Sebagai anak dari selir rendahan, Xiu Ying Nona Ke-9 dari Kediaman Utama selalu hidup tertindas, pasrah, dan dianggap sebagai "sampah" oleh ayah serta saudara-saudaranya. Namun, sebuah insiden di kolam teratai mengubah segalanya. Xiu Ying yang terperosok ke dalam air dingin bangkit sebagai sosok yang sama sekali baru: dingin, cerdik, dan tak lagi sudi diinjak-injak.
Guna menyingkirkan Xiu Ying yang mulai sulit dikendalikan dan demi menyelamatkan putri-putri kesayangannya dari pernikahan politik yang merugikan, sang ayah dengan tega menikahkan Xiu Ying dengan Zhen Yu—Pangeran Ke-7 yang dituduh "idiot" dan kerap dijadikan bahan tertawaan di seluruh istana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 8
***
Malam berangsur makin pekat menyelimuti Istana Zhen. Setelah memandikan Zhen Yu yang kedinginan dan memastikan pria itu tertidur pulas dalam selimut tebalnya, Xiu Ying baru sempat mengganti gaun pengantinnya yang basah dengan pakaian kain merah hati yang sederhana. Rambut panjangnya masih agak lembap saat ia melangkah keluar menuju ruang utama istana.
Namun, di ruang depan, Bibi Guan sudah berdiri berkacak pinggang bersama dua pelayan seniornya. Raut wajahnya dipenuhi keangkuhan yang membara.
"Nona Xiu Ying," potong Bibi Guan kasar saat melihat Xiu Ying muncul. "Melihat Anda sudah selesai 'mengurus' pangeran, saatnya kita menyelesaikan aturan rumah tangga. Mulai malam ini, seluruh kunci gudang penyimpanan, buku kas istana, dan jatah makanan berada di bawah kendali hamba. Anda cukup berdiam diri di kamar dan tidak perlu campur tangan!"
Xiu Ying menghentikan langkahnya, menatap Bibi Guan dengan senyum miring yang teramat dingin. "Bibi Guan, tampaknya ingatanmu sangat pendek. Apakah teguranku di gerbang tadi siang belum cukup jelas bagimu?"
"Hmph! Di gerbang Anda hanya bersilat kata!" balas Bibi Guan sengit, melangkah maju berusaha memojokkan Xiu Ying. "Di kediaman ini, hamba yang telah mengabdi bertahun-tahun atas perintah Istana Utama! Anda hanyalah putri buangan yang tidak punya tempat bersandar. Jika bukan karena hamba, kediaman ini sudah hancur. Jadi jangan coba-coba—"
"Lapor! Lapor Bibi Guan! Lapor Nyonya Utama!" seorang penjaga tiba-tiba berlari masuk dengan wajah pucat pasi. "Kasim Utama dari Kediaman Ibu Suri, Kasim Lian, tiba di gerbang utama membawa utusan khusus!"
Bibi Guan tersentak kaget. Wajahnya seketika pucat. "Kasim Lian?! Mengapa utusan Ibu Suri datang mendadak di tengah malam begini?!"
Tanpa menunggu izin, langkah kaki yang ramai dan kaku bergema di koridor batu. Kasim Lian—seorang pria paruh baya berpakaian sutra biru tua dengan topi tinggi dan wajah licik—melangkah masuk diiringi empat pengawal kerajaan berpedang panjang.
"Aroma kemeriahan pernikahan di Istana Zhen ternyata sangat dingin, ya?" suara Kasim Lian melengking tajam, penuh nada sindiran. Matanya menatap sekeliling ruangan yang sepi sebelum akhirnya tertuju pada Xiu Ying dan Bibi Guan.
Bibi Guan bergegas berlutut dengan tubuh gemetar. "H-Hamba memberi salam kepada Kasim Lian! Semoga Ibu Suri panjang umur!"
Xiu Ying tetap berdiri tegak, menyilangkan kedua tangannya di dalam lengan baju dengan anggun. Kasim Lian menyipitkan matanya, merasa tersinggung atas sikap dingin pengantin baru itu.
"Jadi ini Nona Kesembilan dari Keluarga Xiu?" cemooh Kasim Lian sambil menyapu baju zirah pengawalnya. "Atau harus kusebut Istri Pangeran Ke-7? Mengapa tidak berlutut menyambut utusan Ibu Suri? Apakah Keluarga Xiu tidak pernah mengajarimu cara menghormati istana?"
