Indonesia
NovelToon NovelToon
Lilin Terakhir EMEI

Lilin Terakhir EMEI

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Chandra Arbara

Di malam terakhir, kepala biara wafat di aula yang kosong dan dingin.

Tidak ada murit, tidak ada upacara, hanya Jingyue yang menemani sampai fajar.

Sebelum menghembus kan nafas terakhir nya, sang guru berbisik:
"selama masih ada satu orang yang menyapu pelataran ini.... Emei belum mati"

Bukan untuk mencari ketenaran.
Bukan karena dia kuat.
Tapi karena kalau dia juga pergi, maka emei akan benar-benar hilang dari dunia.

Di Jianghu yang berisik, seorang gadis paling tenang berjalan....

Untuk membuktikan bahwa sekte nya belum padam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandra Arbara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32. Daun yang Berlubang dan Asap yang Menyelamatkan

..."Kami tidak membunuh hama dengan racun, kami mengusirnya dengan bau dan kerja, karena tanah yang kami jaga juga harus tetap bisa dimakan anak kami."...

Hari ke 39 di Desa Majia dimulai bukan dengan suara ayam atau suara air yang ditimba, melainkan dengan teriakan panik dari atas rumah Nenek Sun yang tiba-tiba memecah pagi, teriakan yang membuat semua orang yang sedang menyiram rak sayur langsung berhenti dan menoleh karena suara itu bukan suara biasa, melainkan suara seseorang yang baru saja melihat sesuatu yang tidak seharusnya ada di tempat yang selama ini mereka jaga seperti menjaga anak sendiri.

"Ulat, banyak ulat," teriak Nenek Sun dari atas tangga dengan suara yang bergetar, "daun bayamku habis dimakan semalam, bolong semua seperti kain yang digigit tikus."

Dalam waktu kurang dari setengah jam, kabar itu menyebar dari satu rumah panggung ke rumah panggung lain seperti api di musim kemarau, karena selama sebulan terakhir seribu kotak sayur yang menggantung di dinding rumah adalah satu-satunya harapan bahwa anak-anak tidak akan tidur dengan perut kosong lagi, dan sekarang harapan itu sedang dikunyah hidup-hidup oleh sesuatu yang kecil dan rakus.

Jing yue berlari naik ke rumah Nenek Sun dengan jantung yang berdegup kencang, dan ketika dia sampai dia melihat pemandangan yang membuat dadanya sesak, yaitu daun-daun sawi dan bayam yang seminggu lalu masih hijau segar kini penuh lubang kecil, pinggirnya menghitam, dan di balik daun ada ulat hijau kecil sebesar jari kelingking yang bergerak pelan tapi terus mengunyah tanpa henti, seakan tidak tahu bahwa setiap gigitan itu adalah gigitan yang bisa membuat satu keluarga lapar.

Bai Ling datang dengan wajah pucat membawa ranting dan berkata bahwa di Lijia juga sama, dan di Qinghe juga, dan bahkan di Shuanghe ada kupu-kupu putih kecil yang beterbangan di sore hari dan bertelur di bawah daun, sehingga sekarang semua telur itu menetas bersamaan karena matahari terlalu panas dan tidak ada hujan untuk membasuhnya.

Lei Feng mengutuk dan berkata bahwa mereka harus segera menyemprot dengan apa pun yang bisa membunuh, tapi Jing yue menggeleng dan berkata bahwa mereka tidak punya pestisida, dan kalaupun ada mereka tidak boleh pakai karena air semprotan itu akan menetes ke bawah dan diminum anak-anak, dan racun tidak membedakan antara ulat dan manusia.

Masalahnya adalah waktu, karena kalau dibiarkan tiga hari maka tidak akan ada daun yang tersisa, dan kalau semua daun habis maka rak-rak yang mereka bangun dengan susah payah itu hanya akan menjadi pajangan kayu kosong yang mengingatkan mereka pada kegagalan.

Jing yue duduk di atas lantai bambu selama hampir satu jam tanpa bicara, menatap ulat itu, menatap lubang di daun, dan mengingat apa yang dulu diajarkan oleh Nenek Gui di Gunung Emei tentang cara bertani tanpa membunuh tanah, tentang cara mengusir hama dengan bau, dengan asap, dan dengan tangan.

