"Dia sudah kembali, ayo kita bercerai."
Menjadi istri pengganti untuk Dokter Zidan, bukanlah keinginan Humaira. Namun saat pernikahan tantenya berlangsung, wanita itu tidak datang. Demi mempertahankan harga diri keluarga, dia ditunjuk untuk menggantikan tantenya menjadi mempelai wanita.
Tak ada yang tahu: sebenarnya Humaira adalah wanita bernoda, karena pernah ditiduri oleh Dokter Zidan. Namun miris, Zidan tak tahu bahwa wanita itu adalah Humaira.
Dan takdir justru berpihak padanya. Dimana, Humaira malah berakhir menjadi istri pengganti bagi pria itu.
Selang beberapa minggu pernikahan mereka, kekasih Zidan akhirnya kembali. Dan Humaira memutuskan untuk bercerai. Tanpa ada yang tahu, dia sudah mengandung anak Dokter Zidan.
Bagaimana kelanjutannya? Apakah Zidan akan setuju bercerai agar bisa kembali pada kekasihnya? Atau dia memilih tetap mempertahankan Humaira—yang baginya hanyalah istri pengganti sementara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bunda Qamariah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 Dilema
"Tapi karena apa, Zidan? Ayah lihat rumah tangga kalian selama ini baik-baik saja. Kenapa tiba-tiba kamu ambil keputusan mau bercerai? Humaira itu gadis yang sangat baik, santun, dan sama sekali tidak pernah banyak menuntut... tidak seperti pacarmu itu," ujar Rendra langsung mengutarakan rasa tidak sukanya selama ini pada Melodi.
Sebagai seorang ayah, Rendra tahu bagaimana tabiat Melodi. Selama tujuh tahun Zidan menjalin hubungan dengan wanita itu, Rendra sudah cukup mengerti betapa dominan dan banyaknya tuntutan yang sering dibebankan Melodi kepada putranya. Tapi pria tua itu memilih diam saja tidak mau mencampuri urusan pribadi anak-anaknya, karena takut mereka merasa tidak nyaman.
Tapi mendengar keputusan putranya yang mau menceraikan istrinya, dia langsung bilang tentang pandangannya selama ini pada Melodi.
Zidan mengalihkan pandangannya, enggan menatap mata ayah.
"Ayah... aku dan Melodi sudah bersama selama tujuh tahun. Tidak semudah itu untuk kami mengakhiri semuanya. Dan itu sangat butuh waktu," ujar Zidan memberi alasan.
Tidak dipungkiri, dalam hati Zidan, dia pun sudah merasa nyaman berada di dekat Humaira. Tapi, dia tidak bisa berbuat apa-apa. Saat ini dia terjebak dan tidak tahu bagaimana harus mencari jalan keluar.
Rendra menghela napas.
"Ayah sebenarnya tidak masalah. Kamu mau menceraikan istrimu dan memilih menikah dengan Melodi, itu semua urusan pribadi kamu. Tapi kalau kamu bertanya sama Ayah... jika Ayah ada di posisimu, Ayah akan tetap memilih Humaira."
Zidan terdiam mendengar ucapan ayahnya.
"Kenapa? Humaira itu, meskipun sering dipandang hina dan dijuluki anak haram oleh orang-orang, dari cara pandang Ayah dia adalah anak yang selalu positif, lembut, dan tahu bagaimana bersikap sopan."
"Selain itu juga, Humaira hampir satu profesi denganmu, Zidan. Kalian bekerja di tempat yang sama. Dengan begitu, kalian bisa jauh lebih saling mengerti satu sama lain—paham bagaimana melelahkannya pekerjaan, paham keadaan masing-masing, dan bisa saling berbagi masalah. Jika nantinya kalian berdua menghadapi sesuatu yang sulit untuk diputuskan, kalian punya pijakan yang sama untuk menyelesaikannya."
"Jujur, Ayah sangat menyukai anak itu. Tapi balik lagi, yang menjalani hidup ini kan kamu, bukan Ayah. Ini cuma sebatas harapan seorang Ayah."
Rendra jeda sejenak.
"Ayah cuma mau bilang satu hal. Jangan sampai kamu salah pilih. Tuhan sudah mengirimkan wanita sebaik Humaira untukmu. Jangan sampai kamu malah salah langkah dan justru menikah dengan wanita yang... yah, Ayah sendiri sulit mengatakannya. Kamu sudah dewasa, Zidan. Kamu harusnya lebih tahu mana yang terbaik karena kamu yang menjalaninya."
