Sebagian besar cerita berdasarkan kisah nyata.
(SERI KE 6 DARI UNIVERSE NOVEL TIRAKAT)
Perjalanan hidup seorang lelaki bernama Zaki tak semulus dan semudah kelihatannya. Semenjak kematian kedua orang tua kandungnya, Zaki menjalani kehidupan yang cukup berat. Dirinya haru melanjutkan hidup sebagai seorang lelaki yang normal. Namun di sisi lain, dirinya juga hidup dalam TIRAKAT yang tak biasa. Sampai akhirnya takdir membawanya berjumpa dengan tambatan sejati hatinya.
Bagaimana kisah hidup Zaki?
Dan siapakah tambatan hati Zaki yang sejati itu?
SELAMAT MEMBACA...
🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
.
.
.
DISCLAIMER‼️
Apabila ada kesamaan nama tokoh, latar tempat, agama, ritual, budaya, dan laku tirakat tertentu dengan para pembaca sekalian, harap dimaklumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27 GENGGAMAN PERTAMA PENUH CINTA
Hiruk-pikuk pasar malam perlahan tertinggal di belakang punggung mereka. Deru mesin diesel yang bising dan dentuman musik dangdut koplo yang memekakkan telinga kian sayup-sayup, tergantikan oleh paduan suara jangkrik dan kodok yang kembali mengambil alih panggung malam pedesaan.
Jam di pergelangan tangan Zaki sudah menunjuk ke angka sebelas malam. Udara pegunungan yang berhembus turun dari kaki bukit terasa jauh lebih dingin dari biasanya, menyusup ke sela-sela serat pakaian dan mengelus permukaan kulit dengan hawa yang menggigit.
Jalanan tanah berbatu yang membelah desa itu tampak sepi. Hanya ada satu dua warga yang berjalan jauh di depan mereka, sama-sama sedang melangkah pulang sehabis menikmati hiburan tahunan tersebut.
Cahaya penerangan hanya mengandalkan bohlam-bohlam kuning lima watt yang terpasang di depan teras rumah warga yang jaraknya saling berjauhan, diselingi oleh bayangan-bayangan panjang dari pohon bambu yang bergoyang tertiup angin.
Zaki berjalan berdampingan dengan Wiwi. Jarak di antara tubuh mereka tak lebih dari satu jengkal. Sesekali, bahu mereka bersentuhan ketika harus menghindari kubangan air sisa gerimis sore tadi.
Setiap kali sentuhan kecil itu terjadi, Zaki bisa merasakan aliran listrik statis yang membuat darahnya berdesir lebih cepat.
Tiba-tiba, jalanan di depan mereka berbelok menembus area kebun bambu yang tak memiliki penerangan sama sekali. Gelap gulita.
Hanya sinar rembulan di balik awan tipis malam yang sesekali mengintip dari celah dedaunan rimbun yang menjadi pemandu langkah.
Di tengah kegelapan itu, tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Zaki menggeser punggung tangannya, mencari keberadaan tangan Wiwi.
Begitu kulit kasar dan kepalannya menyentuh punggung tangan gadis itu yang dingin, Zaki tak ragu lagi. Ia membuka telapak tangannya dan menyelinapkan jari-jarinya ke sela-sela jemari lentik Wiwi, menggenggamnya dengan sangat erat dan mantap.
Wiwi tersentak pelan. Langkah gadis itu sempat tertahan selama sepersekian detik.
Di bawah bayang-bayang pohon bambu, Zaki tak bisa melihat jelas wajah Wiwi, namun ia bisa membayangkan dengan pasti betapa pekatnya rona merah yang kini membakar kedua pipi gadis desa tersebut.
Napas Wiwi terdengar sedikit tertahan, namun sedetik kemudian, ia membalas genggaman tangan pemuda itu tak kalah eratnya.
"Jalannya gelap, Dek. Takut ada batu atau lubang, nanti Dek Wiwi kesandung," bisik Zaki memecah keheningan, memberikan alasan klise yang sebenarnya sama sekali tidak diperlukan.
.....
.....
((Maaf, saya sebagai penulis menyelipkan narasi cringe di tengah BAB begini... Saking nggak tahannya melihat kelakuan Zaki... Rasanya kalau saya ikut berjalan di belakang Zaki dan Wiwi, pengen banget rasanya lari kencang, terus nendang punggung Zaki dari belakang. Sambil bilang ke dia, "HALAAAHHH!!! BISA AJA MODUS LO, BAAANG!!!" 🤣🤣🤣🤣🤣))
.....
.....
"Inggih, Mas..." balas Wiwi dengan suara yang nyaris menyerupai hembusan angin.
Mereka kembali melangkah, menembus lorong bambu yang gelap itu dengan tangan yang saling bertaut.
Genggaman tangan itu bukanlah genggaman biasa. Bagi Zaki, ada sebuah transfer energi yang luar biasa dahsyat sedang terjadi.
Kehangatan dari telapak tangan Wiwi seolah menjalar naik melewati lengannya, membanjiri rongga dadanya, dan membungkus hatinya dengan sebuah lapisan kedamaian yang tak tertembus. Genggaman ini terasa sangat membumi, sangat nyata, dan sangat manusiawi.
Pikiran Zaki mendadak memutar kembali memori-memorinya di masa lalu. Ia teringat betapa dingin dan sepinya tangan ini saat ia berjalan sendirian menyusuri trotoar Jakarta di bawah guyuran hujan.
