Disebuah kerajaan bulan yang dihuni ribuan manusia Srigala. Disaat gerhana bulan merah, permaisuri Lira baru saja melahirkan seorang anak perempuan yang cantik namun tidak memiliki aura Srigala yang membuat sang Raja Argan harus membunuh anak kandungnya sendiri karena dianggap aib.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chinta Maulana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 006: Terungkapnya Kebenaran
Langkah Elara mantap melangkah masuk ke tengah arena, berhadapan dengan Gorah yang menatapnya dengan senyum meremehkan.
"Sepertinya tak ada lagi laki-laki yang berani maju, sampai-sampai wanita lemah sepertimu yang harus turun menghadapiku," ucap Gorah dengan nada penuh angkuh.
"Apakah kau sebenarnya takut sekadar berhadapan dengan seorang wanita?" tantang Elara balik.
Gorah tertawa keras memecah keheningan. "Ha ha ha! Tak mungkin aku gentar menghadapi gadis kecil sepertimu."
Pertarungan pun segera dimulai. Namun ternyata kemampuan Elara masih jauh tertinggal. Hanya dengan tiga kali serangan terarah, tubuhnya sudah ambruk jatuh tak berdaya.
"Itu saja kemampuan yang ,kau miliki?" ejek Gorah dingin.
"Ja... jangan berbangga dulu, aku belum menyerah!" Elara berusaha keras bangkit kembali, lalu seketika berubah wujud menjadi sosok srigala putih. Namun tak butuh waktu lama, satu hantaman kuat dari Gorah langsung melemparnya hingga terjatuh jauh, kembali ke wujud semula dan tak sadarkan diri.
"Elara! Nak, bangunlah... jangan buat Ibu takut!" Sari berlari mendekat sambil memeluk erat kepala putrinya dengan air mata yang mengalir deras.
"Apakah ini putri yang selama ini kau bangga-banggakan, Raja Argan? Ternyata dia sama sekali tak berguna," ucap Gorah lantang menantang.
Tangan Raja Argan terkepal erat hingga urat-uratnya tampak menonjol, berusaha sekuat tenaga menahan amarah yang meluap.
"Bahkan penerusmu pun tak memiliki kemampuan sedikit pun," lanjut Gorah semakin berani menghina.
"Dasar kalian semua sungguh tak berguna!" maki Argan tak sanggup lagi menahan kemarahannya.
"Siapa lagi yang berani melawanku? Jika tak ada, Kerajaan Bulan Perak akan menjadi milik Tuanku Drakar!" seru Gorah.
Di sudut tempatnya berdiri, hati Lira bergetar hebat. "Takkan kubiarkan kerajaan ini jatuh ke tangan orang jahat. Kelak yang memimpin di sini pastilah putriku sendiri. Aku yakin sepenuhnya, dia masih hidup di luar sana," batinnya penuh keyakinan.
Tiba-tiba Lira melangkah masuk ke tengah lapangan. "Akulah yang akan melawanmu. Takkan kubiarkan Kerajaan Bulan Perak jatuh ke tanganmu!" suaranya terdengar lemah namun penuh ketegasan. "Ketahuilah, akulah Ratu sah Kerajaan Bulan Perak. Wanita yang berdiri di samping Raja itu hanya wanita simpanan hasil perselingkuhannya!"
Seraphina tersentak kaget. Selama ini wanita yang dia kira hanya seorang budak ternyata adalah Ratu yang sebenarnya.
"Jadi... Wanita itu... Ratu yang sebenarnya?" Batin Seraphina.
"Aku tak peduli apa jabatannmu dulu. Sekarang kau hanya wanita tua lemah yang tak memiliki kekuatan apa pun," ucap Gorah tak terkesan.
"Mungkin saat ini aku memang lemah. Tapi aku akan berjuang mempertahankan kerajaan bulan perak. Demi putriku," batin Lira sambil bersiap menghadapi bahaya.
Tanpa memiliki kekuatan, Lira sama sekali tak sebanding dengan kekuatan Gorah. Berkali-kali tubuhnya terpental hantaman hingga akhirnya terkapar tak sanggup bangkit.
"Sudah kubilang kan? Kau tak sebanding denganku, kau hanya wanita tua yang lemah tak memiliki kemampuan apapun!" Gorah tersenyum jahat lalu berubah wujud menjadi srigala raksasa, siap menerkam nyawa Lira seketika itu juga.
Tepat saat itulah, seuntai kalung di leher Lira berkilau terkena sinar bulan.
Seraphina berdiri terpaku di tepi arena, matanya membelalak tak percaya:
"Itu... Kalung itu... Sama persis dengan milikku!"
Tanpa berpikir dua kali, ia melesat secepat kilat ke tengah arena, menangkap kuat kaki besar Gorah, lalu melemparkannya hingga terpental jauh menabrak pagar pembatas.
"Tak ada yang boleh menyakitinya," ucap Seraphina dingin namun berwibawa.
"Ha, datang lagi gadis kecil yang berani menantangku. Dan kau pun tak memiliki wujud srigala," ucap Gorah bangkit sambil menatapnya remeh.
Seraphina tak membalas, melainkan terlebih dahulu membantu Lira berdiri dan menuntunnya menjauh ke sisi aman arena. Barulah ia menoleh kembali menatap lawannya.
"Jangan pernah meremehkan musuhmu, Gorah," ucap Seraphina santai namun membuat siapa pun merinding mendengarnya.