Pria paruh baya itu langsung bangkit berdiri dari duduknya. Kekecewaan terpancar jelas dari gurat wajahnya.
"Kembali lagi, keputusan ditangan mu."
Rendra lalu melangkah pergi. Jauh di lubuk hatinya, Rendra hanya ingin menantunya cukup Humaira.
Tapi mendengar keputusan putranya sendiri, ia bisa apa? Bagaimanapun juga Zidan sudah dewasa dan berhak menentukan jalan hidupnya sendiri.
Zidan semakin diliputi rasa yang sulit digambarkan. Semakin takut kehilangan Humaira tumbuh semakin besar. Tapi di sisi lain, ia merasa tak punya pilihan untuk lari dari situasinya saat itu.
Zidan bangkit dan melangkah naik ke lantai atas.
Sesampainya di kamar, ia menghentikan langkah dan memandang sekeliling ruangan yang sunyi.
Bayangan sosok Humaira seolah hadir di setiap sudut. Perlahan, kakinya melangkah mendekati tempat tidur—melihat sisi yang sering ditiduri oleh istrinya setiap malam.
Matanya lalu beralih menatap meja rias, tempat di mana istrinya kerap duduk menyisir rambut.
Ia melangkah lagi masuk ke ruang ganti. Pandangannya menyapu deretan gantungan baju, tempat di mana Humaira sering dengan telaten meletakkan dan menyiapkan pakaian untuknya setiap pagi.
Hatinya semakin berdesir hebat. Keputusan untuk menceraikan Humaira semakin membuatnya terluka.
Di bawah, pintu depan perlahan terbuka. Humaira baru saja pulang dari rumah sakit dan melangkah masuk ke dalam rumah. Ruangan itu sunyi, seolah tak berpenghuni.
Tubuhnya sangat lelah setelah berjam-jam bekerja. Tanpa berpikir panjang, ia langsung berjalan naik ke lantai atas.
Ceklek.
Membuka pintu dan masuk ke dalam kamar. Sambil memijat pelan bahunya yang terasa pegal, Humaira melangkah terus menuju ke dalam ruang ganti, berniat mengambil pakaian untuk segera membersihkan diri.
Sama sekali tidak menyadari keberadaan Zidan di sana. Namun, saat tangannya hendak menggapai lemari, tiba-tiba sepasang lengan kokoh melingkar erat di pinggangnya dari belakang.
Tubuh Humaira membeku. Ia sempat hendak berteriak kaget, namun aroma parfum khas milik suaminya langsung terhirup oleh indranya.
Humaira mengurungkan niatnya dan hanya bisa terdiam, sama sekali tak mengerti mengapa pria itu bertingkah aneh.
"Ada apa denganmu? Aku mau mandi," ujar Humaira pelan, berusaha mengurai pelukan Zidan.
Bukannya melepaskan, Zidan justru semakin mengeratkan lingkar tangannya di tubuh sang istri.
"Biarkan seperti ini sebentar..." bisiknya lirih di dekat telinga Humaira.
Akhirnya Humaira mengalah. Ia berdiri bergeming di tempatnya, membiarkan tubuhnya didekap dari belakang.
Bingung. Seharian ini Zidan tidak datang bekerja dan sama sekali tak menampakkan batang hidungnya di rumah sakit. Namun, begitu pulang, pria itu justru bertingkah sangat asing.
Seumur pernikahan mereka, baru pertama kali ini Zidan memeluknya.
Cukup lama mereka saling terdiam dalam posisi itu. Karena terlalu lama berdiri, Humaira mulai merasa lelah.
"Ada apa?" tanya Humaira lagi memecah keheningan.
Bukannya menjawab, Zidan justru perlahan meraba dan menggerakkan salah satu telapak tangannya turun ke arah perut Humaira.
Belum sempat Humaira menghalangi atau menepisnya, tangan kokoh pria itu sudah menempel erat di sana.
Zidan mengerutkan dahinya. Ia merasakan perut istrinya tampak agak membusung, dan dari sentuhan tangannya, ia bisa merasakan ada sesuatu yang tidak biasa di dalam sana.
Zidan kembali ingin meraba untuk memastikan.
Namun, Humaira yang panik dan takut rahasia kehamilannya terbongkar, buru-buru melepaskan diri.
