Zivana dan Aidil sudah menikah tiga tahun. Dan saat itu Aidil adalah seorang duda anak dua, sedangkan Zivana merupakan wanita yang pernah bekerja di salah satu butik ibu Aidil. Selama pernikahan mereka, Aidil memang belum mencintai Zivana, terlebih saat itu mereka menikah karena keinginan ibu Aidil yang kasihan melihat kedua cucunya yang masih kecil. Amora yang saat itu baru berusia dua tahun dan Khaisar lima tahun.
Selama tiga tahun Zivana menjadi sosok ibu dan istri yang begitu mencintai kedua anak-anak Aidil. Namun sayangnya, Zivana belum bisa mendapatkan hati Aidil, walau pria itu selama tiga tahun selalu bersikap baik padanya. Hanya saja, selama itu pula Aidil belum berani menyentuh Zivana.
Hingga menjelang tiga tahun pernikahan mereka akhirnya Stela, mantan istri Aidil yang pernah meninggalkannya kembali. Dan berusaha merebut perhatian kedua anak dan mantan suaminya.
Apa yang akan terjadi dengan pernikahan Zivana dan Aidil? Akankah mereka bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Zivana 31
Pagi di lantai sepuluh PT Mahardika Group terasa dingin dan hening. Zivana baru saja selesai menyeka meja kayu jati di ruang kerja CEO muda yang terkenal arogan, Melvin. Dengan cekatan dan tanpa suara, ia merapikan sisa kain lap dan alat pembersihnya ke dalam troli.
Saat melangkah keluar menuju koridor belakang yang sepi, ponsel di dalam saku seragam biru mudanya bergetar panjang. Zivana merogoh saku, mendapati nama pengacara yang diutus Papa Bagas terpampang di layar.
Jantungnya berdesir pelan. Ia menarik napas panjang, menetralkan gemuruh di dadanya, lalu menggeser tombol hijau.
"Halo, Assalamu'alaikum, Pak Hendra..." sapa Zivana halus seraya menyandarkan tubuhnya pada dinding koridor.
"Wa'alaikumsalam, Mbak Zivana," suara Pak Hendra, kuasa hukumnya, terdengar begitu hangat dan lega di ujung telepon.
"Saya menelepon untuk menyampaikan kabar dari pengadilan di Jakarta. Sidang putusan cerai Mbak Zivana dan Pak Aidil baru saja selesai beberapa menit yang lalu."
Zivana memejamkan mata sejenak. Tangannya meremas erat gagang troli di sebelahnya. "Bagaimana hasilnya, Pak?"
"Hakim sudah mengetuk palu, Mbak. Gugatan dikabulkan secara mutlak. Hari ini, detik ini juga, Mbak Zivana resmi bercerai dari Pak Aidil dan sah secara hukum menyandang status janda," ujar Pak Hendra mantap.
"Semua dokumen perceraian dan hak-hak Mbak Zivana sedang kami proses untuk segera dikirim."
Hening sejenak. Ada luapan emosi yang begitu asing merayapi dada Zivana. Bukan rasa sakit, bukan pula kemarahan, melainkan sebuah kebebasan luar biasa yang melonggarkan sesak yang selama dua tahun ini menghimpit napasnya. Air mata haru menetes perlahan di pipinya, namun bibirnya mengukir senyum paling lega yang pernah ia miliki.
"Alhamdulillah... Terima kasih banyak, Pak Hendra. Terima kasih atas semua bantuannya," bisik Zivana dengan suara bergetar tahan tangis.
"Sama-sama, Mbak Zivana. Oh ya, tadi Pak Aidil sempat histeris di ruang sidang," tambah Pak Hendra dengan nada bicara yang melembut.
"Beliau datang bersama wanita bernama Stela itu. Pak Aidil merengek dan meraung-raung menanyakan keberadaan Mbak, tapi sesuai pesan Mbak, kami tidak memberikan informasi sedikit pun."
Zivana mengusap air matanya dengan punggung tangan, lalu menghela napas panjang. "Biar saja, Pak. Mas Aidil sudah menentukan jalannya sendiri. Saya tidak punya urusan lagi dengan pria itu maupun wanita di sampingnya."
"Pilihan yang sangat bijak, Mbak. Selamat membuka lembaran baru. Jika ada berkas yang perlu ditandatangani, tim kami akan menghubungi lagi."
"Baik, Pak Hendra. Sekali lagi terima kasih."
Panggilan telepon berakhir. Zivana menggenggam ponselnya di dada, menengadahkan wajahnya menatap langit-langit koridor. Status janda yang kerap dipandang sebelah mata oleh masyarakat tak sedikit pun membuatnya merasa kerdil. Bagi Zivana, status baru ini adalah lambang kehormatan dan bukti keberaniannya melepaskan diri dari pengkhianatan.
"Ada apa berdiri di koridor saat jam kerja, Zivana?"
Suara berat, dingin, dan penuh nada intimidasi mendadak memecah keheningan.
Zivana terperanjat pelan. Ia berbalik cepat dan mendapati Melvin berdiri beberapa langkah di belakangnya. CEO muda itu mengenakan setelan jas hitam pas badan, bersedekap seraya menatap Zivana dengan mata elangnya yang tajam dan tak bersahabat.
Zivana dengan cepat menguasai diri, menyembunyikan sisa air mata di sudut matanya, lalu membungkuk sopan.
"Maaf, Pak Melvin. Saya baru saja menerima telepon penting dari kuasa hukum saya."
Melvin menyipitkan mata, melangkah mendekat seraya memperhatikan sorot mata Zivana yang berbeda dari biasanya, ada binar lega yang begitu kentara di sana.
