Celine butuh 200 juta untuk operasi ibunya. Dengan sisa harga diri, ia datang untuk memohon pada kekasihnya, Jason. Namun yang ia temukan justru Jason sedang meniduri wanita lain di atas meja kerjanya.
Saat dunia Celine runtuh, Damian Salvatore datang. Raja mafia yang satu tatapannya bisa membuat orang lumpuh ketakutan.
"Jadilah milikku. Teman ranjangku. Dan aku akan memberikan ibumu dokter terbaik." ~ Damian.
Celine mengira itu neraka. Padahal itu baru awal. Karena bagi Damian Salvatore, apa yang sudah ia klaim, tidak akan pernah ia lepaskan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 8 : Topeng dan keingkaran.
Matteo langsung berdiri, berjalan cepat meninggalkan meja kerjanya saat melihat istrinya melangkah masuk dengan wajah memerah penuh kemarahan. Langkahnya terhenti tepat di hadapan wanita itu, pandangannya segera menangkap segala kegelisahan yang tersirat di wajah cantik namun penuh amarah itu.
"Valen..." panggilnya pelan, namun Valentina tak membiarkannya menyambung kalimat.
"Kau tahu, Matteo?!" suaranya meninggi, bergetar tak sabar. "Pagi ini aku baru saja dari Mansion Salvatore! Dan Kak Damian... Kak Damian sendiri yang mengakuinya! Dia sudah menikah diam‑diam dengan wanita bernama Celine!"
Matteo menyimak setiap kata istrinya dengan saksama, wajahnya perlahan berubah serius. Ia terdiam sejenak, pikirannya berputar cepat menyusun segala kemungkinan dan konsekuensi besar yang kini terbuka.
"Menikah..." gumamnya pelan, lebih kepada dirinya sendiri. Lalu pandangannya kembali tajam menatap Valentina. "Valen, dengarkan aku baik‑baik. Kalau Kak Damian sudah menikah dan kelak wanita itu melahirkan anak untuknya..."
Ia berhenti sejenak, membiarkan kata‑katanya meresap dalam keheningan yang mendadak terasa berat.
"...maka secara otomatis seluruh harta, jaringan bisnis bawah tanah, serta kekuasaan besar keluarga Salvatore semuanya akan jatuh ke tangan keturunannya kelak. Bukan ke kita."
Valentina terkejut. Kepalanya menoleh cepat ke arah Matteo, matanya melebar tak percaya.
"Tunggu... apa maksudmu, Matteo?!" suaranya bergetar, antara marah dan takut.
Matteo segera mengangkat kedua tangannya, nada suaranya dilembutkan. Ia tidak mau Valentina salah paham duluan.
"Tidak, amore. Bukan begitu," bisiknya cepat. "Aku tidak menginginkan apa pun yang bukan hakku. Sumpah."
Ia menghela napas panjang, lalu mendekatkan dirinya sedikit, suaranya kini lebih lembut namun tetap tegas. "Aku hanya tidak ingin Kak Damian salah memilih wanita. Wanita yang kelak akan menjadi ibu dari penerus nama besar Salvatore di jaringan bawah tanah. Kalau salah langkah, semuanya bisa hancur."
Valentina terdiam, kemarahannya perlahan meredup tergantikan kekhawatiran yang baru. Ia menatap suaminya ragu, mulai menyadari bahwa di balik segala kekhawatiran Matteo, ada resiko yang jauh lebih besar daripada sekedar cemburu atau persaingan biasa.
"Tapi..." gumamnya pelan. "Wanita itu... siapa dia sebenarnya?"
Matteo mengerutkan kening, pikirannya berputar cepat menyusun rencana.
"Siapa dia, dari mana asalnya, apa yang dia ketahui... dan alasan sebenarnya sampai Kakakmu bersedia menikahinya begitu cepat," ucapnya rendah, matanya menatap tajam seakan jawaban itu ada di hadapannya. "Damian bukan orang yang akan menyerahkan hidupnya begitu saja pada sembarang orang. Pasti ada sesuatu."
Valentina menyilangkan tangan di dada, bibirnya masih terkatup rapat tak puas. "Dia terlihat biasa saja, Matteo. Tidak ada apa‑apanya dibanding wanita-wanita yang pernah kita pilihkan untuk Kakak. Aku tidak percaya Kak Damian jatuh cinta begitu cepat."
Matteo mendekat, meletakkan kedua tangannya di bahu istrinya dengan lembut namun serius.
