Bagi dunia bawah, Evangeline Cross adalah The Ghost Rose, eksekutor berdarah dingin yang paling ditakuti. Namun bagi dirinya sendiri, ia hanyalah seorang putri yang terjebak dalam malam pembunuhan ibunya empat belas tahun lalu. Satu-satunya jejak sang pembunuh yang tersisa adalah belati dengan ukiran ular dan mawar.
Saat petunjuk mengarah pada Blackwood Syndicate, kelompok mafia paling elit dan berbahaya di Verona Heights, Eva menyusup sebagai pelayan pribadi demi membalas dendam. Targetnya sederhana, menghabisi Dominic Blackwood, sang pemimpin mafia berusia 30 tahun yang dikenal tak berbelas kasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chocomint09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 11
Kata-kata Dominic bagai sengatan listrik yang menghantam kesadaran Evangeline.
Belati bertakik lima duri.
Lambang yang selama empat belas tahun menghantuinya, ukiran mawar dan ular dengan lima duri yang menjadi mimpi buruknya setiap kali ia memejamkan mata di markas The Crow's Veil dan sekarang baru saja memakan korban di gudang arsip lama sektor empat.
Eva mengendalikan detak jantungnya yang melonjak, menekan gejolak emosi yang hampir membuat pertahanannya runtuh. Ia memaksa wajahnya tetap menunjukkan kepatuhan seorang istri yang panik namun berusaha tenang, menyembunyikan pendar kebencian murni yang meletup di balik pupil hazelnya.
"Gudang arsip lama?" tanya Eva dengan suara yang dibuat sedikit bergetar, memosisikan diri sebagai sosok yang kebingungan oleh istilah-istilah dunia bawah. "Dominic, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa harus membawaku ke sana?"
Dominic tidak langsung menjawab. Pintu lift pribadi terbuka dengan dentang halus. Pria itu menarik jemari Eva, menuntunnya masuk ke dalam kotak besi berlantai marmer hitam tersebut sebelum menekan tombol menuju lantai paling bawah, akses langsung ke garasi bawah tanah tersembunyi.
"Karena kau adalah istrikui sekarang, Evie," suara Dominic bergaung rendah di dalam lift yang bergerak turun. Sepasang mata menatap pantulan mereka di dinding cermin lift.
"Di mata tiga faksi yang baru saja duduk di meja makan kita, meninggalkanmu sendirian di manor saat ada serangan fisik adalah pertanda keretakan. Kau berada di bawah pengawasanku setiap detik."
"Atau kau hanya takut aku menggunakan kesempatan ini untuk melarikan diri?" cemooh Eva pelan, mencoba memancing reaksi Dominic.
Dominic berpaling, menyunggingkan senyum tipis. "Melarikan diri dari siapa? Dari musuh-musuhku, atau dari rahasia yang kau cari di rumah ini?"
Eva membeku sejenak, namun lift mendadak berhenti sebelum ia sempat membalas. Pintu baja bergeser terbuka, menampilkan garasi bawah tanah yang megah dengan deretan mobil SUV hitam berlapis baja dengan mesinnya sudah menyala dalam kondisi siaga.
Viktor, kepala eksekutor yang kemarin menyiksa Eva dengan jarum perak, sudah berdiri di samping pintu penumpang sebuah SUV Maybach hitam. Di sekelilingnya, enam pengawal bersenjata otomatis dengan seragam serba hitam berdiri dengan siaga.
"Tuan Dominic," Viktor menundukkan kepala penuh hormat, matanya melirik singkat ke arah Eva sebelum kembali menatap majikannya. "Area gudang sektor empat sudah diisolasi oleh tim Bravo. Garis pengamanan utama telah dipasang, namun kepolisian distrik belum diberi akses."
"Bagus," jawab Dominic singkat. "Biarkan polisi tetap sibuk dengan laporan pengalihan di distrik timur. Kita berangkat sekarang."
Dominic membukakan pintu untuk Eva, mendorongnya masuk secara halus namun tegas, sebelum ia sendiri menyusul duduk di sampingnya. Pintu tebal berperedam suara itu tertutup rapat dan melaju keluar dari kawasan Blackwood.