"Telepon penting?" cetus Melvin dingin dengan sudut bibir terangkat sinis.
"Telepon yang membuat seorang petugas kebersihan menangis di koridor lantai pimpinan?"
Zivana menegakkan punggungnya, menatap lurus mata dingin sang CEO tanpa ada rasa gentar.
"Ini bukan air mata kesedihan, Pak Melvin," jawab Zivana tenang dan mantap.
"Ini air mata kebebasan,"
Melvin tertegun sepersekian detik. Pria dingin yang terkenal hemat kata-kata itu tak menyangka akan mendengar jawaban sejujur dan setegas itu dari seorang petugas kebersihan. Namun, bukannya melunak, Melvin kembali memasang raut kaku khas dirinya.
"Saya tidak peduli dengan masalahmu, Zivana," ujar Melvin datar, meski tatapan matanya menunjukkan rasa penasaran yang tersembunyi.
"Yang saya pedulikan adalah kinerja. Jangan biarkan urusan pribadimu mengganggu standar kebersihan di lantai saya."
"Tentu tidak, Pak Melvin," sahut Zivana mengulas senyum tipis yang penuh percaya diri.
"Ruangan Bapak sudah steril dan dokumen Bapak sudah dirapikan sesuai skala prioritas. Saya permisi melanjutkan tugas."
Zivana mendorong trolinya dengan langkah mantap dan anggun, melewati Melvin begitu saja.
Melvin berdiri mematung di koridor, membalikkan badan menatap punggung Zivana yang kian menjauh. Untuk pertama kalinya, sang CEO muda yang tak tersentuh itu merasa terhenyak oleh aura ketegaran seorang wanita berseragam biru muda yang baru saja menyambut kebebasannya.
Dua bulan berlalu terasa begitu cepa bagi Zivana, di Yogyakarta berlalu dengan ritme baru yang menenangkan. Setiap pagi, ia berkutat dengan kesibukan di lantai sepuluh PT Mahardika Group, lalu menghabiskan sore hingga malam bersama Naya di kedai kopi kecil milik sahabatnya itu.
Sore itu, di sudut kedai kopi bernuansa kayu yang hangat, Zivana sedang membantu Naya merapikan pembukuan bulanan. Jemarinya lincah menekan kalkulator dan mencatat angka-angka dengan rapi.
"Ziva, sudahlah! Kamu itu habis kerja seharian di kantor, masa di sini masih pegang pembukuan juga?" omel Naya seraya meletakkan segelas ice latte dan semangkuk camilan di meja Zivana.
Zivana mendongak, menyunggingkan senyum tulus yang sudah lama tak terlihat di wajahnya.
"Justru ini hiburan buatku, Nay. Otakku jadi terasah lagi. Lagipula, aku senang bisa bantu kamu."
Naya mendudukkan diri di hadapan Zivana, menatap sahabatnya itu lekat-lekat. "Tapi aku senang banget lihat kamu sekarang, Ziva. Senyummu beda. Lebih lepas, lebih hidup. Bebas dari si Aidil dan lampir Stela itu benar-benar keputusan terbaik dalam hidupmu."
Zivana menyeruput kafenya pelan, menikmati rasa manis dingin yang menyegarkan tenggorokannya.
"Aku merasa bernapas lagi, Nay. Rasa sesak yang dulu tiap hari menghimpit dadaku... akhirnya hilang."
Namun, di tengah tawa kecil mereka, pandangan Zivana tiba-tiba tertuju pada sepasang anak kecil, seorang anak laki-laki dan adik perempuannya yang sedang tertawa gembira menyantap es krim bersama ibunya di sudut kedai. Senyum di bibir Zivana perlahan memudar. Matanya ber-kaca-kaca.
Naya yang menyadari perubahan raut wajah sahabatnya langsung menggenggam jemari Zivana di atas meja. "Khaisar sama Amora ya?"
Zivana menarik napas panjang, menahan getaran di dadanya.
"Khaisar pasti sibuk mengajari adiknya belajar jam segini... Dan Amora, anak itu biasanya tidak mau tidur kalau tidak kuusap punggungnya, Nay. Aku cuma takut... Stela tidak memperlakukan mereka dengan baik."
"Ziva..." panggil Naya lembut.
"Kamu sudah berikan seluruh cintamu buat mereka selama dua tahun. Mereka tahu siapa ibunya yang sebenarnya. Khaisar anak yang pintar, dia pasti jaga Amora. Kamu tidak boleh terus menyiksa dirimu sendiri dengan rasa bersalah."
"Aku tahu," bisik Zivana seraya mengusap sudut matanya yang basah.
"Aku mendoakan mereka setiap sepertiga malam, Nay. Cuma itu yang bisa kubuat dari jauh."
bahagia selalu ziva ,,
urusan amora Dan khaisar tdk perlu di pikirkan ,, kalo mereka udh dewasa ,, mereka akan mencari km ,, meski km bukan ibu kandung ny ,,
tp mereka tau km tulus menyayangi Dan mengurus mereka dulu
papa bagas yg urus tuh s pewangi ruangan stela, buka semua borok nya k publik, bayi yg d kandung jg pat bkn bayi nya aidil kan
kasian khaisar n Amora jd broken home
hrusnya tegas saat stella datang .... tiba" mngusik keluargamu...
bukan mlah ngasih tempat & mmbuka pintu krusakan lebar"
kmunya aja yg suka trgoda nafsu setan🙄🙄
gmn lgi ya..... kmunya hobi asal main celup sih... jdi g salah lah klo km di jdikn tumbal ayah pengganti anknya stella
🤣🤣🤣🤣