"Itulah sebabnya aku khawatir, Valen. Kalau bukan karena cinta... berarti ada sesuatu yang lain di balik ini semua. Entah kesepakatan, hutang, atau tekanan yang kita belum tahu. Ingat, Valen... satu kesalahan kecil bisa mengguncang seluruh fondasi kekuasaan yang sudah dibangun bertahun‑tahun ini."
Ia menatap lurus ke mata istrinya.
"Kau harus buat Kakakmu mau melepaskannya dan menikah dengan wanita yang kita pilihkan. Atau apa yang seharusnya menjadi hakmu akan direbut oleh wanita itu, Valen."
Valentina menatap Matteo lekat‑lekat, suaranya bergetar ragu namun penuh kecemasan.
"Jadi... kau mau aku mengusir Celine?"
Matteo mengusap lembut pipi istrinya, jempolnya menyeka sisa air mata yang hampir jatuh. Tatapannya lembut namun ucapannya penuh tekad tersembunyi.
"Aku mau kau menyelamatkan Kakakmu, amore." bisiknya rendah, menekan kata itu berat. "Dari wanita yang bahkan kita tak tahu siapa dia sebenarnya."
Valentina mengangguk pelan, tangannya gemetar halus.
"Baik..." bisiknya lirih. "Aku akan bicara dengan Kakak."
Matteo tersenyum manis, mengecup lembut kening istrinya. "Bagus, sayangku."
Begitu Valentina keluar dari ruangannya, senyum di wajah Matteo seketika lenyap, digantikan tatapan dingin dan tajam. Ia menekan tombol interkom.
"Cari tahu segalanya tentang wanita bernama Celine yang dinikahi oleh Damian dalam 24 jam. Laporkan segera hasilnya padaku."
Matteo menatap foto di meja, foto dirinya, Valen, dan putra mereka, Leon. Rahangnya mengeras.
Sejak menikah dengan Valentina, dia bekerja di dunia bawah tanah untuk Salvatore. Dia yang membersihkan darah, dia yang mengatur deal. Dia yang beresiko, tapi nama di atas semua kertas tetap DAMIAN SALVATORE.
"Maaf, Damian. Di dunia kita ini, yang lembut akan dimakan. Dan aku tidak mau anakku jadi makanannya."
-
-
-
Dengan napas yang masih terasa berat, Celine melangkah keluar dari pintu utama rumah sakit. Hatinya jauh sedikit lebih tenang setelah dia menemui dan mengobrol dengan ibunya, meskipun dia belum bisa berkata jujur tentang pernikahannya dengan Damian.
"Celine!"
Langkahnya mendadak terhenti kaku saat suara yang sangat familiar memanggil namanya. Jarak beberapa meter di hadapannya, Jason berdiri dengan Renata yang menyusul di belakangnya.
Jason berjalan cepat mendekat dan langsung meraih lengan Celine dengan kasar.
"Kamu ke mana saja?!" suaranya meninggi, penuh kemarahan. "Aku meneleponmu sejak pagi! Kenapa ponselmu tidak aktif? Kamu juga tidak memberiku kabar! Apa kamu tahu betapa khawatirnya aku?!"
Celine hanya menatapnya dengan penuh rasa muak yang tak bisa lagi disembunyikan. Perlahan, dengan tenang namun tegas, ia menurunkan tangan Jason dari lengannya hingga terlepas.
"Sudah?" ucapnya dingin. "Jangan berpura‑pura lagi. Kalian berdua diam-diam punya hubungan di belakangku, bukan?"
Renata mengerjap lebar, menatap Celine seakan tak mengerti sama sekali. "Apa maksudmu, Celine? Aku tidak mengerti..."
"Cukup!" potong Celine tajam, matanya menyala kecewa sekaligus jijik. "Ambil saja sampahku ini. Aku sudah tidak mau lagi!"
Ia mengangkat tangan kirinya tinggi‑tinggi, memperlihatkan cincin berlian yang kini berkilau terang di jari manisnya, menyilaukan mata mereka berdua.
"Lagipula..." lanjutnya, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum kemenangan yang dingin.
"Aku sudah menikah." Ia mengangkat dagunya. "Dan maaf ya... suamiku itu sangat pandai memanjakanku. Apalagi di urusan ranjang."
Wajah Jason seketika berubah merah padam karena cemburu dan marah. Sebelum Celine sempat berbalik, ia menangkap pergelangan tangan wanita itu dengan cepat dan kuat, mencengkeramnya erat.
"Apa maksudmu, Celine?!" desisnya kasar, matanya melotot tak percaya sekaligus marah besar. "Siapa dia?! Kau bercanda, kan?!"
--
--
--
Bersambung...