Setelah menyelesaikan masa militernya, Jiang Ming mendapati dirinya terjebak dalam kerasnya realita sebagai pemuda tanpa uang, pekerjaan, maupun koneksi, yang harus memutar otak demi menghidupi adik perempuannya.
Di tengah himpitan utang dan cibiran orang-orang yang meremehkannya, sebuah aplikasi aneh bernama "Toko Dewa Tiga Alam" tiba-tiba terinstal secara paksa di ponsel bututnya.
Aplikasi tersebut menjual berbagai barang supranatural dan keajaiban dari dimensi para dewa, namun ironisnya, semua benda ajaib itu hanya bisa dibeli jika Jiang Ming memiliki uang.
Alih-alih menjadi pahlawan super, Jiang Ming menggunakan kecerdasan dan insting bisnisnya untuk memanfaatkan barang ajaib termurah demi membangun kekayaan dari nol, perlahan memutarbalikkan nasibnya dari seorang pengangguran rendahan menjadi sosok yang mengendalikan kekuatan Tiga Alam di dunia nyata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Wush.
Sensasi dingin seketika menyelimuti kulitnya.
Jiang Ming menunduk menatap kedua tangannya dan mendapati bahwa tubuhnya kini terlihat transparan seperti air jernih.
Dia benar-benar menyatu dengan kegelapan gang sempit itu tanpa meninggalkan bayangan sedikit pun.
'Toko Dewa Tiga Alam memang tidak pernah mengecewakan,' batin Jiang Ming sangat puas.
Dia melangkah mendekati pintu besi belakang kelab malam yang dijaga oleh dua orang preman berbadan besar.
Tap tap tap.
Langkah kaki Jiang Ming sama sekali tidak mengeluarkan suara berkat efek jubah ilusi tersebut.
Dia berjalan tepat melewati sela-sela kedua penjaga itu tanpa disadari oleh mereka sedikit pun.
Kriet.
Pintu besi itu terbuka sedikit, memberi celah bagi Jiang Ming untuk menyelinap masuk ke dalam markas musuh.
Jiang Ming menyusuri lorong beton yang remang-remang, mengikuti suara obrolan kasar dari arah ruang bawah tanah.
Di dalam ruangan yang luas itu, terdapat puluhan pria berotot yang sedang sibuk membersihkan berbagai macam senjata tajam dan pipa besi.
Di tengah ruangan, duduk seorang pria berwajah codet yang sedang mengisap rokok tebal.
Pria itu adalah Bos Serigala, tangan kanan Zhao Tianhua yang bertugas mengurus pekerjaan kotor Grup Tianyu.
"Kalian semua dengarkan baik-baik!" teriak Bos Serigala memecah suara bising di ruangan itu.
Semua preman langsung menghentikan aktivitas mereka dan menatap ke arah pemimpin mereka.
"Malam ini kita akan mendatangi kantor Perusahaan Alam Hijau dan Apartemen Mawar Biru."
Bos Serigala mengeluarkan selembar foto Jiang Ming dan melemparkannya ke atas meja.
"Ketua Zhao menginginkan pemuda penipu ini ditangkap hidup-hidup dan dibawa ke hadapannya."
"Jika dia melawan, patahkan kedua kakinya, tapi jangan sampai dia mati sebelum Ketua Zhao menginterogasinya!" perintah Bos Serigala dengan kejam.
Puluhan preman itu menyeringai ganas dan bersorak mengiyakan perintah tersebut.
Jiang Ming yang berdiri tepat di sudut ruangan hanya mendengarkan rencana bodoh itu dengan tatapan mengasihani.
'Mereka benar-benar berencana menyerbu rumahku,' batin Jiang Ming dingin.
Dia melepaskan tudung jubah ilusinya perlahan, menampakkan kepalanya yang seolah melayang di udara.
Lalu dia menarik jubah itu sepenuhnya dan membiarkan tubuhnya kembali terlihat oleh mata telanjang.
"Rencana yang sangat bagus, tapi sayangnya kalian harus melewati mayatku dulu untuk melakukannya," ucap Jiang Ming dengan suara normal namun menggema kuat di ruangan bawah tanah itu.
Semua orang di ruangan itu tersentak kaget dan serempak menoleh ke arah sudut ruangan.
Mata Bos Serigala melotot lebar melihat Jiang Ming tiba-tiba sudah berdiri santai di dalam markas rahasia mereka.
"B-bagaimana kau bisa masuk ke sini?! Di mana para penjaga di luar?!" teriak Bos Serigala sambil melompat dari kursinya.
"Penjagamu masih berdiri tegak di luar. Aku hanya masuk melalui pintu depan dengan sangat sopan," jawab Jiang Ming sambil berjalan santai mendekati meja tengah.
"Kurang ajar! Bocah ini mengantar nyawanya sendiri ke kandang macan!" maki salah satu preman berbadan raksasa.
Preman raksasa itu langsung mencabut parang panjang dari pinggangnya dan berlari menerjang Jiang Ming.
