Indonesia
NovelToon NovelToon
Sistem: Karir Mingguan

Sistem: Karir Mingguan

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Crazy Rich/Konglomerat / Fantasi
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Rachmat Rachimullah

### KARIR MINGGUAN

Reyhan hanyalah pria biasa dengan kehidupan yang stagnan. Sampai suatu malam, sebuah sistem misterius muncul dan mengubah hidupnya.

**[SISTEM KARIR MINGGUAN TELAH AKTIF.]**

Setiap minggu, Reyhan akan mendapatkan profesi yang berbeda—kurir, guru, pedagang, mekanik, programmer, hingga pekerjaan yang tak pernah ia bayangkan.

Setiap profesi memiliki misi dan batas waktu tujuh hari.

Jika berhasil, **reward luar biasa** menantinya.

Awalnya Reyhan mengira semua ini hanya keberuntungan.

Namun semakin banyak profesi yang ia jalani, semakin ia menyadari bahwa semuanya saling terhubung.

**Sistem itu tidak sedang memberinya pekerjaan.**

Sistem sedang mempersiapkannya untuk menjadi seseorang yang jauh lebih besar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rachmat Rachimullah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Reyhan Menemukan Masalah

Hari keempat di bengkel Pak Slamet, kabar soal keberhasilan menangani mobil Pak Bram ternyata menyebar cukup cepat di kalangan pengusaha sekitar. Sejak pagi, sudah ada dua mobil lain yang datang, keduanya kebetulan berasal dari bengkel resmi yang sama.

"Pak, ini kok kebetulan banget ya, dua-duanya abis dari bengkel resmi yang sama kayak punya Pak Bram kemarin," celetuk Reyhan sambil memeriksa mobil pertama.

Pak Slamet mengangguk-angguk. "Iya, kayaknya emang lagi rame keluhan soal bengkel itu. Kemarin Pak Bram juga bilang gitu kan."

Yanto, yang sedang memeriksa mobil kedua di sebelah, ikut menimpali. "Mobil ini juga sama, Pak, keluhannya AC nggak dingin. Kayaknya mirip kasus kemarin."

Reyhan mengernyitkan dahi, mulai merasa ada pola aneh di balik kebetulan ini. "Yan, coba cek deh, kira-kira masalahnya sama nggak kayak mobil Pak Bram kemarin?"

Yanto memeriksa sebentar, lalu mengangguk. "Sama persis, Mas. Seal kompresor AC-nya juga udah aus, bocor di titik yang sama."

Reyhan terdiam sejenak, mencoba mencerna kejanggalan itu. Setelah mobil kedua selesai diperiksa dan ternyata benar-benar punya masalah identik, dia memutuskan untuk bertanya lebih jauh ke pemilik mobil yang sedang menunggu di ruang tunggu kecil bengkel.

"Pak, boleh nanya? Ini mobilnya kapan terakhir servis di bengkel resmi?"

"Baru dua minggu lalu, Mas. Aneh juga sih, padahal katanya udah dicek semua, eh sekarang malah rusak lagi."

"Waktu itu keluhannya sama kayak sekarang, Pak? AC nggak dingin?"

"Iya, sama persis. Katanya udah dibenerin, eh ternyata masih aja."

Reyhan mengangguk-angguk, semakin yakin ada sesuatu yang tidak beres. Ia menghampiri Pak Slamet yang sedang istirahat sebentar di sudut bengkel.

"Pak, ini menurut saya aneh. Masa dua mobil beda pemilik, sama-sama abis servis di bengkel resmi yang sama, terus rusak dengan masalah yang identik?"

Pak Slamet mengangkat bahu. "Bisa jadi emang kualitas komponennya yang dipake di sana kurang bagus, Mas. Atau bisa juga cuma kebetulan aja."

"Tapi kebetulannya kok spesifik banget, Pak. Sama-sama di seal kompresor, bukan di bagian lain."

Yanto, yang mendengar percakapan itu dari kejauhan, ikut mendekat dengan raut wajah penasaran. "Emang kenapa, Mas? Curiga ada apa-apa?"

"Nggak tau juga sih, Yan, cuma kerasa aneh aja. Kayak ada pola yang sengaja dibikin."

"Maksudnya sengaja gimana? Jangan-jangan mas reyhan kebanyakan nonton film konspirasi," canda Yanto, meski nada bicaranya kali ini jauh lebih ramah dibanding hari-hari pertama.

"Bukan gitu, Yan. Coba deh pikir, kalo emang seal-nya cuma kebetulan sering rusak, kenapa pola kerusakannya selalu muncul nggak lama setelah servis di sana? Kayak sengaja dipasang komponen yang emang gampang aus, biar pelanggannya balik lagi buat servis ulang."

Pak Slamet, yang mendengar penjelasan itu, mulai terlihat berpikir serius. "Hmm, kalo bener gitu, itu namanya modus bisnis licik ya. Sengaja kasih komponen jelek biar pelanggan balik terus."

"Bisa jadi, Pak. Tapi ini juga masih dugaan saya doang, belum tentu bener."

