Hujan yang Tak Pernah Reda
Delapan tahun Kirana pergi tanpa kabar. Kini ia pulang saat Bapak sekarat, hanya untuk menemukan rahasia keluarga yang selama ini disembunyikan—rahasia yang jadi alasan sesungguhnya ia dulu memilih pergi. Antara cinta lama yang bersemi kembali dan kebenaran yang bisa menghancurkan keluarganya, Kirana harus memilih: lari lagi, atau bertahan menghadapi badai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rico Warsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: Bersatu di Tengah Badai
Ibu mendengarkan cerita Kirana dan Sari dengan wajah yang semakin pucat. Mereka duduk berkumpul di ruang tunggu keluarga, Denis ikut bergabung setelah Sari menjelaskan situasi singkat padanya.
"Ratna," Ibu menghela napas berat begitu mendengar nama itu. "Aku seharusnya menduga dia akan bergerak cepat."
"Jadi Ibu memang mengenalnya?" tanya Kirana.
"Dia adik tiri kakekmu," jelas Ibu. "Sudah lama berselisih dengan Bapakmu soal pembagian warisan perusahaan sejak kakekmu meninggal. Bapakmu yang mewarisi kendali penuh karena dianggap paling kompeten menjalankan bisnis, sementara Ratna merasa berhak atas bagian yang lebih besar."
"Dan sekarang, dengan kondisi Bapak seperti ini, dia melihat kesempatan," sambung Sari, nada suaranya penuh kekhawatiran.
Denis, yang sejak tadi diam mendengarkan, akhirnya angkat bicara. "Maaf, mungkin aku tidak berhak ikut campur soal ini, tapi... apa ada semacam surat wasiat atau dokumen resmi soal siapa yang akan mengambil alih perusahaan jika terjadi sesuatu pada Bapak?"
Pertanyaan itu membuat semua orang terdiam. Ibu tampak berpikir keras.
"Setahuku, Bapakmu punya surat wasiat," Ibu akhirnya menjawab pelan. "Tapi aku tidak tahu detailnya. Dia selalu bilang akan menjelaskan semuanya 'pada waktunya', tapi waktu itu tidak pernah benar-benar datang."
Kirana merasakan ironi pahit dalam kalimat itu—pola yang sama, kebiasaan menunda kebenaran yang sepertinya mengakar dalam diri Bapak, entah soal Denis, soal perusahaan, atau mungkin rahasia-rahasia lain yang belum mereka ketahui.
"Kita perlu mencari surat itu," kata Sari, kembali mengambil kendali situasi dengan caranya yang biasa tenang dan terorganisir. "Kalau Ratna benar-benar berniat mengambil alih, kita butuh bukti yang jelas soal apa yang sebenarnya Bapak inginkan."
"Aku menemukan beberapa dokumen di ruang kerja Bapak tadi pagi," Kirana teringat surat-surat yang ia masukkan ke dalam tasnya. Ia mengeluarkannya, menyerahkan pada Sari dan Ibu untuk diperiksa bersama.
Sari membaca surat dari notaris dengan seksama, alisnya berkerut semakin dalam. "Pertemuan soal pembagian saham ini dijadwalkan minggu depan. Kita harus hadir, mewakili kepentingan Bapak, sebelum Ratna sempat mengambil langkah sepihak."
"Aku akan ikut," Denis menawarkan diri, meski nadanya ragu. "Kalau kalian mengizinkan. Aku tahu ini bukan posisiku untuk ikut campur urusan keluarga, tapi aku juga tidak ingin diam saja melihat warisan Bapak diambil orang lain."
Kirana menatap Denis, merasakan sesuatu yang berbeda dari pertemuan pertama mereka semalam. Pria ini, meski baru saja masuk ke dalam hidup mereka secara terbuka, menunjukkan kepedulian yang tulus—bukan pada harta atau kepentingan pribadi, melainkan pada keluarga yang selama ini menolaknya secara terbuka.
"Kau berhak ikut," kata Kirana akhirnya, mengejutkan dirinya sendiri dengan seberapa yakin ia mengucapkannya. "Kau bagian dari keluarga ini juga, Denis. Terlepas dari bagaimana rumitnya semua ini bermula."
Sari mengangguk setuju, dan bahkan Ibu, meski masih terlihat berat mengakuinya, tidak membantah.
Untuk pertama kalinya, mereka berempat—Ibu, Sari, Kirana, dan Denis—duduk bersama bukan sebagai orang-orang yang terpecah oleh rahasia dan kebohongan, melainkan sebagai satu kesatuan yang bersiap menghadapi ancaman dari luar.
"Kita akan hadapi Ratna bersama," kata Ibu, suaranya kini terdengar lebih mantap, seolah menemukan kembali kekuatan yang sempat hilang. "Sebagai keluarga. Keluarga yang utuh, apa pun kompleksitasnya."
Di kejauhan, melalui jendela ruang tunggu, Kirana bisa melihat langit sore yang mulai gelap, tanda hujan akan kembali turun. Namun kali ini, entah kenapa, ia tidak merasa takut menghadapinya. Ada kekuatan baru yang tumbuh dari kebersamaan yang baru saja terbentuk—kekuatan yang mungkin akan mereka butuhkan untuk menghadapi apa pun yang akan datang, baik dari operasi Bapak esok hari, maupun dari ancaman Ratna yang mengintai di baliknya.