Indonesia
NovelToon NovelToon
AMIRA MENANTU TERBUANG

AMIRA MENANTU TERBUANG

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: santi damayanti

Dua tahun menikah
berpisah setelah akad bahkan belum pernah malam pertama
amira menunggu dengan sabar
mengabdi kepada keluarga suami
tapi setelah dua tahun berpisah
kata yang pertama dari suaminya adam "Amira aku akan menikah lagi"
bagaimana kelanjutannya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 19 ga ada yang peduli

Di ruang kerjanya yang baru, Adam duduk dengan wajah sangat kusut. Keantusiasannya mendadak sirna begitu keluar dari ruangan HRD. Dari berkas perjanjian kerja, ia baru menyadari bahwa gaji pokoknya hanya 20 juta rupiah. Jika ditambah tunjangan dan lembur yang dimaksimalkan, paling banyak ia hanya mengantongi 25 juta rupiah per bulan. Itu pun jika ada lembur. Sebagai pegawai kantoran di divisi manajemen, peluang mendapat uang lembur sangat kecil—berbeda dengan karyawan bagian produksi.

"Ya bagaimana lagi, Mas... Di kawasan industri ini, gaji segitu sudah tergolong lumayan tinggi," ujar Alya mencoba menenangkan seraya melirik Adam. "Gaji kamu besar waktu di Jepang kan karena UMR di sana dihitung per jam dan kursnya tinggi. Kamu tahu sendiri kondisi di negara kita."

"Tapi waktu di Jepang, gajiku bisa mencapai 45 juta per bulan!" keluh Adam menopang dahi. "Di sini, seorang lulusan Magister hanya dihargai 25 juta. Ditambah tunjangan paling cuma dapat 28 juta... Bagaimana ini?"

Alya mendengus pelan. "Ya terus mau bagaimana lagi? Apa kamu mau kembali lagi ke Jepang? Kamu tidak bisa balik ke sana lho, Mas. Kontrakmu 3 tahun dan kamu mengundurkan diri sebelum waktunya."

"Itu kan karena kamu yang mendesak ingin pulang ke Indonesia, Alya!" sahut Adam mulai tersulut emosi.

"Jadi sekarang kamu menyalahkan aku?!" balas Alya merengut kesal.

"Ya... bukan begitu," nada suara Adam melemah. "Tapi kalau gajiku sekecil ini, bisa-bisa aku dimusuhi oleh saudara-saudaraku."

"Mas, kamu itu sudah dewasa! Saudara-saudaramu juga sudah pada dewasa!" tegur Alya tajam. "Jangan biarkan dirimu terus-terusan jadi mesin ATM mereka, Mas! Mereka harus belajar mandiri!"

Adam menatap Alya lurus-lurus. 'Harusnya kamu mengatakan hal yang sama pada keluargamu sendiri waktu kita di Jepang dulu, Al...' batin Adam pahit.

Adam ingat betul, selama di Jepang, Alya selalu menangis dan mengeluh bahwa ia adalah tulang punggung keluarga. Alya selalu beralasan keluarganya di Indonesia kelaparan hingga Adam tergerak untuk terus menanggung biaya hidup keluarga Alya.

"Kamu kok jadi perhitungan sekali denganku, Mas? Aku tidak pernah memaksa kamu lho waktu itu," ucap Alya mulai terisak, menyeka matanya yang mulai basah.

Melihat Alya menangis, ketegasan Adam langsung luntur. "Maafkan aku, sayang... Aku hanya kaget dan kecewa dengan keputusan gajiku sendiri."

"Sudahlah, Mas. Nanti kita gabungkan saja gajiku dan gajimu... kan sama saja hasilnya," ucap Alya mengubah nada suaranya menjadi sok nasionalis dan penuh pemahaman. "Lagipula biaya hidup di sini tidak semahal di Jepang. Kamu juga bisa lebih dekat dengan keluarga. Sekecil apa pun gajinya, kita harus bersyukur dengan standar UMR di negara kita."

"Baiklah kalau begitu... Aku berharap kamu juga bisa membantu keuangan keluargaku nanti," sahut Adam melegakan napas.

'Membantu keluarga rakusmu itu? Dalam mimpimu, Mas!' dengus Alya dalam hati dengan senyum sinis.

Namun di permukaan, Alya tersenyum manis. "Tentu, Mas. Aku akan bantu semampuku."

"Terima kasih ya, sayang."

KRRRINGG!

Ponsel Adam di atas meja berdering nyaring. Nama ibunya tertera di layar. Adam mengangkat panggilan itu dengan malas, namun sedetik kemudian wajahnya seketika menegang.

"Ya, Bu! Aku akan ke sana sekarang!" seru Adam panik lalu mematikan telepon.