Dia mendorong tangan Zidan dan mengambil beberapa langkah ke belakang untuk menjaga jarak aman. Humaira berbalik menghadap pria itu.
"Ada apa dengan Dokter?" tanya Humaira berusaha menetralkan suaranya. "Saya mau mandi, Dokter. Saya lelah dan ingin istirahat."
Zidan menatap tangannya yang menggantung di udara, lalu beralih melihat perut Humaira.
"Kamu... ada apa dengan perutmu, Humaira?" Tanya Zidan mulai curiga.
Humaira melempar pandangan ke sembarang arah, berusaha keras untuk terlihat tenang meskipun hatinya sedang berperang hebat.
"Ada apa dengan perut saya, Dokter? Hari ini saya terlambat makan. Mungkin saya hanya masuk angin. Saya harus segera mandi," ucap Humaira mengalihkan pembicaraan.
"Masuk angin?" ujar Zidan mengulangi ucapan itu dengan nada ragu, membuat Humaira yang sudah melangkah menuju pintu refleks menghentikan langkahnya.
"Kenapa aku merasa..."
"Merasa apa, Dokter?" Humaira cepat-cepat berbalik menghadap Zidan, memotong kalimat pria itu. "Anda tidak berniat menuduh saya yang tidak-tidak, kan?"
Humaira dengan cepat membalikkan keadaan sebelum Zidan mengeluarkan kata-kata yang sama sekali tidak ingin ia dengar.
"Maaf..." akhirnya Zidan menyerah. Pria itu memilih untuk tidak mendesak atau mencari tahu lebih jauh lagi.
Wanita itu kembali ingin melangkah.
"Humaira."
Humaira menghela napas pelan lalu berbalik. "Ada apa lagi, Dokter?"
Zidan melangkah ke arah lemari, mengambil sebuah gaun yang baru saja ia gantungkan di sana siang tadi.
"Ini untukmu," ujar Zidan.
Humaira melirik gaun elegan berwarna hitam yang tampak sangat mewah di tangan suaminya.
"Untukku? Untuk apa, Dokter?"
"Ini..." Zidan menggantung ucapannya sejenak, menatap lekat paras manis Humaira di depannya. "Malam ini kita harus menghadiri acara di rumah Oma Ratih."
"Dokter pergi saja, saya tidak bisa ikut. Saya lelah," tolak Humaira. Ia memang sama sekali tidak berniat untuk hadir di sana.
"Melodi mengundangmu, Humaira..." Ujar Zidan, yang ternyata Melodi yang memintanya untuk mengajak Humaira ikut serta.
Mendengar nama Melodi disebut, bibirnya mengukir senyum kecut.
"Tante Melodi?" gumam Humaira. "Tapi saya benar-benar tidak ingin pergi, Dokter. Kondisi saya sedang tidak fit."
Humaira memutar tubuhnya untuk benar-benar masuk ke kamar mandi.
Tapi lagi-lagi, ada yang menghentikannya. Ponsel di tasnya berdering.
Dengan helaan napas, ia pergi mengambil tasnya yang bergantung diruang ganti, ingin mengangkat panggilan tersebut.
Ternyata telepon dari Oma Ratih.
"Halo, Oma..."
"Humaira! Kamu harus datang ke acara malam ini, tidak boleh tidak!" cecar Ratih dari seberang telepon tanpa basa-basi.
"Tapi, Oma—"
"Tidak ada tapi-tapian! Kalau Oma bilang datang, ya datang! Kamu ini suka sekali membantah!" tegas Ratih dengan nada menekan, tak memberikan ruang sedikit pun untuk Humaira menolak.
Panggilan terputus sepihak. Mau tidak mau, Humaira terpaksa menuruti perintah itu. Ia melihat Zidan yang masih berdiri memegang gaun hitam tersebut.
"Baiklah, saya akan ikut. Saya mandi dulu," ujar Humaira akhirnya mengalah, menyambar gaun di tangan Zidan lalu berlalu masuk dan mengunci pintu kamar mandi.
Ya Tuhan... Drama apa lagi yang akan menunggu disana. Aku benar-benar sangat lelah. Batin Humaira sembari mengguyur tubuhnya dengan air dingin.
_____
"Itu, kamu bawa kesana! Udah ada beberapa tamu yang datang!"
dulu th 2018 aku pernah baca si cowok gay awal aku rada" pas baca TK kira BL story 🤦😂