Konvoi tiga kendaraan lapis baja meluncur deras keluar dari terowongan bawah tanah Blackwood Manor, menerobos gerbang hitam dan membelah jalanan berbukit Blackwood Crest yang dibasahi sisa-sisa hujan gerimis.
Sektor empat adalah kawasan dermaga tua yang terletak di batas selatan Verona Heights. Tempat ini dipenuhi oleh jajaran gudang semen tua, kargo kontainer berkarat, dan bau amis air laut yang bercampur dengan minyak kargo.
Dulu, gudang sektor empat merupakan pusat logistik utama Blackwood Syndicate pada masa kejayaan almarhum ayah Dominic. Namun sejak restrukturisasi sepuluh tahun lalu, tempat ini dialihkan menjadi gudang penyimpanan arsip non-aktif dan barang penjamin konsorsium.
Konvoi SUV berhenti persis di depan gerbang seng raksasa gudang nomor 04.
Belasan pengawal berpakaian taktis ketat mengamankan perimeter luar dengan senjata terkokang. Saat pintu mobil dibuka, hawa dingin pantai berserta bau besi yang sangat pekat langsung menyergap indra penciuman Eva.
Bau darah. Darah segar.
Dominic melangkah keluar dari mobil, mengancingkan satu kancing jas hitamnya. Tangannya terulur secara alami ke arah Eva, sebuah gestur yang menuntut Eva memegang lengannya di depan para pengawal yang berjaga.
Eva menyambut uluran tangan itu, jemarinya yang ramping melingkar di lengan berotot Dominic saat mereka melangkah masuk ke dalam bangunan beratap seng raksasa tersebut.
Di dalam gudang, lampu kuning memancarkan cahaya yang redup dan temaram. Deretan rak besi setinggi lima meter yang dipenuhi kotak-kotak arsip kayu membentang panjang.
Di tengah lorong utama, di atas lantai beton yang dingin, terbaring dua mayat pengawal berkemeja hitam.
Dominic dan Eva mendekati tempat kejadian perkara. Viktor melangkah lebih dulu, berlutut di samping salah satu mayat.
"Korban pertama adalah Marcus, komandan regu penjaga malam gudang ini," Viktor menjelaskan seraya menunjuk ke arah leher korban menggunakan pulpen penunjuk.
"Satu sabetan bersih di bagian tenggorokan. Pembuluh darah utama putus seketika tanpa ada tanda-tanda perlawanan fisik yang berarti."
Eva mengamati luka di leher mayat itu dari jarak setengah meter. Sudut sabetan, kedalaman irisan, dan pola tumpahan darah di beton.
Kecepatan eksekusi kurang dari 0,5 detik, analisis Eva dalam hati dengan insting Ghost Rose-nya. Pelaku menyerang dari titik buta kiri belakang. Teknik pembunuh profesional tingkat atas.
"Dan korban kedua?" tanya Dominic, suaranya sangat tenang namun matanya berkilat oleh amarah yang tertahan.
Viktor menggeser tubuhnya ke mayat kedua yang tergeletak tiga meter di depan rak arsip nomor 12. Korban kedua adalah seorang pria paruh baya yang mengenakan pakaian penjaga arsip biasa.
Namun yang membuat udara di gudang itu mendadak membeku adalah kondisi korban kedua.
Pria itu ditancapkan ke tiang besi rak arsip. Sebuah belati berukur baja kelam menancap dalam tepat di tengah dadanya, menembus tulang dada dan mengunci tubuhnya pada tiang rak.
Gagang belati itu terbuat dari bahan serat nilon hitam berlapis perak, dan di bagian pangkal bilahnya terukir dengan sangat jelas simbol mawar yang dililit oleh seekor ular.
Eva menahan napasnya. Mata hazelnya menyempit keras saat mengamati detail logo di belati tersebut.
Satu, dua, tiga, empat, lima.
Lima duri menonjol dari batang mawar pada ukiran itu. Ukiran ular melilit dari arah kanan ke kiri, berlawanan arah dengan simbol resmi Blackwood Manor yang mana ularnya melilit dari arah kiri ke kanan dan berduri tiga.
Darah Eva mendidih. Ini adalah bentuk belati yang persis sama dengan yang mencabut nyawa ibunya empat belas tahun lalu di St. Jude.
