"Dia sudah kembali, ayo kita bercerai."
Menjadi istri pengganti untuk Dokter Zidan, bukanlah keinginan Humaira. Namun saat pernikahan tantenya berlangsung, wanita itu tidak datang. Demi mempertahankan harga diri keluarga, dia ditunjuk untuk menggantikan tantenya menjadi mempelai wanita.
Tak ada yang tahu: sebenarnya Humaira adalah wanita bernoda, karena pernah ditiduri oleh Dokter Zidan. Namun miris, Zidan tak tahu bahwa wanita itu adalah Humaira.
Dan takdir justru berpihak padanya. Dimana, Humaira malah berakhir menjadi istri pengganti bagi pria itu.
Selang beberapa minggu pernikahan mereka, kekasih Zidan akhirnya kembali. Dan Humaira memutuskan untuk bercerai. Tanpa ada yang tahu, dia sudah mengandung anak Dokter Zidan.
Bagaimana kelanjutannya? Apakah Zidan akan setuju bercerai agar bisa kembali pada kekasihnya? Atau dia memilih tetap mempertahankan Humaira—yang baginya hanyalah istri pengganti sementara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bunda Qamariah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 Paksaan bercerai
Humaira mematikan mesin sepeda motornya tepat di tempat parkir pegawai. Setelah melepas helm, ia melangkah masuk ke area rumah sakit.
Namun, langkah kakinya mendadak terhenti saat menangkap sosok yang tak asing berdiri tak jauh dari pintu masuk utama.
Di sana, ibunya sudah berdiri menunggunya.
Humaira berjalan cepat mendekati wanita paruh baya itu dengan kening berkerut. "Ada apa, Bu?" tanya Humaira.
Begitu jarak mereka sangat dekat, pandangan Humaira memaku pada wajah sang ibu. Matanya sembap, dan di salah satu pipinya masih berbekas kemerahan samar berbentuk telapak tangan—sebuah jejak kekerasan yang jelas.
"Ibu kenapa? Ayah pukul Ibu lagi?" desak Humaira, dadanya mendadak bergemuruh cemas.
Ibunya menggeleng cepat, mencoba mengumbar senyum. "Tidak Humaira, Ibu... cuma tidak sengaja terjatuh," bohong.
"Bu, jangan bohong sama aku!" Tegas gadis itu memaksa sang ibu buat bicara.
Tapi Yanti ibunya justru menunduk seperti tak ingin mengatakan apapun.
Menarik napas hanya bisa pasrah. "Baiklah, ada perlu apa Ibu datang kemari pagi-pagi begini?"
Kembali mengangkat pandangannya dengan tatapan ragu, tapi wanita paruh baya itu tak punya pilihan.
"Humaira... maafkan Ibu kalau selalu merepotkan kamu."
"Enggak apa-apa, Bu. Ibu bilang aja, sebenarnya Ibu kenapa?"
Sang ibu kembali menunduk sebentar sebelum akhirnya memberanikan diri menatap putrinya. "Boleh enggak... Ibu pinjam uang sama kamu?"
Humaira langsung mengangguk cepat. "Tentu saja, Bu. Ibu butuh berapa?"
Sebenarnya simpanan Humaira tidaklah banyak.
Namun, jika ibunya hanya membutuhkan sekadar beberapa juta, uang tabungan dari hasil kerjanya sebagai perawat masih cukup untuk membantu.
Sebenarnya, Humaira diberikan kartu uang saku sebagai nafkah dari Zidan untuk kebutuhan pribadinya.
Pria itu memberikannya sejak mereka resmi menikah. Namun, Humaira yang sadar diri akan posisinya merasa sama sekali tidak berhak menyentuh uang tersebut.
Selama tiga minggu mendampingi Zidan, tak sepeser pun uang dari suaminya yang ia pakai. Humaira menyimpan pemberian itu di dalam laci. Ia enggan memperkeruh keadaan atau terikat lebih jauh.
Terlebih lagi, ia khawatir jika suatu hari nanti perceraian mereka terjadi, Zidan atau keluarganya akan meminta pertanggungjawaban atas setiap rupiah yang ia gunakan.
