan di lantai sepuluh PT Mahardika Group, lalu menghabiskan sore hingga malam bersama Naya di kedai kopi kecil milik sahabatnya itu.

Sore itu, di sudut kedai kopi bernuansa kayu yang hangat, Zivana sedang membantu Naya merapikan pembukuan bulanan. Jemarinya lincah menekan kalkulator dan mencatat angka-angka dengan rapi.

"Ziva, sudahlah! Kamu itu habis kerja seharian di kantor, masa di sini masih pegang pembukuan juga?" omel Naya seraya meletakkan segelas ice latte dan semangkuk camilan di meja Zivana.

Zivana mendongak, menyunggingkan senyum tulus yang sudah lama tak terlihat di wajahnya.

"Justru ini hiburan buatku, Nay. Otakku jadi terasah lagi. Lagipula, aku senang bisa bantu kamu."

Naya mendudukkan diri di hadapan Zivana, menatap sahabatnya itu lekat-lekat. "Tapi aku senang banget lihat kamu sekarang, Ziva. Senyummu beda. Lebih lepas, lebih hidup. Bebas dari si Aidil dan lampir Stela itu benar-benar keputusan terbaik dalam hidupmu."

Zivana menyeruput kafenya pelan, menikmati rasa manis dingin yang menyegarkan tenggorokannya.

"Aku merasa bernapas lagi, Nay. Rasa sesak yang dulu tiap hari menghimpit dadaku... akhirnya hilang."

Namun, di tengah tawa kecil mereka, pandangan Zivana tiba-tiba tertuju pada sepasang anak kecil, seorang anak laki-laki dan adik perempuannya yang sedang tertawa gembira menyantap es krim bersama ibunya di sudut kedai. Senyum di bibir Zivana perlahan memudar. Matanya ber-kaca-kaca.

Naya yang menyadari perubahan raut wajah sahabatnya langsung menggenggam jemari Zivana di atas meja. "Khaisar sama Amora ya?"

Zivana menarik napas panjang, menahan getaran di dadanya.

"Khaisar pasti sibuk mengajari adiknya belajar jam segini... Dan Amora, anak itu biasanya tidak mau tidur kalau tidak kuusap punggungnya, Nay. Aku cuma takut... Stela tidak memperlakukan mereka dengan baik."

"Ziva..." panggil Naya lembut.

"Kamu sudah berikan seluruh cintamu buat mereka selama dua tahun. Mereka tahu siapa ibunya yang sebenarnya. Khaisar anak yang pintar, dia pasti jaga Amora. Kamu tidak boleh terus menyiksa dirimu sendiri dengan rasa bersalah."

"Aku tahu," bisik Zivana seraya mengusap sudut matanya yang basah.

"Aku mendoakan mereka setiap sepertiga malam, Nay. Cuma itu yang bisa kubuat dari jauh."

1
Talnis Marsy
waduh ..masak sarjana mau jadi OB???
sunaryati jarum
Semoga jalanmu meniti karir terbuka dan sukses Ziva
sunaryati jarum
Selamat sudah bebas Ziva,semoga mendapatkan jodoh yang baik dan setia.Aidil segera menerima akibat dari perselingkuhannya dengan Stela.
nely_48
dr OG ganti tempat lgsg jd aspri cio 😝😝
nely_48
status baru,, nyi randa zivana nih
Oma Gavin
Alhamdulillah siva kamu bisa diangkat jadi assistent melvin biar mantan makin meradang
Muft Smoker
akhirny ziva bebas dr laki2 Medusa bin plin plan macam aidil ,,
bahagia selalu ziva ,,
urusan amora Dan khaisar tdk perlu di pikirkan ,, kalo mereka udh dewasa ,, mereka akan mencari km ,, meski km bukan ibu kandung ny ,,
tp mereka tau km tulus menyayangi Dan mengurus mereka dulu
Oma Gavin
akhirnya resmi bercerai aku masih nunggu aidil terima karna buah perbuatan lucknut nya selingkuh di kamar nya dgn stela, pasti stela sudah jadi nyonya aidil seutuhnya dan jadi ratu tinggal prentah pembantu maupun aidil
Muft Smoker
Ma, tos lami teu lieur ningali kalakuan aranjeunna... Iraha aranjeunna hirup susah pisan nepi ka aranjeunna terang rarasaan stela nona oray... Kuring masih ngarasa kawas kuring nu unggul, Ma...
Rieya Yanie
aidil kok ceo lemah trs bodoh
Juvie Ja: angkara nafsu dan cinta buta
total 1 replies
nely_48
kk outhor tlg lah jgn sampai aidil menikahi s pewangi ruangan stela ya ,, kasian anak² kena mental
papa bagas yg urus tuh s pewangi ruangan stela, buka semua borok nya k publik, bayi yg d kandung jg pat bkn bayi nya aidil kan
nely_48
sungguh parah kau aidil,, anak² jd korban
kasian khaisar n Amora jd broken home
Elina thea
katanya kalo si Aidil nikah sama si Stela dia bakal di coret dari ahli waris,tapi kenapa dia tetap punya jabatan dan kaya.
Lee Mba Young
kl melihat stela berani membentak ortu aidil kelihatan kl ortu aidil gk pegang kendali harta itu. kl ortu aidil yg pegang kekuasaan atas perusahaan mk aidil bisa di miskin kan Dan khaisar Dan amora ikut ortu aidil.
Oma Gavin
selama aidil masih kaya stela akan nempel kayak lintah harusnya aidil dimiskinkan jgn kasih jabatan dan harta lagi biar hidup sengsara berdua
Lee Mba Young: mungkin ortu aidil gk punya kuasa untuk me miskin kan aidil mkne ttp kaya aidil.
kecuali ortu masih pegang kendali semua harta aidil jd bisa di miskin kan.
total 2 replies
Lee Mba Young
jln Satu Satu nya adlh ortu aidil membuat aidil miskin. kl gk bgitu stela akn ttp bgitu kasian sih anak anaknya
Oma Gavin
udah anakmu biarkan ikut ortu mu aidil biar mental nya ngga dirusak sama stela yg katanya sambil ibu kandung yg melahirkan nya tapi ngga ada adab sama sekali, biar kamu berdua selalu honeymoon dan bahagia sebelum hartamu diambil semua sama ortu mu
sutiasih kasih
kmu itu banci kaleng aidil....
hrusnya tegas saat stella datang .... tiba" mngusik keluargamu...
bukan mlah ngasih tempat & mmbuka pintu krusakan lebar"
sutiasih kasih
ank"mu sja tau mna yg baik dan mna yg buruk aidil.....
kmunya aja yg suka trgoda nafsu setan🙄🙄
sutiasih kasih
yakin itu ankmu aidil😅😅
gmn lgi ya..... kmunya hobi asal main celup sih... jdi g salah lah klo km di jdikn tumbal ayah pengganti anknya stella
🤣🤣🤣🤣
Oma Gavin: wkwkwk karena aidil bodoh goblok mudah dikadalin jadi dimanfaatkan
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!