“Di balik senyum indahnya, tersimpan luka yang tak pernah terlihat.”
mas aku bukan orang baik pergih saja:"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurul Marisa putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
wanita malam: jangan kurang ajar ya
Alya sudah selesai berganti pakaian untuk jamuan kantor sore itu. Ia mengenakan gaun elegan berwarna merah marun, rambutnya ditata rapi dan anggun.
Kevin yang melihatnya tampak terpaku, matanya penuh kekaguman. "Cantik banget calon istriku... persis seperti bidadari," puji tulusnya.
Alya tersenyum malu. "Ah, masa sih? Kamu pasti ada maunya nih," candanya.
"Ih, emang bener kok kamu cantik sekali," jawab Kevin tegas sambil memandanginya lekat-lekat.
"Ih, gombal terus..." ucap Alya manis, lalu mendekat dan memeluk Kevin dengan hangat.
"Ayo cepat ya... nanti kita telat, Kevin! Kamu malah merayu aku terus nih," ucapku sambil tersenyum menuntut.
Kevin tersenyum lembut, menggenggam tanganku erat. "Iya, Sayangku... ayo kita berangkat."
Kevin dan Alya pun berangkat menuju lokasi dengan mengendarai mobil milik Kevin.
Di perjalanan, Alya tampak gelisah. "Kevin... aku belum terbiasa ikut acara sebesar ini," ucapnya ragu, suara penuh ketidakyakinan.
Kevin tersenyum lembut, menggenggam tangan Alya erat. "Tidak apa-apa, kan ada aku. Kamu tenang saja."
"Di sana nanti banyak orang-orang penting..." gumamnya cemas.
"Kamu tinggal di samping aku saja. Jangan kemana-mana ya," jawabnya tegas namun menenangkan.
Alya menatapnya lega. "Iya, Sayangku."
Kevin dan Alya melangkah masuk ke dalam gedung tempat acara jamuan Keluarga Baskara digelar. Suasananya sungguh mewah luar biasa. Lampu-lampu gantung yang indah memancarkan cahaya hangat, tata letak ruangan elegan, serta hidangan dan hiasan yang tampak istimewa.
Di sana berkumpul para tamu penting, baik dari dalam kota maupun perwakilan dari luar negeri. Semua orang mengenakan pakaian rapi, anggun, dan sangat berkelas. Suasana terasa persis seperti acara elit yang penuh wibawa.
Di sana, tampak banyak sekali putri-putri pengusaha yang hadir. Mereka cantik-cantik, berpenampilan mempesona, dan berpendidikan luar biasa.
Alya menunduk pelan, batinnya perih. Kalau dibandingkan dengan mereka... aku cuma wanita biasa. Aku rasanya tidak layak disandingkan dengan mereka, apalagi berdiri di samping Kevin.
Tiba-tiba ada pasangan yang menghampiri mereka. Adalah Pak Hadi bersama putrinya, Sinta. Mereka menyapa ramah; kebetulan Pak Hadi memegang kendali atas perusahaan cabang Grup Baskara.
"Kevin, apa kabar? Bagaimana keadaanmu?" sapa Pak Hadi hangat.
"Baik, Om," jawab Kevin. Ia memang sudah dekat dan akrab dengan Pak Hadi sejak kecil.
"Oh, siapa orang di sampingmu ini, Kevin?" tanya Pak Hadi menatap Alya.
Sinta yang berdiri di sampingnya langsung menyahut lebih dulu, "Dia sekretaris perusahaan Kevin, Ayah... anak magang."
"Ooh, jadi sekretarisnya Kevin ya? Tumben sekali Kevin membawa pendamping begini," ucap Pak Hadi sambil tertawa kecil, nadanya terdengar meremehkan.
"Iya, kebetulan saja ada waktu luang, Om," jawab Kevin singkat dan tenang, berusaha melindungi Alya.
Sinta menatap tajam ke arah Alya, batinnya penuh amarah dan rasa muak.
"Dalam hati Sinta: Wanita jalanan itu lagi... Ngapain sih dia ke mana-mana ikut terus sama Kevin? Jadinya aku jadi nggak punya kesempatan sama sekali buat dekat sama Kevin!"
Alya menatap wajah Sinta yang terlihat kaku dan dingin. Dalam hatinya, ia menyimpulkan: Sepertinya... Sinta memang tidak suka keberadaanku di sini ya.
"Kebetulan sekali, Kevin. Om mau bicara soal kerja sama dengan perusahaanmu," ucap Pak Hadi.
"Boleh, Om," jawab Kevin mantap.
Sebelum pergi, Kevin berbalik menghampiri Alya sejenak, berbisik lembut.
"Aku bicara sebentar ya."
"Iya, Kevin," jawab Alya tenang.
"Oke, sebentar saja kok."