"Mati kau, penipu!" raung preman itu mengayunkan parangnya ke arah leher Jiang Ming.
Jiang Ming tidak menghindar atau memblokir serangan itu menggunakan tangan kosongnya.
Dia hanya menatap preman itu dengan mata yang mendadak berubah menjadi biru menyala.
Zzzt.
Sebuah kilatan petir biru yang sangat terang meledak keluar dari telapak tangan kanan Jiang Ming.
Ctar.
Petir itu menyambar tepat ke arah parang baja yang sedang diayunkan oleh preman raksasa tersebut.
Trang.
Suara logam yang meleleh dan patah terdengar sangat nyaring.
Bilah parang baja itu langsung hancur menjadi serpihan panas yang berjatuhan ke lantai.
Arghhh.
Preman raksasa itu menjerit kesakitan saat hantaran listrik dari sisa gagang parang itu menyengat lengan kanannya hingga hangus terbakar.
Bruk.
Preman itu jatuh berlutut sambil memegangi tangannya yang mengepulkan asap putih, tubuhnya lumpuh total akibat sengatan petir.
Keheningan yang sangat mencekam langsung menyelimuti seluruh ruang bawah tanah tersebut.
Puluhan preman yang tadinya bersiap menyerang kini mematung di tempat mereka bagaikan patung es.
Mata mereka terbelalak menatap percikan listrik biru yang masih menari-nari dengan liar di sekitar jari-jari Jiang Ming.
"S-sihir... dia bisa mengeluarkan petir dari tangannya!" bisik salah satu preman dengan gigi bergemelatuk karena ketakutan.
Bos Serigala menelan ludahnya dengan susah payah, wajahnya yang garang kini memucat seputih kertas.
Dia pernah menghadapi banyak musuh kuat, tapi dia tidak pernah bersiap untuk menghadapi manusia setengah dewa.
"K-kau... makhluk apa sebenarnya kau ini?!" tanya Bos Serigala sambil perlahan mundur merapat ke dinding.
Jiang Ming mengibaskan tangannya, mematikan percikan petir itu dengan gaya yang sangat elegan.
Dia menarik sebuah kursi kayu dan duduk berhadapan langsung dengan puluhan preman yang ketakutan itu.
"Aku adalah orang yang seharusnya tidak pernah kalian ganggu," jawab Jiang Ming dengan nada datar yang menusuk tulang.
Dia menunjuk ke arah Bos Serigala dengan jari telunjuknya.
"Dengar baik-baik, anjing peliharaan Zhao Tianhua."
"Aku datang ke sini malam ini bukan untuk membunuh kalian semua, karena darah kalian terlalu kotor untuk menodai tanganku."
Jiang Ming menyandarkan punggungnya ke kursi dan melipat kakinya dengan angkuh.
"Aku datang untuk mengirimkan sebuah pesan kepada majikan kalian yang sedang putus asa itu."
Bos Serigala hanya bisa menganggukkan kepalanya dengan cepat, tidak berani membantah sepatah kata pun.
"Katakan pada Zhao Tianhua."
"Jika dia mengirim satu orang saja ke wilayah kekuasaanku, aku akan datang sendiri ke rumahnya dan meratakan rumahnya menggunakan badai petir."
Jiang Ming mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap tajam langsung ke mata Bos Serigala.
"Katakan padanya, Tuan Wu Ming bukanlah penipu."
"Tuan Wu Ming adalah dewa kematian yang sedang menunggu dia mati perlahan-lahan dalam kebangkrutannya sendiri."
Aura membunuh yang dilepaskan oleh Jiang Ming begitu pekat hingga membuat beberapa preman lemah di ruangan itu terkencing di celana.
"M-mengerti! Aku akan menyampaikan semua pesanmu, Tuan!" jawab Bos Serigala dengan suara bergetar parah.
Jiang Ming berdiri dari kursinya dan menepuk debu dari pundak jasnya.
Dia tidak perlu menghajar mereka semua sampai babak belur.
Mematahkan senjata mereka dan menghancurkan mental mereka dengan elemen petir sudah lebih dari cukup untuk membuat mereka trauma seumur hidup.
Jiang Ming kembali memakai tudung Jubah Ilusi Malam Bulan ke kepalanya.
Wush.
Tubuhnya perlahan memudar dan menghilang sepenuhnya ke dalam udara kosong di depan puluhan pasang mata yang terbelalak ngeri.
Hanya suara langkah sepatunya yang pelan terdengar berjalan meninggalkan ruang bawah tanah itu.
Kriet.
Pintu besi di ujung lorong terbuka dan tertutup dengan sendirinya, meninggalkan mimpi buruk yang tak akan pernah bisa dilupakan oleh para preman Grup Tianyu.
Malam itu, Jiang Ming telah sepenuhnya mengambil inisiatif.
Dia tidak lagi bereaksi terhadap serangan musuh, dia telah membuktikan bahwa dirinyalah yang mengendalikan seluruh papan catur di kota Jinhai ini.