Ia teringat bagaimana tangannya ini pernah bergetar hebat saat menahan ketakutan luar biasa menghadapi teror dimensi astral. Dan ia teringat... bagaimana tangannya ini pernah menarik Nisa agar tak tertinggal kereta api.
Nisa.
Nama itu kembali terlintas sejenak, namun kali ini, tak ada getaran apa pun yang menyertainya.
Wajah Nisa yang kini sudah benar-benar buram di kepalanya hanya numpang lewat bagaikan debu yang tertiup angin. Zaki menyadari dengan kesadaran penuh bahwa genggaman tangannya pada Nisa saat itu murni karena insting perlindungan yang dipaksakan oleh energi Sekar Mayang dan Dayang Putri.
Tidak ada cinta di sana. Tidak ada getaran asmara.
Murni hanya sebuah benang merah telepati gaib yang kini telah ia putus dan ia buang jauh-jauh.
Sedangkan genggamannya saat ini...
Genggamannya pada tangan Dek Wiwi...
Adalah murni pilihan hatinya sebagai seorang laki-laki yang merdeka.
"Mas Zaki..." panggil Wiwi memecah lamunan panjangnya, saat mereka telah melewati area kebun bambu dan kembali memasuki area yang sedikit terang.
"Iya, Dek?" Zaki menoleh, menatap profil samping wajah gadis yang kini tersenyum simpul itu.
"Matur nuwun nggih, Mas. Kulo seneng sanget dalu niki. Sampun dangu kulo mboten ningali layar tancep kalih maem arum manis," (Terima kasih ya, Mas. Saya senang sekali malam ini. Sudah lama saya tidak melihat layar tancap sambil makan arum manis,) ucap Wiwi tulus.
Matanya Wiwi berbinar memantulkan cahaya dari lampu teras rumah warga di kejauhan.
Zaki menghentikan langkahnya, yang otomatis membuat langkah Wiwi ikut terhenti. Ia memutar tubuhnya agar berhadapan langsung dengan gadis itu, meski tangan mereka masih saling menggenggam erat.
"Saya yang harusnya bilang makasih, Dek. Makasih karena Dek Wiwi udah mau nemenin saya," Zaki menarik napas panjang,
mengumpulkan segenap keberaniannya. Ia menatap lurus ke dalam bola mata bening di hadapannya. "Malam ini... adalah malam paling tenang dan paling bahagia dalam hidup saya. Dan itu semua karena ada Dek Wiwi di samping saya."
Wiwi menundukkan wajahnya, tak sanggup menahan tatapan intens dari pemuda ibu kota yang kini telah menjelma menjadi petani kopi tangguh itu. Jantungnya berdegup dengan ritme yang menggila.
"Dek Wiwi percaya sama takdir?" tanya Zaki tiba-tiba, suaranya memberat.
Wiwi kembali mengangkat wajahnya perlahan, mengangguk kecil.
"Inggih, Mas. Sedoyo ingkang wonten ing donya niki sampun ginaris dening Gusti," (Iya, Mas. Semua yang ada di dunia ini sudah digariskan oleh Tuhan).
"Dulu, saya sempat benci sama yang namanya takdir," Zaki tersenyum getir, mengingat ramalan masa depannya yang selalu disetir oleh bangsa lelembut perewangannya yang bernama Sekar Mayang.
"Saya pikir takdir itu kejam. Memaksa saya masuk ke jalan yang nggak saya mau. Tapi malam ini... di sini, sambil genggam tangan Dek Wiwi... saya sadar, kalau semua penderitaan dan kebingungan saya di masa lalu itu ternyata cuma cara Tuhan buat nuntun langkah saya pulang ke desa ini."
Zaki mengangkat tangan Wiwi yang digenggamnya, menempelkan punggung tangan gadis itu ke dadanya sendiri, tepat di atas letak jantungnya berdetak.
"Untuk ketemu sama takdir saya yang sebenarnya... Yaitu kamu, Dek Wiwi..."
Mata Wiwi seketika berkaca-kaca mendengar pengakuan yang begitu jujur, dalam, dan tanpa basa-basi itu. Ia tak sanggup merangkai kata balasan. Tenggorokannya tercekat oleh rasa haru yang luar biasa. Ia hanya bisa membalasnya dengan sebuah senyuman yang teramat manis dan sebuah anggukan pelan, membiarkan jemarinya terus dihangatkan oleh degup jantung Zaki.
Di bawah saksi bisu keheningan malam pedesaan, di atas jalanan tanah berbatu, dua anak manusia itu saling meresmikan tautan hati mereka.
Zaki telah sepenuhnya menutup pintu masa lalunya...
Membuang jauh-jauh bayangan Nisa beserta bisikan dunia astralnya...
Dan melangkah mantap menuju masa depan yang murni bersama Wiwi.
Zaky ke jakarta bwt menghapus trauma masa lalu.
Dan Yuli ke kota udang bwt memupuk dendam.
aku yg tau kota itu, msh suka kaget klo ngomong sama orang sana, intonasi nya tinggi trs klo ngomong
Jangan jangan Yuli turun mobil nya di terminal harjamukti.
Selamat Datang di Cirebon Yuli.
semangat yul💪💪
seperti itu ya orang klo udah ketutup dendam. sumpah serapah nya ngerii
yuli juga jngn terlalu menjudge zaky biar gimana pun zaky juga yg paling sangat terluka dan trauma, Zaky udah kna Karma nya. jangan ditambah lgi dgn saksi kmu yull
( duhh aku komen apa sihh) next aja ya