Keputusannya sudah bulat: ia memilih untuk bersikap tahu diri dan tidak berani lancang menyentuh harta pria itu meski statusnya istri sah.
Mata wanita paruh baya itu berkaca-kaca.
"Ibu... butuh sepuluh juta, Nak."
"Sepuluh juta?" Humaira terpaku sejenak.
Dia teringat saldo di rekening pribadinya hanya tersisa 7 juta rupiah.
Namun, melihat raut cemas di wajah ibunya, Humaira tidak ingin membuat ibunya nanti akan ragu. Ia merogoh tas kerjanya, mengeluarkan kartu ATM miliknya, lalu menggenggamkan kartu itu ke telapak tangan sang ibu.
"Di dalam sini ada tujuh juta, Bu. Cuma ini yang Humaira punya sekarang," tutur Humaira lembut. "Tapi kalau Ibu memang butuh sepuluh juta, nanti sisa tiga jutanya akan Humaira usahakan cari."
Yanti menggeleng, ingin mengembalikan ATM itu, "Jangan, Nak. Jangan! Kalau uang kamu cuma ini, biar Ibu cari pinjaman ditempat lain saja."
"Tidak, Bu. Ibu pakai saja uang ini," desak Humaira.
"Tapi kalau Ibu ambil semua uangmu, kamu pakai apa untuk kebutuhanmu sehari-hari?" tanya ibunya penuh kekhawatiran.
Humaira tersenyum tipis, lalu perlahan mengulurkan tangan mengusap lembut pipi ibunya yang masih berbekas memar. Matanya mulai berkaca-kaca menahan penderitaan yang tak tersampaikan.
"Humaira baik-baik saja, Bu. Dokter Zidan juga ada memberi Humaira sejumlah uang saku..."
Raut wajah ibunya berubah tegang. Wanita itu dengan cepat menggeleng, lalu menangkup kedua pipi putrinya dengan jemari.
"Jangan, Nak! Jangan sekali-kali kamu berani pakai uangnya!" cegah ibunya tegas, matanya menatap intens. "Kamu harus tahu posisi dan sadar diri. Jangan pernah menyentuh uang itu!"
"Ibu tenang saja, Humaira paham dan tahu batasannya," bisik Humaira berusaha menenangkan.
"Tolong, Nak... jangan mempersulit dirimu sendiri," tangis ibunya pecah.
"Iya, Bu, tidak apa-apa. Ibu pakai saja uang yang 7 juta ini dulu. Nanti sisa 3 jutanya biar Humaira usahakan mencari pinjaman."
Tangis wanita paruh baya itu pecah. Tanpa kata, Humaira langsung mendekap tubuh ringkih ibunya.
"Maafkan Ibu... maafkan Ibu yang sering merepotkanmu, Humaira..." bisik sang ibu di selang isaknya.
"Sudah, Bu, tidak apa-apa," balas Humaira lembut. Bagi Humaira, membantu ibunya sama sekali bukan beban. Sisa tiga juta rupiah itu akan ia usahakan sendiri, entah bagaimana caranya.
Yanti melepas pelukannya dan menatap putrinya itu. Hatinya teriris melihat putri sulungnya harus menanggung beban hidup yang begitu berat.
Meski kini Humaira bersuamikan pria kaya raya dan berkedudukan tinggi, pahitnya pengalaman hidup Yanti sebagai istri simpanan melahirkan ketakutan yang teramat mendalam. Ia tidak ingin jalan hidup kelam yang pernah dilaluinya terulang dan menimpa putri tercintanya.
"Kalau begitu, Ibu pulang dulu ya, Nak," ujar Yanti seraya mengusap sisa air mata di pipinya.
"Iya, Bu. Hati-hati di jalan," balas Humaira.
Humaira memandangi kepergian ibunya hingga menghilang di balik gerbang, lalu memutar tubuh dan melanjutkan langkah masuk ke dalam bangunan rumah sakit.
Ia berusaha mengesampingkan beban pikiran dan rasa cemasnya demi menjalankan tugas sehari-hari sebagai perawat.
Baru beberapa langkah melintasi koridor, seorang rekan kerjanya datang menghampiri dengan wajah terburu-buru.