Siang harinya, seorang pelanggan ketiga datang dengan keluhan serupa kali ini bukan soal AC, tapi soal rem yang terasa kurang pakem meski baru saja diservis di bengkel resmi yang sama dua minggu lalu.

"Pak, coba deh, ini juga dari bengkel yang sama?" tanya Reyhan, semakin penasaran.

Pak Slamet memeriksa nota servis yang dibawa pelanggan itu. "Bener, Mas. Sama persis nama bengkelnya."

Reyhan semakin yakin dengan dugaannya. Ia mengambil buku catatan kecilnya, mulai mencatat pola-pola yang dia temukan hari itu nama bengkel resmi, jenis kerusakan, dan jarak waktu antara servis terakhir dengan munculnya masalah baru.

"Yan, coba bantu inget-inget, ada berapa banyak pelanggan yang dateng ke sini abis dari bengkel itu sejak kamu kerja di sini?"

Yanto berpikir sejenak. "Kalo diinget-inget, lumayan banyak juga sih, Mas. Tapi saya nggak pernah kepikiran buat nyatet pola-polanya kayak gini."

"Nah, ini menarik nih. Kalo emang bener ada pola kayak gini, kita bisa jadiin ini kesempatan buat bengkel kita, Pak."

Pak Slamet menatap Reyhan dengan sedikit terkejut. "Kesempatan gimana maksudnya, Mas?"

"Gini, Pak, kalo emang bener bengkel resmi itu kualitasnya kurang bagus dan bikin pelanggannya kecewa berulang kali, kita bisa manfaatin momentum ini buat naikin reputasi bengkel kita. Kasih pelayanan yang jujur, komponen yang bener-bener awet, terus minta pelanggan yang puas buat cerita ke orang lain."

"Kayak strategi dari mulut ke mulut gitu?"

"Persis, Pak. Kayak yang saya alamin waktu jualan nasi goreng minggu lalu. Reputasi baik itu nyebar sendiri kalo emang beneran jujur kerjanya."

Yanto, yang mendengar penjelasan itu, mengangguk-angguk kagum. "Wah, Bapak ini ternyata mikirnya jauh juga ya, nggak nyangka."

"Ah, biasa aja, Yan. Cuma kebetulan kepikiran aja liat pola tadi."

Sebenarnya, jauh di dalam hati Reyhan, dia sadar insting itu bukan sekadar kebetulan melainkan hasil dari skill Membaca Peluang dan Business Instinct yang selama ini terus dia asah tanpa sadar lewat karier-karier sebelumnya, meski tentu saja dia tidak bisa menjelaskan itu ke Yanto atau Pak Slamet.

Sore itu, Fajar datang membawa makan siang terlambat untuk Reyhan, mendengar sedikit cerita soal temuan hari itu sambil menunggu Reyhan membersihkan tangannya yang penuh oli.

"Bang, jadi ceritanya Abang kayak detektif gitu sekarang? Nemuin konspirasi bengkel resmi?"

"Bukan konspirasi resmi juga sih, Jar, cuma dugaan aja. Tapi kalo bener, ini bisa jadi peluang bagus buat bengkel Pak Slamet."

"Wah, keren juga, Bang. Dari montir dadakan jadi Sherlock Holmes bengkel."

"Sherlock Holmes apaan, saya cuma nyatet pola doang, Jar, bukan pake kaca pembesar terus nyari sidik jari."

Fajar tertawa mendengar itu. "Ya tetep aja keren, Bang. Btw, kapan nih rencananya mau dibuktiin dugaan itu?"

"Belum tau juga, Jar. Tapi kayaknya minggu ini bakal makin seru aja perkembangannya."

Reyhan membuka layar holografik sistem sebentar sebelum benar-benar pulang, memastikan Fajar sedang sibuk dengan ponselnya sendiri di sudut lain bengkel.

> [Progres Misi: 4/10 perbaikan dengan kepuasan tinggi.]

> [Sisa waktu: 3 hari, 22 jam.]

> [Catatan tambahan: Insting bisnis terdeteksi aktif di luar konteks kariernya. Pola ini akan relevan di masa depan.]

Reyhan mengernyitkan dahi membaca catatan tambahan itu. "Relevan di masa depan? Maksudnya apa lagi ini, Sistem?"

Tidak ada jawaban, seperti biasa. Ia menutup layar itu, menyimpan rasa penasarannya sendiri, sambil mulai menduga bahwa apa yang dia temukan hari ini mungkin bukan sekadar kejadian kecil yang akan langsung dilupakan begitu minggu ini berakhir.

Malam itu, sebelum pulang, Pak Slamet mengajak Reyhan dan Yanto duduk sebentar di depan bengkel, membicarakan lebih serius soal temuan yang mereka diskusikan siang tadi.

"Jadi gimana, Mas, mau kita coba manfaatin momen ini beneran?" tanya Pak Slamet, terlihat mulai tertarik dengan ide Reyhan.