"Ada apa, Mas?" tanya Alya heran.

"Sonia di kantor polisi! Katanya dia merusak mobil orang!"

"Astaga, anak itu..." Alya menepuk jidatnya, lalu menahan lengan Adam. "Tapi Mas, ini hari pertama kita masuk kerja. Mana bisa kita main keluar begitu saja? Tunggu satu jam lagi lah, Mas."

"Tapi Sonia itu adikku, Alya!"

"Mas, kakaknya Sonia bukan cuma kamu. Ada Mbak Mila dan Mas Ridwan! Hari pertama kerja masa kita langsung bolos atau pulang cepat? Nanti citra kita jelek di depan bos. Kita tunggu satu jam lagi ya?"

Adam menghela napas berat. Dengan hati gusar dan tak tenang, ia kembali duduk menatap layar monitornya.

Sementara itu di tempat lain, Mirna terus mencoba menghubungi anak-anaknya yang lain dengan tangan gemetar. Ia menelpon Ridwan.

"Bu, ini masih jam kerja!" keluh Ridwan dari seberang telepon. "Lagipula nanti sore aku ada rapat RW, Bu."

"Kamu kira urusan RW lebih penting dari adikmu sendiri?!" bentak Mirna emosi. "Ibu tidak mau tahu, pokoknya kamu harus datang! Kalau tidak bisa, suruh Lusi ke sini menemani Ibu!"

"Lusi sibuk, Bu. Dia lagi ada janji ketemu investor," tolak Ridwan beralasan.

"Ya sudah, Ibu tunggu kamu di sini!" seru Mirna mematikan telepon secara sepihak. Dadanya sesak mendapati anak laki-laki tertuanya begitu sulit dimintai bantuan.

Tak mau menyerah, Mirna menelpon Mila.

"Bu! Si Sonia itu apa-apaan sih?! Bikin malu keluarga saja! Sudah, biarkan saja dia di penjara biar kapok!" sembur Mila langsung begitu mengangkat telepon.

"Dasar anak gila! Dia itu adik kandungmu!"

"Aku sibuk, Bu! Pelangganku lagi banyak di salon!"

"Bukannya kemarin kamu bilang usahamu sedang sepi?!" potong Mirna tajam. "Baiklah kalau begitu, bulan depan kamu bayar penuh cicilan rumah ya!"

"Kok gitu sih, Bu?! Tidak bisa dong! Mas Adam kan janji mau bayar setengahnya!" protest Mila tak terima.

"Usahamu lagi maju dan kamu punya uang, jadi kamu yang harus bayar!"

"Gak mau, Bu!"

"Kalau kamu tidak mau datang sekarang, Ibu akan menelpon Doni biar dia yang menyuruhmu ke sini!" ancam Mirna memanggil nama suami Mila.

"Jangan, Bu!" seru Mila panik. "Y-ya sudah! Aku ke sana sekarang!"

Di ruang tunggu kantor polisi, suasana terasa sangat tegang. Mirna duduk berhadapan dengan Amira dan Rika. Amira dan Rika duduk santai dan tenang, sementara Mirna terus menatap Amira dengan tatapan menghunus tajam.

"Kamu sudah dua tahun hidup menumpang di rumahku, Amira! Setidaknya kamu harus ingat budi!" gertak Mirna kasar. "Sekarang cepat bebaskan Sonia!"

"Siapa yang bilang aku berniat memenjarakan Sonia, Bu?" sahut Amira sangat tenang.

"Lalu kenapa anakku dibawa ke kantor polisi?!"

"Dia sudah merusak mobil baru milikku. Tentu saja dia harus bertanggung jawab dan mengganti rugi," jawab Amira datar.

"Halah! Uang untuk beli mobil itu pasti uang Adam yang kamu gelapkan kan?!" tuduh Mirna menunjuk muka Amira.

Amira bersedekap dada. "Ini kantor polisi, Bu. Kalau Ibu terus menuduhku tanpa dasar, aku bisa membuat laporan baru atas tuduhan fitnah detik ini juga. Atau kalau Ibu yakin, silakan laporkan aku... tapi tentu saja harus membawa bukti sah."

Mirna menggertakkan giginya rapat-rapat. Ia bungkam karena sadar dirinya sama sekali tidak punya bukti.

"Tapi dari mana kamu punya uang sebanyak itu untuk mengkredit mobil?!" cerceca Mirna masih penasaran. "Kamu itu cuma janda tanpa pekerjaan jelas, beraninya mengkredit mobil mahal!"

"Aku membelinya secara tunai, Bu. Tidak kredit," potong Amira singkat.

"Tidak masuk akal!" sanggah Mirna tak percaya.