Kevin pun berjalan pergi bersama Pak Hadi untuk membahas urusan kerja sama itu, meninggalkan Alya sendirian di tempat.
Di sana aku berdiri sendirian. Melihat hidangan kue manis yang tersaji, aku pun memakannya sedikit untuk menenangkan diri.
Tiba-tiba Mbak Sinta berjalan menghampiriku dengan senyum sinis.
"Beruntung sekali kamu, Alya... bisa hadir ke tempat sekeren dan mewah begini," ucapnya bernada penuh ejekan.
Alya menjawab sopan, "Iya, Mbak. Saya diundang sekaligus diajak oleh pihak kantor."
Sinta tertawa kecil, nada bicaranya makin menyakitkan. "Belum terasa ya kemewahannya? Biasanya kan kamu cuma ikut acara kampung yang sederhana, kan?" sindirnya pedas.
Alya hanya tersenyum tipis, menahan perih dan tetap menunduk pasrah, memilih diam daripada meladeni.
Tiba-tiba ada wanita cantik lain menghampiri mereka. Sepertinya dia kenal dekat dengan Sinta.
"Sin... apa kabar kamu?" sapanya ramah.
"Baik, Kak," jawab Sinta santai.
Mengintip suasana, wanita itu bertanya lagi, "Ngomong-ngomong, ada apa nih? Kok seru sekali?"
Sinta langsung menunjuk ke arahku dengan senyum sinis. "Ini lho... ada anak kampung yang baru pertama kali merasakan acara mewah begini."
"Orang kampung?" ulang wanita itu dengan nada kaget dan tatapan merendah. "Siapa dia, Sin?"
"Dari keluarga mana ya? Kok aku belum pernah melihat dia di kalangan kita?" tanya wanita itu lagi dengan tatapan menyelidik dan dingin.
Sinta tertawa angkuh, menjawab dengan nada meremehkan, "Jelas kamu nggak bakal tahu, Kak. Dia cuma... karyawan biasa di kantor Kevin saja."
"Karyawan Kevin? Kok bisa-bisanya ikut acara setingkat ini, Sin?" tanya Jessica heran.
"Kevin sendiri yang membawanya," jawab Sinta.
Jessica menatap Alya tajam, menyapu dari ujung kaki hingga ke ujung kepala. Cantik juga gadis ini... dan terlihat masih muda sekali. Apakah... Kevin menyukainya? batin Jessica bertanya-tanya dalam hati.
Baginya, Kevin adalah teman lama sejak kecil, tapi pria itu sama sekali tidak pernah menceritakan hal penting apa pun kepadanya.
Alya memilih beranjak pergi untuk menghindari mereka, lalu berjalan mengambil segelas minuman di meja prasmanan.
Dalam hatinya ia menggerutu kesal: Ih, Sinta... dari dulu sama sekali nggak berubah ya, selalu saja mengganggu aku terus.
Tiba-tiba seorang pria asing menghampiriku tanpa diduga.
"Hai cantik... sendirian saja ya?" suaranya terdengar tidak sopan.
Alya menyinggung pelan, "Maaf Pak, sepertinya kita tidak kenal."
Pria itu malah tersenyum sinis. "Jangan sok jual mahal begitu dong, Cantik."
Tangannya sempat menyentuhnya, Alya berusaha melepaskan diri. "Lepaskan saya, Pak! Saya sama sekali tidak kenal Bapak!"
Belum sempat Alya menjauh, rombongan tiga orang pria lain pun ikut mendekat, mengurungnya dengan tatapan tidak benar.
Tiba-tiba Doni, salah satu dari mereka, menatap tajam seolah mengenali wajah Alya.
"Sepertinya... gue pernah liat lu di mana ya?" gumam Doni curiga.
Alya yang panik seketika membatu, hanya diam tanpa kata.
"Oh iya... iyaa!" seru Doni dengan nada mengejek. "Kita pernah ketemu di klub malam, kan? Lu kan yang suka antar minuman ke tamu di sana!"
Alya berusaha mengelak, ia tahu betul masa lalunya yang dianggap "tidak terhormat" itu—dulu ia bekerja hanya sebagai pelayan menuangkan minuman, tak lebih dari itu.
Reza yang di sampingnya ikut bersuara sinis, "Lihat tuh, dia bukan wanita polos kayak yang kelihatan, Kawan. Sini cantik, masih aja nolak-nolak."
Doni makin berani, "Lu mau berapa? Bilang aja, gue bisa bayar!"
Alya yang sudah tak tahan lagi dan merasa dihina, meledak marahnya. Tanpa pikir panjang, tangan halnya langsung mendarat keras di pipi Doni.
Plak.....der
"Jangan kurang ajar ya!" bentaknya tegas.
