Indonesia
NovelToon NovelToon
KISAH CINTA YANG BERACUN

KISAH CINTA YANG BERACUN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Obsesi / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Park ha

`KISAH CINTA YANG BERACUN`

Mereka kembar identik.
Tapi hidup mereka tidak pernah sama.

Lea Anggita. Ceria, pemberani, agak ceroboh. Tumbuh berkecukupan di luar negeri bersama ibunya.

Alia Anggita. Pintar, berprestasi, pendiam. Tumbuh dalam kesederhanaan bersama neneknya setelah ayah mereka meninggal.

Satu-satunya yang menyatukan mereka: pesan tiap malam.

Sampai suatu hari, pesan dari Alia berubah.
`Aku malu, Lea. Aku nggak mau sekolah lagi.`

Pria yang Alia cintai... ternyata hanya mempermainkannya.
Menjadikannya bahan taruhan.
Dan mempermalukannya di depan satu sekolah.

Nama pria itu: *Teo Ozawa*.
PENGUASA SMA OZAWA.
TIRAN YANG SEHARUSNYA DIHINDARI, BUKAN DICINTAI.

Dan Lea tidak terima.
Jika kakaknya tidak bisa membela diri...
Maka Lea yang akan datang.
Menyamar jadi Alia.
Dan membuat Teo Ozawa membayarnya.

Masalahnya...
Bagaimana jika tiran itu... mulai jatuh cinta pada "Alia" yang baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Park ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 33_Perang Dingin dan Bayangan Sang Tiran

...BAB 33_Perang Dingin dan Bayangan Sang Tiran...

Jauh dari kemewahan penthouse megah milik Julian Edgar—di mana Lea tengah dikurung mati-matian di bawah pengawasan mutlak sang milyarder—suasana yang jauh lebih gelap, tebal, dan penuh kecurigaan justru menyelimuti kamar tidur pribadi bernuansa modern minimalis milik Teo Ozawa.

Di balik meja belajar kayu mahoni impor yang luas dan tertata sangat rapi khas seorang anak muda dari kalangan elit terpandang, Teo duduk merosot di kursi kebesarannya.

Wajah remaja kelas 3 SMA itu tampak amat kusut. Garis-garis kelelahan dan kantung mata hitam tercetak jelas di sekitar manik matanya, akibat begadang semalaman suntuk tanpa memejamkan mata barang sekejap pun.

Di hadapannya, sebuah laptop gaming berspesifikasi tinggi menyala terang, memancarkan cahaya biru ke wajahnya yang pucat. Layar itu menampilkan beberapa dokumen digital rahasia perusahaan keluarganya—Ozawa Corp—yang telah diakses secara ilegal dan disalin secara diam-diam oleh pihak yang hingga kini masih misterius.

Pikiran remaja itu terusik hebat, seakan berada di ambang batas kewarasannya di tengah kesibukannya yang padat menghadapi persiapan ujian akhir sekolah.

Dua hari lalu, di sebuah kafe eksklusif bernuansa klasik, matanya menangkap sebuah pemandangan yang sukses membalikkan seluruh dunianya dalam hitungan detik.

Ingatan itu kembali berputar ke belakang, menghantam batin Teo tanpa ampun.

Di balik dinding kaca kafe tersebut, ia melihat sosok gadis berwajah Alia—gadis yang selama ini ia yakini sebagai siswi beasiswa yang hancur berkeping-keping karena taruhan kotor dan perundungan yang ia ciptakan sendiri—tengah berdiri berdampingan, bermesraan, bahkan berciuman mesra dengan seorang pria asing berambut pirang.

Yang lebih membuatnya tidak masuk akal, gadis berwajah Alia itu mengenakan gaun malam hitam elegan dengan rambut tergerai indah, sangat kontras dengan penampilan dan sikap angkuh yang ditunjukkannya saat berdiri menantang di koridor sekolah.

Belum habis rasa terkejut, rasa tidak percaya, dan amarah cemburu yang membakar dada remajanya kala itu, hasil penyelidikan mendalam dari orang kepercayaan keluarganya datang menghantam telak sisa-sisa kesadarannya.