"Humaira! Kebetulan banget ketemu kamu di sini," panggil perawat itu setengah berbisik. "Bisa tolong gantikan aku sebentar? Ini ada nampan makanan untuk pasien di ruang VIP. Tolong antarkan ke sana ya, perutku mendadak mules banget mau ke toilet."
Humaira mengangguk tanpa keberatan. "Iya, baiklah. Sini, biar aku yang antarkan."
Gadis itu menerima nampan makanan, lalu menuju bangsal VIP.
Sesampainya di depan pintu ruangan yang dituju, ia mengetuk pelan sebelum memutar gagang pintu.
Klek.
Begitu pintu terbuka, langkah Humaira terhenti. Pemandangan di dalam ruangan itu cukup mengejutkannya.
Di sana, di sekeliling ranjang pasien, telah berkumpul Zidan, omanya, serta Lina—tante tertua Humaira.
Di atas peraduan pasien, berbaring Melodi, sosok wanita yang menjadi alasan utama kekacauan dalam hidupnya saat ini.
Humaira menetralkan ekspresi wajahnya dengan cepat, berusaha tetap profesional sebagai seorang tenaga medis.
"Permisi..." ucap Humaira datar namun sopan.
Semua orang yang berada di dalam ruangan itu menoleh bersamaan ke arah sumber suara.
Melihat Humaira yang melangkah masuk sembari membawa nampan makanan di tangannya.
"Apa ini makanan untuk Tante?" tanya Humaira santun.
"Ya, simpan saja di situ," sahut Melodi acuh tak acuh tanpa sudi menatapnya.
Humaira menahan gejolak di dadanya menyimpan nampan tersebut. Sejujurnya ia ingin bertanya bagaimana kondisi kesehatan tantenya itu, tetapi dia tahu posisinya—kehadirannya sama sekali tidak diharapkan di ruangan tersebut.
Begitu selesai menaruh nampan, ia berniat langsung melangkah keluar.
"Humaira, sini sebentar," panggil Oma Ratih dengan suara tegas.
Zidan yang berdiri di sisi ranjang hanya membisu, mengamati gerak-gerik sang Oma. Pria itu sendiri sebenarnya baru saja melangkah masuk ke ruang VIP tersebut dan belum sempat menanyakan kondisi Melodi.
Humaira berbalik. "Iya, Oma?"
"Tadi Oma lihat ibumu ada di bawah. Mau apa lagi dia ke sini?" tanya Oma dengan nada curiga.
"Hanya ada sedikit keperluan saja, Oma," jawab Humaira.
Oma tersenyum sinis. "Benarkah?"
"Melodi sudah pulang. Kamu pasti sudah lihat sendiri, kan? Berarti kamu tidak keberatan kalau akhirnya bercerai dengan Zidan? Toh, pernikahan kalian dari awal hanya untuk mempertahankan martabat keluarga."
Humaira mengulas senyum tipis. "Tentu saja, Oma. Saya siap bercerai kapan saja."
Mendengar jawaban tanpa keraguan itu, raut wajah Zidan mendadak berubah.
Pria itu melempar pandangan tak senang ke arah Oma mertuanya. Sikap sang Oma seolah sama sekali tak menghargainya sebagai kepala keluarga. Seharusnya mereka bertanya padanya terlebih dahulu, bukan malah menyudutkan Humaira.
"Lalu kapan kalian akan mengurus surat cerainya?" desak Oma lagi.
"Saya sudah memberikan su--"
"Nanti akan segera kami urus," potong Zidan cepat, memangkas ucapan Humaira yang hendak membeberkan bahwa surat cerai itu sudah ada, dan sebenarnya sudah dia tandatangani.
"Tunggu sebentar di sini, ada hal penting yang harus saya urus di luar. Humaira, ikut keruangan saya." Lanjut Zidan tegas.
Tanpa menunggu tanggapan, Zidan memutar tubuh dan melangkah lebar meninggalkan ruang VIP, menuntut Humaira untuk menyusul.
dulu th 2018 aku pernah baca si cowok gay awal aku rada" pas baca TK kira BL story 🤦😂