Doni yang panas hati segera mengangkat tangan hendak menampar balik Alya. Namun, tiba-tiba ada tangan kuat yang menahan gerakannya dengan tegas.
Raka Mahendra muncul di keramaian itu dan menyelamatkannya tepat waktu.
"Jangan ganggu dia," ucap Raka dingin dan berwibawa.
Doni tertegun sejenak lalu bertanya sinis, "Dia wanita lu?"
Raka menatap tajam, menjawab mantap, "Iya, dia wanita ku. Mau apa kalian?"
Doni dan kawan-kawannya malah tertawa meremehkan. "Sadarlah, Raka... dia itu cuma wanita rendahan. Nggak pantas dibela dan dihargai begini."
"Sekali lagi kalian ganggu dia, habis kalian semua!" ancam Raka dengan nada bergetar amarah.
Namun Doni tetap tidak tahu diri, masih menyahut sinis, "Tuan, wanita macam dia itu banyak di jalanan, sama sekali tidak pantas untuk Anda. Mending ikut kami saja..."
Tak tahan lagi mendengar penghinaan itu, emosi Raka meledak. Tanpa ragu ia melayangkan pukulan keras tepat ke perut Doni, lalu terjadi perkelahian seketika. Meskipun jumlah mereka lebih banyak, Raka mampu membalas dengan tegas.
Kewalahan dan kesakitan, mereka akhirnya menyerah memohon ampun. "Ampun... ampun! Kami tidak akan mengganggunya lagi!"
"Pergi sana! Hilang dari pandangan saya!" usir Raka dengan tajam, membuat mereka lari ketakutan.
Alya masih terpaku diam, tubuhnya gemetar ketakutan setelah kejadian itu. Ia merasa sangat malu di hadapan Raka, apalagi mendengar ucapan hina dari rombongan tadi.
Dalam hatinya ia bergumam perih: Mereka bilang aku wanita rendahan... apakah itu benar dan fakta? Memang aku pernah bekerja di tempat yang dianggap kotor, tapi aku bersumpah aku tidak pernah melayani mereka atau melakukan hal tercela!
Semua orang di ruangan itu menatap ke arahku dengan tatapan sinis dan tidak ramah. Banyak wanita di sana yang mulai berbisik-bisik dan bergosip tentang keberadaanku.
"Ih, cantik-cantik ternyata wanita penghibur ya... Sok polos sekali kelakuannya," ucap mereka dengan nada menghina, mengomentari hidupku seenaknya.
Hati rasanya remuk redam. Aku hanya bisa menahan tangis sekuat tenaga agar tidak tumpah di depan umum.
"Alya, gimana keadaanmu? Apakah kamu baik-baik saja?" tanya Raka lembut, menatapku khawatir.
"Iya, aku nggak apa-apa kok," jawabku berusaha tenang.
Raka menatapku tajam namun penuh dukungan. "Kalau ada orang jahat seperti itu, kamu harus berani lawan ya, Alya. Jangan pernah takut."
Alya tersenyum tipis penuh terima kasih. "Iya, Raka... Terimakasih ya sudah menolongku tadi."
"Sama-sama, Alya," jawab Raka tulus.
"Kok kamu... kamu ada di sini?" tanyaku sedikit kaget.
"Iya, aku ikut acara jamuan kantor ini," jawab Raka santai.
"Oh..." Raka mengangguk paham. "Berarti... Kak Kevin yang membawamu ke sini ya?"
"Iyah," jawabku pelan. "Dia sedang membahas urusan kerja sama sebentar."
Raka merasa heran sekaligus kesal dalam hati. Bagaimana mungkin Kakaknya—Kevin—bisa begitu tidak peduli? Hampir saja Alya dijahati dan diganggu oleh cowok-cowok hidung belang itu!
Raka mengertakkan gigi, berusaha keras menahan amarah yang membara di dadanya.
Raka terus menenangkan Alya yang masih terguncang. Melihat itu, Jessica pun berjalan menghampiri mereka.
"Hai Raka... Ngomong-ngomong, apakah kamu melihat Kevin?" tanya Jessica santai.
Raka tahu betul siapa Jessica—dia teman masa kecil Kevin—tapi ia sedang tidak ingin meladeni siapa pun.
"Gak tahu. Cari aja sendiri," jawab Raka singkat dan dingin.
Jessica merasa kesal mendengar jawaban ketus itu, lalu memilih pergi dan menjauh darinya.
Alya memperhatikan sosok Jessica yang menjauh, hatinya dipenuhi keraguan. Kenapa dia mencari Kevin? Buat apa ya? Apakah dia teman dekat Kevin?
Dalam tatapannya, wanita itu terlihat sangat cantik, anggun, dan memancarkan wibawa tinggi. Sekali lagi Alya merasa kecil di hadapan orang-orang di sini.