Dendam yang terkubur dalam-dalam di jiwanya bergolak hebat, memicu getaran halus di jemarinya yang masih melingkar di lengan Dominic.
Dominic merasakan getaran itu. Pria itu menoleh perlahan, menatap samping wajah Eva. Ia melihat mata gadis itu terkunci pada belati di dada korban dengan intensitas yang terlalu dalam untuk seorang gadis biasa.
"Kau bergetar, Nyonya Blackwood," bisik Dominic di samping telinga Eva, suaranya mengandung pertanyaan yang terselubung. "Apakah pemandangan darah membuatmu takut... atau ada hal lain yang kau kenali dari senjata itu?"
Eva menyadari kekeliruannya seketika. Dengan kontrol emosi luar biasa yang ditempa selama bertahun-tahun di The Crow's Veil, Eva menarik napas patah-patah, membuat wajahnya tampak pucat dan mual merekayasa respons ketakutan seorang wanita muda yang trauma melihat pembunuhan sadis.
"S-senjata itu..." cicit Eva dengan suara gemetar yang dipalsukan dengan sempurna, menyembunyikan wajahnya di balik bahu Dominic. "Itu sangat mengerikan, Dominic. Kenapa ada orang yang tega melakukan hal sekejam ini?"
Dominic memiringkan kepalanya sedikit, menatap ketakutan Eva dengan tatapan menyelidik. Sinyal intuisinya memberitahu bahwa ada yang janggal, namun akting kepanikan Eva begitu meyakinkan di mata para pengawal yang berdiri di sekitar mereka.
"Viktor," Dominic berpaling kembali ke arah kepala eksekutornya, melepaskan pegangan tangan Eva secara halus. "Ambil belati itu. Gunakan sarung tangan steril dan jangan biarkan ada yang menyentuhnya."
Viktor menarik belati baja kelam itu dari dada korban dengan satu sentakan kuat. Darah segar menetes dari ujung bilahnya yang tajam. Viktor meletakkannya di atas kain beludru hitam di wadah bukti.
Dominic melangkah mendekati rak arsip nomor 12 yang berada persis di belakang mayat korban kedua. Sebagian besar kotak kayu di rak itu telah diacak-acak, kuncinya dirusak secara paksa dengan alat pemotong hidrolik.
"Apa yang mereka cari?" tanya Dominic dingin.
Viktor memeriksa nomor seri kotak-kotak kayu yang terbuka. "Kotak arsip transaksi logistik tahun 2010 hingga 2014, Tuan. Satu map tebal hilang dari tempatnya."
"Map yang mana?"
Viktor menelan ludah, sedikit ragu sebelum menjawab. "Map berisi daftar kargo khusus untuk Divisi Operasi Bayangan masa almarhum Tuan Arthur Blackwood... termasuk dokumen manifes pengiriman barang dari distrik St. Jude tahun 2012."
Eva terhenyak di tempatnya berdiri!
Manifes pengiriman St. Jude tahun 2012?
Map arsip yang dicuri oleh pelaku malam ini adalah dokumen yang berisi catatan sejarah operasi di distrik tempat ibunya dibunuh.
Siapa pun yang membobol gudang sektor empat malam ini bukan sekadar musuh biasa yang menyerang konsorsium. Pelaku adalah sosok yang mengetahui keberadaan dokumen rahasia tersebut dan bergerak selangkah lebih cepat dari Eva.
Dominic mengepalkan tangannya rapat-rapat. Urat-urat di leher dan lengannya menonjol keras oleh amarah yang meletup.
"Pengkhianat..." desis Dominic rendah, suara yang sanggup membuat para pengawal di sekelilingnya menundukkan kepala ketakutan.
"Seseorang di dalam keanggotaan memberikan akses kode keamanan gudang ini. Tidak ada orang luar yang bisa menembus sensor perimeter sektor empat tanpa kode internal."
Dominic berbalik tajam menatap para pengawalnya.
"Tutup seluruh pelabuhan sektor empat! Periksa setiap transaksi data di jaringan komunikasi dalam dua puluh empat jam terakhir. Jika ada satu pun anggota atau pimpinan faksi yang mencoba meninggalkan kota malam ini... tangkap mereka hidup-hidup!"
"Siap, Tuan!" teriak Viktor dan para pengawal serentak sebelum mereka menyebar menjalankan perintah.
