Andriana Arnova harus menyaksikan pengkhianatan suaminya dengan kakak iparnya sendiri.
Namun bukan marah, minta cerai yang ia lakukan, melainkan membalasnya dengan kegilaan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Rasa sakit, kecewa dan dendam di dadanya telah merubah dunianya.
Demi membalas dendam atas pengkhianatan suaminya, ia rela mengorbankan karir yang selama ini ia bangun dengan susah payah.
Baginya setiap kerugian harus ada bayarannya dan setiap rasa sakit harus ada pembalasan yang akan lebih menyakitkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vea Vivie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
5
Andriana membuka matanya perlahan, ia melihat ke sekeliling kemudian memegangi kepalanya yang masih pusing.
"A-aku di kamar? Devan?" Ucapnya lirih begitu melihat sosok yang duduk di tepi ranjang sedang menatapnya dengan senyum dingin.
"Ehmmm sudah sadar?" Tanya pemuda tampan itu masih dengan aura dingin.
Flashback on.
Bruak
Devan dan Leo berhasil membuka pintu rumah Andriana.
"Tuan anda benar sepertinya terjadi sesuatu dengan bu dokter?" Ucap Leo karena tidak menemukan siapapun di rumah tapi mobil Andriana berada depan rumahnya.
Tanpa mengatakan apapun, Devan melangkah menuju kamar Andriana dan mencari ke sekeliling tapi tidak menemukan siapapun.
"Tuan, ada suara di kamar mandi, mungkinkah?" Ucap Leo terjeda.
Devan membulatkan matanya dan bergegas membuka pintu kamar mandi yang tidak terkunci.
"Andriana!" Teriak Devan segera mengangkat tubuh wanita itu dengan cara membopongnya.
"Leo, kamu urus pintu depan, perbaiki sekarang juga jangan sampai Arnold curiga saat dia pulang nanti!"
"Baik tuan " Jawab asisten kepercayaannya itu.
Devan membaringkan tubuh Andriana di ranjang.
Perlahan ia buka baju basah itu dengan hati hati dan jantung berdebar. Di saat semua sudah terbuka, wajah Devan memerah menahan hasrat yang mulai bangkit. "Bagaimana mungkin tubuh semolek dan sebagus ini, Arnold tidak menginginkannya" Batinnya bermonolog sendiri.
Tapi karena Andriana sedang pingsan, tidak mungkin ia memanfaatkannya, karena rasa cintanya pada wanita itu jauh lebih besar dari hanya sekedar nafsu semata.
Devan segera mencari kimono yang tergantung di lemari pakaian, lalu memakaikan pada tubuh Andriana perlahan.
Flashback off.
Andriana masih memegangi kepalanya karena masih terasa pusing.
Devan yang menyadari keadaan Andriana segera meraih tubuh wanita itu lalu memeluknya erat "An, kalau ada masalah cerita padaku, apapun itu aku akan selalu mendengarkannya".
Devan melepaskan dekapannya, lalu memegangi kedua bahu Andriana dan menatapnya tajam
"Apa yang Arnold lakuin padamu! Katakan padaku!"
Andriana menunduk lalu menangis tersedu sedu.
''Andriana, menangislah kalau memang itu membuatmu lega".
Setelah cukup lama ia menangis di dalam pelukan Devan, ia pun mengedarkan pelukan itu dan menatap kedua netranya dengan lembut.
"Devan, terimakasih, hiks hiks hiks"
Cup
Entah kenapa saat Devan mencumbunya semua terasa hilang, seluruh ingatannya termasuk akan suaminya. Ingatan ingatan itu hilang seketika, hanya ada tubuh Devan yang sedang mencumbunya.
Tapi tiba tiba Andriana mendorong tubuh Devan agar menghentikan pagutannya.
"Kenapa An?"Tanya Devan heran sambil mengusap bibirnya yang masih basah oleh saliva Andriana.
"Van, untuk beberapa hari ke depan kita tidak bisa berhubungan " Jawab Andriana malu malu lalu memalingkan wajahnya yang merah.
Devan mengangkat kedua alisnya kemudian beranjak turun dari ranjang dan berjalan ke arah kotak p3k yang berada di atas nakas, ia mengambil anti septic dan salep. Karena sebenarnya ia tahu gara gara kemarin bagian inti Andriana luka dan butuh perawatan.
"Van apa yang akan kamu lakukan?"
Devan mendekat ke arah Andriana "Buka kakimu?".
Andriana membelalakan matanya "A-apa kamu mau apa!".
"Aku bilang buka kakimu atau aku akan memaksamu!" Tegas Devan dengan penuh penekanan.