"Ibu saja yang kurang jeli," timpal Rika dengan nada mengejek. "Amira itu pemilik Restoran AR. Ibu tahu AR itu kepanjangan dari apa? AR itu Amira & Rika! Rika itu aku! Jadi restoran besar itu milik kami berdua. Ya... 70 persen modalnya memang dari Amira sih, tapi karena aku sahabatnya, dia pakai nama kita berdua."

Mirna melotot. "Omong kosong!"

"Bukan omong kosong. Silakan Ibu cek sendiri ke dinas perindustrian dan perdagangan, restoran itu terdaftar atas nama siapa," tantang Rika bangga. "Dan asal Ibu tahu ya, Amira bukan cuma punya restoran, dia juga punya beberapa unit kontrakan!"

"Aku tidak percaya!" sanggah Mirna keras kepala.

"Sudahlah, Rika. Tidak perlu memamerkan kekayaanku, mereka juga tidak akan percaya," potong Amira menenangkan sahabatnya.

Amira kemudian melirik jam tangannya. "Ngomong-ngomong, sudah hampir dua jam kita menunggu di sini... Di mana anak-anak Ibu yang lain? Apakah mereka sama sekali tidak peduli pada nasib Sonia?"

Mirna melirik ponselnya dengan raut wajah kusam dan jengkel. Kantor polisi ini berada di pusat kota dan sangat mudah diakses. Harusnya dalam waktu 15 menit anak-anaknya sudah sampai. Namun ini sudah dua jam berlalu dan tak satu pun dari mereka yang menampakkan batang hidungnya.

Sonia yang meringkuk di dalam sel tahanan sementara mendengarkan percakapan itu dengan rasa panas di dadanya. Ia sangat kesal pada Amira, namun rasa kecewa pada kakak-kakaknya jauh lebih menyakitkan.

Sonia teringat, ini bukan pertama kalinya ia berurusan dengan polisi. Dulu sewaktu kuliah, ia pernah terlibat keributan dengan teman kampusnya hingga dibawa ke kantor polisi. Waktu itu, Sonia menelpon Amira. Hanya dalam waktu kurang dari 15 menit, Amira langsung datang pasang badan. Amira bernegosiasi dengan pihak lawan hingga Sonia bisa bebas begitu saja tanpa masalah.

Namun kali ini? Kakak-kakak kandungnya sendiri tak kunjung datang membelanya. Dari tadi, ibunya pun hanya bisa mengomel tanpa memberikan solusi nyata.

Rika menatap Sonia dari balik teralis besi dengan pandangan prihatin yang menyindir. "Kasihan sekali kamu, Sonia... Kalau tidak ada keluarga yang mau pasang badan membela kamu, harusnya dari dulu kamu belajar jadi anak yang baik."

"DIAM KAMU!" bentak Sonia histeris membuang muka.

1
sunaryati jarum
Semoga keluarga Amira
sunaryati jarum
Mulai jadi pemuas sang penguasa,Sonia
sunaryati jarum
O mau jadi wanita simpanan ,Sonia.Tapi Yamamoto tak akan pernah menyentuh Amira
@Mita🥰
wiiiih mungkin kakak nya Amira
@Mita🥰
pasti anak buah kakek Amira yang bikin unggah an Amira hilang
YuWie
anak siapakah kamu amir
sunaryati jarum
Mungkin kau putri pebisnis besar yang diculik dan ditinggalkan di panti asuhan
YuWie
rung sadar kan..malah tambah dodro..alias tambah kebangetan niat jahatnya
YuWie
benar kata pak polisi..bertele tele
Suanti
sonia tak pernah kapok klu kejadian lgi sm amira jgn mau pki jln damai jeblos kan aja ke penjara biar kapok 🤭
sunaryati jarum
Keluarga pak Diki tidak waras semua kecuali Pak Diki
@Mita🥰
ealah ..alah bukan nya sadar malah makin menjadi
@Mita🥰
🤣🤣🤣🤣🤣🤣 nah sekarang tahu kan
Suanti
sdh lah amira jeblos kan aja sonia ke penjara byk btl cerita keluarga mantan mu yg toxin 🤣🤣
Suanti
beri hukuman setimpal amira jangan mau jln damai biar kan aja di penjara biar tau rasa mantan keluarga toxin 🤭🤣
YuWie
Luar biasa
santi damayanti: terimakasih kaka
total 1 replies
YuWie
bacottt..ciatt..tendang aja al
YuWie
ngerti anak yatim piatu malah diperas.. situ waras
Suanti
jgn2 pria tua itu bpk nya amira atau kakek nya, amira 🤣🤣
Suanti
dasar keluarga toxin selalu salah kan amira 🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!