Indonesia
NovelToon NovelToon
Kontrak Naga

Kontrak Naga

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Akademi Sihir / Epik Petualangan
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: aisy hilyah

Seorang gadis tanpa bakat.
Menjadi aib bagi sebuah keluarga sihir api yang berkuasa.
Sebuah pengkhianatan yang menjatuhkannya ke jurang maut.

Tapi di kegelapan jurang, takdir memilihnya.
Kontrak dengan naga kuno mengubahnya menjadi wadah dari seluruh elemen.

Dari sampah keluarga ... menjadi ancaman bagi dunia.
Dari yang dibuang ... menjadi yang ditakuti.

Ini kisah tentang kebangkitan.
Ini kisah tentang KONTRAK NAGA.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aisy hilyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

31 Gencatan Senjata

Asap hitam tipis masih mengepul dari puing-puing pilar batu yang hancur di sekitar mereka. Pertempuran besar sebelumnya telah meninggalkan kawah raksasa di tengah kuil kuno itu.

Tanah di bawah kaki mereka terasa dingin, sangat kontras dengan hawa panas sisa sihir yang baru saja mereda. Mereka semua kelelahan. Jubah sihir mereka pun robek, wajah penuh coretan abu, dan darah kering menempel di pelipis.

Elio menunduk, memegangi lengannya yang terluka parah.

"Aku salah ...." Suaranya lirih terbawa angin yang menyelinap masuk lewat celah kecil di dinding kuil.

Sang Putra Jenius dari kerajaan Cahaya Langit itu biasanya selalu berdiri tegak, angkuh, dan sombong. Kini, dia terlihat seperti prajurit kalah perang yang kehilangan arah.

Kalimat pengakuan salahnya tadi terdengar seperti hantaman keras bagi harga dirinya yang setinggi langit. Bagi seorang Elio, mengakui kesalahan di depan para saingannya adalah hal yang paling mematikan.

"Tidak apa-apa. Setiap orang pernah melakukan kesalahan," sahut Rayn sembari menepuk pundaknya.

Darian, di sisi lain, masih mencoba mempertahankan dinding pertahanannya yang kokoh.

"Ck. Menyebalkan!" dengusnya kesal.

Dia menolak menatap Elio secara langsung karena gengsi. Jari-jarinya yang sekokoh tanah dan terdapat banyak goresan, terus mengetuk-ngetuk permukaan lantai batu kuil kuno tersebut.

Kemarahannya bukan lagi kepada Eliya dan rekan-rekannya, melainkan kepada kenyataan pahit bahwa dia harus duduk bersama orang-orang yang biasanya dia anggap sebagai saingan berat demi bisa bertahan hidup. Juga yang dia anggap sebagai penyihir palsu.

"Aku hanya ingin mengatakan, selamat datang di perkumpulan kami! Elio, sang jenius Cahaya dari kerajaan Cahaya Langit dan Darian, sang jenius tanah dari kerajaan Venthora," ujar Rayn ramah, dia tertawa.

Rayn adalah satu-satunya yang membawa sedikit sisa kewarasan dan humor di tempat kuno itu. Tawa renyahnya tadi sempat memecah ketegangan, walau sudut bibirnya sendiri robek dan berdarah akibat serangan Elio.

Dia menyandarkan punggungnya pada bongkahan marmer yang pecah. Rayn meluruskan kakinya yang panjang dengan santai, seolah-olah mereka sedang berada di kedai minum yang hangat, bukan di tengah reruntuhan kuil yang hancur berantakan.

"Jadi, kau yang menaklukan jantung tanah itu?" tanya Darian malu-malu menetap Eliya.

Gadis itu memperlihatkan pergelangan tangannya, tepatnya pada tanda mahkota tanah yang terbentuk di sana.

"Saat itu, Kael juga ada di sana," ucap Eliya seraya menarik kembali tangannya setelah Darian melihat dengan teliti, tapi belum sempat menyentuhnya.

Tanda itu terlihat nyata.

Kael, Putra Jenius keempat yang sejak tadi memilih diam di sudut bayangan gelap. Dia sibuk membersihkan belati kembarnya dengan ujung kain jubahnya yang masih bersih. Matanya yang setajam elang terus mengawasi kegelapan di luar reruntuhan, selalu waspada terhadap ancaman yang bisa datang kapan saja tanpa peringatan.

"Ya, aku telah mencoba sebanyak tiga kali. Tapi selalu gagal. Sedangkan Eliya, langsung berhasil dalam satu kali percobaan," jawab Kael teringat akan kejadian waktu itu.

"Kau tahu, aku juga sudah mencobanya. Bukan hanya aku, para penyihir lain, dan juga para tetua pernah mencobanya. Tapi, kami semua gagal. Jantung tanah itu yang menjadikan Venthora incaran dari penyihir gelap. Sekarang, sepertinya sudah aman," ucap Darian menurunkan gengsinya.

Darian tersenyum kecut, semua mata berpaling padanya secara refleks. Tak menyangka sang jenius penyihir tanah pun tak mampu menaklukan jantung tanah itu.

"Jadi .... saat ini kita musuh ... atau teman?" Elio bertanya sembari menatap mereka semua.

Tak ada yang menjawab, Eliya menatap langit. Sesuatu bersinar di sana. Sebuah cahaya gelap yang seolah-olah memanggilnya untuk mendekat.

"Teman ... tapi, hanya untuk sementara. Sampai Iblis itu mati," jawab Darian membuat suasana kembali menegang.

"Benua Nocthus sudah bergerak," katanya lagi. "Desa-desa mulai hilang." Ia mengakhiri kalimat itu dengan helaan napas yang panjang.