"Tidak!" Jawab Andriana.
"Buka kakimu bu dokter Andriana Arnova atau kamu mau aku benar benar memaksamu! Kamu tahu kalau aku adalah seorang dokter yang profesional, aku akan melakukan perawatan untuk bagian itu dengan profesional pula"
"Oh jadi kamu adalah dokter, dan kamu harus tahu bukan dokter sembarangan yang boleh menangani masalah ini!" Jawab Andriana kesal.
"Kamu ikuti perkataanku atau aku biarkan lukamu terus begini, dasar keras kepala!" Gertak Devan dengan tatapan tajam.
Andriana pun diam sejenak dan tidak bisa mengelak lagi, ia memejamkan matanya kemudian membuka kedua kakinya perlahan.
(Saat Devan menggantikan baju Andriana yang basah, ia tidak memakaikan dalaman, hanya kimono yang tergantung di lemari, asal kering dan hangat).
Devan mengambil posisi tepat di depan kedua kaki Andriana, dadanya berdegup kencang, tapi ia adalah seorang dokter profesioanal dan ini bukan kali pertama ia menangani kasus yang sama.
'Ayolah Van, kamu harus profesional '
Andriana pasrah apapun yang akan diperbuat pemuda itu, dadanya pun seperti hampir meledak ketika di bagian intinya terasa dingin.
Sentuhan jemari Devan pun bisa ia rasakan. Andriana merasakan sesuatu yang memanas sambil menggigit bibir bawahnya menahan desahan yang hendak keluar.
Setelah beberapa saat, Devan meminta Andriana untuk membuka matanya.
"Sudah selesai, apa yang kamu pikiran?"Tanya Devan sambil tersenyum gemas melihat tingkah Andriana yang mungkin dikiranya ia akan berbuat macam macam.
"Ah tidak ada" Jawabnya malu malu.
"Untuk sementara kamu jangan berhubungan intim dulu, mungkin satu atau dua minggu baru boleh"Ucap Devan sambil tersenyum tipis.
"Kau! Awas kau Devan, ini juga karena kamu!"Ketusnya semakin kesal dengan Devan yang dari tadi membuatnya malu dan salah tingkah.
Devan melihat jam di dinding sudah menunjukkan pukul 11 malam "Sudah malam, tidurlah!" Titahnya dingin kemudian melangkah keluar dari kamar Andriana.
Namun langkahnya terhenti karena merasa ada sesuatu menahannya, ia menoleh pada Andriana yang juga menatapnya tanpa berkedip seolah melarangnya pergi.
Devan tersenyum tipis dan berjalan memutar kembali mendekati Andriana yang juga terus menatapnya.
"An, kamu tidak ingin aku pergi?"Tanya Devan lembut sambil meraih kepala wanita itu dan mengusapnya lembut.
"Van, aku takut" Jawab Andriana lirih.
Devan terus mendekat dan memeluk erat tubuhnya "Apa yang kamu takutkan? Ada aku tidak ada yang harus kamu khawatirkan".
"Entahlah Van, pergilah " Jawab Andriana kemudian mendorong tubuh Devan agar menjauh.
Devan tersenyum tipis lalu mengambil posisi di samping Andriana "Sekarang aku akan tidur di sini menemanimu".
"Kau! Pergilah Van! Aku mau sendiri"
" Tidak, kamu tahu apa yang Arnold lakukan sekarang?" Tanya Devan yang dijawab dengan sebuah gelengan kepala ringan oleh Andriana.
"Dia sedang tidur sambil memeluk Saskia".
Deg
Andriana terdiam sejenak, sebenarnya ia sudah tahu kalau suaminya itu pasti menemui selingkuhannya tapi mendengar penegasan dari Devan tetap saja membuat hatinya sakit.
Air mata pun tiba tiba mengalir dan jatuh perlahan di pipinya yang merah.
Devan menarik nafas panjang lalu meraih tubuh Andriana dan memeluknya erat "Sekarang kamu tidurlah di dalam dekapanku, ini baru impas" Bisik Devan.
Hiks hiks hiks
'Kamu gila mas, tapi aku lebih gila'
Andriana pun membiarkan dirinya terlelap di dalam dekapan Devan sampai pagi menjelang.
Benar benar tidak masuk akal, di waktu yang sama, di tempat yang berbeda suami istri itu sama sama terlelap dengan selingkuhannya masing masing.
Siapakah yang harus bertanggungjawab di sini? Yang pasti ada sebab, ada pula akibat .
Dan akibat apa yang akan mereka tanggung?
Nantikan di bab bab berikutnya yang pastinya lebih seru dan penuh emosional.