Indonesia
NovelToon NovelToon
SETELAH AKU MATI, AKU MENJADI TUAN MUDA

SETELAH AKU MATI, AKU MENJADI TUAN MUDA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Bapak rumah tangga / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:259
Nilai: 5
Nama Author: Aksara Handini

Chen Guowei, buruh konstruksi yang tewas tertimpa rangka baja akibat kecelakaan kerja yang disengaja oleh Lu Group, diberi kesempatan hidup kedua selama 365 hari oleh penjaga jiwa Shen Wuming.

Ia bangkit kembali dalam tubuh Lu Jingyan, pewaris keluarga Lu yang baru siuman dari koma.

Terikat aturan dilarang mengungkap identitas, Guowei mendekati istri dan keluarganya sebagai Jingyan sambil menyelidiki konspirasi di balik kematiannya dan melindungi keluarganya dari ancaman.

Di tengah konflik perebutan kekuasaan keluarga Lu dan kecurigaan istrinya, Lin Meiying, Guowei harus memilih: menuntaskan misi 365 hari atau menghadapi takdir mati untuk kedua kalinya saat keluarganya menyadari kepulangannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Handini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8: Bayar Lunas di Ruang Administrasi

Langkah kaki Lu Jingyan yang tegap berhenti di depan pintu kaca buram ruang kepala administrasi rumah sakit. Di belakangnya, Sekretaris Han berdiri dengan kepala sedikit menunduk, siap menerima perintah apa pun setelah menyaksikan keputusasaan Lin Meiying di meja perawat beberapa menit lalu.

Tanpa mengetuk pintu, Jingyan mendorong daun pintu tersebut hingga terbuka lebar.

Di dalam ruangan ber-AC dingin itu, seorang pria paruh baya berjas rapi yang menjabat sebagai kepala bagian keuangan rumah sakit—Direktur Su—tengah bersandar santai di kursi kerjanya sambil merapikan pulpen di atas meja. Melihat kedatangan pewaris tunggal Lu Group secara tiba-tiba tanpa pemberitahuan, pria tua itu langsung tersentak kaget. Ia buru-buru bangkit berdiri, merapikan dasinya dengan tangan gemetar.

"T-Tuan Muda Lu! Anda... Anda datang ke sini? Ada urusan apa hingga sudi mengunjungi bagian administrasi yang sempit ini?" sapa Direktur Su gugup, membungkuk hormat berkali-kali.

Jingyan tidak langsung menjawab. Ia melangkah masuk dengan tenang, sorot matanya yang dingin menyapu seisi ruangan sebelum akhirnya berhenti tepat di wajah Direktur Su. Ia menarik kursi di depan meja kerja itu lalu duduk tanpa dipersilakan, menciptakan atmosfer intimidasi yang seketika mencekik udara di ruangan tersebut.

"Aku dengar, rumah sakit ini di bawah yayasan Lu Group baru saja mengeluarkan surat pengusiran dan ancaman pencabutan alat bantu pernapasan untuk pasien di kamar 302," suara Jingyan terdengar datar, berat, namun mengandung tekanan es yang membekukan.

Direktur Su menelan ludah mentah-mentah. Keringat dingin langsung merembes di pelipisnya. "Ah... soal pasien itu... itu adalah prosedur standar operasional rumah sakit, Tuan Muda. Keluarga pasien sudah menunggak biaya pengobatan selama lebih dari setahun, dan pihak yayasan harus menjaga arus kas agar—"

Brak!

Jingyan menghantamkan telapak tangannya ke permukaan meja kayu, membuat Direktur Su terlonjak kaget hingga nyaris terjungkal dari kursi.

"Prosedur?" potong Jingyan dengan nada suara rendah yang mematikan. "Sejak kapan kebijakan rumah sakit di bawah keluargaku berubah menjadi mesin algojo yang mencabut nyawa orang miskin hanya karena masalah administrasi?"

Direktur Su pucat pasi. Ia sama sekali tidak mengira sang pewaris muda akan menunjukkan kemarahan sebesar ini hanya untuk pasien kelas bawah yang tidak punya nama.

"Beri tahu aku, Direktur Su," lanjut Jingyan, mencondongkan tubuhnya ke depan dengan tatapan tajam bagai seekor predator. "Berapa total kerugian yang ditimbulkan oleh seluruh pasien tidak mampu di rumah sakit ini dalam setahun terakhir? Hitung semuanya."

Dengan tangan gemetar hebat, Direktur Su membuka sistem komputer di mejanya, mengetik cepat sambil ketakutan. "T-Tiga ratus... tidak, sekitar empat ratus juta rupiah, Tuan Muda..."

Jingyan melirik sekilas ke arah Sekretaris Han yang langsung mengangguk paham.

"Han, transfer dua miliar rupiah dari rekening pribadi saya ke rekening operasional yayasan rumah sakit malam ini juga," perintah Jingyan tanpa ragu. "Satu setengah miliar untuk melunasi seluruh tunggakan pasien tidak mampu di seluruh bangsal, dan lima ratus juta sisanya sebagai dana abadi darurat."

Sekretaris Han mencatat instruksi itu dengan cepat di tabletnya. "Baik, Tuan Muda. Saya akan langsung proses sekarang."

Direktur Su terperangah, matanya membelalak lebar seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Dua miliar rupiah digelontorkan begitu saja hanya untuk melunasi utang orang-orang miskin?

Namun, belum sempat Direktur Su bernapas lega, Jingyan kembali melanjutkan kalimatnya dengan suara dingin berbisik:

"Dan mulai detik ini, cabut seluruh aturan pengusiran pasien tidak mampu. Jika aku mendengar ada satu saja laporan tentang pencabutan alat medis karena masalah biaya di rumah sakit ini, kursi jabatanmu akan menjadi hal pertama yang hilang dari dunia ini."

"B-Baik, Tuan Muda! Saya mengerti! Perintah Anda akan saya laksanakan sepenuhnya!" jawab Direktur Su terbata-bata sambil membungkuk dalam-dalam, basah oleh keringat dingin.

Jingyan bangkit berdiri dari kursinya. Sebelum melangkah keluar ruangan, ia melirik sekilas ke arah koridor melalui jendela kaca, tempat di mana Meiying masih terduduk lemas di kursi tunggu dengan air mata yang belum kering.

Tahan sebentar lagi, Meiying, batin Jingyan dalam hati. Tidak ada lagi yang boleh menyakiti keluargaku di bawah langit ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!