"Menurut saya sih iya, Pak. Tapi caranya harus hati-hati, jangan sampe kelihatan kayak kita ngejelek-jelekin bengkel lain secara langsung. Nanti malah dikira fitnah."

"Terus gimana caranya?"

"Kita fokus aja ke kualitas kerja kita sendiri, Pak. Kasih garansi jujur, transparan soal kondisi kendaraan, terus biarin pelanggan yang nilai sendiri dari hasilnya. Kalo emang bagus, mereka pasti cerita sendiri ke orang lain."

Yanto mengangguk-angguk. "Bener juga, Mas. Daripada kita yang ngomong duluan, mendingan biarin hasil kerja kita yang ngomong."

"Nah, tepat itu, Yan," jawab Reyhan, senang mendengar Yanto mulai sejalan dengan idenya.

Pak Slamet tersenyum puas mendengar diskusi kecil itu. "Ya udah, kita coba pelan-pelan ya. Kalian berdua, tolong lebih teliti lagi tiap ada pelanggan yang keluhannya mirip-mirip gini, biar kita bisa kasih penjelasan yang jujur dan detail."

"Siap, Pak," jawab Reyhan dan Yanto hampir bersamaan.

Sebelum benar-benar membubarkan diri malam itu, Yanto tiba-tiba bertanya sesuatu yang membuat Reyhan sedikit terkejut.

"Mas, boleh nanya nggak? Kenapa sih Mas mau capek-capek mikirin strategi kayak gini buat bengkel ini? Kan Mas cuma kerja sementara doang di sini."

Reyhan terdiam sejenak, mencari jawaban yang jujur tapi tetap aman. "Ya karena saya suka aja liat sesuatu berkembang, Yan. Nggak harus jadi bagian permanen buat peduli sama tempat kerja."

"Filosofis juga jawabannya," celetuk Yanto, meski kali ini terdengar seperti pujian dibanding sindiran.

"Bukan filosofis, cuma jujur aja," jawab Reyhan, tersenyum tipis.

"Ya udah deh, saya jadi makin penasaran sebenernya siapa Mas ini. Tiap minggu ganti kerjaan tapi tiap kerjaan keliatan niat banget dijalanin."

Reyhan tertawa kikuk mendengar itu, mencoba mengalihkan pembicaraan sebelum semakin mengarah ke topik yang berbahaya. "Ah, saya cuma orang biasa aja kok, Yan. Nggak ada yang spesial."

"Terserah deh, Mas. Tapi kalo emang ada rahasia apa-apa, saya juga nggak maksa cerita kok," jawab Yanto, akhirnya membiarkan topik itu berlalu tanpa desakan lebih jauh, membuat Reyhan menghela napas lega dalam hati rahasianya masih aman untuk satu hari lagi.

Dalam perjalanan pulang malam itu, Reyhan merenung sejenak soal betapa dekatnya orang-orang di sekitarnya mulai menebak-nebak keanehan hidupnya, meski belum ada satu pun yang benar-benar tahu kebenarannya.

Dari Fajar yang penasaran soal alasan gonta-ganti karier, sampai Yanto yang mulai curiga ada sesuatu yang "spesial" darinya semua itu membuatnya semakin sadar betapa pentingnya menjaga sikap tenang dan jawaban-jawaban aman setiap kali topik itu muncul.

Ia berhenti sejenak di depan sebuah warung kelontong kecil, membeli air mineral dingin untuk menyegarkan diri setelah hari yang panjang. Pemilik warung, seorang ibu paruh baya yang ramah, menyapa dengan senyum.

"Baru pulang kerja, Dek? Kerja di mana emangnya?"

"Bengkel, Bu. Kebetulan lagi bantu-bantu di daerah sini."

"Wah, rajin ya. Semoga lancar terus rejekinya."

"Aamiin, makasih, Bu."

Reyhan melanjutkan langkahnya pulang, memikirkan kembali temuan menarik hari itu soal pola kerusakan di bengkel resmi, sekaligus menyadari bahwa insting bisnis yang mulai tumbuh dalam dirinya ternyata bisa muncul kapan saja, bahkan di tengah kesibukan belajar hal teknis yang sama sekali baru baginya minggu ini.

1
Rizky Fadillah
tunggu katanya di awal duit cash di sompet sekitar 357rb dan ga cukup bayar kost lah ini duit di rekening ada juga 357rb jd total nya harus nya banyak dong ane ni atau aku yg salah mohon di koreksi lagi thor alur nya sebelum di upload
RR: siap salah. terimakasih sudah mengingatkan 😁
total 2 replies
Wega Luna
next update Thor
Wega Luna
ceritanya keren beda dari yg lain semoga kedepannya saat kaya jangan terlalu angkuh dan meremehkan orang serta jangan sombong , sesuaikan dengan dunia nyata saja😄
RR
bagi pembaca setia novel ini, yang menjadi peringkat pertama fans nanti. saya bakal masukan namanya jadi salah satu karakter utama pendamping MC 😁
RR
terimakasih yg sudah membaca 😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!