"Saya menyambut utusan dengan rasa hormat di dalam hati, Kasim Lian," jawab Xiu Ying datar tanpa ketakutan sedikit pun. "Lagipula, Kediaman Pangeran Ke-7 baru saja melewati prosesi pernikahan. Jika Kasim Lian datang membawa berkah Ibu Suri, saya menyambutnya. Namun jika hanya datang untuk menguji tata krama, saya rasa ini bukan waktu yang tepat."
"Lidah yang sangat tajam!" dengus Kasim Lian sinis. "Ibu Suri sangat mengkhawatirkan pernikahan ini. Beliau takut seorang putri dari selir rendahan tidak sanggup melayani Pangeran Ke-7... atau malah memanfaatkan keadaan Pangeran yang 'kurang akal' ini untuk kepentingan pribadinya."
Belum sempat Xiu Ying membalas, pintu kamar dalam mendadak terbuka lebar.
Pangeran Zhen Yu keluar sambil memeluk guling kain putih yang agak kotor. Matanya yang sembap tampak berkedip-kedip kebingungan, jubah tidurnya yang longgar sedikit melorot di bagian bahu.
"Kakak Cantik... Yu-er takut... Banyak orang galak berisik sekali..." rengek Zhen Yu dengan suara polos, langsung berlari kecil dan bersembunyi di belakang tubuh Xiu Ying yang jauh lebih kecil darinya. Ia mencengkeram pinggang Xiu Ying erat-erat seperti anak kecil yang mencari perlindungan dari monster.
Melihat Pangeran Ke-7 bertingkah konyol seperti itu, Kasim Lian tertawa mengejek tanpa ditutup-tutupi.
"Lihatlah ini... Yang Mulia Pangeran Ke-7 kita yang agung," ujar Kasim Lian sambil melangkah mendekat, sengaja melontarkan hinaan langsung. "Sudah dewasa, memiliki istri, tapi masih bersembunyi di balik rok wanita seperti bayi menyusu. Sungguh pemandangan yang menyedihkan bagi garis keturunan Kekaisaran."
Kasim Lian menatap Xiu Ying dengan tatapan merendahkan. "Nona Xiu, menikahi pria idiot seperti ini tentu sangat menyiksamu, bukan? Pangeran ini hanyalah beban tak berguna bagi kerajaan. Menjadi istrinya sama saja dengan dibuang hidup-hidup."
Provolasi itu sengaja dilontarkan untuk memancing kemarahan Xiu Ying atau membuat Zhen Yu mengamuk histeris. Namun, mata Xiu Ying seketika berkilat membunuh.
Sifat dasar Chen Zuyi yang sangat membenci orang sok berkuasa mendadak membara. Walaupun ia baru mengenal Zhen Yu beberapa jam dan sempat mengira pria itu idiot sungguhan, ia tidak akan membiarkan siapa pun menghina suaminya di depan matanya sendiri!
"Tutup mulutmu, Kasim Lian!" bentak Xiu Ying tajam, suaranya menggelegar memenuhi ruangan hingga Kasim Lian terperanjat mundur satu langkah.
"K-Kau... berani-beraninya membentakku?!" pekik Kasim Lian terbelalak.
Xiu Ying melangkah satu baris ke depan, berdiri membusungkan dada tepat di hadapan Zhen Yu, menjadikannya perisai tak tertembus untuk sang pangeran.
"Pangeran Zhen Yu adalah putra kandung Kaisar Yang Mulia dan pangeran sah Kekaisaran!" tegas Xiu Ying dengan aura dominasi yang luar biasa memukau. "Dialah majikan di tanah ini! Sedangkan kau... hanyalah seorang pelayan yang dikirim untuk menyampaikan pesan! Mengatakan bahwa seorang pangeran adalah 'beban tak berguna' di dalam kediamannya sendiri... apakah kau sedang menghina garis keturunan Yang Mulia Kaisar?!"
"A-Aku tidak bermaksud begitu!" gelagapan Kasim Lian, wajahnya mendadak memucat saat menyadari kata-katanya bisa diputarbalikkan menjadi pasal pengkhianatan.
"Jika Ibu Suri bertanya mengapa pernikahan ini begitu tenang, jawabannya adalah karena Pangeran Zhen Yu memiliki hati yang murni tanpa kebencian dan tipu daya!" lanjut Xiu Ying dengan nada menekan yang sangat dingin. "Beliau jauh lebih terhormat daripada orang-orang berlidah racun yang berpura-pura setia di dalam istana!"
Di belakang punggung Xiu Ying, Zhen Yu yang tadinya berpura-pura gemetaran, perlahan mengerjapkan matanya. Pancaran mata polosnya mendadak berganti menjadi binar kehangatan yang sangat dalam saat menatap punggung wanita yang baru menjadi istrinya itu. Belum pernah ada seorang pun di istana ini yang berani berdiri dan membalas hinaan utusan kerajaan demi membelanya.