Kesunyian mencekam kembali turun setelah Darian menyebutkan tentang Benua Nocthus. Kata "Iblis" seolah memiliki berat fisik yang nyata, menekan dada mereka masing-masing hingga sulit bernapas.

Makhluk jahat yang mereka sebut Penguasa Kegelapan bukan lagi sekadar dongeng pengantar tidur untuk menakut-nakuti anak kecil di desa. Dia nyata. Dia telah bangun dari tidur panjangnya. Dan sekarang, dia sedang menelan dunia mereka sepotong demi sepotong.

"Bagaimana mungkin sebuah desa besar bisa hilang tanpa jejak dalam semalam?" tanya Rayn. Tawanya yang santai kini sepenuhnya lenyap dari wajahnya, digantikan oleh tatapan serius yang menuntut jawaban logis dari Darian.

"Bukan hanya hilang secara fisik, Rayn," jawab Darian dengan suara rendah yang bergetar karena amarah dan ketakutan yang terpendam.

"Tanahnya berubah menjadi abu hitam pekat. Semua makhluk hidup di dalamnya menguap begitu saja. Anggota pasukanku yang berpatroli di perbatasan hanya menemukan kawah kosong raksasa yang memancarkan bau busuk belerang dan hawa kematian. Tidak ada korban selamat. Bahkan tidak ada satu pun mayat yang tersisa," lanjutnya.

Elio tiba-tiba mengangkat kepalanya. Matanya memancarkan kengerian yang mendalam.

"Sihir pemakan jiwa. Itu adalah teknik terlarang kuno dari era pertama yang seharusnya sudah dimusnahkan oleh para dewa. Jika Iblis itu sudah menguasai sihir tingkat tinggi seperti itu, pasukan aliansi kerajaan kita tidak akan pernah punya peluang untuk menang," ujar Elio tegang.

Eliya mengepalkan tangan erat-erat di atas lutut hingga buku-buku jarinya memutih. Rasa bersalah mulai merayap di dalam hatinya.

"Kita tidak bisa bertarung sendirian lagi," katanya tegas, memecah keputusasaan yang mulai menyelimuti kelompok itu.

Eliya memandang wajah mereka satu per satu di bawah temaram cahaya malam.

"Empat kerajaan besar selalu bertengkar egois memperebutkan wilayah dan pengaruh selama ratusan tahun. Lihat ke mana hal bodoh itu membawa kita sekarang? Kita terpecah-belah di saat musuh terbesar kita bersatu untuk memusnahkan kita," ucap Eliya membuat mereka membuang muka karena malu.

Kael berdiri dan berjalan keluar dari kegelapan sudut reruntuhan. Kaki-kakinya melangkah tanpa suara. Suaranya terdengar dingin, tapi penuh penekanan yang mutlak.

"Dia benar. Gencatan senjata ini bukan lagi sebuah pilihan yang bisa diperdebatkan. Ini adalah satu-satunya cara yang tersisa agar kita semua bisa melihat matahari terbit setiap hari," katanya melirik Eliya.

Darian mendengus kasar, yang dikatakan Kael.

"Hanya sampai Iblis itu mati. Setelah makhluk itu hancur, kita kembali menjadi saingan seperti semula." Darian tetap pada pendiriannya.

"Kesepakatan yang adil," ujar Elio sambil memaksakan dirinya berdiri dengan sisa-sisa tenaga yang dia miliki. Dia mengulurkan tangannya yang sedikit gemetar ke tengah-tengah lingkaran itu.

Rayn langsung bangkit berdiri tanpa ragu dan meletakkan telapak tangannya di atas tangan Elio.

"Mari kita buat sejarah baru, atau mati bersama saat mencobanya," ucap Rayn penuh tekad.

Kael muncul sepenuhnya dari bayangan, menaruh tangannya di atas tumpukan batu usang tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Matanya setajam elang saat bersitatap denan Darian.

Darian menghela napas panjang, meruntuhkan egonya yang setinggi gunung sebelum akhirnya menyatukan telapak tangannya yang besar di atas tangan mereka.

Eliya yang terakhir meletakkan tangan di puncak tumpukan tangan itu. Saat lima telapak tangan mereka saling bersentuhan, sebuah getaran energi hangat yang aneh terasa mengalir ke dalam tubuh mereka masing-masing.

Di atas sana, Bintang ke-7 di langit malam memancarkan cahaya samar yang, seolah-olah alam semesta sedang memberikan restu atas aliansi mustahil yang baru saja lahir di atas puing-puing kehancuran kuil.

Mereka tahu betul jalan di depan akan sangat gelap dan penuh darah. Kepercayaan di antara mereka berlima masih sangat tipis, setipis lapisan es di awal musim dingin.

Namun malam itu, di bawah saksi bintang yang bersinar terang, musuh-musuh bebuyutan telah meletakkan senjata mereka untuk menghadapi kegelapan yang sama. Gencatan senjata telah resmi dimulai.

1
beybi T.Halim
kok yaa kasihan,kan ada 4 kerajaan apakah tak ikut bertempur?? atau malah sdh mati semua🙈
Aisy Hilyah: nah itu, udah ngilang semua itu
total 1 replies
beybi T.Halim
ceritanya sungguh bagus,sepanjang episode nahan nafas terus,karakter eliya sang badai benar2 tangguh,kuat dan tentunya ada sisi melow nya ,dikelilingi pangeran tampan dari 4 kerajaan, tak sabar untuk episode berikutnya👍👍👍👍👍semangat
Aisy Hilyah: terimakasih banyak 😍😍
total 1 replies
beybi T.Halim
keren👍
Aisy Hilyah: terimakasih banyak
total 1 replies
Pena Quality
nice
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!