Akhirnya dia berdiri dan berkata bahwa mereka tidak akan membunuh dengan racun, mereka akan mengusir dengan cara yang membuat ulat tidak mau datang lagi, dan untuk itu mereka butuh tiga hal, abu dari dapur, air bawang putih yang ditumbuk, dan asap dari daun yang dibakar.

Keputusan itu tidak langsung dipercaya, karena banyak orang yang sudah terlalu lelah untuk mencoba hal baru, tapi Jing yue tidak memaksa, dia hanya mengambil lesung, menumbuk bawang putih sampai keluar airnya, mencampurnya dengan air sungai yang sudah disaring, lalu dia menyemprotkan ke satu kotak sayur miliknya sendiri dengan gayung kecil.

"Bau ini sangat menyengat," katanya, "ulat tidak suka bau tajam, dan kalau kita lakukan setiap pagi maka mereka akan pindah ke tempat lain."

Di saat yang sama, dia menyuruh kelompok lain mengumpulkan abu dingin dari perapian, menaburkannya di tanah di dalam kotak karena abu membuat kulit ulat kering dan mereka tidak suka merayap di atasnya, dan kelompok ketiga diminta mengumpulkan daun sirih, daun neem, dan jerami kering untuk dibakar di bawah rak agar asapnya naik dan menutupi daun.

Hari pertama sangat melelahkan, karena setiap rumah harus naik turun tangga tiga kali, sekali untuk menyemprot, sekali untuk menabur abu, dan sekali untuk menjaga api kecil agar tidak padam, dan anak-anak yang biasanya ceria kini mengomel karena mata mereka perih karena asap.

Di malam hari, Jing yue berjalan dari rumah ke rumah dengan obor kecil, memeriksa setiap kotak, memetik ulat satu per satu dengan tangan dan menjatuhkannya ke dalam air sabun, dan tangannya sampai bengkak dan kotor tapi dia tidak berhenti karena dia tahu bahwa kalau dia berhenti maka tidak ada yang akan melanjutkan.

Di hari kedua, hasilnya belum terlihat, daun masih bolong, ulat masih ada, dan beberapa orang mulai berbisik bahwa cara ini tidak berguna dan lebih baik menunggu bantuan dari kabupaten, tapi Jing yue hanya berkata bahwa racun bekerja cepat tapi membunuh tanah, sedangkan cara ini bekerja pelan tapi tidak merusak apa pun.

Di hari ketiga, keajaiban kecil mulai muncul, yaitu di rak-rak yang disemprot dua kali sehari, ulat mulai berkurang, daun baru yang tumbuh tidak lagi langsung bolong, dan kupu-kupu putih itu tidak lagi beterbangan di sore hari karena bau bawang putih membuat mereka bingung.

Nenek Sun adalah orang pertama yang berteriak gembira ketika melihat tunas baru di bayamnya, dan dia langsung turun dan memeluk Jing yue sambil berkata bahwa ini adalah keajaiban, padahal Jing yue hanya tersenyum dan berkata bahwa ini bukan keajaiban, ini adalah kerja.

Kabar itu menyebar cepat, dan di hari keempat semua desa ikut, setiap pagi sebelum matahari naik, seluruh Sungai Min berbau bawang putih dan asap, dan anak-anak berlomba siapa yang paling cepat selesai menyemprot agar bisa bermain setelahnya.

Masalah baru muncul di hari kelima, yaitu beberapa rak yang terlalu dekat dengan api menjadi layu karena panas, sehingga Jing yue harus menggambar ulang denah dan menyuruh agar api hanya dinyalakan selama satu jam dan harus dijaga agar tidak terlalu dekat.

Di hari ketujuh, panen kedua datang, lebih besar dari panen pertama, dan kali ini tidak ada ulat yang ikut masuk ke dalam keranjang, dan ketika sup sayur disajikan di balai, tidak ada satu pun daun yang dibuang karena takut ada telur.

Paman Chen berdiri dan berkata bahwa ini adalah pertama kalinya dia melihat orang bertani tanpa membunuh tanah, dan dia berkata bahwa kalau cara ini bisa berhasil di sini maka bisa diajarkan ke seluruh kabupaten.