Teo mendapati sebuah fakta mengejutkan yang membuat darahnya mendadak membeku: Alia yang asli ternyata telah lama mendekam di bangsal isolasi rumah sakit jiwa sejak dua bulan lalu, mengalami depresi berat yang akut akibat perundungan brutal yang ia rancang sendiri bersama teman-teman seangkatannya.

Fakta itu membuat darah Teo mendadak mendidih hebat, bercampur dengan teror dingin yang menjalar di tulang belakangnya.

Jika Alia yang asli sudah dua bulan terkunci di bangsal rumah sakit jiwa, lalu siapa sebenarnya gadis berwajah Alia yang selama ini tetap masuk ke sekolah, menatapnya dengan sorot mata penuh kebencian yang membakar, dan berhasil mempermainkan emosinya hingga membuat jantungnya berdegup aneh?

Pertanyaan itu berputar liar, menghantam dinding-dinding kepalanya tanpa henti. Bayangan kejadian di kafe dua hari lalu kembali melintas tajam, berpadu dengan kenyataan baru bahwa ia telah dibohongi mentah-mentah oleh identitas palsu yang digunakan oleh gadis itu.

Di dalam kepala Teo, kepingan teka-teki itu langsung tersambung secara mutlak.

Pria berambut pirang yang bermesraan dengan wanita berwajah Alia di kafe itu tidak lain dan tidak bukan adalah Julian Edgar. Bagi Teo, pria dingin, asing, dan berbahaya yang mampu mencium wanita itu dengan begitu berkuasa di tempat umum pastilah si milyarder kejam Julian Edgar—pria yang selama ini terbukti bergerak di balik layar melindungi identitas wanita berwajah Alia tersebut untuk mempermainkannya.

Ponsel mewah merek ternama yang tergeletak di atas meja mendadak berdering nyaring, memecah keheningan kamar yang remang-remang dan membuyarkan lamunan kelam Teo.

Remaja itu langsung menyergap ponsel tersebut dengan gerakan kasar, menggesek layar sentuhnya tanpa ragu untuk mengangkat panggilan dari orang kepercayaan keluarganya. Suasana di ujung sambungan terasa tegang, mencerminkan betapa berbahayanya informasi yang akan disampaikan.

`"Bagaimana? Apa petunjuk soal keberadaan gadis penyamar itu sudah ketemu? Di mana dia sekarang?"` tanya Teo langsung tanpa basa-basi, suaranya terdengar serak, dingin, dan penuh tekanan otoriter yang mutlak.

Di ujung telepon, helaan napas panjang terdengar berat sebelum akhirnya suara sang penyelidik menjawab dengan nada ragu-ragu.

`“Kami sedang melacak pergerakannya ke segala penjuru kota, Tuan Muda Teo... Tapi, jejak digital gadis itu dibersihkan secara sangat bersih oleh sistem pertahanan tingkat militer. Kami kesulitan menembusnya.”`

Rahang Teo mengeras seketika, buku-buku jarinya memutih karena mencengkeram ponsel terlalu erat.

`"Jangan cari alasan! Cari sampai dapat!"`

`“Tunggu, Tuan Muda... ada hal lain yang jauh lebih mencurigakan dan berbahaya,”` potong orang kepercayaan itu dengan nada panik tertahan. `“Sistem keamanan siber kita mendeteksi ada pihak ketiga yang bergerak di balik layar untuk menutupi seluruh identitas gadis itu.”`

Mendengar hal tersebut semakin mempertegas asumsinya, napas Teo seketika tertahan di tenggorokan. Wajah remajanya yang pucat pasi semakin kehilangan sisa-sisa warnanya, namun sepersekian detik kemudian, ekspresi itu berubah drastis.

Alih-alih ketakutan, rahang Teo justru semakin mengetat, membentuk garis tegas yang sangat kaku di wajahnya. Sudut bibirnya terangkat perlahan, membentuk sebuah senyuman sinis, miring, dan penuh dengan arogansi khas seorang penguasa muda.

Sebagai pewaris tunggal kekaisaran bisnis keluarga Ozawa yang memegang pengaruh besar di dunia pendidikan dan komersial, serta dikenal sebagai seorang tiran tanpa ampun di lingkungan sekolahnya, Teo sama sekali tidak memiliki kamus kata 'takut' di dalam hidupnya.