Tiba-tiba, Zhen Yu memiringkan kepalanya dan mengendus-endus ke arah Kasim Lian. Dengan wajah sangat polos, ia menunjuk wajah sang kasim sambil tertawa keras.
"Hahaha! Kakak Cantik, paman bau ini baunya aneh sekali!" celoteh Zhen Yu dengan nada riang yang kekanak-kanakan. "Baunya seperti minyak babi busuk yang ada di dapur! Hahaha! Paman Bau! Paman Bau!"
"A-Apa?!" wajah Kasim Lian memerah padam karena malu dan marah. "Pangeran! Jaga bicara Anda!"
"Eh? Paman Bau marah?" Zhen Yu tiba-tiba mengambil sebutir buah plum kering dari piring di meja dekat situ, lalu dengan sengaja melemparkannya tepat ke arah dahi Kasim Lian.
PLAK!
"Aduh!" jerit Kasim Lian sambil memegangi dahinya yang memar kecil.
"Hore! Kena paman bau!" tawa Zhen Yu bertepuk tangan gembira, lalu kembali bersembunyi di belakang Xiu Ying sambil menjulurkan lidahnya.
Para pengawal di belakang Kasim Lian menahan tawa setengah mati, sementara Bibi Guan hanya bisa menunduk gemetar ketakutan.
Xiu Ying menahan senyumnya, lalu menatap Kasim Lian dengan pandangan dingin yang penuh kemenangan. "Kasim Lian, Anda lihat sendiri? Bahkan Pangeran pun tahu mana orang yang memiliki niat buruk. Jika Anda tidak memiliki hal penting lainnya untuk disampaikan, harap segera tinggalkan Istana Zhen. Pangeran butuh istirahat, dan saya tidak akan segan-segan mengusir siapa pun yang mengganggu kedamaian suami saya!"
Kasim Lian merapikan topinya yang miring dengan tangan gemetar karena malu dan murka. Namun, melihat ketegasan Xiu Ying dan perlindungan tajam yang ditunjukkannya, sang kasim menyadari bahwa ia tidak bisa menindas pasangan ini dengan mudah.
"Bagus... Bagus sekali!" desis Kasim Lian penuh dendam. "Hamba akan menyampaikan semua perlakuan 'hangat' dari Istri Pangeran Ke-7 ini kepada Ibu Suri! Kita lihat berapa lama Anda bisa bersikap sombong!"
"Silakan," balas Xiu Ying singkat dan penuh keangkuhan.
Kasim Lian mengibaskan lengan bajunya dengan kasar dan berbalik pergi meninggalkan istana bersama para pengawalnya yang bergegas mengekor.
Setelah rombongan utusan itu menghilang sepenuhnya di balik gerbang, suasana ruangan kembali hening. Bibi Guan yang ketakutan setengah mati langsung merayap dan mundur pelan-pelan tanpa berani bersuara lagi.
Xiu Ying memutar tubuhnya, menatap Zhen Yu yang masih memegang ujung jubah tidurnya.
"Apakah kamu terluka?" tanya Xiu Ying lembut, memeriksa lengan dan dahi pria itu.
Zhen Yu menggelengkan kepalanya cepat. Ia menyunggingkan senyum lebar yang sangat tulus, lalu tiba-tiba mengulurkan kedua tangan jangkungnya dan memeluk tubuh Xiu Ying dengan erat.
"Yu-er tidak terluka... Kakak Cantik hebat sekali!" bisik Zhen Yu manis di samping telinganya. "Kakak Cantik lindungi Yu-er dari paman jahat... Yu-er sayang Kakak Cantik!"
Xiu Ying tersentak pelan menerima pelukan hangat itu. Aroma harum kayu cendana dan angin segar berhembus dari tubuh Zhen Yu. Perlahan, kekakuan di tubuh Xiu Ying luluh. Ia menepuk-nepuk punggung kokoh suaminya itu dengan lembut.
"Mulai hari ini," bisik Xiu Ying mantap di dalam hatinya, "siapa pun yang berani menyentuh atau menghina pangeran ini... harus melewati jasadku terlebih dahulu."
Tanpa Xiu Ying sadari, di balik bahunya, senyuman polos di wajah Pangeran Zhen Yu perlahan memudar, berganti dengan senyuman tipis yang teramat tampan, berwibawa, dan sarat akan perlindungan mutlak bagi wanita di pelukannya.
( Bersambung)