Satu jam kemudian, konvoi membawa Dominic dan Eva kembali menuju Blackwood Manor.
Di dalam interior SUV yang hening, ketegangan di antara pasangan suami istri baru itu meningkat ke tingkat yang mengintimidasi. Dominic bersandar di kursi kulitnya, menatap lurus ke depan dengan sepasang mata kelam yang dipenuhi perhitungan berbahaya.
Sementara itu, Eva duduk rapat di sisi jendela. Otaknya berputar cepat memproses setiap potongan teka-teki baru.
Pelaku Pembunuhan Sektor Empat, menggunakan belati lima duri (simbol yang sama dengan pembunuh ibunya).
Target Pencurian, dokumen manifes operasi St. Jude tahun 2012.
Pernyataan Dominic, ada pengkhianat internal di dalam konsorsium Blackwood yang memberi akses kode keamanan.
"Siapakah pengkhianat internal itu?" tanya Eva dalam hati.
Apakah sosok yang memerintahkan pembunuhan ibunya empat belas tahun lalu adalah pengkhianat yang sama yang kini sedang mencoba menghapus jejak dokumen sejarah di gudang sektor empat.
Jika benar demikian, berarti pembunuh ibunya bukanlah ayah Dominic Blackwood, melainkan musuh dalam selimut yang bersembunyi di balik bayangan keluarga Blackwood.
Namun Eva tetap tidak boleh lengah. Di dunia bawah, kebenaran sering kali dilapisi oleh manipulasi bertingkat. Dominic bisa saja berpura-pura menjadi korban pengkhianatan untuk mengelabui dirinya atau faksi lain.
"Kau sangat diam sejak kita meninggalkan gudang," suara Dominic memotong keheningan di dalam mobil.
Eva menoleh pelan, menatap profil samping wajah Dominic yang diterangi cahaya lampu jalanan malam yang berpendar di kaca mobil.
"Aku hanya... masih terkejut," sahut Eva pelan, menyusun kebohongannya dengan hati-hati. "Pria yang terbunuh di tiang rak itu... lambang belati itu terlihat sangat menakutkan."
Dominic memutar kepalanya, menatap lurus ke dalam mata hazel Eva. Tatapannya begitu tajam, seolah hendak menembus kepala Eva dan membaca pikiran terdalamnya.
"Simbol lima duri itu adalah lambang sebuah faksi bayangan yang seharusnya sudah punah dua belas tahun lalu," kata Dominic datar, suaranya sangat dingin.
"Faksi itu dipimpin oleh seorang mantan jenderal eksekutor yang mencoba menggulingkan ayahku. Mereka menyebut diri mereka The Five Thorns (Lima Duri)."
Eva menahan napasnya. The Five Thorns. Ini adalah pertama kalinya ia mendengar nama kelompok tersebut.
"Apakah mereka sudah mati semuanya?" tanya Eva memancing.
Dominic menyunggingkan senyum tipis. "Kami pikir kami sudah membantai mereka semua sampai ke akar-akarnya belasan tahun lalu. Tapi malam ini... pembunuhan di sektor empat membuktikan bahwa salah satu dari serigala itu masih bernapas di dalam kota ini."
Dominic memajukan tubuhnya sedikit, mendekatkan wajahnya ke arah Eva di dalam keremangan mobil.
"Dan siapa pun yang menghidupkan kembali simbol itu..." bisik Dominic di depan bibir Eva, "...akan kupastikan ia mati dengan cara yang jauh lebih mengerikan daripada belasan tahun lalu."
Eva membalas tatapan itu tanpa mengedip. Di balik wajah cantiknya yang tenang, api dendam Eva membakar makin bergejolak.
Perang bayangan ini jauh lebih luas dan lebih rumit daripada sekadar misi balas dendam sederhana. Ada dalang tersembunyi yang menggerakkan pion-pion di Verona Heights, dalang yang bertanggung jawab atas kematian Clara Cross, tragedi Lady Vivienne, dan pembunuhan di sektor empat.
Dan untuk menemukan dalang tersebut, Eva harus bertaruh nyawa di dalam ikatan pernikahan gila ini bersama Dominic Blackwood, sang serigala penguasa yang kini menjadi perisai sekaligus ancaman terbesarnya.
...Bersambung... ...