Bagi seorang Teo Ozawa, ancaman sebesar apa pun tidak akan pernah mampu melunturkan harga dirinya, bahkan jika ancaman itu datang dari seorang milyarder global sekalipun.

`Julian Edgar...` batin Teo bergemuruh, kilat matanya memancarkan amarah murni yang membara. `Jadi, pria berambut pirang yang mencium wanita berwajah Alia di kafe itu benar-benar Julian Edgar. Pria itulah yang melindungi identitas wanita itu.`

Kemarahan yang tadinya berpusat pada rasa cemburu dan tertipu kini bertransformasi menjadi adrenalin murni yang memacu detak jantungnya berkali-kali lipat.

Teo merasa harga dirinya diinjak-injak secara terang-terangan. Selama ini, ia adalah predator puncak di rantai makanan sekolahnya; tidak ada seorang pun yang bisa merebut kendali darinya, apalagi mempermainkannya seperti anak kecil bersama seorang milyarder.

`"Julian Edgar..."` bisik Teo pelan di dalam kamar yang sunyi, menyebut nama itu bagaikan sebuah kutukan yang mematikan. Suaranya terdengar sangat rendah, namun penuh dengan gelombang ancaman yang mengerikan.

Remaja itu mematikan sambungan telepon secara sepihak tanpa menunggu jawaban lebih lanjut dari anak buahnya. Ia melemparkan ponsel tersebut ke atas meja hingga bergeser jauh menabrak tumpukan buku.

Teo bangkit berdiri dari kursi kebesarannya dengan gerakan penuh amarah. Langkah kakinya yang berat membawanya mendekati jendela kaca besar yang memperlihatkan pemandangan kota metropolitan di malam hari yang berkilauan oleh lampu-lampu gedung.

Pikiran Teo bekerja sangat cepat, merajut setiap kepingan teka-teki yang berserakan selama dua bulan terakhir.

Pantas saja wanita berwajah Alia itu bersikap sangat berbeda dari Alia yang asli. Pantas saja sorot matanya begitu tajam, dingin, penuh teka-teki, dan sama sekali tidak gentar saat berhadapan langsung dengan terornya di sekolah.

Wanita itu bukan siswi lemah yang bisa dihancurkan dengan mudah; dia adalah pion berdarah dingin yang dilindungi oleh Julian Edgar.

Namun, alih-alih merasa gentar, sudut mata Teo justru menyipit tajam penuh tantangan. Pertandingan baru saja dimulai, dan skala permainannya kini telah meluas melampaui tembok-tembok sekolah menengah atas tempat ia berkuasa.

`"Kau pikir kau bisa menyembunyikannya dariku, Julian?"` gumam Teo pada pantulan wajahnya sendiri di kaca jendela, seringai sinis kembali terukir jelas di bibirnya.

`"Kau boleh melindungi wanita penipumu itu di istana emasmu. Kau boleh menjadi pria berambut pirang yang memeluknya di kafe itu. Tapi kau lupa satu hal..."`

Teo mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya bergemeretak keras. Tekad gelap terpancar jelas dari manik matanya yang menghitam di balik temaram lampu kamar.

`"...di wilayah ini, di bawah kekuasaanku, tidak ada seorang pun yang bisa mempermainkan seorang Teo Ozawa dan lolos begitu saja. Aku akan membongkar kedok wanita itu, merobek topeng identitasnya, dan akan ku pastikan gadis penipu itu bertekuk lutut dihadapanku dan memohon ampun."`

Malam itu, di dalam kamar mewahnya, Teo Ozawa mendeklarasikan perang secara sepihak.

Sebuah perang besar yang melibatkan obsesi, dendam kesumat, cemburu buta pada pria berambut pirang yang diyakininya sebagai Julian Edgar, serta benturan dua kekuatan besar yang siap menghancurkan apa saja yang menghalangi jalan mereka—termasuk nasib seorang gadis malang bernama Lea yang kini tengah terkunci rapat di dalam sangkar emas milik sang monster.

1
falea sezi
lanjut
falea sezi
suka cwek badasss gini
Park ha: ini versi kebalikannya kinara wkwkkw... kinara sana rian dah mau tamat
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!