Jing yue hanya mengangguk dan menulis di buku besar itu halaman baru dengan judul "Cara Mengusir Ulat Tanpa Racun", lengkap dengan gambar dan langkah, agar siapa pun yang bisa membaca bisa mengerti.

Di hari kesepuluh, datang utusan dari kabupaten lagi, kali ini bukan membawa perintah, tapi membawa kertas dan tinta, karena mereka mendengar bahwa Emei punya cara baru dan mereka ingin mencatatnya.

Jing yue mengajari mereka selama tiga hari, menunjukkan cara menumbuk, cara menyemprot, cara membuat asap, dan dia berkata bahwa cara ini tidak mahal, tidak butuh uang, hanya butuh tangan dan kesabaran.

Di hari kelima belas, hama hampir hilang sepenuhnya, dan rak-rak kini penuh dengan hijau yang lebat, cabai mulai berbunga, tomat mulai mengecil seperti kelereng, dan kacang panjang menjuntai sampai ke bawah seperti tirai.

Anak-anak mulai membuat permainan baru, yaitu mencari ulat yang tersisa dan memberinya nama, lalu melepaskannya jauh di hutan agar tidak kembali, dan meskipun itu tidak efektif, Jing yue membiarkan karena dia tahu bahwa anak-anak perlu merasa bahwa mereka juga ikut menjaga.

Di malam hari kedua puluh, hujan turun lagi, tidak deras, tapi cukup untuk membasuh daun dan membuat bau bawang berkurang, dan semua orang khawatir ulat akan kembali, sehingga malam itu tidak ada yang tidur nyenyak, semua orang bangun dua kali untuk memeriksa.

Keesokan paginya, tidak ada ulat baru, hanya ada tetesan air di daun dan matahari yang membuat daun mengkilap, dan itu adalah pagi pertama dalam seminggu mereka bangun tanpa rasa takut.

Jing yue duduk di tepi balai, menulis di bukunya bahwa hari ini dia belajar bahwa musuh paling kecil bisa menjadi paling berbahaya, tapi musuh kecil juga bisa dikalahkan dengan cara kecil, dengan bau, dengan asap, dengan tangan yang tidak berhenti memetik.

Dia juga menulis bahwa dia bangga, bukan karena dia pintar, tapi karena orang-orang tidak menyerah setelah hari pertama gagal, mereka tetap mencoba sampai hari ketiga, dan itu adalah hal yang lebih penting daripada sayur.

Di hari kedua puluh lima, desa mengadakan syukuran kecil, bukan karena panen besar, tapi karena mereka menang melawan ulat, dan di tengah perayaan itu Paman Chen berkata bahwa sekarang mereka punya dua hal yang tidak bisa diambil banjir, yaitu perahu dan cara menanam.

Jing yue berdiri dan berkata bahwa mereka masih punya satu musuh lagi, yaitu waktu, karena musim kemarau belum selesai dan air masih sedikit, tapi dia yakin kalau mereka bisa mengalahkan ulat maka mereka juga bisa mengalahkan haus.

Malam itu, dia tidur lebih awal dari biasanya, karena tubuhnya benar-benar lelah, dan sebelum tidur dia melihat ke luar jendela ke arah rak-rak yang bergoyang pelan karena angin, dan dia berbisik bahwa besok dia harus mengajari cara membuat kompos dari sisa dapur agar tanah di kotak tidak cepat habis.

Dan ketika dia memejamkan mata, dia bermimpi tentang daun yang tidak berlubang, tentang anak-anak yang makan sampai kenyang, dan tentang hari ketika tidak ada lagi orang di Sungai Min yang harus memilih antara makan atau sakit karena pestisida.

Di luar, asap dari perapian terakhir masih naik pelan, seperti penjaga yang tidak tidur, menjaga seribu kotak hijau agar tetap aman sampai matahari terbit lagi.

1
Oppojaya
💪💪💪
Oppojaya
good job...
Oppojaya
😍😍
Oppojaya
👍👍👍👍😍
Oppojaya
ditunggu lanjutannya...💪
Oppojaya
👍👍👍
Oppojaya
🤗🤗
Oppojaya
👍👍
Oppojaya
👍👍👍
Oppojaya
ditunggu karya selanjutnya
Oppojaya
🤗
Pena Quality
👍
Oppojaya
Keren... ditunggu lagi lanjutan episode berikutnya 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!